NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Bi Siti yang melihat Nadira di dorong oleh Mahesa seketika tak bisa menahan tangisnya. Ia tahu, Nadira hanya di jebak. Gadis itu sangat jujur dan tidak pernah berbohong. Bi Siti mendengar semua ucapan Mahesa, jika Nadira keluar dari kolam maka Nadira akan di bunuh oleh Mahesa.

" Nadira anak baik, dia tidak boleh diperlakukan seperti ini. Aku harus menemui tuan Mahesa." ujarnya gelisah di dalam kamarnya. Bi Siti mendengar jika Nadira mendapatkan piyama itu dari seorang pelayan.

Bi Siti sangat gelisah karena Nadira masih berada di dalam kolam. Hari mulai larut dan cuaca di luar sangat dingin. Apalagi Nadira sedang berendam di dalam air itu tidak akan baik untuk kesehatannya.

Tapi sebelum bi Siti menjumpai Mahesa, bi Siti ingin tahu siapa pelayan yang sudah memberikan baju itu pada Nadira. Bi Siti pergi ke kamar pelayan dan bertanya pada mereka satu persatu.

Sudah tiga kamar ia datangi namun tak ada yang mengaku telah memberikan piyama pada Nadira.

Namun saat sudah putus asa, seorang pelayan muda malah datang menghampirinya.

" Aku yang telah memberikan piyama itu pada Nadira!. Kamu mau apa wanita tua? Mau melapor? Ingat ya, aku di suruh sama nyonya besar. Kalau sampai nyonya besar tahu kamu mengadu, bisa habis riwayat mu. Pikirkan itu baik baik. Lagipula wanita yang bernama Nadira itu hanya seorang pembunuh yang pantas mendapatkan hukuman!."

Brak

Wanita muda bernama Desi itu masuk ke dalam kamarnya sambil menutup pintu dengan kasar. Ia melayangkan tatapan mengintimidasi ke arah bi Siti.

Terlihat amarah besar di balik wajah datar bi Siti. Ia kali ini benar benar sangat marah.

" Kalau memang aku di pecat demi membela Nadira, aku siap!." bi Siti berbicara sambil menatap pintu kamar Desi.

Ia kemudian berlalu dari sana setelah mengetahui siapa orang yang berada di balik fitnah yang menimpa Nadira. Bi Siti berjalan ke arah balkon dimana ada Mahesa yang sedang duduk di sana.

Mahesa terlihat sangat marah, ia mengepalkan tangannya. Bayangan tentang Nayla yang menggunakan piyama itu masih berputar jelas dalam ingatannya.

Bi Siti memberanikan diri untuk mendekat. " Tuan, ada yang ingin saya sampaikan pada tuan."

" Apa?." jawab Mahesa dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari kolam.

" Salah seorang pelayan telah mengaku memberikan piyama nyonya Nayla pada Nadira. Namanya Desi tuan. Saya yakin Nadira tidak bersalah tuan, dia hanya di jebak!." ujar bi Siti dengan harapan Mahesa akan percaya padanya.

Mahesa terlihat mengepalkan tangannya. " Panggil pelayan itu kemari!." ujar Mahesa dengan dingin.

Bi Siti berlalu pergi dari balkon, ia kemudian memanggil Desi untuk menghadap pada Mahesa.

Tak berselang lama bi Siti datang kembali ke balkon bersama Desi yang terlihat biasa saja tanpa rasa bersalah.

" Tuan, ini Desi. Dia mengaku sendiri kalau dia yang menyerahkan piyama nyonya Nayla pada Nadira atas perintah nyonya besar."

Krit

Suara kursi yang di dorong kasar membuat bi Siti dan Desi mundur ketakutan. Mahesa berdiri dari duduknya kemudian menatap Desi dengan lekat.

" Apa benar kejadiannya seperti itu?." Mahesa melayangkan tatapan tajam pada Desi.

Desi mencoba terlihat santai tanpa rasa ketakutan. " Tidak tuan, saya melihat sendiri Nadira menguping nyonya besar yang sedang memeluk piyama nyonya Nayla di kamar. Kemudian saya sendiri yang melihat Nadira membuka lemari pakaian nyonya, dan mengambil piyama itu!. Kalau tuan tidak percaya silahkan tanyakan pada nyonya besar." ucap Desi berbohong.

Bi Siti panik, jelas jelas Desi telah mengakui semuanya. Tapi di hadapan Mahesa ia malah memfitnah Nadira.

Mahesa mengepalkan tangannya, " Kalau kamu berani berbohong...aku tidak akan mengampuni mu!."

" Saya tidak berbohong tuan, saya sudah bekerja di rumah anda selama lima tahun, apa pernah saya melakukan kesalahan?." ucap Desi.

Bi Siti mengepalkan tangannya, Desi benar benar orang yang munafik.

" Pergilah! Kalau sampai kamu terbukti berbohong jangan meminta ampunan padaku!."

Desi pergi sambil menatap licik ke arah bi Siti.

Sementara itu bi Siti masih mematung di tempatnya. Kejadian tadi membuatnya semakin percaya kalau Desi adalah orang jahat. Dia pintar sekali berbohong.

Saat ini Mahesa menatap tajam ke arah bi Siti. " Wanita itu bersalah! Jangan membelanya lagi kalau tidak saya akan memecat mu!." Mahesa memberikan peringatan.

" Tapi tuan..."

Mahesa menatap tajam ke arah bi Siti. " Katakan pada wanita itu untuk melepaskan baju istriku dari tubuh kotornya. Cuci bersih baju itu sampai tidak ada baunya yang menempel. Kerjakan sekarang!." Titah Mahesa.

" Tuan, Nadira akan kedinginan tanpa baju di dalam kolam, izinkan saya memberikan baju ganti padanya tuan." ujar bi Siti memohon.

" Jangan berikan apapun padanya! Biarkan dia merasakan hukuman atas kesalahannya. Dia telah berani menyentuh barang kesayangan istriku dan menyerupai dirinya dengan Nayla. Dia tidak pantas di perlakukan dengan baik!."

" Tuan ..."

" Pergi!." bentak Mahesa dengan penuh amarah.

Bi Siti tak punya pilihan, ia berlalu pergi dari balkon. Dengan linangan air mata ia berjalan ke arah kolam renang. Ia sudah bisa melihat Nadira yang mulai pucat dari kejauhan.

Setelah semakin dekat, bi Siti melihat tubuh Nadira yang mulai menggigil disertai bibirnya yang pucat.

Nadira mendongak saat melihat bi Siti datang dengan linangan air mata. Nadira merasakan kehangatan saat melihat kedatangan bi Siti. Nadira pikir ia akan segera keluar dari kolam itu.

" Bi, apa bibi datang untuk membawaku keluar dari kolam ini?." tanya Nadira dengan bibir menggigil. Terlihat tatapan berharap dari maniknya.

Bi Siti tak dapat menyembunyikan kesedihannya saat mendengar ucapan Nadira. Ia terduduk di pinggir kolam sambil menangis. Ia menggeleng pelan, ia dapat melihat raut wajah kekecewaan dari Nadira saat mengetahui jika tujuan nya datang kemari bukan untuk membawanya keluar dari kolam dingin itu.

" Nadira, bibi sudah berusaha meyakinkan tuan Mahesa untuk mengampuni mu. Tapi tuan Mahesa tidak percaya pada bibi. Bibi tidak berdaya nak..." ujar Bi Siti.

Sementara itu di dalam kolam, Nadira memeluk tubuhnya sendiri, lalu ia tersenyum ke arah bi Siti. " Terimakasih bi sudah percaya sama Nadira. Tapi bibi jangan mengorbankan diri bibi demi Nadira. Biarkan Nadira menyelesaikan masalah Nadira sendiri. Semuanya pasti akan berlalu, kalaupun Nadira meninggal di kolam ini, setidaknya bibi harus tahu kalau Nadira sangat bersyukur pernah bertemu dengan bibi." ujar Nadira.

Bi Siti sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Nadira benar benar gadis yang baik.

" Nadira, jangan bicara seperti itu!." ujar bi Siti.

Nadira kembali tersenyum. " Bibi, apa yang membawa bibi datang kemari?." tanya Nadira.

Bi Siti tak berani menatap Nadira.

" Tuan Mahesa... Meminta bibi untuk mengambil baju nyonya Nayla. Tuan Mahesa ingin..."

" Baik bi, akan Nadira lepas." ujar Nadira tanpa membantah.

" Tapi nak... Kamu akan..."

" Tidak masalah bi, aku sedang berada di kolam jadi tidak ada yang bisa melihat ku." ujar Nadira. Ia kemudian melepas piyama di tubuhnya dan berjalan ke pinggir kolam. Nadira menyerahkan piyama itu pada bi Siti. Kini ia hanya mengenakan sebuah bra dan juga sebuah celana pendek yang hanya menutupi bokongnya.

" Maaf sudah merepotkan bibi." ujar Nadira. ia tak bisa lagi menahan air matanya.

Bi Siti memeluk Nadira yang berada di hadapannya. " Nadira...." ujarnya sambil membelai rambut Nadira.

***

Di halaman rumah, sebuah mobil sport berwarna kuning baru saja terparkir. Seorang pria tampan keluar dari dalam sana dengan senyuman manis.

Ia masuk ke dalam rumah sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

Dia adalah Arya Adiprana, adik kandung Mahesa yang sedang melanjutkan studinya di luar negeri. Hari ini dia datang tanpa memberitahu siapapun. Ia merasa ini akan menjadi surprise untuk ibunya dan juga kakaknya.

Para pelayan menatap kagum pada ketampanan Arya, pria itu mengedipkan sebelah matanya ke arah mereka hingga mereka kegirangan. Arya terkenal jahil dan juga suka merayu wanita cantik. Bahkan pelayan yang terlihat cantik pun tak luput dari rayuan mautnya.

" Akhirnya aku pulang...."

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!