THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: LABIRIN MEMORI YANG SAKIT
Tangan Raka masih terulur di udara, telapak tangannya terbuka lebar, memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan stabil di tengah kegelapan koridor server yang mencekam. Di hadapannya, Kai Kecil—versi trauma dari sahabatnya—masih memeluk lututnya erat-erat, tubuhnya gemetar hebat di bawah belitan kabel-kabel hitam yang tampak seperti ular hidup.
"Pergi..." bisik Kai Kecil lagi, suaranya parau dan pecah. Matanya tidak menatap tangan Raka, melainkan menatap bayangan-bayangan raksasa yang mulai terbentuk di belakang Raka. "Mereka datang... Para Penjaga... Mereka akan menghancurkanmu karena kamu mencoba mencuri aset mereka."
Raka tidak menurunkan tangannya. Dia tidak menoleh ke belakang untuk melihat monster-monster bayangan itu. Fokusnya hanya pada satu hal: mata biru kelam anak kecil di depannya.
"Aku tidak takut pada mereka, Kai," kata Raka tenang. Suaranya bergema di ruang hampa digital ini, bukan sebagai perintah militer, tapi sebagai janji persahabatan. "Dan aku juga tidak menganggapmu aset. Kamu manusia. Kamu teman saya."
Kai Kecil menggeleng cepat, air matanya menetes ke lantai kaca yang retak. Setiap tetesan air mata itu berubah menjadi kode biner merah saat menyentuh tanah, lalu lenyap.
"Manusia?" tawa kecil yang pahit keluar dari bibir tipisnya. "Manusia punya nama. Manusia punya keluarga. Aku cuma angka. Subjek 7. Kalau aku rusak, mereka buang. Kalau aku gagal, mereka hapus. Lihat saja..."
Kai Kecil menunjuk ke samping, ke arah dinding koridor yang tiba-tiba berubah transparan. Di balik dinding kaca itu, Raka melihat ruangan-ruangan sel kecil. Di dalam setiap sel, ada anak-anak lain yang duduk pasif, mata mereka kosong, kabel tertancap di kepala mereka. Beberapa sel kosong, hangus, bekas tempat seseorang "dihapus".
"Itu Subjek 3," tunjuk Kai Kecil pada sel yang hangus. "Dia menangis terus sampai otaknya terbakar. Itu Subjek 9. Dia mencoba lari, tapi sistem keamanan menyetraknya sampai mati. Mereka semua pergi, Rak. Tinggal aku. Selalu tinggal aku sendirian di sini. Sendirian itu aman. Sendirian itu... tidak sakit."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan keyakinan yang menghancurkan hati. Sendirian itu tidak sakit. Karena jika kamu tidak memiliki siapa-siapa untuk dicintai, kamu tidak bisa kehilangan siapa-siapa. Itulah logika pertahanan diri yang dibangun Kai selama bertahun-tahun di dalam kegelapan Project Mind.
Raka merasakan dadanya sesak. Dia memahami sekarang kenapa Kai selalu menjaga jarak secara emosional di awal-awal mereka bertemu. Kenapa Kai sulit percaya pada orang lain. Kenapa dia lebih nyaman dengan mesin daripada manusia. Mesin tidak akan mengkhianati. Mesin tidak akan "dihapus" secara tiba-tiba.
Tapi Raka tahu itu salah. Sangat salah.
Dengan langkah mantap, Raka menerobos masuk ke dalam lingkaran kabel yang mengelilingi Kai Kecil. Kabel-kabel hitam itu mendesis, mencoba menjauhkan Raka, membakar kulit avatar cahayanya. Tapi Raka tidak peduli. Rasa panas itu hanyalah ilusi data. Niatnya nyata.
Dia berlutut di depan Kai Kecil, mengabaikan rasa sakit digital itu, dan menatap mata anak itu sejajar.
"Dengar aku baik-baik, Kai," kata Raka, suaranya tegas namun lembut. "Kamu bilang sendirian itu aman? Salah. Sendirian itu justru tempat paling berbahaya di alam semesta."
Kai Kecil menatapnya bingung, air matanya berhenti sejenak. "Kenapa?"
"Karena kalau kamu sendirian, tidak ada yang akan memegang tanganmu saat kamu jatuh. Tidak ada yang akan mendengarkan ceritamu saat kamu sedih. Tidak ada yang akan mengingatkanmu bahwa kamu berharga saat dunia mengatakan kamu tidak berguna." Raka meraih tangan kecil Kai yang dingin dan kaku. Awalnya Kai menariknya balik, tapi Raka menggenggamnya lebih kuat, hangat, dan pasti.
"Di luar sana," lanjut Raka, sambil menunjuk ke atas, ke langit kode biner yang kacau, "ada Bimo. Dia sedang memasak mie kesukaanmu. Dia khawatir banget sama kamu. Dia nggak peduli kamu jenius atau bukan, dia cuma peduli perut kamu kenyang atau nggak."
Mata Kai Kecil berkedip. Ingatan tentang aroma mie goreng Bimo menyusup ke dalam simulasi ini, menggantikan bau antiseptik yang menusuk hidung.
"Ada Elara," Raka. "Dia sudah siapkan obat dan selimut hangat buat kamu. Dia marah-marah karena kamu sakit, tapi dia nangis diam-diam karena dia sayang sama kamu. Dia nggak mau kehilangan adiknya."
Wajah Kai Kecil mulai berubah, ketegangan di rahangnya melonggar sedikit.
"Dan ada aku," kata Raka, tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca. "Aku di sini, Kai. Aku masuk ke dalam neraka pikiranmu cuma buat bilang satu hal: Kami butuh kamu. Bukan karena kamu hacker jenius. Bukan karena kamu bisa membobol sistem musuh. Tapi karena kamu Kai. Sahabat kami. Keluarga kami."
Kabel-kabel hitam di sekitar mereka mulai bergetar. Bayangan-bayangan "Para Penjaga" di belakang Raka menggeram lebih keras, mencoba menerjang. Tapi cahaya dari tubuh Raka semakin terang, membentuk perisai bulat yang melindungi dia dan Kai Kecil dari serangan mental itu.
"Kamu nggak perlu jadi Subjek 7 lagi," bisik Raka, mendekatkan dahinya ke dahi Kai Kecil. "Kamu boleh lemah. Kamu boleh takut. Kamu boleh menangis. Kamu nggak harus kuat sendirian. Biarkan kami menopangmu. Biarkan kami menjadi jangkar kamu."
Air mata Kai Kecil akhirnya pecah lagi, tapi kali ini bukan air mata keputusasaan. Itu adalah air mata pelepasan. Beban berat yang dia pikul selama sepuluh tahun—rasa bersalah karena selamat, rasa takut akan penghapusan, rasa kesepian yang abadi—mulai retak.
"Aku... aku takut," isak Kai Kecil, akhirnya menyerah pada kehangatan genggaman Raka. "Aku takut kalau aku keluar, mereka akan datang lagi. Aku takut kalau aku lupa caranya jadi manusia."
"Kami akan mengajarmu," janji Raka. "Setiap hari. Sampai kamu ingat. Sampai kamu yakin."
Tiba-tiba, lantai di bawah mereka berguncang hebat. Langit kode biner di atas mulai runtuh, potongan-potongan angka besar jatuh seperti meteor. Dunia simulasi ini sedang kolaps karena penolakan Kai terhadap traumanya. Virus memori itu marah karena "inangnya" mulai sadar.
Dari kegelapan di belakang, sebuah sosok raksasa muncul. Itu adalah manifestasi fisik dari ketakutan terbesar Kai: Monster Data. Sosok itu tinggi, terbuat dari kabel-kabel kusut, layar-monitor pecah, dan wajah-wajah anak-anak yang menjerit. Mata Monster itu adalah dua lubang hitam kosong yang menelan segala cahaya.
"KEMBALI!" guruh suara Monster itu, menggetarkan seluruh dimensi. "DIA MILIK KAMI! DIA ADALAH BAGIAN DARI KODE!"
Monster itu mengangkat tangan raksasanya, siap menghantam Raka dan Kai Kecil hingga hancur berkeping-keping menjadi data sampah.
Kai Kecil menjerit, mencoba melepaskan tangan Raka. "Lari, Rak! Dia terlalu kuat! Kamu nggak bisa lawan dia!"
Raka tidak melepas genggamannya. Malah, dia menarik Kai Kecil berdiri, memeluk tubuh kecil itu erat-erat ke dadanya. Cahaya keemasan dari tubuh Raka meledak keluar, bukan sebagai ledakan serangan, tapi sebagai pelukan cahaya yang menyelubungi mereka berdua.
"Aku nggak perlu melawannya dengan kekuatan," kata Raka di telinga Kai, suaranya tenang di tengah badai kehancuran. "Aku cuma perlu tetap di sini. Bersama kamu."
Saat tangan raksasa Monster Data menghantam mereka, cahaya itu menelan segalanya. Putih. Silau. Hening.
Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Kai tidak merasa sendirian di dalam kegelapan. Ada seseorang yang memegang tangannya. Ada seseorang yang menolak melepaskannya, bahkan saat dunia di sekitarnya hancur lebur.
Itu adalah awal dari kebangkitan.
Bersambung...