Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Membaca Arah Embusan Angin
Cahaya kelabu yang tipis pelan-pelan menyusup melalui celah-celah atap gubug rumbia yang bolong. Fajar hampir pecah di atas langit Tanjungbalai, membawa kabut tipis yang dingin merayap rendah di permukaan air rawa. Bau tanah basah dan pembusukan daun bakau menguar begitu pekat, menusuk hidungku saat aku baru saja hendak memejamkan mata setelah semalaman berjaga.
Di sampingku, lampu teplok minyak tanah sudah lama mati, menyisakan bau jelaga yang samar dan udara ruangan yang terasa pengap.
Klek.
Suara gesekan ranting di luar gubug membuatku refleks menegakkan punggung. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Namun, sebelum aku sempat meraih ransel oranyeku, sebuah tangan yang besar dan sedingin es mendarat di atas bahuku, menahanku agar tetap diam.
"Mereka sudah dekat, Lara," bisik Kala. Suaranya terdengar sangat parau, bergetar menahan perih yang teramat sangat.
Aku menoleh, menatap wajahnya di dalam remang fajar. Kulitnya masih pucat pasi, dan kemeja cadanganku yang kupakai untuk membalut pundaknya kini sudah ternoda oleh lingkaran merah tua yang basah. Meskipun kondisinya masih sangat lemas, sepasang mata emas berpupil vertikal itu menatapku dengan ketegasan yang tak bisa dibantah.
"Pencarian mereka melebar sampai ke sektor ini. Kita harus segera mengosok gubug ini sebelum matahari benar-benar naik," lanjut Kala, mencoba menggeser tubuh tingginya untuk berdiri. Dia sempat goyah, mencengkeram tiang kayu gubug yang lapuk agar tidak terjatuh kembali ke lantai.
"Tapi lukamu belum pulih, Kala! Bergerak sekarang sama saja dengan membuka paksa jahitan daruratmu," protesku dengan suara berbisik, rasa cemas membuat suaraku terdengar ketus khas anak pelabuhan yang sedang panik.
"Kalau kita tetap di sini, kita bahkan tidak akan punya kesempatan untuk mengeluhkan rasa sakit ini," balasnya lugas, meraih topi kupluk hitamnya dan memakainya rendah hingga menutupi pelipis matanya yang masih menyisakan pendaran sisik keperakan. "Ayo."
Aku mendengus kesal, namun tanganku tetap bergerak cepat menyampirkan tali ransel oranye ke pundakku. Aku membantu memapah sisi tubuhnya yang sehat, menuntunnya melangkah keluar melewati pintu lapuk gubug yang berderit pelan. Begitu kaki telanjang kami menyentuh lumpur rawa di luar, hawa dingin yang menusuk langsung membuatku menggigil.
Kami mulai berjalan menyelinap di antara kerapatan pohon bakau raksasa. Akar-akar napas yang mencuat dari dalam lumpur hitam berminyak membuat jalur pelarian ini terasa seperti medan ranjau yang licin. Kabut fajar yang tebal membatasi pandangan mata, membuat segalanya hanya terlihat sebagai siluet abu-abu yang membingungkan.
Baru berjalan sekitar seratus meter menjauhi gubug rumbia, Kala mendadak menarik lengkanku dengan kuat. Tubuhku terdorong ke belakang, membentur dada bidangnya.
"Sstt... jangan melangkah lagi," napas Kala berembus panas di ceruk leherku, sangat kontras dengan permukaan kulit dadanya yang terasa sedingin bongkahan es balok.
"Ada apa?" bisikku, mencoba mengintip ke depan melewati lengannya. Di depan kami hanya ada hamparan pohon bakau yang rapat dan semak liar yang basah. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada lolongan anjing pelacak, tidak ada apa-apa.
"Anak buah Baron tidak sebodoh yang kau kira, Gadis Kurir," Kala berbisik rendah di dekat telingaku. "Mereka tidak hanya mengandalkan mata dan senapan. Jalur sempit di depan kita sudah dipasang kawat perangkap."
Aku mengerutkan kening, mencoba memicingkan mata melihat ke arah tanah berlumpur dan sela-sela batang pohon. Nihil. Aku tidak melihat seutas benang atau kawat pun. "Kau melantur, ya? Aku tidak melihat apa pun di sana. Jangan menakut-nakutiku, kondisi kita sudah cukup buruk tanpa khayalanmu."
Daripada membalas omelanku, Kala justru menggeser posisinya. Dia melangkah maju satu demi satu inci, berdiri tepat di belakang punggungku. Tubuhnya yang tinggi besar seolah menelan tubuh kecilku dari belakang, melindungiku dari embusen angin rawa yang menusuk jaket pelabuhanku.
"Tutup matamu, Lara," perintahnya pelan, namun penuh penekanan.
"Apa—"
"Tutup saja," potongnya. Sebelum aku sempat membantah lagi, tangan kirinya yang besar bergerak maju, membimbing tangan kiriku terangkat ke udara. Jemarinya yang dingin mencengkeram jemariku yang hangat, menuntun telapak tanganku untuk menyentuh permukaan batang pohon bakau yang berlumut tebal di samping kami.
Sentuhan kulit kami yang bertubrukan terasa begitu ganjil. Dingin dan hangat menyatu di tengah kesunyian rawa pagi buta. Aku bisa merasakan setiap hembusan napasnya yang memburu kasar di atas bahuku, menahan denyutan nyeri di pundaknya yang cedera.
"Jangan gunakan matamu untuk mencari logam di tempat seperti ini. Gunakan kulitmu. Rasakan aliran udara di sekitarmu," bisik Kala, menuntun ujung jariku meraba lumut basah yang menempel di kulit kayu. "Embusan angin fajar selalu bergerak lurus dan konstan menembus celah daun bakau. Tapi, jika ada sesuatu yang asing... sesuatu yang kaku seperti kawat logam terbentang di antara batang pohon, arah angin akan bergeser secara ganjil. Suhu udaranya akan terasa sedikit lebih dingin di titik itu karena logam menyerap hawa es rawa."
Aku terdiam, memejamkan mata erat-erat sesuai instruksinya. Aku mencoba membuang semua kepanikan jalanan yang biasanya memenuhi kepalaku. Aku membiarkan seluruh kesadaranku berpindah ke ujung-ujung jariku yang sedang dibimbing oleh tangan dingin Kala.
Awalnya, aku hanya merasakan tekstur kasar dari lumut dan kulit pohon yang basah. Namun, saat angin fajar kembali berembus lembut menyapu dedaunan, aku mulai merasakannya. Ada getaran halus yang merambat melalui udara tipis. Aliran angin yang menerpa punggung tanganku terasa terputus secara ganjil di area setinggi lutut di antara dua pohon bakau di depan kami. Di titik itu, ada jilatan hawa dingin yang tipis, mirip seperti uap es yang keluar dari boks ikan tongkol.
"Kau merasakannya?" bisik Kala, wajahnya berada begitu dekat di samping pelipis mataku hingga aku bisa mencium bau lumut basah yang khas dari tubuhnya.
"Ya..." jawabku lirih, tenggorokanku mendadak terasa kering bukan karena takut, melainkan karena kedekatan fisik kami yang teramat intim di tengah situasi hidup dan mati ini. "Ada sesuatu yang tajam memotong arah angin di sana."
"Itu kawat perangkapnya," Kala melepaskan cengkeraman tangannya dari jemariku secara perlahan, membuat kulitku mendadak merasa kehilangan kehangatan yang aneh. "Jika kakimu menyentuh benang itu sedikit saja, suar penanda atau ranjau kejut di ujung batang pohon akan meledak. Anak buah Baron akan langsung tahu posisi kita dalam hitungan detik."
Aku membuka mata, menatap ke arah titik yang baru saja kuraba lewat angin. Dengan pandangan yang kini lebih jeli, aku akhirnya bisa melihat sekelebat kilatan perak yang sangat tipis, hampir menyatu dengan warna kelabu kabut fajar, terbentang rendah di atas lumpur.
Rasa ngeri sekaligus kagum bercampur aduk di dalam dadaku. Cowok di sampingku ini mungkin lemah secara fisik saat ini karena dehidrasi air tawar, namun pengetahuannya tentang alam rawa ini adalah satu-satunya hal yang membuat kami tetap bernapas sampai detik ini.
Ketergantunganku padanya tidak lagi hanya soal komisi sewa kosan atau kesetiaan kurir pada paketnya; aku menyadari, tanpa insting liarnya, aku hanyalah anak pelabuhan kuyu yang akan mati membeku di dalam labirin ini.
"Sekarang kau tahu cara melihat tanpa mata," ujar Kala, senyum tipis yang langka muncul di sudut bibirnya yang pecah-pecah, meskipun matanya tetap waspada menatap ke sekeliling. "Melangkah melompati kawat itu, Lara. Pelan-pelan. Ikuti jalur yang tidak memotong angin."
Aku mengangguk pelan, rasa gengsi remajaku menguap entah ke mana. Aku mencengkeram erat tali ransel oranyeku, bersiap melompati kawat maut itu terlebih dahulu agar bisa membantu menarik tubuh lemas Kala di belakangku. Kami kembali bergerak menyelinap, selangkah demi selangkah, membaca setiap pergeseran udara malam yang tersisa, di bawah intaian bahu-membahu pasukan Baron yang siap mengunci ruang gerak kami dari balik pekatnya kabut fajar.