NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UTANG BUDI YANG BERDARAH

"LEO!! LEO KAMU DI MANA?!!"

Teror dan kepanikan menyelimuti seluruh ruangan. Keisha berlari kesana-kemari, membuka lemari, membuka kolong tempat tidur, memeriksa setiap sudut rumah, tapi anaknya tidak ada di mana-mana.

"Leo... anakku... mana anakku..." Keisha jatuh berlutut di lantai, tubuhnya gemetar hebat, air matanya mengalir deras tanpa henti. Ingatan buruk saat Kevin menculik Leo dulu kembali meneror pikirannya.

Arsen berdiri kaku di tengah ruangan, matanya menatap tajam layar ponselnya. Jantungnya berdegup kencang bagaikan genderang perang.

[Sesuatu yang lebih berharga...]

"Leo... mereka ambil Leo..." bisik Arsen pucat. Wajahnya berubah merah padam seketika, urat lehernya menonjol karena amarah yang meledak-ledak. "MEREKA BERANI SENTUH ANAKKU!! AKU BUNUH MEREKA SEMUA!!"

Arsen ingin berlari keluar rumah mencari anaknya, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

Tangan Arsen gemetar hebat saat menggeser tombol hijau.

"HALO!! KAU DI MANA?! KEMBALIKAN ANAKKU!! JANGAN BERANI BERI APA-APA PADANYA!!" teriak Arsen histeris, suaranya pecah.

Dari seberang sana, terdengar suara tawa dingin dan menakutkan.

"Santai dong, Tuan Arsen. Anakmu baik-baik saja kok. Sedang tidur nyenyak di pangkuanku sekarang."

"SIAPA KAU?! KEVIN YANG SURUH KAU?!"

"Bukan. Aku tidak ada hubungannya sama si brengsek itu. Aku datang... cuma mau menagih janji dan menagih luka," suara itu terdengar serak dan penuh kebencian. "Ingat tidak sama Natasha? Kakak perempuanku? Kau hancurkan hidupnya, kau buang dia seperti sampah, dan sekarang dia gila di rumah sakit jiwa! Giliranku untuk menyakiti apa yang paling kau cintai!"

BRUK!

Arsen tertegun. Adiknya Natasha?!

"Kau... kau Ryan?! Adiknya Natasha?!"

"Pintar. Jadi dengar baik-baik. Kalau mau selamatkan anakmu dan istrimu yang cantik itu... datang sendirian ke gudang tua di pelabuhan lama. Jangan bawa polisi. Dan bawa uang tunai 50 Miliar. Kalau kurang atau terlambat... aku kirim potongan tubuh anakmu satu per satu lewat paket. Paham?!"

TUT... TUT... TUT...

Telepon dimatikan.

Arsen berdiri terpaku, napasnya memburu. Kakinya lemas. 50 Miliar? Itu jumlah besar, tapi dia punya. Tapi musuhnya kali ini adalah adiknya Natasha... orang yang punya dendam pribadi yang sangat membara. Dia tidak akan main-main.

"Arsen... siapa itu? Apa yang dia bilang? Dimana Leo?!" Keisha memegang lengan suaminya erat-erat, wajahnya pucat pasi.

Arsen menatap istrinya, lalu memeluknya erat-erat. "Sha... Ryan, adiknya Natasha yang culik Leo. Dia mau balas dendam. Aku harus pergi sekarang. Aku harus bawa uang dan ambil anak kita."

"AKU IKUT!" seru Keisha tegas, matanya memancarkan tekad baja. "Itu anakku juga! Aku tidak akan diam di rumah menunggu! Aku ikut sama kamu!"

"Tapi bahaya, Sha! Ryan itu gila! Dia lebih berbahaya dari Kevin!"

"Semakin bahaya, semakin aku harus ikut! Aku tidak mau pisah sama kamu lagi! Kita hadapi bersama!"

 

Beberapa jam kemudian, di lokasi yang ditentukan...

Gudang tua itu gelap, berdebu, dan berbau apek. Suasana mencekam sekali.

Di tengah ruangan, Leo terikat di sebuah kursi tinggi, matanya tertutup, tampak sedang dibius agar tidak menangis. Dan di sebelahnya, berdiri seorang pria bertubuh kekar, wajahnya garang, dan matanya merah menyala menatap kedatangan Arsen dan Keisha.

Itu Ryan.

"HAHAAHA! DATANG JUGA KALIAN! KELUARGA YANG SEMPURNA!" teriak Ryan sambil tertawa histeris. Dia mengacungkan pisau besar yang berkilauan tepat di leher Leo.

"JANGAN!!" teriak Keisha mau berlari, tapi Arsen menahannya.

"Tenang Sayang... biar aku yang ngomong," bisik Arsen lembut, lalu dia maju selangkah melempar tas besar berisi uang ke depan kaki Ryan.

"Ini uangnya. 50 Miliar. Semua tunai. Sekarang... lepaskan anakku. Kita selesaikan masalah kita berdua saja," kata Arsen tenang, meski jantungnya mau copot melihat pisau itu begitu dekat dengan leher anaknya.

Ryan menendang tas uang itu, membukanya dan melihat lembaran uang bertebaran. Dia tersenyum puas, tapi matanya tetap jahat.

"Uangnya memang banyak, Tuan Arsen. Tapi... uang tidak bisa memulihkan kewarasan kakakku. Uang tidak bisa menghapus rasa malu yang kalian berikan padanya!"

Ryan mendekat, menatap Keisha dengan tatapan kotor dan penuh kebencian.

"Kau cantik sekali ya, Nyonya. Sampai-sampai kakakku kehilangan akal sehatnya karena cemburu sama kau. Padahal kau cuma wanita murahan yang direbut paksa..."

"JANGAN HINA ISTRIKU!" bentak Arsen.

"DIAM! AKU BELUM SELESAI!" Ryan berteriak, lalu tiba-tiba dia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan menodongkan ke arah Arsen!

"Permainannya belum selesai, Arsen! Aku punya pilihan buat kau. Pilih satu: ATAU kau mati ditembak sekarang, ATAU kau potong jari tanganmu sendiri satu per satu di depan kami! Dan kalau kau lakukan itu... baru aku lepaskan anakmu!"

Keisha menjerit ketakutan. "JANGAN! JANGAN LAKUKAN! KAMI BERI UANG LEBIH BANYAK! 100 MILIAR! SILAKAN AMBIL!"

Ryan tertawa gila. "AKU TIDAK MAU UANG! AKU MAU DIA SAKIT! AKU MAU DIA MERASA HINA SEPERTI KAKAKKU!"

Arsen menatap pistol itu, lalu menatap Leo yang masih pingsan, lalu menatap Keisha yang menangis histeris.

Tanpa berpikir dua kali, Arsen berkata dengan suara lantang dan tegas.

"OKE! AKU LAKUKAN! TAPI JANJI... JANJI KAU AKAN LEPASKAN MEREKA!"

"ARSEN JANGAN!!" Keisha memeluk kaki suaminya. "JANGAN LAKUKAN! LEBIH BAIK DIA TEMBAK AKU SAJA! JANGAN SAKITI DIRIMU!"

"LEPAS SAYANG! DEMI LEO! DEMI KITA!" Arsen menunduk mencium kening istrinya cepat. "Aku kuat, Sayang. Aku bisa bertahan."

Arsen mengambil pisau yang dilempar Ryan ke lantai. Tangannya gemetar. Dia tahu ini menyakitkan, dia tahu ini mengerikan, tapi demi nyawa anaknya... dia rela hancurkan tubuhnya sendiri.

"Satu... dua..." Ryan menghitung dengan senyum puas.

Arsen mengangkat pisaunya, mata nya terpejam erat, siap menyayat tangannya sendiri.

TAPI SUDDENLY...

DORRR!!

Suara tembakan menggema!

BRUK!

Seseorang jatuh!

Keisha menjerit kencang. "ARSEENN!!"

Tapi bukan Arsen yang jatuh.

Ryan terkejut, dia menoleh ke belakang, dan tepat saat itu...

BRAAKK!!

Pintu belakang gudang didobrak terbuka lebar! Puluhan pasukan khusus dan polisi menyerbu masuk dengan senjata terangkat!

"POLISI!! JANGAN BERGERAK!! SERAHKAN DIRI KALIAN!!"

Ryan panik setengah mati! Dia mencoba menembak tapi terlambat!

DOR! DOR! DOR!

Tembakan balasan terdengar. Kaki Ryan terkena tembakan dan dia jatuh tersungkur! Pisau dan senjatanya terlempar jauh!

"ARGHHH!!" Ryan meringkuk kesakitan.

Orang-orang polisi langsung mengamankan dan memborgolnya.

Arsen dan Keisha tertegun kaget, napas mereka memburu, jantung mereka mau copot. Mereka selamat?!

Tiba-tiba, dari balik kerumunan polisi, muncul sosok yang tidak pernah mereka duga akan datang menolong.

Itu adalah Ayah Arsen!

Pria tua itu berlari menghampiri mereka dengan wajah panik dan menangis.

"ARSEN! KEISHA! KALIAN BAIK-BAIK SAJA?!"

Arsen mengerutkan kening bingung. "Bapak? Bapak yang telepon polisi? Bapak yang bawa bantuan?"

Ayah Arsen mengangguk sambil menangis, lalu dia memeluk anak dan menantunya erat-erat.

"Maafkan Bapak... maafkan Bapak selama ini buta. Saat Bapak dengar Leo hilang, insting Bapak bilang itu bahaya besar. Bapak hubungi semua teman Bapak di kepolisian, Bapak suruh mereka lacak posisi Ryan. Bapak tidak mau kehilangan kalian lagi. Kalian adalah satu-satunya keluarga yang Bapak punya sekarang."

Keisha menangis haru. Ternyata mertuanya benar-benar sudah berubah dan sayang pada mereka.

Arsen tersenyum tipis, lalu dia langsung berlari ke arah kursi di mana Leo diikat.

"LEO! ANAK PAPA!"

Arsen melepaskan ikatan itu dan memeluk tubuh kecil itu erat-erat. Leo terbangun karena kaget, matanya berkedip-kedip bingung.

"Papa... Mama..." rengek Leo kecil, lalu dia memeluk leher orang tuanya erat-erat. "Takut... Leo takut..."

"Sudah sayang... sudah aman. Papa di sini. Mama di sini. Tidak ada yang berani jahat sama kamu lagi," isak Keisha sambil mencium wajah anaknya berkali-kali.

Ryan yang sudah diborgol dan terluka hanya bisa meraung marah dan frustrasi.

"AKU BELUM SELESAI!! KALIAN AKAN MENYESAL!! KELUARGA KALIAN PASTI HANCUR!!"

"Bawa dia pergi!" perintah petugas tegas.

Misi balas dendam Ryan gagal total.

 

Malam itu, di dalam mobil perjalanan pulang, suasana sangat hangat dan haru. Leo sudah tertidur pulas di pangkuan Keisha karena kelelahan dan efek obat penenang.

Arsen menyetir sambil sesekali melirik ke arah istri dan anaknya. Tangannya dipegang erat oleh Keisha.

"Terima kasih ya, Sayang..." bisik Keisha lembut. "Terima kasih sudah rela berkorban apa saja demi kami."

Arsen tersenyum lembut, mencium punggung tangan istrinya.

"Apa sih yang nggak buat kalian? Jari atau nyawaku pun rela kulepas demi keamanan kalian. Kalian adalah segalanya bagiku, Sha."

"Tapi Bapak kamu ternyata baik juga ya sekarang. Dia yang selamatin kita," kata Keisha.

"Iya. Mungkin ini cara Tuhan menyatukan kita kembali. Dan mulai sekarang... kita akan lebih waspada. Siapa pun yang berani mengganggu kedamaian kita... akan kita hancurkan bersama-sama."

Mereka saling tatap penuh cinta. Badai demi badai datang, tapi mereka selalu berhasil melewatinya dengan bahu membahu.

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!