Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pendar Lampu Karnaval dan Bara di Balik Tenda
Bagi penduduk Desa Lereng Marapi, kabut adalah selimut abadi yang menutupi hari-hari mereka. Namun malam ini, selimut kelabu itu dipaksa mundur oleh gemerlap lampu neon warna-warni, suara musik dangdut yang berdentum dari pengeras suara raksasa, dan aroma manis dari gula kapas yang dilelehkan.
Pasar Malam Balai Desa telah resmi dibuka.
Tanah lapang yang biasanya hanya ditumbuhi rumput liar dan menjadi tempat parkir truk-truk sayur kini disulap menjadi karnaval sederhana yang meriah. Tenda-tenda terpal biru berjejer rapat menjajakan segala hal, mulai dari pakaian obral, martabak telur, hingga permainan lempar gelang berhadiah boneka murahan. Di tengah lapangan, sebuah bianglala mini berderit-derit memutar membawa anak-anak kecil yang tertawa girang menembus udara malam yang sedingin es.
Dara Kirana berdiri di tengah hiruk-pikuk itu, membiarkan dirinya terseret oleh tarikan tangan Santi.
"Ra, ayo cepetan! Stand sosis bakarnya antre panjang banget kalau kita nggak gerak sekarang!" seru Santi dengan antusiasme yang meledak-ledak. Gadis berambut ekor kuda itu mengenakan jaket puffer tebal berwarna merah muda terang, sangat kontras dengan jaket denim hitam berkerah bulu yang dikenakan Dara.
Dara tertawa kecil, sebuah tawa yang terasa sedikit canggung di kerongkongannya. "Iya, San, sabar. Sepatuku nyangkut di kabel lampu."
Malam ini, Dara sengaja mengikat rambutnya ke atas, membiarkan lehernya terbuka. Ramuan akar Ruruhi sudah berhenti ia konsumsi sejak kesepakatannya dengan Sutan Agung. Ia tidak lagi menekan energi Pawangnya, membiarkan pendar biru yang sangat tipis dan tak kasat mata dari telapak tangannya beresonansi bebas dengan alam. Di pergelangan tangannya, gelang akar pasak serigala pemberian Bumi tertutup oleh lengan panjang jaketnya.
Di tengah lautan manusia ini, Dara merasa seperti seorang penjelajah waktu yang baru saja kembali dari dimensi lain. Beberapa hari yang lalu, ia berada di dalam perut bumi, mendengarkan raungan monster setengah harimau yang dirantai pada batu kapur, dan berhadapan dengan vampir berusia dua ratus tahun. Dan sekarang? Ia sedang berdebat dengan Santi tentang saus sambal apa yang paling cocok untuk sosis bakar raksasa.
Perbedaan antara dunia manusia dan dunia bayang-bayang di Lembah Marapi sungguh absurd. Dan anehnya, justru di tengah keramaian manusia inilah Dara merasa sedang bersandiwara.
"Nah, dapat juga akhirnya," Santi mendesah lega sambil menyodorkan satu tusuk sosis bakar yang masih mengepul panas kepada Dara. "Makan selagi panas, Ra. Udara malam ini gila banget dinginnya. Kayaknya suhu turun sampai belasan derajat deh."
Dara menerima tusukan itu. Ia baru saja akan meniup sosis bakarnya ketika sebuah suara yang renyah dan sangat familiar menyela dari arah belakang mereka.
"Sosis bakar stand Bang Udin memang juara, tapi kalian melewatkan gulali kapas di pojok sana."
Dara dan Santi serempak menoleh.
Bumi Arka berdiri di sana, menyunggingkan senyum andalannya yang sanggup membuat siswi mana pun di sekolah menoleh dua kali. Pemuda itu tidak mengenakan jaket varsity merah marunnya malam ini. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak berwarna gelap yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus putih polos di baliknya. Rambut ikalnya tertiup angin malam, dan tangannya dengan santai memegang dua tangkai besar gulali kapas berwarna biru muda.
"Bumi!" Santi membelalakkan matanya, wajahnya mendadak sedikit merona. "Kamu... ke pasar malam juga?"
"Masa anak muda di rumah saja di malam Minggu?" Bumi tertawa kecil, melangkah maju dan menyodorkan satu tangkai gulali itu kepada Santi, lalu satu tangkai lagi kepada Dara. "Buat kalian. Anggap saja permintaan maaf karena aku sering ketiduran di kelas dan nyontek PR Biologi ke Santi."
"A-ah, makasih, Bum," Santi menerima gulali itu dengan salah tingkah. Matanya bergerak cepat antara Bumi dan Dara, seolah sedang membaca sebuah radar yang tidak terlihat. Santi mungkin tidak tahu bahwa Bumi adalah seekor Alpha serigala, namun insting remajanya cukup tajam untuk melihat sorot mata Bumi yang tak pernah lepas dari Dara.
"Eh, Ra," Santi tiba-tiba berdehem, mundur selangkah. "Aku... aku baru ingat harus beliin adikku gantungan kunci anime. Stand-nya ada di ujung dekat pintu masuk. Kalian berdua jalan-jalan aja dulu, nanti kita ketemu lagi di dekat bianglala ya!"
Sebelum Dara sempat menolak, Santi sudah berbalik dan menyelinap menghilang ke dalam kerumunan pengunjung. Meninggalkan Dara berdua saja dengan sang pemimpin kaum Ajag.
Bumi menatap kepergian Santi sambil terkekeh pelan. "Temanmu itu pengertian sekali. Terlalu mudah dibaca."
"Kau sengaja menyogoknya dengan gulali agar dia pergi, kan?" Dara memicingkan mata, menggigit ujung sosis bakarnya.
Bumi mengangkat kedua bahunya tak berdosa. "Aku hanya memanfaatkan momentum, Anak Kota. Lagipula, aku memang ingin menculikmu sebentar malam ini."
"Menculikku? Ke mana?"
"Ke tempat yang tidak terlalu berisik," Bumi memberi isyarat dengan kepalanya, lalu dengan sangat natural, tangannya terulur dan menggenggam pergelangan tangan Dara yang terbalut lengan jaket. Bukan cengkeraman posesif, melainkan sebuah tarikan lembut yang menuntun.
Begitu kulit Bumi bersentuhan dengan pakaiannya, Dara bisa merasakan hawa hangat yang khas memancar dari pemuda itu. Hawa hangat yang terasa seperti dekapan sinar matahari pagi—membentengi Dara dari gigilnya udara malam Marapi.
Bumi menuntun Dara menembus lautan manusia, berjalan menjauhi pusat pasar malam yang bising oleh musik dangdut, menuju bagian belakang lapangan di mana hanya terdapat beberapa stand permainan yang sepi dan dibatasi oleh deretan pohon mahoni tua.
Lampu-lampu di area ini lebih temaram, hanya diterangi oleh bohlam kuning yang bergoyang tertiup angin.
"Kau terlihat lebih hidup malam ini, Dara," kata Bumi, melepaskan genggamannya saat mereka tiba di dekat pagar kayu yang membatasi lapangan dengan area perkebunan warga. Bumi menyandarkan punggungnya ke pagar, menatap Dara yang sedang mencicipi gulali kapasnya.
"Aku merasa seperti akhirnya bisa bernapas, Bumi," jawab Dara jujur. Matanya memantulkan cahaya lampu pasar malam. "Dua hari terakhir ini... semuanya terasa terlalu cepat. Kutukan harimau, vampir kolonial, kesepakatan dengan tetua. Malam ini, melihat anak-anak kecil memperebutkan balon, melihat ibu-ibu menawar harga baju... aku bersyukur manusia-manusia ini tidak tahu apa yang ada di balik hutan mereka."
Bumi tersenyum tipis. Matanya yang berwarna cokelat terang menatap wajah Dara dengan kelembutan yang mendalam. "Ketidaktahuan adalah berkah terbesar bagi manusia. Kawananku menghabiskan setiap malam berpatroli menumpahkan darah agar mereka bisa tetap tertawa di pasar malam ini tanpa pernah melihat wujud monster yang sesungguhnya."
Dara menoleh pada pemuda itu. Ia menyadari betapa besar beban yang dipikul Bumi di usianya yang masih sangat muda. Sebagai seorang Alpha, Bumi bertanggung jawab atas nyawa seluruh kawanannya, sekaligus nyawa manusia di sekitarnya.
"Apakah kau tidak pernah lelah, Bumi?" tanya Dara pelan. "Berpura-pura menjadi siswa SMA yang ceroboh di siang hari, lalu berubah menjadi jenderal perang di malam hari?"
Bumi tertawa pelan, tawa yang sedikit pahit. Ia menengadahkan wajahnya menatap langit malam yang kelam tanpa bintang.
"Lelah? Tentu saja," jawab Bumi. "Kadang aku ingin membuang insting serigala ini. Aku ingin lulus sekolah, merantau ke Jakarta, kuliah, bekerja di gedung tinggi, dan bermacet-macetan di jalan tol seperti manusia normal."
Bumi kembali menatap Dara, kali ini langkahnya bergerak maju, memangkas jarak di antara mereka hingga tersisa kurang dari setengah meter. Kilat merah kecokelatan yang sangat redup beresonansi di dalam pupil matanya.
"Tapi kemudian, takdir melempar seorang gadis kota dengan darah Penengah ke desa ini," lanjut Bumi, suaranya berubah menjadi bisikan yang serak dan intim. "Dan tiba-tiba, bertahan di Lembah Marapi tidak lagi terasa seperti sebuah tugas yang menyebalkan. Tiba-tiba, ada sesuatu di sini yang membuatku ingin terus berjaga. Sesuatu yang membuat insting serigalaku mendengkur tenang hanya dengan mencium aromanya di udara."
Jantung Dara berdegup lebih cepat. Tatapan Bumi begitu telanjang, begitu jujur. Tidak ada paksaan atau arogansi dalam pernyataan itu, hanya sebuah pengakuan akan ikatan purba yang mulai mengakar di dalam dada sang Alpha.
Dara menurunkan tangkai gulalinya. Ia menatap ke dalam mata Bumi, merasakan hawa hangat pemuda itu menyapu wajahnya.
Namun, di saat yang sama, tepat ketika Dara membiarkan dirinya terhanyut oleh ketenangan yang dibawa Bumi... insting Pawangnya mendadak berteriak.
Sebuah anomali suhu menabrak kulit punggung Dara.
Panas.
Sangat, sangat panas.
Panas itu tidak datang secara perlahan. Ia merayap seketika dari arah kegelapan di balik tenda penjual mainan yang berjarak sekitar sepuluh meter di belakang Dara. Udara malam yang sedingin es seolah menguap di area tersebut, tergantikan oleh hawa yang menyesakkan, beraroma daun pinus kering yang terbakar dan logam berkarat.
Dara terkesiap pelan. Oksigen di kerongkongannya seakan tersedot paksa.
Ia sangat mengenali panas ini. Ini bukan sekadar suhu tubuh normal seorang Cindaku. Ini adalah radiasi dari sebuah emosi yang mendidih. Amarah. Dan yang paling pekat... kecemburuan yang mematikan.
Bumi juga merasakannya. Insting serigala pemuda itu adalah salah satu yang paling tajam di lembah ini. Dalam hitungan sepersekian detik, postur santai Bumi menghilang tanpa sisa. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga terdengar bunyi gemeretak. Pendar merah kecokelatan di matanya meledak menjadi warna bara api yang menyala terang. Otot-otot bahu dan lengannya menegang keras di balik kemeja flanelnya.
Bumi menarik Dara dengan cepat dan menempatkan gadis itu tepat di belakang punggungnya, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup.
"Kau benar-benar tidak tahu sopan santun, Kucing Besar," geram Bumi rendah, suaranya dipenuhi frekuensi ancaman yang membuat debu di tanah bergetar pelan.
Dara mengintip dari balik bahu Bumi.
Di ujung area gelap, di antara bayang-bayang pohon mahoni dan tenda terpal yang tak terkena cahaya lampu, berdirilah sesosok tubuh yang menjulang tinggi.
Indra Bagaskara.
Pemuda Cindaku itu mengenakan sweter turtleneck hitam lengan panjang dan celana denim gelap, membuatnya nyaris menyatu sempurna dengan kegelapan malam. Hanya sepasang mata hazel-nya yang kini menyala menjadi warna emas terang benderang yang menandakan keberadaannya.
Mata emas itu tidak menatap Bumi; ia menatap lurus ke arah Dara yang berlindung di balik punggung rivalnya.
Uap panas mengepul tebal dari kerah dan lengan sweter Indra, berdesis saat bertabrakan dengan udara malam yang dingin. Tanah di sekitar sepatu bot yang dikenakan Indra tampak mengering dan retak-retak. Indra sedang menahan dirinya setengah mati agar tidak melompat dan merobek leher serigala yang berani berdiri sedekat itu dengan sang Pawang.
"Ini bukan teritorimu, Serigala," balas Indra, suaranya sangat berat, bergemuruh melintasi jarak sepuluh meter itu bagaikan guntur yang bergulung di dalam kabut. "Menjauhlah dari gadisku."
Dara membelalakkan matanya. Gadisku. Klaim itu dilontarkan Indra tanpa sedikit pun keraguan, dan dengan arogansi mutlak yang tak bisa dibantah.
Mendengar klaim tersebut, taring halus mulai menyembul dari bibir Bumi. Pemuda itu tertawa sinis, sebuah tawa yang dipenuhi oleh naluri predator yang terprovokasi.
"Gadismu?!" geram Bumi, mengepalkan kedua tangannya yang kini kuku-kukunya mulai meruncing. "Aku tidak melihat ada kalung namamu di lehernya. Dara adalah entitas bebas. Dan dia jelas lebih memilih menikmati malam ini bersama kawananku daripada harus menjadi penawar untuk penyakit jiwa yang kau sebut sebagai kutukan itu."
Ledakan uap panas memancar lebih tebal dari tubuh Indra. Pemuda itu melangkah satu tindak keluar dari bayang-bayang. Otot-otot di balik sweter hitamnya mengencang hingga batas robek. Cakar obsidian hitam legam mulai menyembul dari jari-jarinya yang mengepal. Indra tidak memedulikan fakta bahwa ada puluhan manusia hanya berjarak lima puluh meter dari mereka. Nafsu Rimba yang memuncak karena kecemburuan nyaris menelan seluruh akal sehat yang susah payah ia bangun.
"Aku memperingatkanmu satu kali saja, Bumi Arka," desis Indra, setiap silabelnya meneteskan ancaman kematian. "Singkirkan tubuhmu yang berbau tanah itu, atau aku akan menghancurkan tulang rusukmu di sini sekarang juga."
"Majulah, Kucing Sakit," tantang Bumi, merendahkan kuda-kudanya, bersiap menyambut terjangan Sang Harimau Putih.
"Berhenti!" teriak Dara, melangkah keluar dari balik punggung Bumi dan berdiri tepat di tengah-tengah jalur yang memisahkan kedua pemangsa tersebut.
Dara mengangkat kedua tangannya. Pendar biru dari segel di telapak tangan kanannya seketika menyala terang, memancarkan gelombang kedamaian yang melesat bagaikan riak air.
Gelombang itu menabrak Bumi dan Indra secara bersamaan.
Bumi tersentak pelan, napasnya memburu saat insting serigalanya ditekan paksa oleh wibawa Sang Pawang. Taring dan kukunya kembali menyusut.
Di sisi lain, Indra mengerang pelan saat hawa panas di tubuhnya dihempas oleh energi dingin murni. Kepulan uap panas di sekitarnya seketika surut. Mata emasnya berkedip cepat, berjuang melawan penawar itu, sebelum akhirnya kembali meredup menjadi warna hazel yang jernih. Cakar obsidiannya menyusut kembali menjadi jari-jari manusia.
Dara menatap Indra dengan pandangan yang tak kalah tajam, dadanya naik turun dengan cepat. "Apa yang kau lakukan di sini, Indra? Kau berjanji padaku bahwa kau tidak akan memancing keributan di wilayah manusia!"
Indra mengatupkan rahangnya. Kilat penyesalan berbaur dengan keputusasaan melintas di wajah kerasnya. Pemuda itu tidak bermaksud untuk menyerang. Ia hanya bermaksud untuk mengawasi dari jauh, memastikan Dara aman dari ancaman Willem. Namun, melihat gadis itu tertawa dan berbagi kehangatan sedekat itu dengan Bumi Arka... itu menghancurkan setiap dinding pertahanan emosional yang dimiliki Indra.
"Aku datang... karena tempat ini sudah tidak aman," jawab Indra pelan, namun nadanya menyimpan urgensi yang tidak bisa diabaikan. Pemuda itu memalingkan pandangannya dari Bumi dan menatap tajam ke arah atap-atap tenda di sekitar mereka.
Dara dan Bumi mengerutkan kening.
Saat itulah mereka berdua merasakannya.
Fokus mereka pada pertengkaran love triangle ini membuat mereka lengah terhadap perubahan lingkungan.
Suhu udara yang tadi didominasi oleh panasnya Indra dan hangatnya Bumi kini anjlok secara drastis. Bukan kembali ke suhu malam Marapi yang normal, melainkan jatuh hingga ke titik beku absolut. Napas mereka kini berubah menjadi kepulan asap es.
Lampu-lampu bohlam kuning di deretan stand permainan di belakang mereka mulai berkedip-kedip liar, sebelum akhirnya padam sepenuhnya dengan bunyi pop yang mencekam.
Area tepi lapangan itu kini tenggelam dalam kegelapan total.
Suara musik dangdut dan tawa manusia dari pusat pasar malam tiba-tiba terdengar sangat jauh, seolah ada dinding kedap suara tak kasat mata yang baru saja diturunkan untuk mengisolasi mereka bertiga.
Bumi mengendus udara. Wajah Alpha muda itu seketika memucat. Matanya terbelalak ngeri.
"Darah busuk..." bisik Bumi ngeri. "Ini bukan satu atau dua siluman liar. Ini... ini satu pleton."
Dari balik batang-batang pohon mahoni tua yang mengelilingi pagar kayu, bayangan-bayangan mulai bergerak. Kabut malam yang bergulung-gulung membawa aroma anyir darah kering, logam berkarat, dan tanah kuburan yang basah.
Satu per satu, sepasang mata merah menyala muncul dari dalam kabut. Bukan warna merah kecokelatan yang hangat milik Ajag, melainkan warna merah darah yang pekat dan mati.
Mereka adalah manusia-manusia pucat dengan pakaian compang-camping, beberapa mengenakan sisa-sisa seragam Marsose (pasukan militer Hindia Belanda) yang sudah lapuk dimakan tanah. Kuku-kuku mereka hitam dan panjang, wajah mereka menirus seperti tengkorak hidup, dan mulut mereka dipenuhi taring panjang yang meneteskan cairan kehitaman.
Ini adalah pasukan perintis Willem van Deventer. Boneka-boneka mayat hidup yang dibangkitkan dari dasar kawah Marapi.
Mereka telah mengepung area tersebut, memblokir seluruh jalan keluar menuju pusat pasar malam. Jumlahnya tidak kurang dari dua puluh makhluk.
Di tengah-tengah kepungan mayat hidup itu, seorang pria dengan setelan jas kolonial era abad ke-19 melangkah maju dengan keanggunan yang mengerikan. Pria itu berjalan tanpa menghasilkan suara gesekan tanah sedikit pun. Tongkat berkepala perak di tangannya berketuk pelan pada akar pohon. Kulit pualamnya seputih mayat, dan senyum mematikannya membeku di wajah.
Meneer Willem van Deventer menghentikan langkahnya sekitar belasan meter dari tempat Dara, Indra, dan Bumi berdiri.
Mata hitam jelaga sang Opsir Darah itu menatap lurus ke arah Dara, memancarkan haus darah yang telah tertahan selama dua abad.
"Pemandangan yang sangat menyentuh hati," suara Willem mengalun, berat, dingin, dan dipenuhi gema kematian yang menusuk langsung ke gendang telinga mereka. Aksen Belandanya terdengar kental di tengah sunyinya malam. "Sang Ratu Penengah dilindungi oleh seekor anjing kampung dan seekor kucing penyakitan. Sayang sekali pesta kecil kalian harus berakhir malam ini."
Willem mengangkat tongkat peraknya, menunjuk tepat ke jantung Dara.
"Bawa gadis itu padaku," titah Willem dingin pada pasukan mayat hidupnya. "Dan koyak kedua binatang peliharaannya hingga tak bersisa."
Dalam sekejap, dua puluh mayat hidup bermata merah itu meraung secara serempak, melesat maju dengan kecepatan yang mustahil, menerjang dari segala arah menuju titik di mana tiga darah yang ditakdirkan itu berdiri bersisian.