Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21: Di Atas Hamparan Putih
Suara mesin turbin helikopter Little Bird menjadi satu-satunya melodi yang menemani perjalanan kami menembus cakrawala utara. Di bawah sana, Puncak Frost sudah hilang ditelan kabut dan jarak, menyisakan hanya titik api kecil yang perlahan padam di hatiku. Aku mengatur tuas kendali dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap keningku yang masih berdenyut sisa gelombang sonik si Pemimpin tadi.
Aku melirik ke samping. Kurumi tertidur lelap dengan posisi meringkuk, kepalanya masih bersandar di bahu kananku. Nafasnya teratur, namun sesekali dia mengigau kecil, mungkin masih terjebak dalam mimpi buruk tentang cakar-cakar yang merobek beton. Perban di lengannya tampak bersih, tidak ada rembesan darah baru.
Logikaku mencoba membedah situasi ini. Secara taktis, membiarkan seseorang bersandar padaku saat mengemudi adalah gangguan ergonomis. Tapi, ada sensasi hangat yang menjalar di bahuku—sesuatu yang sudah lama hilang sejak dunia ini menjadi dingin dan busuk. Aku tidak mendorongnya menjauh. Aku membiarkannya.
"Zidan..." igau Kurumi pelan, tangannya mencengkeram ujung jaket pelindungku.
Aku terdiam. Apakah dia memanggilku karena takut, atau karena aku adalah satu-satunya pilar kenyataan yang tersisa baginya? Di dunia yang sudah hancur, namaku mungkin adalah satu-satunya kata yang masih memiliki arti "keamanan" di dalam benaknya.
Aku memfokuskan pandangan ke depan. Jarum bahan bakar kembali mendekati area kritis. Jerigen yang kami bawa tadi hanya cukup untuk membawa kami keluar dari zona badai, tapi tidak cukup untuk mencapai pesisir dalam satu kali terbang. Aku harus mencari tempat mendarat yang aman—jika tempat seperti itu masih ada.
Dua jam kemudian, matahari sudah menggantung tinggi di langit, memantulkan cahaya yang menyilaukan pada hamparan salju di bawah. Aku melihat sebuah pemukiman kecil di lembah, jauh dari jalan raya utama. Hanya ada beberapa rumah kayu dan sebuah lumbung besar. Tidak ada tanda-tanda asap atau pergerakan.
"Kurumi, bangun," kataku pelan, namun tegas.
Kurumi tersentak, matanya terbuka lebar dengan kilatan panik sesaat sebelum dia menyadari dia berada di dalam kabin helikopter. Dia segera menegakkan duduknya, wajahnya memerah saat menyadari dia tidur di bahuku cukup lama.
"Maaf... aku... aku ketiduran," bisiknya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Bukan masalah. Logikanya, tubuhmu butuh istirahat untuk memulihkan jaringan yang luka," jawabku datar, kembali ke mode pragmatis. "Kita harus mendarat. Bahan bakar menipis. Ada desa kecil di bawah."
"Apa itu aman?" Kurumi mengintip ke bawah, tangannya otomatis meraba sekop yang dia letakkan di antara kursi.
"Di dunia ini, kata 'aman' adalah variabel yang tidak pernah konstan. Tapi desa itu terisolasi. Peluang adanya kerumunan besar zombi lebih kecil daripada di kota," analisaku.
Aku membawa helikopter turun perlahan di sebuah lapangan terbuka di belakang lumbung besar. Begitu mesin mati, keheningan yang luar biasa langsung menyelimuti kami. Hanya suara derit logam helikopter yang mendingin dan siulan angin sepoi-sepoi.
Kami turun dengan waspada. Aku memegang HK416, sementara Kurumi berdiri di belakangku dengan sekopnya. Salju di sini tidak sedalam di Puncak Frost, hanya setinggi mata kaki.
"Zidan, lihat itu," Kurumi menunjuk ke arah pintu lumbung yang terbuka sedikit.
Ada jejak kaki di salju. Jejak kaki manusia, tapi polanya tidak beraturan. Aku memberi isyarat agar Kurumi tetap di belakangku. Kami mendekati lumbung itu dengan langkah tanpa suara. Begitu aku mengintip ke dalam, aku tidak menemukan zombi.
Aku menemukan kehidupan.
Di dalam lumbung, ada beberapa ekor sapi yang kurus kering dan seekor kuda yang tampak sekarat. Tapi di sudut ruangan, ada tumpukan jerami yang tertata rapi, dan sebuah tungku kecil yang masih mengeluarkan sisa panas.
"Ada orang di sini?" Kurumi berbisik, suaranya penuh harapan.
"Jangan berharap terlalu banyak, Kurumi. Orang yang bertahan hidup sendirian di tempat seperti ini biasanya tidak suka tamu," peringatku.
Tiba-tiba, dari balik tumpukan jerami, muncul seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Dia memegang sebuah busur panah mainan, namun ujungnya dipasang paku karatan. Matanya besar dan penuh ketakutan.
"Jangan... jangan makan aku!" teriaknya dengan suara parau.
Aku menurunkan senjataku sedikit, tapi tidak menyarungkannya. "Kami bukan monster, Nak. Kami hanya butuh tempat berteduh dan mungkin sedikit bahan bakar kalau ada."
Kurumi langsung melangkah maju, naluri perawatnya muncul. Dia berlutut agar sejajar dengan anak itu. "Hei, tidak apa-apa. Kami teman. Namaku Kurumi, dan ini Zidan. Kamu sendirian di sini?"
Anak itu menatap Kurumi lama, mungkin terenyuh dengan senyum tulus yang jarang ada di dunia kiamat ini. Dia perlahan menurunkan busurnya. "Ayah... Ayah bilang jangan keluar. Ayah sedang cari makan di rumah besar."
"Rumah besar itu?" aku menunjuk sebuah rumah dua lantai yang berjarak sekitar seratus meter dari lumbung.
Anak itu mengangguk. "Ayah sudah pergi sejak pagi. Tapi... tapi ada suara berisik di sana tadi."
Logikaku langsung menyusun skenario. Jika ayahnya belum kembali dan ada suara berisik, kemungkinan besar dia terjebak atau... sudah menjadi bagian dari kerumunan.
"Zidan, kita harus bantu ayahnya," Kurumi menatapku dengan mata memohon.
"Membantu orang asing adalah risiko logistik yang tidak perlu, Kurumi. Kita punya misi sendiri," kataku dingin.
"Tapi anak ini sendirian! Kalau ayahnya tidak kembali, dia akan mati kedinginan atau kelaparan! Zidan, tolong... sekali ini saja. Kamu bilang aku investasimu, kan? Anggap saja ini bagian dari pengembangan 'investasi' itu. Aku tidak bisa fokus kalau tahu anak ini menderita," Kurumi membela argumennya dengan cerdas, menggunakan logikaku sendiri untuk melawanku.
Aku menatapnya diam. Dia mulai pintar berdebat. Logikanya benar; jika mental Kurumi terganggu karena rasa bersalah, kinerjanya akan menurun. Menyelamatkan ayah anak ini adalah cara paling efisien untuk menjaga stabilitas emosional Kurumi.
"Sepuluh menit. Jika dalam sepuluh menit aku tidak menemukan ayahnya, kita pergi," kataku akhirnya.
"Terima kasih!" Kurumi tersenyum lebar, dan entah kenapa, melihat senyum itu membuat detak jantungku sedikit tidak beraturan. Sial, mungkin aku juga butuh istirahat.
Aku meninggalkan Kurumi untuk menjaga anak itu di lumbung dan berjalan menuju rumah besar. Suasana di sekitar rumah itu sangat mencekam. Pintu depannya hancur, dan ada bekas seretan darah di teras.
Aku masuk dengan senjata siaga. Bau busuk langsung menyengat. Di ruang tamu, ada dua zombi—mantan pemilik rumah ini, kelihatannya—sedang sibuk mengoyak sesuatu di lantai. Aku melepaskan dua tembakan suppressed tepat di kepala mereka. Puff! Puff!
Mereka tumbang. Di bawah mereka, ada seorang pria paruh baya yang kakinya terjepit di bawah lemari besar yang jatuh. Dia masih hidup, tapi pingsan karena syok dan kehilangan darah. Di tangannya, dia memegang sekaleng susu bubuk.
"Logika yang bodoh," gumamku. "Mempertaruhkan nyawa demi sekaleng susu."
Tapi kemudian aku teringat Kurumi yang rela mempertaruhkan nyawa demi amunisi cadanganku di Puncak Frost. Mungkin manusia memang diprogram untuk melakukan hal-hal tidak logis demi orang yang mereka sayangi.
Aku mengangkat lemari itu dengan susah payah, menyeret pria itu keluar dari rumah. Dia cukup berat, tapi adrenalin dan latihan fisikku selama ini membuat tugas itu terasa lebih ringan.
Saat aku kembali ke lumbung dengan pria itu di bahuku, Kurumi langsung berlari menghampiri.
"Ayah!" anak laki-laki itu berteriak kegirangan.
Kurumi segera membantu pria itu berbaring dan mulai memeriksa lukanya. "Dia hanya pingsan, Zidan. Luka di kakinya tidak dalam, tapi dia butuh istirahat."
Aku bersandar di pintu lumbung, memperhatikan mereka. Kurumi bekerja dengan sangat cekatan. Dia membalut luka pria itu, menenangkan anak laki-laki itu, dan bahkan sempat memasak air di tungku. Dia bukan lagi gadis penakut yang kutemui di apartemen dulu. Dia telah berevolusi menjadi seseorang yang tangguh, namun tetap memiliki empati—sesuatu yang hampir hilang dariku.
Malam itu, kami menetap di lumbung. Pria itu, yang bernama Thomas, akhirnya siuman dan berterima kasih berkali-kali. Sebagai imbalan, dia memberitahu kami bahwa ada tangki penyimpanan bahan bakar traktor di bawah tanah lumbung yang masih berisi solar. Itu bisa digunakan untuk helikopter kami jika aku bisa melakukan sedikit modifikasi filter.
Saat Thomas dan anaknya tertidur, aku duduk di dekat tungku, membersihkan HK416-ku. Kurumi mendekat dan duduk di sampingku, menyandarkan kepalanya lagi di bahuku. Kali ini, aku tidak merasa aneh.
"Zidan," panggilnya lembut.
"Hmm."
"Terima kasih sudah menyelamatkan Thomas. Aku tahu itu bertentangan dengan logikamu."
"Itu adalah keputusan taktis untuk menjaga fokusmu," jawabku, masih mencoba mempertahankan dinding es di sekitarku.
Kurumi tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng di tengah kesunyian malam. "Kamu tahu? Kamu adalah orang yang paling baik sekaligus paling menyebalkan yang pernah aku kenal."
Dia kemudian meraih tanganku, jari-jarinya yang hangat menyelip di antara jari-jariku yang kasar. "Jangan pernah berubah, Zidan. Tetaplah jadi logis, tapi biarkan aku yang jadi hatimu."
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Dalam kegelapan lumbung itu, dengan hanya diterangi bara api tungku, aku menyadari satu hal. Kurumi bukan lagi sekadar investasi. Dia adalah variabel paling penting dalam hidupku yang baru.
"Tidurlah, Kurumi. Besok perjalanan masih panjang," kataku pelan, namun kali ini, aku membalas genggaman tangannya.
Dunia mungkin sudah berakhir, tapi di sini, di lumbung kayu tua di tengah salju, aku merasa telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada amunisi atau bahan bakar. Aku menemukan alasan untuk tidak hanya bertahan hidup, tapi juga untuk tetap menjadi manusia.
Chapter 21: Di Atas Hamparan Putih
Suara mesin turbin helikopter Little Bird menjadi satu-satunya melodi yang menemani perjalanan kami menembus cakrawala utara. Di bawah sana, Puncak Frost sudah hilang ditelan kabut dan jarak, menyisakan hanya titik api kecil yang perlahan padam di hatiku. Aku mengatur tuas kendali dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap keningku yang masih berdenyut sisa gelombang sonik si Pemimpin tadi.