Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana lobi rumah sakit siang itu terasa lebih sibuk dari biasanya, namun bagi Selena, setiap langkah yang ia ambil menuju pintu keluar terasa seperti hitungan mundur menuju babak baru kehidupannya. Hari ini adalah hari terakhirnya berpraktik sebelum mengambil cuti panjang selama satu minggu untuk hari pernikahannya.
Hanya segelintir orang yang tahu alasan sebenarnya di balik cuti mendadak sang Dr. Sunshine. Selain jajaran direksi rumah sakit, hanya Nia dan Dira yang sudah ia beritahu. Selena telah memberikan dua buah amplop eksklusif berisi tiket pesawat dan akomodasi untuk mereka berangkat ke lokasi rahasia.
“Ingat ya, Nia, Dira. Tolong simpan rapat-rapat soal ini. Aku benar-benar ingin acara ini privat tanpa ada gangguan kamera mana pun,” ujar Selena dengan nada memohon saat mereka berada di ruangannya tadi.
Nia, sahabatnya yang sudah tahu sejak awal bahwa calon suami Selena adalah Elvano Alvendra, hanya mengangguk mantap. Namun Dira, asisten setianya, tampak masih diliputi rasa penasaran yang luar biasa karena Selena belum juga membocorkan siapa sosok pria beruntung itu.
“Dokter tenang saja, rahasia Dokter aman di tangan saya. Tapi sungguh, saya masih tidak habis pikir siapa pria yang bisa menaklukkan hati Dokter sampai Dokter merahasiakan namanya begini. Jangan-jangan dia pejabat ya, Dok?” tanya Dira dengan mata berbinar penuh selidik.
Selena hanya tertawa kecil sambil merapikan tasnya. “Nanti juga kau akan tahu, Dira. Siapkan saja baju terbaikmu untuk di Anambas nanti,” jawab Selena misterius.
Ia sengaja merahasiakan nama Elvano dari Dira karena ia sangat tahu bahwa asistennya itu adalah anggota VALS garis keras. Jika Dira tahu bahwa bosnya akan menikah dengan sang idola global, Selena khawatir Dira akan pingsan di tempat sebelum sempat mengemas koper.
Selena melangkah keluar dari lobi rumah sakit, menghirup udara Jakarta yang panas namun terasa melegakan. Ia menenteng tas kerjanya dengan langkah ringan, tidak menyadari bahwa di seberang jalan, sebuah sedan hitam dengan kaca film yang sangat gelap sedang terparkir diam memantau setiap gerakannya.
Di dalam mobil tersebut, Elvano Alvendra duduk di kursi belakang dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Tatapannya lurus ke arah pintu keluar rumah sakit, mengunci sosok wanita berjas putih yang baru saja melepas snelli-nya dan kini tampil segar dengan pakaian kasualnya.
Sudah beberapa hari ini Elvano tidak bisa menemui Selena secara langsung karena aturan pingitan ketat yang diberlakukan oleh Oma Ratna dan Nenek Asti. Baginya, satu hari tanpa melihat Selena terasa seperti setahun berada di lokasi syuting yang membosankan.
Darian, yang duduk di kursi samping kemudi, melirik ke arah spion tengah dan mendapati bosnya sedang menatap Selena tanpa berkedip. Senyum jahil langsung tersungging di bibir asisten setia itu.
“Wah, sepertinya ada yang sudah tidak tahan menahan rindu ya sama Dokter cantik kita ini?” goda Darian sambil terkekeh pelan.
Elvano menoleh perlahan, memberikan tatapan sinis yang sanggup membuat nyali staf agensinya menciut, namun Darian sudah terlalu kebal dengan tatapan itu.
“Diamlah, Darian. Aku hanya memastikan dia pulang dengan aman,” sahut Elvano dengan suara baritonnya yang tenang, meski jemarinya mengetuk-ngetuk lutut secara tidak beraturan—tanda bahwa ia memang sedang overthinking.
Darian justru tertawa semakin lebar, ia sengaja memutar badannya ke belakang untuk menghadap Elvano.
“Aman bagaimana? Di sana sudah ada empat bodyguard yang kau sebar dengan menyamar jadi tukang ojek dan pedagang kaki lima. Mengaku saja, El. Kau itu sudah nekat datang ke sini hanya untuk melihatnya dari kejauhan selama lima menit. Ini sudah tahap kronis, Bos. Kau benar-benar sudah jatuh cinta setengah mati pada calon istrimu sendiri,” ledek Darian lagi.
Elvano mendengus dan kembali membuang muka ke arah jendela, mengabaikan ledekan Darian meski dalam hati ia membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut asistennya itu. Rasa rindu ini terasa asing bagi pria yang terbiasa sendirian di puncak popularitas seperti dirinya.
“Jalankan mobilnya sebelum dia melihat kita di sini,” perintah Elvano dingin. Darian memberi kode kepada supir untuk mulai melaju perlahan.
**
Suasana Jakarta malam ini terasa sedikit lebih gerah, namun bagi Selena, ada rasa lega yang membuncah setelah menyelesaikan seluruh administrasi cutinya di rumah sakit. Ia mengendarai mobilnya sendiri membelah kemacetan kota dengan perasaan yang campur aduk. Bayangan tentang upacara pernikahan di Kepulauan Anambas terus menari-nari di benaknya, membuat perutnya sesekali terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu.
Begitu sampai di rumah dan baru saja meletakkan tas kerjanya di atas meja makan, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar, nama Tuan Bintang tertera di sana.
“Sudah sampai di rumah dengan selamat?” tanya Elvano dalam pesan singkatnya, seolah ia memiliki radar yang tahu persis kapan Selena menginjakkan kaki di kediamannya.
Selena tersenyum kecil, jemarinya bergerak lincah membalas pesan tersebut. “Iya, El. Baru saja aku masuk dan mengunci pintu. Kenapa? Kamu sedang tidak tidur?” tanya Selena balik.
“Aku baru saja akan istirahat. Sebaiknya kamu juga segera tidur. Mandi air hangat dan istirahatlah yang cukup, karena besok pagi-pagi sekali kita sudah harus berangkat menuju Anambas. Perjalanan dengan seaplane akan cukup melelahkan,” tulis Elvano lagi.
Selena mengangguk pelan seolah pria itu ada di hadapannya. “Iya, kamu juga jangan begadang. Pastikan koper-kopermu sudah siap semua. Sampai jumpa besok pagi, El,” balas Selena mengakhiri percakapan teks itu.
Namun, apa yang tidak diketahui oleh Selena adalah kenyataan bahwa Elvano saat ini sama sekali tidak berada di kamarnya yang nyaman. Di seberang jalan, beberapa meter dari gerbang rumah Selena, sebuah sedan hitam dengan mesin yang sengaja dimatikan terparkir dalam kegelapan.
Elvano duduk di kursi belakang, menatap ke arah jendela lantai dua rumah Selena di mana lampu kamarnya baru saja menyala. Ia telah mengikuti mobil Selena sejak dari rumah sakit tadi, menjaganya dalam diam dari jarak aman demi memastikan wanita itu benar-benar sampai di rumah tanpa gangguan satu pun.
Darian, yang duduk di kursi kemudi, melirik bosnya melalui spion tengah. Ia melihat sorot mata Elvano yang biasanya dingin dan sulit ditebak, kini tampak begitu teduh dan penuh perhatian saat menatap rumah itu.
“Apa yang membuatmu begitu mudah jatuh hati padanya, El? Maksudku, selama aku bersamamu, aku melihat puluhan aktris papan atas dan model kelas dunia mencoba mencuri perhatianmu, tapi kau selalu sekaku es kutub,” tanya Darian dengan nada penasaran yang tulus.
Elvano terdiam sejenak, ia menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya agar udara malam bisa masuk. Ia menghirup napas panjang sebelum menjawab.
“Jujur, aku sendiri juga tidak paham sepenuhnya, Darian,” ucap Elvano pelan, suaranya terdengar sangat jujur. “Awalnya, saat perjodohan ini direncanakan, aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Aku malas sekali membayangkan harus berbagi hidup dengan orang asing. Tapi entah mengapa, lambat laun aku merasa luluh dengan segala sikapnya.”
Elvano menjeda kalimatnya, senyum tipis yang tulus tersungging di bibirnya tanpa ia sadari.
“Selena punya sisi perhatian yang tidak pura-pura. Dia punya keceriaan dan semangat yang sering kali tidak ada pada diriku. Dia bisa menciptakan suasana yang awalnya gelap menjadi begitu terang hanya dengan tawa sederhananya. Aku berpikir, tidak ada salahnya membangun masa depan dengan perempuan sebaik dia. Bagiku, dia bukan sekadar dokter, dia adalah penawar untuk kesepianku yang panjang,” lanjut Elvano lagi.
Darian tertegun mendengar pengakuan itu. Ia memutar tubuhnya menghadap Elvano dengan ekspresi serius.
“Aku ikut senang, El. Benar-benar bangga melihatmu bisa bicara seperti ini. Aku telah bersamamu dalam suka dan duka sejak kau bukan siapa-siapa hingga menjadi superstar seperti sekarang. Bagiku, melihatmu menemukan kebahagiaan sejati seperti ini adalah puncak pencapaian hidupmu yang sebenarnya,” ujar Darian dengan nada haru.
Darian berdehem sebentar untuk menghilangkan rasa canggungnya. “Tapi kau juga harus ingat, El. Mempertahankan kebahagiaan itu jauh lebih sulit daripada mendapatkannya. Kehidupan pernikahan di bawah sorotan media bukanlah hal yang mudah. Akan banyak badai yang datang menguji kalian.”
Elvano mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada jendela kamar Selena yang kini lampunya sudah meredup.
“Aku paham dengan apa yang kau katakan, Darian. Dan aku akan berusaha melakukan apa pun untuk mempertahankannya. Meskipun aku harus mempertaruhkan karirku sekalipun, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Selena,” tegas Elvano dengan nada bicara yang tenang namun menyimpan tekad yang sangat absolut.
“Baguslah kalau begitu. Sekarang, ayo kita pergi. Jika kita terus di sini, tetangga Selena akan mengira kita perampok,” canda Darian sambil mulai menyalakan mesin mobilnya. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan area perumahan Selena.
***