Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 21
Arka menyandarkan punggungnya ke sofa, pundaknya perlahan turun seiring helaan nafas pelan yang keluar dari mulutnya.
"Rasanya beban di pundak aku hilang gitu aja."
Matanya menatap sendu Alyana."Aku akan mengakhiri semuanya."
Alyana hanya mengangguk sambil tersenyum,senang jika benar Arka akan mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih.
Namun senyum itu sirna seketika saat matanya menatap hp Arka yang tiba-tiba berbunyi.Satu nama yang membuat dadanya terasa sesak.
...Ervina❤ ...
...calling..... ...
Rasanya seperti luka yang baru kering tersiram air kembali.Alyana langsung berdiri bersiap melangkah, namun tiba-tina Arka menahannya.
"Aku mau selesaikan semuanya sekarang juga,jangan pergi dulu.." Nadanya penuh permohonan.
Alyana mengangguk, ia kembali duduk di sisi Arka.Membiarkan Arka menerima telpon itu.
Entah sadar atau tidak, Arka terus menggenggam tangannya agar Alyana tidak pergi.
"Aku angkat ya" Matanya seolah meminta izin pada sang istri.
"Iya."
Arka langsung menekan tombol hijau dan menghidupkan speakernya agar sang istri mendengarnya.
"Halo honey"
Mendengar itu, Alyana langsung memalinkan wajahnya.Dadanya berdebar kencang.Ada rasa kesal dalam hatinya.Dan Arka yang faham itu, semakin menggenggam tangan Alyana dan menariknya keatas pangkuannya membuat Alyana langsung menengok ke arah Arka. Mata Arka menatap Alyana seolah meminta maaf.
"Maaf aku baru balas pesan kamu." Nadanya terdengar serak seperti baru bangun tidur. "Honey, apa maksud kamu ngomong kaya gitu. Terus foto itu apa maksudnya aku gak ngerti."
Arka tertawa sinis, "Saking sibuknya nya sama cowo lain sampe pesan dari gue aja baru lo buka."
Di seberang sana, Ervina mematung mendengan ucapan Arka dan bahkan Arka yang bersikap lembut lagi padanya.
"Honey, kok kamu ngomongnya kasar sih." Protesnya
"Bodo amat!" Sarkas Arka.
"Honey, aku bisa jelaskan semuanya.Terus tentang foto itu, kamu dapat dari mana?"
"Gak perlu tau gue dapet dari mana."
"Tapi honey, itu foto gak benar.Itu foto cuma editan."
Arka tertawa. "Lo bilang itu editan? Lo gak bisa bedain ya mana foto asli dan editan?" Nadanya terdengar sarkas. "Ah iya gue lupa, hidup lo aja penuh editan apalagi selembar foto."
Skakmat.
Ervina terdiam. "Itu fitnah Honey.Itu foto rekayasa."
"Lo fikir gue bego, gak bisa bedain mana asli sama palsu?"
"Arka,tapi yang foto itu cuma teman aku aja."
Tanpa sadar Ervina sudah mengakui bahwa foto itu memang benar dirinya.Arka semakin getir mendengar itu, selama ini ia sudah memilih orang yang salah, dan parahnya ia sama sekali tidak percaya dengan orangtuanya setiap kali sang Ayah memberitahukannya siapa Ervina sebenarnya.
"Gue udah gak nerima alasan apapun.Mulai sekarang jangan pernah ganggu gue lagi, dan jangan pernah muncul lagi di depan muka gue."
"Gak bisa gitu dong Arka, aku cinta sama kamu dan kamu juga pasti masih cinta sama aku."
"Bullshits..gue gak ngerasa."
"Tapi Ka...semua ini hanya salah faham aja,kamu masih di Sukabumi kan? Aku susul kamu ya, kita bicara langsung aja."
"Gak usah.Jangan pernah datangi gue lagi.Kalau gak mau karir lo hancur!." Nadanya nya penuh peringatan.Arka sudah tak ingin berurusan lagi dengan Ervina.Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan fokus pada rumah tangganya bersama Alyana.
"Tapi Ar..."
Telpon di tutup duluan oleh Arka dengan kasar.Arka menjadi kesal dibuatnya,Ervina terus mengelak padahal sudah jelas-jelas bukti-bukti yang ia dapat.
Bahkan foto tadi malam saat Ervina masuk kedalam kamar hotel bersama salah satu dosen saja sudah ia kirimkan, tapi ia terus saja mengelak.
Arka menghela nafasnya kasar,ia merasa semua beban masalahnya luruh bersamaan dengan di tutup telpon tersebut.Namun bagi Alyana, ia menyangka Arka sedih dan berat harus meninggalkan Ervina.
"Kamu kenapa?" Alis Arka mengerut saat melihat Alyana yang terdiam sambil menatapnya dengan pandangan kosong.
"Ah,apa ka?"
"Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa, aku mau siapkan dulu makan buat kaka." Alyana baru akan berdiri namun Arka buru-buru mencegahnya.
"Jangan pergi dulu, kita belum selesai."
Alyana mengangguk pasrah, entah apalagi yang mau di bicarakan Arka.Kemudian Arka kembali mengotak atik HP nya.
"Aku udah blokir nomor Ervina." Arka mengangkat hpnya yang memperlihatkan layar dengan nama Ervina yang kini sudah berubah nama menjadi 'cewe stres.
Kemudian Arka mencari kontak seseorang dan kemudian menggantinya.
'Humairah❤'
Seketika wajah Alyana terasa panas, ia memalinkan wajahnya takut Arka melihat wajahnya yang berubah merah merona.
"Tanggal lahir kamu?"
Alyana mengerutkan keningnya saat Arka bertanya seperti itu."Untuk apa?"
"Buan pin."
"Tujuh belas Mei"
Arka mengangguk. "1705" Arka kemudian menarik jari jempol Alyana dan menempelkannya pada layar HP nya.
"Done."
Alyana tertegun, ia tidak menyangka Arka akan berbuat seperti ini.Bahkan kunci layar HP nya pun memakai sidin jari dirinya. "Ka..." lirihnya.
"Biar kamu bisa bebas periksa HP aku." Nadanya ringan namun mampu membuat Alyana terdiam dengan jantung yang semakin berdebar cepat.
"Mulai sekarang aku mau, kita belajar saling terbuka satu sama lain. Mau kan?"
Kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain, mencoba menyelami hati masing-masing.
Alyana mengangguk, ia setuju.Sebuah hubungan akan berjalan dengan baik jika didasari dengan saling terbuka.Keterbukaan membuat dua hati saling memahami, bukan saling menebak-nebak. Dengan terbuka, kita bisa menyampaikan perasaan, harapan, dan kekhawatiran tanpa rasa takut disalahpahami.
Keterbukaan juga harus dibarengi dengan kejujuran, sikap dewasa, dan saling menghargai. Terbuka bukan berarti menyakiti, tapi menyampaikan dengan cara yang baik agar hubungan tetap terjaga.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang bagaimana dua orang mau belajar memahami satu sama lain.
"Iya, Alya mau.Terimakasih karena kaka sudah mau mencoba berusaha menjalani hubungan ini dengan baik."
Arka mengangguk, hati nya merasa enggan melepas genggaman tangan Alya.Rasa nyaman yang baru saja ia rasakan.
"Oh iya ada satu lagi." Arka mengeluarkan dompetnya dan menyerahkannya pada Alya.
"Apa ini?"
"Dompet"
"Ih kaka, Alya juga tau ini dompet." Tanpa sadar Alya merajuk manja seperti kebiasaanya pada Ayah dan Baba nya.
Arka tertawa melihatnya, lucu dan gemas melihat sang istri kecilnya merajuk.
"Maksud Alya untuk apa kaka ngasih dompet Kaka ke Alya."
Arka berhenti tertawa, kemudian menatap Alya dengan serius. "Buka dompet Kaka dan kamu ambil salah satu kartu hitam yang ada di dalam nya."
"Buat apa?"
"Buat kamu dong, masa buat orang lain."
"Alya tau, tapi buat apa kaka ngasih kartu itu."
"Buat keperluan kamu lah."
"Tapi kan kemarin kaka udah ngasih aku uang."
"Iya itu uang buat makan dan keperluan kamu yang memang harus pakai uang cas.Kalau kartu itu buat kamu belanja beli baju, skincare,tas atau apapun yang kamu mau. "
"Tapi kan aku juga punya, ada tiga malah. Dari Ayah, Baba dan Papi." Alya dengan polosnya memperlihatkan isi dompetnya juga yang memang berisi beberapa kartu yang di beri keluarganya.
Arka begitu terkejut melihatnya.Benar saja ada tiga kartu hitam, dua gold serta beberapa ATM debit yang entah dari siapa saja. Padahal dirinya pun tidak memiliki kartu sebanyak itu.
Gila..bini gue benar-benar Sultan. Gak nyangka gue nikahin princes sebenarnya. Beruntung banget jadi gue lah!.
"Itu kartu serius punya kamu semua?"
"Iya, yang dua ini dari Umi dan Grandpa Naufal.Kalau yang debit dari Uncle dan Aunty, tapi aku gak pernah pakai jadi gak tau berapa isinya."
Arka dibuat melongo mendengarnya,berarti uang satu gepok yang ia beri dua minggu lalu gak ada apa-apa nya di banding semua kartu-kartu yang di miliki sang istri.
Pantes aja Ayah sama Bunda maksa gue buat ngasih satu kartu hitam, jadi benar ya Alya memang gak pernah ngerasain kekuarangan.Semua kebutuhannya memang udah terjamin.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.