NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Hujan mulai turun ketika mereka keluar dari lorong di antara gedung apartemen. Hanya gerimis kecil, tapi cukup untuk membuat udara menjadi lebih dingin. Cahaya lampu-lampu jalanan memantul di aspal yang basah, sementara suara sirene polisi sayup-sayup terdengar semakin jauh.

Han berjalan tanpa berbicara, dan Nara mengikutinya sambil menjaga jarak aman. Kepalanya penuh pertanyaan, tapi setiap kali ia mencoba berbicara, ia melihat pria itu seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

Arah mereka berjalan, orang-orang yang berpapasan, pantulan kaca toko.

Seolah ia tidak pernah benar-benar berjalan santai.

“Kita mau pergi ke mana?” tanya Nara.

“Tempat sementara,” jawab Han singkat.

“Jawabanmu selalu ngga jelas ya?”

Han meliriknya, “Jawaban yang terlalu jelas biasanya bikin celaka.”

Nara cuma bisa mendengus napasnya pelan.

Mereka menyeberangi sebuah jalan kecil menuju area pertokoan lama. Sebagian ruko sudah tutup; hanya ada beberapa warung makan yang masih buka dengan televisi menyala pelan di dalam.

Perut Nara tiba-tiba terasa pedih. Ia baru sadar kalau ia belum makan malam. Tiba-tiba Han berhenti secara mendadak di depan toko laundry yang sudah tutup. Nara hampir saja menabraknya.

“Kenapa berhenti sih…?”

Han mengangkat tangan dan menyuruhnya untuk diam. Ada sebuah motor melintas di ujung jalan. Terlalu pelan dan mencurigakan.

Han memperhatikan pengendaranya lewat pantulan kaca toko. Helm hitam. Jaket gelap. Tidak melihat ke arah mereka secara langsung. Tapi tetap mencurigakan. Motor itu terus berjalan sampai menghilang di tikungan.

Han baru beranjak setelah memastikan motor itu tidak kembali. Nara menatapnya dengan heran.

“Kamu sepertinya mudah curiga sama semua orang, ya?” tanya Nara.

“Orang yang mau hidup lebih lama biasanya begitu,” jawab Han. Jawaban seperti itu lagi. Datar, pendek dan menyebalkan.

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan apartemen tua berlantai lima. Cat temboknya kusam dan rontok dengan lampu di lorong depan yang berkedip-kedip lemah seakan mau putus.

Han masuk gedung itu tanpa ragu. Nara menatap ragu di depan pintu masuk sebelum melangkah mengikuti masuk ke dalam gedung.

“Jangan bilang ini tempat tinggalmu,” kata Nara sambil melihat langit langit yang berjamur.

Han menekan tombol lift yang tidak menyala.

“Untungnya bukan.”

“Untungnya?”

“Kalau ini tempat tinggalku, kemungkinan besar sudah habis dibakar.”

Nara menatapnya beberapa detik. Ia masih belum bisa menentukan apakah pria ini bercanda atau benar-benar serius. Yang lebih menyeramkan, wajah Han tidak pernah berubah saat mengatakan hal aneh.

Mereka naik lewat tangga sampai lantai empat. Han berhenti di depan pintu apartemen nomor 407 lalu mengetuk tiga kali dengan ritme pendek. Tidak ada jawaban.Ia mengetuk lagi dengan ritme yang berbeda.

Kali ini terdengar suara langkah kaki dari dalam apartemen. Pintu terbuka setelah beberapa suara kunci yang dibuka. Seorang pria muda dengan rambut acak-acakan muncul sambil memegang sebungkus mi instan. Ekspresi wajahnya kosong selama dua detik. Lalu berubah menjadi kaget.

“…HAN?”

Han mengangguk, “Aku butuh tempat!”

Pria itu menatap Nara yang berdiri di belakang Han.

“…lu bawa cewek?”

“Masalah.”

“Ah...” Pria itu langsung mengangguk paham. “Masuk!”

Wajah Nara terlihat bingung, “…itu penjelasan paling aneh yang pernah aku dengar.”

“Biasakan,” kata pria itu sambil membuka pintu lebih lebar.

Apartemen itu sempit, berantakan, dan penuh dengan kotak makanan instan. Ada komputer tua yang menyala di meja kecil dekat jendela.  Pria itu segera menutup pintunya dengan cepat lalu mengintip lewat lubang pintu selama beberapa detik sebelum menghela napas lega.

“Oke… Sekarang jelaskan kenapa muka lu kayak orang baru habis perang.”

“Mereka muncul,” kata Han sambil melepas jaketnya yang basah.

Ekspresi pria itu langsung berubah serius. “Siapa?”

Han diam sepersekian detik, sebelum menjawab singkat, “…Helios.”

Ruangan langsung terasa sunyi. Nara menangkap perubahan itu dengan jelas. Pria berambut acak-acakan tadi tidak lagi terlihat santai. Bahunya terlihat menegang.

“Lu bercanda kali ah, serius?”

“Aku ngga punya waktu buat itu.”

Pria itu mengusap wajahnya dengan  kasar, “Bangsat…”

Nara melipat kedua tangannya di dada, sambil menatap mereka berdua..

“Bisa tolong jelaskan, apa sih yang sebenarnya terjadi?”

Kedua pria itu menoleh padanya bersamaan.

“Dia belum tahu?” tanya pria itu.

“Belum..,” jawab Han.

“Hebat. Dan lu bawa dia ke sini?”

Han menghela napasnya sambil duduk di sebuah sofa kecil.

“Aku juga belum sempat merencanakan apapun, ini semua tiba tiba.”

Pria itu berjalan mondar-mandir sebentar sebelum akhirnya menunjuk dirinya sendiri.

“Oke. Nama gue Arga… Arga Widodo.”

Nara bernafas sedikit lega, akhirnya ada orang normal yang mau memperkenalkan diri.

“Nara Feliani.”

Arga mengangguk. “Dia…Han..,” sambil menunjuk ke arah Han. “Dia itu emang aneh dari lahir.”

“Aku masih dengar,” kata Han datar, sambil memejamkan matanya.

“Iya, dan lu tetap aneh,” potong Arga.

Nara hampir saja tertawa. Ia setidaknya sedikit terhibur setelah ketegangan tadi.  Arga membuka sebuah lemari kecil di sudut ruangan lalu melempar handuk bersih ke arah Han.

“Kalian dikejar?”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

Han menerima handuk itu sambil berkata, “..mereka kehilangan jejak kita buat sementara.”

Arga menatapnya lalu melanjutkan, “…kalau lu bilang ‘sementara’, artinya kita semua bakal kena masalah kan?”

Han terdiam dan itu sudah jadi jawaban.

Arga menutup matanya selama beberapa detik.

“Gue benci tiap lu muncul mendadak.”

“Padahal terakhir kali kamu bilang kangen,” ujar Han tetap datar.

“Itu sebelum lu bawa organisasi pembunuh ke apartemen gue,” kata Arga kesal.

Nara menatap Han lagi.

Organisasi?

Mereka bukan orang biasa. Perasaan bingung dan takut semakin membesar di dadanya.

“Han,” katanya pelan.

Pria itu mengangkat pandangannya.

“Apa sebenarnya yang mereka mau dariku?”

Han tidak langsung menjawabnya, dan  itu yang membuat Nara semakin ketakutan. Karena sejak mereka bertemu sore tadi, Han terlihat sangat tidak yakin.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!