Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sultan
Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Sultan berhasil sampai di rumahnya dengan menghabiskan waktu hanya 15 menit saja. Motor Sultan baru saja masuk halaman rumahnya. Security membukakan garasi untuknya.
"Terima kasih, pak."
"Sama-sama, den."
Sultan melihat jam tangannya.
"Masih jam 8. Pasti lagi makan malam. " Gumamnya.
Ia membuka helmnya, dan menyembunyikan helm dan jaket ojeknya di dalam jok motornya yang cukup luas itu. Motor Sultan type matik salah satu merk Yamaha. Sebenarnya ia punya dua motor. Namun untuk ngojek ia membawa yang matik.
Sultan melangkah masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya tidak dikunci.
"Assalamu'alaikum.... Assalamu'alaikum.... "
Tidak ada jawaban.
Ia pun langsung menuju ruang makan. Dan benar saja, di sana kedua orang tuanya dan adiknya sudah duduk di kursi makan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Meski begitu, tak lupa ia mencium punggung tangan abi dan umminya. Tumben kecua orang tuanya tidak banyak bicara.
Sultan duduk di samping adiknya. Lalu mengambil makanan ke piringnya.
Beberapa saat kemudian, ummi dan abi selesai makan. Mereka pamit masuk ke kamar duluan. Sedangkan Sultan dan Hafiza belum selesai.
"Dek, tadi abi jadi periksa? "
"Iya, bang."
"Terus gimana hasilnya?"
"Kok nggak nanya sendiri ke orangnya?"
"Hem... kayaknya mereka lagi mogok bicara sama abang."
Hafiza terkekeh.
"Eh malah ketawa nih anak. Sakit apa abi?"
"Kolestrolnya tinggi, hipertensi juga tapi nggak over masih aman." Hafiza terpaksa berbohong atas perintah orang tuanya.
"Alhamdulillah."
"Makanya abang jangan bikin mereka emosi melulu lah."
Hafiza beranjak dari duduknya.
"Eh mau ke mana?"
"Sudah selesai makannya, bang. Aku mau balik ke kamar. Ada PR juga."
Sultan pun tak bersuara lagi. Namun dalam hatinya ia bergumam.
"Nggak enak juga kalau makan sendirian gini."
Ia mempercepat makannya. Setelah itu, ia meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar.
Bibi pun membereskan meja makan.
Di dalam kamar, ummi dan abi sedang bermusyawarah. Sebenarnya tadi mereka bukan dari rumah sakit tapi dari rumah orang tua ummi yaitu Opa Tristan dan Oma Salwa. Ternyata Opa Tristan tahu kalau Sultan kerja sampingan menjadi tukang ojek. Opa juga tahu semua kesian Sultan di luar sana. Dalam hal ini justru Opa Tristan kagum kepada Sultan. Dan Opa meminta ummi dan abi agar tidak memaksanya untuk menikah.
"Dia sedang mencari jati dirinya. Dan abi rasa dia juga sedang mencari jodohnya dengan santai. Anak itu ingin mendapatkan jodoh sesuai kata hatinya. Dia bukan tidak menyukaimu wanita, dia hanya trauma dengan kisah temannya. Jangan sekali-kali menjodohkannya. Nanti yang ada kita yang malu dibuatnya. Biarkan dia berproses. Usianya masih 27 tahun. Sepupunya juga menikah lebih tua darinya." Begitu kira-kira pesan Opa Tristan kepada anak dan menantunya.
Ummi dan abi pun memutuskan untuk tidak membahas masalah itu lagi kepada Sultan. Selagi Sultan masih mau pergi ke kantor menggantikan abinya, dan ia tidak bertingkah yang melanggar aturan agama dan keluarga, mereka masih memaklumi.
Di kamar Sultan, ia sedang merenung. Ia membuka album lama yang tersimpan di lacinya. Betapa ia sangat sakit saat melihat foto sahabatnya yang meninggal karena bunuh diri. Dika bunuh diri lantaran dikhianati oleh kekasihnya. Kekasihnya hamil dengan orang lain. Mulai saat itu, Sultan tidak terlalu respek kepada wanita. Padahal ia sempat menjadi idola di kampusnya. Siapa yang tidak tertarik dengan ketampanan dan karismanya. Namun Sultan sendiri yang merubah dirinya menjadi image yang tidak baik. Ia sempat mengatakan tidak suka kepada wanita. Dan hal itu yang membuat dirinya dijauhi wanita di kampusnya. Sultan bersyukur akan hal itu. Padahal tidak pernah ada bukti bahwa dia seorang gay.
"Huh.... Dika, kenapa dulu kamu harus bunuh diri? Seharusnya kamu buktikan bahwa kamu lebih segalanya. Kamu balas penghianatannya dengan pembuktian yang membuatnya menyesal."
*
Di kost-an Riri
Fira baru saja datang. Ia membawa makanan dan minuman yang Riri pesan.
"Akhirnya kamu datang juga. Bisa jamuran aku nungguin orang pacaran."
"Haha... ya, maaf."
"Fir, kalau kataku sih ya. Kamu dan Tirta kan sudah pacaran cukup lama. Kenapa kalian nggak tunangan atau nikah saja? Toh kalian sama-sama punya pekerjaan. "
"Huf... maunya sih gitu. Tirta masih nabung. Dia kan tulang punggung keluarga. Masih harus membiayai sekolah adiknya. "
Riri hanya menganggukkan kepala mendengarnya. Kalau sudah seperti itu, Riri juga tidak bisa memberikan pendapat lagi.
"Kamu sendiri kenala kok nggak Terima si Arga yang ngejar-ngejar kamu itu?"
"Huf... sudah kubilang, aku nggak suka."
"Iya, apa alasannya?"
"Orangnya terlalu obsesi. Dan juga orang tuanya matre."
Fira terkekeh mendengarnya.
"Enak banget seblaknya. Beli di tempat biasanya?"
"Bukan, ini yang sebelah lampu merah. Aku nyoba di situ karena seliweran di tiktok."
"Iya, enak ini. Lebih berasa gitu bumbunya."
"Ya sudah, kapan-kapan belinya di situ lagi."
Mereka menghabiskan seblak dan minumannya. Setelah itu, Riri mencuci mangkok dan sendok bekas mereka makan. Selanjutnya, seperti biasa mereka akan ngobrol sampai mengantuk jika Fira tidak telponan dengan Tirta. Riri beruntung memiliki sahabat seperti Fira. Mereka kenal saat kuliah dulu. Namun dulu mereka hanya sekedar kenal karena beda jurusan. Dan atas kehendak Allah keduanya diterima di perusahaan yang sama meski di bagian yang berbeda. Keduanya memiliki kemampuan masing-masing.
Keesokan harinya.
Riri dikejutkan dengan bunyi alarmnya. Ia sengaja memasang alarm jam 6 karena memang sedang tidak shalat. Sedangkan Fira saat ini berada di dalam kamar mandi. Ia sedang mencuci pakaiannya.
"Mimpi apa aku tadi ya?" Gumamnya.
Riri mengingat-ingat mimpinya.
"Oh ya Allah, kok bisa aku mimpi bang ojek yang kemarin? Ya ampun, jelas banget lagi."
Ceklek...
Fira keluar dari kamar mandi.
"Ngapain kamu geleng-geleng kepala sendiri, Ri?"
"Eh itu, nggak. Aku hanya mimpi."
"Mimpi apa?"
"Mimpi bang ojol."
"Ada-ada saja kamu tuh. Bang ojol segala yang dimimpiin. Mimpi itu pangeran berkuda kek!"
Riri mengangkat cuciannya dan membawanya ke balkon belakang untuk dijemur.
*
Di rumah Sultan.
Ia baru saja selesai ngegym. Bibi datang membawakan susu vanila untuknya.
"Terima kasih ya, bi'."
"Sama-sama, den."
Sekitar jam 8, Sultan sarapan bersama dengan yang lain. Nampak kedua orang tuanya masih seperti tadi malam. Mereka tidak banyak bicara. Abi mengambil daging stik yang baru dikeluarkan oleh bibi'.
"Bi, bukannya kolesterolnya tinggi. Jangan makan daging dulu!" Ujar Sultan.
Abi melirik istrinya. Ummi pun memberi kode.
"Iya, bi. Ambil ini ikan saja."
Abi hanya bisa menelan salivanya sendiri.
Ummi hanya bisa menahan tawa melihat suaminya.
"Ummi tahu, sebenarnya ksmu itu perhatian sama kita, bang." Batin ummi.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar