Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03
Tiga belas tahun kemudian....
Deru mesin mobil mewah itu mati tepat di depan rumah megah yang sangat besar. Aditya Suyadi melangkah keluar, menyeret kakinya yang terasa berat .Kemeja mahalnya tampak kusut seiring dengan sisa sisa pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya. Ia merasakan peliknya masalah proyek milyaran rupiah masih berputar di kepalanya
Namun bukan itu yang membuat tubuhnya melemah, bukan deretan angka-angka yang membuatnya berat melangkah, Ada sebuah kegelisahan yang melebihi apapun, Aditya merasakan dadanya sesak resah merayap setiap kali ia mengingat Chelsea istrinya di dalam sana sedang menjaga nyawa yang tumbuh dalam rahimnya. Nyawa yang menjadi harapan dari sekian kali kehilangan.
Chelsea selalu berhati-hati, ia sangat menjaga kandungan yang sudah berusia 5 bulan, janin yang ia tebak sudah berukuran sekitar 22-27 cm.
Usia kandungan yang sudah teramat sangat membuat Aditya menaruh harapan, Usian kandung 5 bulan terasa keramat baginya. Seperti kutukan tapi itu juga seperti sebuah harapan. Ini adalah kehamilan Chelsea yang paling lama setelah kehamilan sebelumnya hanya bertahan di usia 2 hingga 3 bulan.
Seorang Art berjalan mendekat, mengambil alih tas dan jaket Aditya. Ia berjalan menuju tangga dengan langkah yang semakin berat.
"Sayang....." Dengan suara bariton ia memanggil istrinya, wanita yang ia nikahi enam tahun lalu.
"Sayang...aku pulang" Suaranya kembali memantul di langit-langit plafon rumah itu, tak ada langkah lembut atau gerakan lembut istrinya yang biasa menyambutnya ketika pulang kerja. Hanya kesunyian, hanya ada keheningan. Ini terasa janggal.
Suara binatang malam menambah kesunyian yang menakutkan.
Kening Aditya mengernyit "Istri saya mana?" suara Aditya bergetar dengan pertanyaan yang terdengar khawatir.Ada ketakutan di wajahnya. Ada sesuatu yang ingin dia jauhkan dari pikirannya.
"Ibu di kamar pak, tadi ibu mengeluh pusing dan ingin istirahat di kamar. Jam 6 ibu sudah masuk kamar " Jawab Art dengan ragu, yang membuat jantung Aditya berdetak cepat. Bayangan bayangan yang terus saja bermunculan di kepalanya semakin jelas. Aditya berusaha mengabaikan dan mengatakan semua baik-baik saja.
Tanpa menunggu lama-lama, Aditya mempercepat langkah menaiki tangga yang terasa semakin panjang. Setiap ketukan sepatunya seperti detak jantungnya yang berdetak kencang. Pikiran buruk sudah menguasai kepalanya. Tepat di depan pintu kamarnya, langkahnya terhenti.
Tak ada suara, tak ada rintihan kesakitan seperti dalam pikirannya Aditya semakin ketakutan, ia benci dengan suara hatinya.
"Jangan... jangan..." batin Aditya
Tak ada tubuh yang meringkuk di atas tempat tidur, dengan langkah cepat Aditya membuka pintu kamar mandi dengan sekali hentakan.
Pemandangan di depannya membuat dunianya jungkir balik
"Chelsea.. sayang "
Lampu kamar mandi yang terang menampakkan pemandangan yang mengerikan, keramik lantai yang berwarna putih menampakkan sosok Chelsea yang tergolek dengan keringat sebesar biji jagung. Wajahnya yang putih semakin terlihat putih seperti kertas. Rintihan rintihan yang tadi tidak terdengar sama sekali, kini seakan masuk ke dalam telinga Aditya, suara rintihan itu begitu dekat dan menakutkan.
Genangan air yang berwarna merah, membuat daster putih Chelsea menjadi warna merah. Darah pekat itu merembes keluar.
"Sayang, sakit.. sakit sekali. Aku tidak kuat lagi " Suara Chelsea nyaris tak terdengar.. Dengan gerakan perlahan ia bergerak mencoba bangun namun, kontraksi dalam perutnya menyedot habis tenaganya
Tangannya mencengkram erat daster di sekitar perutnya yang penuh noda darah. Berusaha menahan sesuatu yang mencoba mendesak keluar sejak tadi. Air mata matanya mengalir deras, menatap wajah suaminya.
"Tolong jangan biarkan dia pergi sayang, kali ini. Aku sudah merasakan detak jantungnya. Merasakan pergerakan kecilnya "
Jantung Aditya serasa di hantam palu, ia menghambur berlutut di depan istrinya.Aditya meraih tubuh istrinya.
"Bertahan sayang, dia pasti baik baik saja di dalam" Sebuah kalimat untuk menguatkan istrinya, Aditya merasakan tubuh istrinya terasa ringan dan dingin seakan-akan nyawa di dalam sana sudah tidak ada lagi.
Aditya menatap perut istrinya yang masih jelas mengembung. Janinnya masih di dalam. Namun darah yang terus keluar mengatakan lain, mengatakan lain.
"Tahan sayang, kita ke rumah sakit " Aditya meraung. Suaranya bergetar hebat " Dia akan baik-baik saja, kita tidak akan kehilangan dia "
____
Koridor rumah sakit terasa sepi, sunyi yang menyakitkan. Aroma Anti septik menusuk paru paru Aditya. Ia tidak suka suasana rumah sakit yang sama, aroma yang sama dan ketakutan yang sama. Aditya melayangkan doa yang panjang. Berharap Tuhan mendengar setiap kata-kata yang ia ucapkan.Memohon ada secercah harapan untuk dia dan istrinya.
Aditya melihat noda darah yang mulai mengering di bajunya, tak ada yang lebih menakutkan dari ini. Setiap noda darah yang mengering, ini adalah perjuangan istri yang mencoba mempertahankan nyawa dalam tubuhnya.
Aditya mematung di depan pintu Unit Gawat Darurat, menatap lampu merah yang masih menyala, Cahaya merah itu terasa lama sekali dengan keheningan yang semakin mencekam.
Keheningan itu pecah saat derap langkah kaki yang terburu-buru menggema di lantai ruangan. Keluarga besar Suryadi. Ayah Aditya dan kakak Aditya berdiri mematung. Ibu Aditya yang biasanya tampil elegan dan glamor kini tampilan itu hilang, dengan tubuh bergetar ia memeluk, memberikan kekuatan untuk Aditya yang terlihat sangat menyedihkan saat ini.
Ayah Aditya yang biasanya tidak tergoyahkan, tatapan kesombongan yang mengintimidasi kini hilang. Hanya guratan kecemasan yang nampak terlihat di wajahnya. Di sampingnya kakak Aditya berdiri dengan kening berkerut. Mencoba mencari sesuatu yang membuat adiknya harus kehilangan lagi. Tubuh Aditya bergetar menahan tangisnya, dia tidak kuat,.dia takut.
Aditya merasakan langkah kaki yang tergesa-gesa semakin mendekat, orang tua Chelsea datang dengan secercah harapan di mata mereka, sebuah harapan yang begitu besar. Namun terasa begitu berat di saat seperti ini, Karena di dalam sana Chelsea sedang berjuang.
"Aditya, bagaimana keadaan Chelsea? Dokter belum keluar ? Ini cucu pertama ibu, ibu sudah mempersiapkan semuanya. Ibu sudah mendekor kamar bayi di rumah utama, katakan Aditya, katakan semua baik baik saja "
"Katakan semua baik baik saja " Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Aditya.
"Chelsea akan baik-baik saja di dalam sana, malaikat kecil kita juga baik baik saja.ibu yakin kali ini malaikat kecil kita akan bertahan. Dia malaikat kecil yang kuat " Suara ibu Chelsea menjadi ritme waktu untuk menunggu.
Aditya tak sanggup mendongak, dia tidak sanggup menatap harapan harapan di mata mereka semua. Ia merasa seperti pengecut, dia seperti menunggu vonis mati untuk dirinya.
Satu jam serasa setahun, doa doa mereka semua hanya serupa bisikan, doa mereka terputus seiring dengan suara pintu yang di buka dari dalam, menarik mereka kembali pada kenyataan yang di hadapi saat ini.
Dokter Sofia melangkah keluar, ia melepas masker dengan gerakan lambat. Menampilkan raut wajah yang membuat nyali Aditya seketika menciut. Dokter itu menatap Aditya, tatapan yang paling ia benci. Tatapan yang sama dengan beberapa kejadian yang sama. Aditya menggeleng, tidak ingin melihat raut wajah dokter itu.
"Kumohon kali ini, jangan... Jangan lagi ya Tuhan" Batin Aditya. Ia menolak kenyataan bahwa kali ini dia harus kehilangan lagi. Ia tak percaya bahwa takdir akan sekejam ini untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana dok, bagaimana cucu saya, dia baik-baik saja kan ?" Ayah Chelsea maju beberapa langkah mendekati dokter itu.
Dokter Sofia menarik nafas panjang, tarikan nafas seolah olah adalah lonceng kematian untuk Aditya.
"Kami sudah berusaha semampu kami,tapi kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda tuan Aditya"
Dunia Aditya runtuh seketika, tubuhnya lemas seakan-akan tulang dalam tubuhnya lenyap. Ia terhuyung, nyaris ambruk jika saja Kakaknya tidak menahan tubuhnya, kakinya bergetar. Aditya menatap sekelilingnya, tak ada lagi harapan. Kali ini dia kehilangan lagi. Doanya tak sampai, doanya sia sia atau mungkin Tuhan tidak mendengar.
"Apakah Tuhan itu ada " Batin Aditya meragu.
Harapan itu kembali luruh untuk kesekian kalinya, kali ini meninggalkan harapan yang lebih besar dengan usia kandungan yang bertahan dari sebelumnya. Aditya menaruh harapan, usia kandungan 5 bulan. Melihat Chelsea yang sangat menjaga kandungannya. Melihat bias kebahagian di wajah istrinya.
Aditya melihat hampir setiap hari Chelsea duduk menaruh tangan di atas perutnya, merasakan sensasi dari dalam. Ada gerakan perlahan yang membuat Chelsea selalu tersenyum.
Kali ini Aditya seakan di paksa lagi untuk menerima kenyataan bahwa rahim istrinya di kutuk, rahim istrinya menjadi tempat haram untuk sebuah kehidupan.
Enam tahun menanti sebuah kehidupan, mendengarkan suara bayi yang menggema dalam rumah. Namun harapan itu hilang berkali-kali.
"Tuhan, apa yang terjadi. Apa yang telah ku lakukan hingga Engkau memberikan takdir sekejam ini padaku " Lirihnya penuh tanya dan putus asa.
.
.
.
Next.....
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.