Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Kecil.
Aula sekolah pagi itu sudah setengah ramai meski jam masih menunjukkan pukul delapan kurang. Meja-meja panjang berjajar rapi, masing-masing diberi nomor kelompok.
Di atasnya sudah ada kain alas, hiasan, dan beberapa produk hasil proyek P5 yang siap dipamerkan. Tema mereka kali ini tentang kreativitas berbasis kebutuhan sekitar. Kelompok Hana dan Arga memilih membuat lilin aromaterapi dengan konsep “tenang di tengah bising”.
Wadahnya sederhana, terbuat dari gelas kaca bening kecil, tapi bagian atasnya dihias kering dengan bunga lavender dan rosemary. Wanginya campuran vanila dan sedikit kayu manis.
Dari kemarin-kemarin Hana memastikan takaran essentialnya pas. Tidak terlalu menyengat, tapi juga tidak terlalu samar. Ia bahkan mencoba menyalakan satu lilin di kamarnya untuk memastikan aromanya benar-benar menenangkan.
Hari ini seharusnya jadi hari yang membanggakan. Arga belum datang. Gio masih di kantin. Nisa terlihat di ujung aula bersama Eliza, mengatur display mereka yang penuh warna pastel dan pita.
Hana berdiri di depan meja kelompoknya. Di atas meja ada kotak kardus tempat mereka menyimpan enam lilin hasil akhir.
Ia menarik napas pelan. Tangannya membuka tutup kardus itu. Dan tubuhnya membeku. Dua gelas kaca pecah. Satu lagi retak di bagian samping.
Lilin di dalamnya hancur, sumbu terlepas, permukaannya rusak seperti ditekan keras. Serpihan kaca kecil berkilau terkena cahaya pagi aula.
Hana menatapnya beberapa detik, tidak bergerak. Aromanya masih ada, manis, hangat, tapi sekarang bercampur dengan bau tajam kaca pecah.
Dadanya terasa kosong seketika.
“Han?” Suara Arga terdengar dari belakang. Ia baru datang, tasnya ia gandeng di salah satu bahu.
Hana tidak langsung menjawab. Ia hanya menyingkir sedikit agar Arga bisa melihat isi kardus itu. Arga mendekat. Lalu tak lama kemudian ia berhenti.
“Apa ini?” Tanya Arga terbelalak
“Aku… nggak tahu,” suara Hana kecil sekali. “Kemarin aku simpan di lemari kelas. Udah aku susun rapi.”
Arga mengangkat salah satu gelas yang retak, memeriksanya. Serpihan kecil jatuh ke meja.
“Ini bukan jatuh sendiri,” katanya pelan. “Kayak ditekan.”
Kalimat itu membuat suasana di sekitar mereka berubah. Beberapa siswa yang lewat mulai melirik penasaran.
Gio datang sambil membawa botol minum. “Udah siap dipajang belu—”
Ia terdiam. “Kenapa?”
Arga menunjuk ke dalam kardus.
Gio langsung mengerutkan kening. “Seriusan?”
Hana masih berdiri diam. Kepalanya mulai dipenuhi pertanyaan yang sama berulang-ulang.
Siapa yang buka kotaknya?
Siapa yang tahu mereka menyimpannya di lemari kelas?
Kenapa harus dirusak?
Nisa yang melihat keributan kecil itu ikut mendekat. Eliza menyusul beberapa langkah di belakangnya.
Nisa menutup mulutnya pelan. “Ya ampun… Han…”
Sementara Eliza menatap isi kardus cukup lama. “Oh,” katanya ringan. “Pecah ya?” Tidak ada nada panik. Tidak ada keterkejutan berlebihan. Hanya datar.
Arga menoleh. “Kelihatan kan?”
Eliza mengangkat bahu sedikit. “Mungkin kegeser? Kan kemarin aula dipakai latihan.”
Hana menggeleng pelan. “Kotaknya aku taruh di lemari. Nggak mungkin kegeser sendiri.”
Gio mendesah kesal. “Ini jelas ada yang buka.”
Beberapa detik hening.
Eliza melihat lilin yang hancur itu, lalu memandang Hana. “Kayaknya ada yang nggak suka deh,” ucapnya pelan.
Hana menoleh seketika “Nggak suka?” ulangnya lirih.
Eliza tersenyum tipis. “Ya… kan akhir-akhir ini kamu lumayan jadi pusat perhatian.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi terasa berat.
Nisa menatap Eliza sekilas. “Za…”
“Apa? Aku cuma ngomong kemungkinan,” balas Eliza santai. “Namanya juga manusia, ada yang iri.”
Iri.
Hana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Apa memang ada yang sebenci itu?
Apa salahnya?
Ia tidak pernah meminta rumor itu ada. Ia bahkan ingin menghilang waktu foto itu beredar.
Arga menarik napas panjang, berusaha tetap fokus. “Sekarang bukan waktunya mikir itu. Berapa yang rusak?”
Hana menghitung cepat. “Tiga nggak bisa dipakai. Satu retak.”
“Bahan sisa?” tanya Gio.
Hana menggeleng. “Habis. Kemarin kita pakai semua.”
Waktu pameran tinggal kurang dari satu jam. Aula semakin ramai. Guru-guru mulai berdatangan.
Arga menatap Hana. “Toko bahan di depan sekolah masih buka nggak sepagi ini?”
“Buka,” jawab Gio cepat. “Toko Bu Sari buka jam tujuh.”
Arga langsung mengambil keputusan. “Kita beli lagi.”
Hana tersentak. “Sekarang?”
“Iya. Kita bikin ulang yang rusak. Minimal tiga.”
“Tapi prosesnya butuh waktu buat ngeras….”
“Kita percepat. Pakai freezer kantin atau kipas. Yang penting bentuknya jadi dulu.”
Gio mengangguk. “Gue ikut.”
Hana masih berdiri dengan tangan dingin. Takut, cemas, lelah, gelisah bercampur menjadi satu, menyisakan satu perasaan aneh di dadanya.
Eliza memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kalau mau beli bahan, sekarang aja,” katanya ringan. “Daripada nanti makin mepet.” Sambungnya lagi.
Ia menoleh ke Hana sebentar. “Semoga sempat ya.”
Kalimat itu terdengar seperti doa, atau pernyataan biasa, tetapi bisa juga pernyataan lain.
Arga sudah mengeluarkan dompetnya. “Han, lo di sini bersihin yang pecah. Jangan kena kaca. Gue sama Gio beli bahan.”
“Aku ikut,” kata Hana spontan.
Arga menggeleng tegas. “Nggak. Lo di sini. Kalau guru nanya, harus ada yang jaga meja.”
Hana terdiam. Ia menatap lilin yang hancur itu sekali lagi. Aromanya masih tercium. Wangi yang harusnya menenangkan. Tapi sekarang justru membuat dadanya sesak.
Eliza sudah berjalan menuju pintu aula, langkahnya tenang, tidak terburu-buru, seolah tidak peduli dengan kelompoknya. Arga dan Gio menyusul dengan langkah cepat ke arah lain.
Hana berdiri sendirian di depan mejanya. Serpihan kaca kecil berkilau di atas kain alas. Suara tawa tetap terdengar di sudut-sudut aula. Semua tampak normal. Tapi bagi Hana, pagi itu terasa berbeda. Dan sesuatu yang entah siapa, baru saja memulai langkah pertama.