NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Di Tengah Hutan Kenangan

Perjalanan menuju selatan memakan waktu hampir tiga hari penuh. Jalan yang dilalui semakin jarang dilalui manusia, melewati lembah yang dipenuhi semak lebat dan sungai-sungai kecil yang airnya kembali jernih berkat pengaruh keempat permata yang sudah mereka miliki. Semakin dekat ke tujuan, suasana di sekeliling berubah menjadi semakin sunyi — terlalu sunyi, hingga suara langkah kaki mereka sendiri terdengar jelas memantul di antara pepohonan.

Akhirnya, di ujung sebuah jalan setapak yang tersembunyi di balik tirai tanaman merambat, terbentanglah Hutan Kenangan.

Pemandangannya berbeda dari hutan mana pun yang pernah mereka lewati. Pepohonannya menjulang tinggi dengan batang yang berwarna keperakan, dan daun-daunnya memancarkan cahaya lembut berwarna keemasan, meski tidak ada sinar matahari yang menembus kanopi lebatnya. Udara di sini terasa sejuk dan tenang, namun membawa getaran energi yang terasa akrab, seolah tempat ini menyimpan jejak setiap peristiwa yang pernah terjadi di Aetheris.

“Ini tempat yang paling aneh sekaligus paling sakral di seluruh kerajaan,” bisik Valerius sambil memandang sekeliling dengan pandangan hormat. “Konon, hutan ini tidak dipenuhi oleh makhluk buas atau jebakan fisik. Ia hidup dari ingatan — ingatan masa lalu, kesalahan, penyesalan, dan juga kebahagiaan yang pernah dialami oleh setiap makhluk yang menginjakkan kaki di sini. Hanya mereka yang berani menerima segala sisi dari masa lalunya yang bisa melewatinya dengan selamat.”

Elara mengangguk perlahan, merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia bisa merasakan bahwa di tempat ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi — segala rahasia, rasa malu, dan penyesalan yang selama ini tersimpan rapat di dalam hati akan terbuka dengan sendirinya.

Begitu mereka melangkah masuk melewati batas hutan, suasana berubah seketika. Cahaya keemasan yang menyelimuti mereka perlahan membentuk bayangan-bayangan samar yang bergerak mengikuti arah jalan mereka. Awalnya hanya terlihat seperti kabut, namun semakin jauh melangkah, bayangan itu menjadi semakin jelas dan hidup.

Di hadapan mereka, muncul pemandangan yang sangat dikenali oleh Valerius — hari ketika ia masih muda, baru saja mewarisi takhta, dan membuat keputusan yang keliru karena tergesa-gesa. Ia melihat dirinya yang muda mengusir penasihat yang menyarankan kehati-hatian, mengandalkan kekuatan semata, hingga menyebabkan kerusakan di beberapa wilayah pertanian selama bertahun-tahun. Ia mendengar suara dirinya sendiri yang penuh kesombongan, lalu suara rakyat yang mengeluh karena menderita akibat keputusannya.

“Ini… ini adalah ingatanku,” gumam Valerius, wajahnya terlihat memucat dan matanya terpejam seolah menahan rasa sesak di dada. “Sesuatu yang selama ini coba aku lupakan dan sembunyikan karena malu.”

“Kenapa kau menyembunyikannya?” terdengar suara lembut yang bergema dari antara pepohonan. “Kau menganggapnya sebagai aib, sebagai bukti bahwa kau bukan pemimpin yang sempurna. Namun selama kau menolaknya, kau tidak bisa tumbuh melampauinya. Rasa bersalah yang disimpan justru akan menjadi beban yang membuat langkahmu berat.”

Sementara itu, Elara juga dibawa menghadapi masa lalunya sendiri. Di hadapannya terlihat pemandangan di dunianya sendiri — hari-hari ketika ia merasa tidak percaya diri, merasa hidupnya biasa saja tanpa makna, hingga saat ia ragu menerima perasaan cintanya sendiri karena takut tidak pantas. Ia melihat saat ia menangis sendirian, bertanya mengapa ia harus terlempar ke dunia asing, dan merasa menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya.

“Kau juga menyembunyikan sisi dirimu yang merasa lemah dan tidak berharga,” suara itu kembali terdengar, kali ini menyentuh hati Elara. “Kau ingin terlihat kuat dan percaya diri, tapi kau masih menyimpan rasa takut bahwa suatu hari nanti semuanya akan hilang dan kau akan kembali menjadi gadis yang sama seperti dulu.”

Kaelen dan para prajurit juga menghadapi ingatan masing-masing — penyesalan karena gagal melindungi orang tercinta, rasa marah yang tak terselesaikan, atau kecemasan akan masa depan yang tidak pasti. Seluruh hutan ini seolah menjadi cermin raksasa yang memantulkan segala hal yang ingin disembunyikan oleh setiap orang yang masuk ke dalamnya.

Suasana menjadi semakin berat. Beberapa bayangan mulai terlihat mengancam, seolah ingin menarik mereka masuk ke dalam lingkaran penyesalan yang tak berujung. Jika seseorang terjebak di dalam perasaan itu terlalu lama, ia akan kehilangan arah dan tersesat selamanya di antara ingatan yang terus berputar.

Namun Elara mengingat pelajaran yang telah ia dapatkan selama perjalanan ini. Ia menarik napas panjang, menatap langsung ke arah bayangan masa lalunya tanpa berusaha menutup mata atau lari menjauh.

“Kau benar,” katanya dengan suara yang jernih dan mantap. “Aku memang pernah merasa lemah, ragu, dan tidak percaya pada diriku sendiri. Aku pernah menangis dan bertanya mengapa takdir memilihku. Namun itu adalah bagian dari diriku. Kesalahan dan keraguan itu tidak membuatku menjadi orang yang buruk — itu adalah jalan yang membuatku belajar, tumbuh, dan akhirnya sampai ke tempat ini. Aku tidak perlu menyembunyikannya lagi, karena tanpa masa lalu itu, aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.”

Begitu kata-kata itu terucap, bayangan yang menakutkan itu perlahan berubah menjadi cahaya lembut, lalu menghilang seolah terserap kembali ke dalam udara. Beban yang terasa menekan dadanya pun terangkat seketika, digantikan oleh rasa damai yang dalam.

Valerius melihat perubahan itu, lalu mengikuti jejak Elara. Ia menatap kembali ingatan akan kesalahannya di masa muda, namun kali ini tidak lagi dengan rasa malu atau penyesalan yang menyiksa, melainkan dengan pandangan yang tenang dan bijaksana.

“Aku memang membuat kesalahan besar,” ucapnya lantang, suaranya bergema di seluruh penjuru hutan. “Namun dari situ aku belajar bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanyalah kehancuran, dan kekuatan tanpa rasa rendah diri tidak akan bertahan lama. Kesalahan itu telah mengajarkanku untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Aku menerimanya sebagai bagian dari perjalananku, dan tidak akan lagi membiarkannya menguasai hatiku.”

Sama seperti Elara, bayangan masa lalu Valerius pun berubah menjadi cahaya dan menghilang. Rasa berat yang selama ini ia rasakan di pundaknya lenyap, digantikan oleh kekuatan batin yang lebih kokoh daripada sebelumnya. Satu per satu, Kaelen dan para prajurit juga melakukan hal yang sama — menghadapi ingatan mereka dengan jujur, menerimanya apa adanya, lalu melepaskan rasa bersalah yang tidak perlu itu.

Segera setelah mereka semua berhasil melewati ujian itu, cahaya keemasan di seluruh hutan bersinar lebih terang. Suara lembut yang telah berbicara kepada mereka tadi kini terdengar jelas dan penuh penghargaan.

“Bagus sekali. Banyak orang datang ke tempat ini hanya ingin melihat kebaikan dalam diri mereka sendiri dan membuang sisi yang dianggap buruk. Namun kebenaran sejati adalah menerima diri kita sepenuhnya — terang dan gelap, keberhasilan dan kegagalan, kekuatan dan kelemahan. Hanya dengan cara itulah seseorang menjadi utuh, dan siap memegang kekuatan yang paling murni.”

Di ujung jalan setapak yang kini terbuka lebar, terlihat sebuah tempat terbuka yang dikelilingi oleh pohon-pohon keperakan yang paling tinggi. Di tengahnya, di atas alas batu yang dipenuhi cahaya bintang, tergeletak Permata Cahaya — batu yang bersinar dengan cahaya putih menyilaukan, seolah memancarkan sinarnya dari dalam dirinya sendiri tanpa membutuhkan sumber cahaya lain.

“Ini adalah sumber kelima,” lanjut suara itu. “Cahaya tidak hanya berarti terang yang menghilangkan kegelapan. Ia adalah kebenaran yang menyingkapkan segala hal apa adanya, tanpa penyamaran. Ia akan menjadi panduanmu di saat segala hal terasa kabur, dan kekuatan yang tidak bisa digoyahkan oleh kebohongan atau ilusi apa pun.”

Valerius dan Elara melangkah maju bersama-sama. Saat Valerius mengulurkan tangannya untuk mengambil permata itu, cahaya putihnya menyelimuti seluruh tubuh mereka, menyatu dengan energi keempat permata sebelumnya dan menciptakan keseimbangan yang semakin sempurna. Sekarang, kelima kekuatan itu sudah berkumpul, dan rasa utuh mulai terasa semakin kuat di dalam diri mereka.

Namun saat mereka hendak berjalan keluar, suara Morgrath tiba-tiba terdengar lagi, kali ini terasa lebih dekat dan penuh ketertarikan.

“Kalian memang lebih kuat dari dugaanku… mampu menghadapi diri sendiri tanpa takut. Tapi ingatlah, masih ada dua permata tersisa — dan yang terakhir menyimpan rahasia yang bahkan para leluhurku sendiri takut untuk mengungkapnya. Semakin dekat kalian pada tujuan, semakin pahit kebenaran yang akan kalian temukan.”

Suara itu menghilang, namun meninggalkan rasa penasaran sekaligus kewaspadaan. Apa rahasia yang tersimpan di balik dua permata terakhir itu? Dan mengapa hal itu bisa menjadi ancaman terbesar bagi mereka?

Dengan kelima permata di tangan dan hati yang lebih utuh dari sebelumnya, mereka melangkah keluar dari Hutan Kenangan, siap menghadapi tantangan terakhir yang menanti di depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!