"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Gemuruh di Beranda Kolonial
Suasana di dalam koridor lantai bawah rumah besar Nenek Aisyah terasa begitu mencekam. Alin berdiri bersandar pada dinding kayu jati yang dipelitur halus, tepat di samping pintu kamar utama sang nenek yang tertutup rapat. Rambut panjangnya yang terikat ekor kuda tampak sedikit acak-acakan karena sejak tadi ia terus bergerak gelisah, menatap cemas ke arah ruang tengah yang lengang. Di dalam kamarnya, Nenek Aisyah sedang berbaring dipandu oleh rintihan napas yang pendek, menunggu kedatangan dokter spesialis jantung langganan keluarga yang masih terjebak macetnya jalanan ibu kota.
Mbok Darmi melangkah mendekati Alin dari arah dapur belakang, membawa sebuah nampan perak berisi secangkir teh camomil hangat yang aromanya menguar menenangkan. Namun, ketenangan itu sama sekali tidak mampir ke paras Alin yang tampak pias.
"Non Alin, minum dulu sedikit, Nduk. Wajahmu dari tadi pucat sekali," bisik Mbok Darmi dengan nada suara yang teramat lembut penuh perhatian, meletakkan nampan itu di atas meja konsol kayu di dekat mereka.
Alin menoleh, menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyum yang dipaksakan. "Terima kasih, Mbok. Perut Alin masih terasa agak kaku. Bagaimana kondisi Nenek di dalam? Apa sudah agak tenangan setelah minum air hangat tadi?"
Mbok Darmi menghela napas panjang, gurat-gurat keriput di wajah sepuhnya kian merosot, menyiratkan duka dan kecemasan yang mendalam. Wanita tua itu meremas kedua tangannya sendiri yang agak gemetar. "Nyonya Besar sudah agak tenang, Non. Tapi ya begitu ... napasnya masih sering tersendat kalau teringat kejadian kemarin. Sebenarnya ... sejak semalam pulang dari hotel resepsi itu, Nyonya sudah tampak sakit sekali, Non. Wajahnya pias layaknya kain kafan, dan beliau menolak makan sedikit pun. Mbok sudah tawarkan bubur, tapi Nyonya hanya diam menatap jendela."
Mbok Darmi menyeka sudut matanya yang mulai basah menggunakan ujung apron kusamnya. "Nyonya itu sangat memikirkan Non Alin. Beliau terus-menerus menggumamkan nama Non Alin dan Den Elang sepanjang malam. Sekarang kita semua sedang cemas menunggu kedatangan dokter Hermawan yang belum sampai juga."
Mendengar penuturan jujur dari Mbok Darmi, Alin merasakan sebuah hantaman rasa bersalah yang teramat besar dan tajam menghunjam tepat di ulu hatinya. Rasa nyeri itu merambat cepat, membuat dadanya terasa sesak bergemuruh. Sepasang matanya menatap kosong pada lantai marmer di bawah kakinya.
Ia merasa bersalah. Sangat bersalah. Alin tahu betul, penyebab utama yang membuat kondisi kesehatan jantung Nenek Aisyah ambruk hingga sekritis ini adalah rentetan tragedi yang terjadi sejak kemarin malam. Kedatangan Cindy yang secara tiba-tiba merusak kesucian akad dan kemegahan resepsi pernikahan mereka dengan membawa seorang anak, ditambah lagi keputusan sepihak Elang yang dengan begitu arogan membawa mantan kekasihnya itu masuk ke dalam rumah baru mereka. Konflik yang belum genap berumur dua puluh empat jam itu telah berhasil memotong separuh dari pasokan energi hidup sang nenek yang selama ini mengusahakan perjodohan ini dengan penuh doa.
"Oh, ya, Non ..." Mbok Darmi kembali bersuara, memutus lamunan pilu Alin. "Mbok mau jujur. Tadi ... sekitar setengah jam yang lalu, sebelum Non Alin masuk ke kamar Nenek, Mbok sudah menelepon Den Elang secara diam-diam. Mbok panik sekali melihat Nyonya Besar mendadak sesak napas di kamar, jadi Mbok langsung minta Den Elang untuk segera pulang ke rumah besar ini sekarang juga."
Mendengar nama Elang disebut, gerakan tubuh Alin mendadak kaku sempurna. Ia mendasah pelan, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa jengah, lelah, dan muak yang mendalam menguar dari bibirnya. Alin memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar ruang tengah yang menghadap langsung ke halaman depan rumah kolonial tersebut.
"Kenapa Mbok harus meneleponnya?" lirih Alin, nada suaranya mendadak berubah drastis menjadi teramat dingin dan datar, nyaris tak terdengar.
"Lho, Non ... Den Elang kan cucu tertua di sini, ia yang harus bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa pada Nyonya Besar," jawab Mbok Darmi polos dengan kerutan heran di dahinya. "Lagipula, Den Elang kan suamimu sekarang, Non."
Suami. Kata itu mendadak terdengar begitu sarkas dan menjijikkan di telinga Alin. Di dalam hatinya yang paling dalam, Alin merasakan rasa muak yang teramat pekat bergejolak hebat. Ia benar-benar enggan, bahkan merasa sangat benci jika harus kembali bertatapan mata dengan pria pengkhianat yang hatinya masih mengemis pada wanita lain itu. Bertemu dengan Elang hanya akan membuka kembali luka segar dan ingatan tentang kata-kata kejam yang pria itu lontarkan di kamar utama tadi pagi. Pria itu sudah terang-terangan membangun tembok pembatas dan membuang harga diri Alin demi membela Cindy.
Namun, tepat di saat rasa ingin pergi dan melarikan diri itu menguasai pikirannya, Alin kembali teringat pada guratan wajah pucat Nenek Aisyah dan permohonan terakhirnya di kamar lantai bawah tadi beberapa menit lalu.
“Bertahanlah dulu di samping Elang ... setidaknya selama satu bulan ke depan, Alin. Berjuanglah untuk merebut hati Elang kembali. Jangan sampai Elang kembali jatuh ke dalam pelukan wanita itu! Nenek tidak rela ....”
Untaian kalimat lirih yang diiringi air mata sang nenek seolah menjadi tali tak kasat mata yang mengikat kuat kedua pergelangan kaki Alin, menahannya agar tetap berdiri tegak di koridor rumah besar ini. Utang budi keluarganya pada Nenek Aisyah terlalu besar untuk ia abaikan begitu saja hanya demi menuruti ego batinnya yang sedang terluka. Alin meremas jemarinya sendiri, memaksakan akal sehatnya untuk kembali menguasai emosi negatif yang nyaris meledak. Ia harus bertahan di sini, setidaknya demi keselamatan nyawa wanita sepuh yang sedang berjuang di dalam kamar lantai bawah ini.
Satu jam pun berlalu dalam keheningan yang menyiksa di sepanjang koridor lantai bawah. Waktu terasa berjalan begitu lambat, berputar konstan bersama detak jarum jam dinding kuno yang berdentang pelan di ruang tengah. Alin masih setia berdiri di posisinya, menatap lurus ke arah gerbang luar rumah melalui kaca jendela besar.
Hingga akhirnya, sebuah suara yang sangat familier memecah kesunyian siang yang terik itu.
Vroomm ... Sreeet!
Suara deru mesin mobil sedan mewah milik Elang terdengar membelah keheningan halaman depan. Kendaraan hitam mengilat itu masuk melewati gerbang kayu jati dengan kecepatan yang tidak biasa, sebelum akhirnya berhenti mendadak dengan sentakan keras yang membuat bannya berdecit nyaring mencengkeram aspal halaman.
Dari balik kaca jendela ruang tengah lantai bawah, Alin bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana pintu kemudi mobil itu terbuka secara kasar. Elang melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Kemejanya yang sudah sedikit kusut tampak melambai ditiup angin siang, dan guratan kepanikan yang teramat pekat tercetak jelas di wajah tegasnya yang pias. Pria itu membanting pintu mobilnya tanpa menoleh lagi, lalu berlari cepat menuju pintu utama rumah besar, membiarkan arogansi seorang CEO-nya runtuh total di bawah kaki ketakutan akan kehilangan sang nenek.
Alin menarik napas panjang, menyisipkan beberapa helai rambut panjangnya yang terurai ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat kaku. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi jendela, menatap lurus ke arah pintu utama tempat suaminya akan segera muncul dalam hitungan detik. Pertempuran batin dan konfrontasi baru di antara dua orang yang terikat dalam pernikahan tanpa cinta ini baru saja akan dimulai kembali, tepat di depan kamar lantai bawah yang menjadi saksi kritisnya nyawa sang penentu takdir mereka.
Bersambung...