Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Malam di Pondok Sepuh
Keheningan malam di Jombang kota kian melarut, menyisakan deru angin yang sesekali menggoyahkan dedaunan pohon mangga di pelataran ndalem. Di dalam kamar bernuansa hijau muda itu, waktu seolah berjalan merangkak. Humaira berbaring menyamping di atas ranjang jatinya, memeluk guling erat-erat dengan mata yang terpejam rapat. Namun, batinnya sama sekali tidak menemukan ketenangan. Setiap kali ia mencoba menenggelamkan diri ke alam mimpi, suara bentakan tajam Gus Arsalan dan tuduhan kejam yang dilontarkan pria itu semalam kembali menggema, menikam dadanya hingga menyisakan rasa sesak yang menyesakkan napas.
Beberapa meter di bawahnya, beralaskan karpet tipis dan selembar selimut katun yang dipinjam dari lemari tua, Gus Arsalan terbaring telentang. Netra elangnya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Hawa dingin lantai semen ndalem Jombang menembus kain sarungnya, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan dan rasa bersalah yang kini meremukkan dadanya.
Arsalan menolehkan kepalanya perlahan ke samping, menatap punggung mungil Humaira yang membelakanginya. Di bawah temaram lampu tidur, siluet tubuh istrinya tampak begitu rapuh. Ada dorongan kuat di dalam diri Arsalan untuk bangkit, memeluk tubuh itu, dan membisikkan kata maaf jutaan kali hingga suaranya habis. Namun, ia tahu diri. Jarak beberapa meter di antara mereka malam ini adalah batas suci yang dibuat Humaira untuk melindungi hatinya yang telah hancur lebur.
"Nyuwun pangapunten, Humaira..." bisik Arsalan teramat lirih, hampir menyerupai desiran angin malam. Suaranya tercekat oleh rasa perih yang teramat sangat. Pria angkuh yang biasanya selalu mendikte dunia itu kini harus bertekuk lutut di hadapan keheningan yang diciptakan oleh istrinya sendiri.
Keesokan harinya, matahari terbit membiaskan warna jingga yang cerah di atas Pesantren Sepuh. Aktivitas pondok kembali menggeliat sejak fajar. Humaira sudah bangun sejak sebelum subuh, sengaja bergerak kilat agar tidak perlu berlama-lama berada di dalam kamar yang sama dengan Arsalan. Ia menghabiskan paginya di dapur belakang bersama Ummi Fatimah, membantu memotong sayuran dan menyiapkan sarapan untuk keluarga dan para santri khidmah.
Meskipun Humaira berusaha menampilkan wajah yang biasa saja, gerakan tangannya yang sesekali bergetar saat mengiris bawang tidak luput dari pandangan tajam Ummi Fatimah. Wanita paruh baya itu sengaja diam, memilih untuk mengamati gerak-gerik putrinya dengan hati yang kian diselimuti kecemasan.
Tepat pukul tujuh pagi, sarapan keluarga digelar di ruang makan dalam. Kiai Syamsuddin sudah duduk di kursinya, sementara Gus Arsalan melangkah masuk dengan pakaian yang jauh lebih rapi daripada sore kemarin, meskipun guratan lelah di wajahnya belum sepenuhnya hilang.
"Mari, Le Arsalan, langsung duduk. Ini Ummi sama Humaira masak sayur lodeh kesukaanmu," sapa Kiai Syamsuddin dengan senyuman hangat laksana bapak kandung.
"Enggeh, Abah. Maturnuwun sanget," jawab Arsalan takzim. Ia mengambil posisi duduk, dan matanya secara refleks langsung mencari sosok Humaira yang berjalan pelan membawa sebakul nasi hangat.
Begitu Humaira meletakkan bakul tersebut di tengah meja, Arsalan dengan sigap mengulurkan piringnya. "Biar saya ambil sendiri, Humaira. Kamu duduklah, wajahmu masih pucat."
Tindakan Arsalan yang terkesan sangat perhatian itu justru membuat atmosfer di meja makan mendadak kaku. Humaira tidak menjawab, ia hanya mengangguk tipis lalu mengambil posisi duduk di samping Ummi Fatimah, menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa menyentuh piringnya sendiri.
Kiai Syamsuddin yang menyaksikan interaksi tersebut saling berpandangan dengan Ummi Fatimah. Di depan orang tua, Gus Arsalan tampak begitu berusaha untuk mendekat dan melunakkan sikap, sementara Humaira justru memasang benteng pertahanan yang teramat kokoh melalui kediamannya.
"Arsalan," panggil Kiai Syamsuddin setelah mereka menyelesaikan suapan pertama. "Nanti siang, Abah ada jadwal sowan ke ndalem Kiai sepuh di Tambakberas. Karena kamu sedang di sini, apakah kamu ada waktu untuk menemani Abah? Sekalian silaturahmi, toh kamu sudah lama ndak sowan ke sana sejak pulang dari luar negeri."
Arsalan sempat melirik ke arah Humaira sebelum menjawab. Ia sebenarnya ingin menghabiskan sepanjang hari di *ndalem* untuk mencari cara berbicara berdua dengan istrinya. Namun, menolak titah seorang kiai sepuh yang juga mertuanya adalah hal yang melanggar adab.
"Enggeh, Abah. Insya Allah, Arsalan sangat longgar. Arsalan badhe nderekaken Abah sowan siang nanti," jawab Arsalan penuh hormat.
Humaira yang mendengar hal itu diam-diam mengembuskan napas lega di dalam hatinya. *Setidaknya, siang nanti aku bisa bernapas bebas tanpa perlu merasa terintimidasi oleh kehadirannya,* batin Humaira.
Sesuai rencana, tepat setelah menunaikan ibadah salat Zuhur berjamaah di masjid pondok, mobil Kiai Syamsuddin bergerak meninggalkan pelataran Pesantren Sepuh, membawa sang kiai dan Gus Arsalan menuju Tambakberas. Keberangkatan suaminya membuat beban di pundak Humaira seolah terangkat sebagian.
Siang itu, Humaira memilih untuk menyibukkan diri di aula pondok putri, membantu para pengurus santri senior merapikan panggung dan menyusun dekorasi kain hias untuk acara Khataman Akbar yang tinggal menghitung hari. Ia memanjat tangga kecil, mengikat simpul kain dengan telaten, seolah-olah dengan menguras tenaga fisiknya, ia bisa melupakan rasa sakit di jiwanya.
"Ning Humaira, mboten usah repot-repot memanjat begitu. Biar kulo dan bagian dekorasi saja yang mengerjakan," seru Kangmas pengurus santriwati dengan rasa tidak enak hati melihat putri kiai mereka ikut bekerja kasar.
Humaira menoleh, menyunggingkan senyuman manisnya yang tulus senyuman yang sejak kemarin sengaja ia sembunyikan dari Gus Arsalan. "Mboten nopo-nopo, Mbak. Kulo malah senang kalau ikut bergerak seperti ini. Hitung-hitung olahraga biar badannya ndak kaku."
Dari kejauhan, di balik pilar aula, Ummi Fatimah berdiri memperhatikan putrinya. Dada wanita tua itu berdenyut pilu. Beliau tahu betul tabiat Humaira; jika anak itu sedang memiliki masalah besar yang tidak bisa diceritakan, dia akan melampiaskannya dengan cara bekerja tanpa henti hingga kelelahan.
"Nduk, Humaira..." panggil Ummi Fatimah lembut sembari melangkah mendekat.
Humaira menoleh, lalu segera turun dari anak tangga. "Wonten menopo, Ummi?"
"Ikut Ummi sebentar ke dapur ndalem, Nak. Ummi butuh bantuanmu untuk mencicipi bumbu kuah soto untuk konsumsi para asatiz nanti malam," ucap Ummi Fatimah, sebuah alasan halus yang sengaja dibuat untuk menarik putrinya dari keramaian santri.
Humaira mengangguk patuh, mengekor di belakang ibunya menuju dapur belakang ndalem yang saat itu sedang sepi karena para santri khidmah sedang beristirahat di barak mereka.
Sesampainya di dapur, Ummi Fatimah tidak menuju ke arah kompor. Beliau justru membalikkan tubuhnya, meraih kedua belah tangan Humaira, lalu menuntun putrinya untuk duduk di kursi kayu panjang dekat jendela yang menghadap ke kebun belakang.
Humaira mulai merasa ada yang tidak beres, jantungnya kembali berdegup agak kencang. "Ummi... kuah sotonya wonten mriki?"
Ummi Fatimah tidak menjawab pertanyaan itu. Beliau menatap lekat-lekat wajah putrinya, mengusap pelipis Humaira yang sedikit berkeringat dengan ujung jilbabnya. Kelembutan tangan seorang ibu yang telah melahirkannya itu seketika meruntuhkan separuh pertahanan batin Humaira yang sejak semalam dibangun dengan susah payah.
"Nduk... Humaira," ucap Ummi Fatimah, suaranya bergetar rendah sarat akan kasih sayang. "Ummi yang mengandungmu sembilan bulan, Ummi yang menyusuimu, dan Ummi yang mendidikmu sampai kamu dipinang oleh keluarga Al-Anwar. Berbohonglah kepada seluruh dunia, Nduk, tapi jangan pernah membohongi ibumu sendiri."
Air mata yang sejak kemarin ditahan Humaira di depan sang ibu kini mendadak menggenang di sudut matanya. Ia menggeleng lemah. "Humaira mboten membohongi Ummi..."
"Lalu tatapan mata apa yang kamu berikan pada suamimu sore kemarin, Nduk?" potong Ummi Fatimah lembut namun menuntut jawaban. "Tatapanmu begitu dingin laksana orang asing. Kamu menolak pulang ke Kediri dengan alasan kangen Abah dan Ummi, tapi saat suamimu ikut menginap, kamu justru memperlakukannya seolah dia tidak ada di ruangan yang sama. Cerita sama Ummi, Nak... ada badai apa di kamar pernikahan kalian? Apa yang dilakukan Le Arsalan sampai membuat anak Ummi yang paling penurut ini berani membantah?"
Mendengar rentetan kalimat dari sang ibu, pertahanan Humaira runtuh sepenuhnya. Air matanya luruh dengan deras membasahi pipinya. Ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ummi Fatimah, menangis tersedu-sedu dalam kesunyian dapur yang sepi. Bahunya berguncang hebat, meluapkan seluruh rasa sakit hati, kehinaan, dan rasa tidak berdaya yang selama berbulan-bulan ini ia pendam sendirian demi menjaga nama baik keluarga dan pesantren suaminya.
Ummi Fatimah memeluk kepala putrinya dengan erat, ikut meneteskan air mata. "Astaghfirullahaladzim... Nduk, menangislah. Keluarkan semua sesak di dadamu. Ummi di sini..."
Satu jam berlalu dalam tangis haru di dapur ndalem. Humaira akhirnya menceritakan semuanya, mulai dari dinginnya sikap Gus Arsalan di awal pernikahan karena hatinya yang tertinggal di London, sandiwara yang harus mereka mainkan di depan keluarga besar, hingga puncaknya semalam saat Gus Arsalan melontarkan tuduhan kejam dan bentakan yang membuat harga dirinya sebagai seorang Ning dan seorang istri diinjak-injak hingga hancur berantakan.
Mendengar kenyataan pahit yang dialami putrinya, dada Ummi Fatimah bergemuruh hebat oleh rasa amarah sekaligus kepedihan yang luar biasa. Beliau tidak pernah menyangka bahwa menantu yang selama ini dibanggakan karena kewibawaannya, ternyata tega memperlakukan permata hatinya sekejam itu di balik pintu kamar.
"Biadab..." desis Ummi Fatimah dengan suara tertahan, jemarinya mengepal kuat menahan amarah yang membakar dada. "Dia menjemputmu dari sini dengan adab yang mulia, tapi kenapa di sana dia memperlakukanmu laksana barang pajangan yang tidak punya harga diri? Abahmu ndak boleh diam melihat ini, Humaira!"
"Mboten, Ummi! Kulo mohon, mboten usah bilang Abah dulu," sela Humaira panik, memegang erat lengan ibunya. "Abah memiliki riwayat penyakit jantung, kulo mboten kersa kesehatan Abah drop karena memikirkan masalah kulo. Dan... Gus Arsalan sore kemarin sudah datang meminta maaf, beliau bahkan rela tidur di lantai kamar kulo semalam untuk menunjukkan penyesalannya."
Ummi Fatimah menghapus air mata di pipi putrinya dengan kasar. "Maaf itu mudah diucapkan, Nduk! Tapi luka di hatimu ini tidak bisa sembuh hanya dengan dia tidur di lantai satu malam! Ummi ndak rida melihat anak perempuan Ummi disia-siakan seperti niki."
"Humaira ngerti, Ummi. Makanya... kulo mohon izin, biarkan kulo tetap di sini untuk beberapa hari ke depan. Kulo butuh waktu untuk menata hati kulo sendiri sebelum kulo memutuskan apakah kulo sanggup kembali mengabdi di Al-Anwar atau mboten," ucap Humaira dengan ketegasan yang mutlak, memancarkan sisi kedewasaan seorang wanita yang tidak ingin lagi didikte oleh keadaan.
Ummi Fatimah menatap mata putrinya lama, lalu mengembus napas panjang penuh keikhlasan. Beliau menarik Humaira ke dalam pelukannya sekali lagi. "Tinggallah di sini sepuasmu, Nduk. *Ndalem* Jombang ini adalah rumahmu, tempat bernaungmu yang paling aman. Selama kamu berada di sini, Ummi dan Abah yang akan menjadi bentengmu."
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Jombang menuju Tambakberas, suasana di dalam kabin terasa hening. Kiai Syamsuddin duduk di kursi belakang sembari memutar tasbih kayunya, sementara Gus Arsalan yang mengemudikan mobil sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, menatap wajah sepuh mertuanya dengan perasaan yang campur aduk.
"Arsalan," panggil Kiai Syamsuddin tiba-tiba, memecah kesunyian jalan raya.
"Enggeh, Abah. Wonten menopo?" jawab Arsalan dengan nada suara yang seketika menegang penuh takzim.
"Perahu rumah tangga itu... kalau diterjang ombak, yang harus diperbaiki itu lambung perahunya yang bocor, Le. Bukan malah melompat meninggalkan perahunya atau membiarkan penumpangnya tenggelam sendirian dalam kedinginan," ucap Kiai Syamsuddin dengan nada suara yang teramat tenang, namun sarat akan makna kiasan yang mendalam.
Arsalan tertegun, cengkeraman tangannya pada roda kemudi seketika mengencang. "Maksud Abah...?"
Kiai Syamsuddin tersenyum tipis, menatap lurus ke depan jalanan. "Abah sudah hidup puluhan tahun di pesantren, Le. Abah bisa membaca mana pandangan mata seorang istri yang sedang rindu, dan mana pandangan mata seorang istri yang jiwanya sedang menjerit kesakitan karena terluka. Humaira itu anak yang teramat pandai menyimpan rahasia, tapi dia lupa kalau mata batin seorang ayah tidak bisa dibohongi oleh senyuman formalitas."
Beliau menghentikan putaran tasbihnya, lalu menatap sisi samping wajah menantunya dengan tatapan mata yang dalam dan meneduhkan. "Abah ndak akan bertanya apa masalah kalian, karena itu adalah rahasia kamar pernikahanmu yang wajib kamu jaga sampai mati. Tapi Abah hanya ingin mengingatkan satu hal... Humaira adalah amanah terbesar yang Abah serahkan kepadamu di depan saksi dan kalimat Allah. Jika kamu sudah tidak sanggup memuliakannya, kembalikan dia kepada Abah dengan cara yang baik, laksana saat kamu menjemputnya dulu. Jangan kamu gantung jiwanya dalam ketidakpastian batin."
*Deg.*
Kalimat terakhir yang meluncur dari lisan Kiai Syamsuddin laksana petir yang menyambar tepat di atas kepala Gus Arsalan. Dadanya seketika bergemuruh hebat oleh rasa takut yang luar biasa—takut jika ia benar-benar harus kehilangan Humaira, wanita yang baru saja ia sadari adalah pemilik seluruh sisa hidupnya.
"Abah..." ucap Arsalan, suaranya parau dan bergetar hebat menahan gejolak air mata yang hendak luruh di sela-sela mengemudi. "Arsalan... Arsalan ngakoni khilaf, Abah. Arsalan banyak melakukan kesalahan pada Dek Humaira. Tapi demi Allah... Arsalan mboten badhe melepaskan Humaira. Arsalan ke sini untuk menjemput rida dan maafnya. Tolong bimbing Arsalan, Abah..."
Kiai Syamsuddin mengembus napas panjang, kembali memutar tasbihnya dengan tenang. "Bukan Abah yang harus kamu mintai ampun, Le... tapi ketuklah pintu kamar istrimu dengan kerendahan hati yang seutuhnya. Leburkan egomu di bawah telapak kakinya, dan buktikan kalau kamu adalah imam yang layak untuk menuntunnya menuju surga-Nya."
Kalimat penutup dari sang kiai sepuh itu menjadi cambuk yang teramat keras bagi jiwa Gus Arsalan. Di sepanjang sisa perjalanan siang itu, di balik kemudi mobil, air mata penyesalan sang putra mahkota Al-Anwar akhirnya luruh dalam diam, meratapi segala kebodohan masa lalunya dan memantapkan tekad untuk merebut kembali hati Humaira, apa pun rintangan yang harus ia hadapi di *ndalem* Jombang ini.