Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak di Air Tenang (2)
Suara deburan ombak Samudra Hindia menghantam dinding tebing Uluwatu dengan ritme yang menenangkan. Di halaman belakang vila bergaya minimalis tropis itu, Kirana berdiri mengenakan gaun katun putih tipis, membiarkan angin laut memainkan ujung rambutnya yang kini berkilau sehat. Di atas meja kayu di dekatnya, terletak beberapa sketsa desain pakaian—sebuah mimpi lama yang akhirnya bisa ia wujudkan kembali berkat dukungan penuh dari Adrian.
"Memikirkan konsep baru lagi?"
Sebuah suara bariton yang hangat terdengar dari arah belakang. Sepasang lengan yang kokoh dan familier melingkar dengan lembut di pinggang Kirana. Adrian mengecup pundak Kirana yang terbuka, menyalurkan kehangatan yang seketika mengusir sisa hawa dingin sore itu. Lengan kiri Adrian, yang setahun lalu bersimbah darah di gudang Cikarang, kini tampak kuat dan memeluk Kirana tanpa ada rasa sakit lagi.
Kirana menyandarkan punggungnya pada dada bidang Adrian, tersenyum manis. "Aku sedang memikirkan tema untuk pameran busana pertamaku bulan depan, Mas. Aku ingin menamakannya *'Resurgam'*... artinya aku akan bangkit kembali."
Adrian membalikkan tubuh Kirana perlahan, menatap dalam-dalam ke arah sepasang mata bulat yang kini tidak lagi memancarkan ketakutan. "Nama yang indah. Dan aku akan memastikan seluruh dunia melihat bagaimana wanitaku bersinar."
Mereka berbagi kecupan lembut di bawah semburat langit jingga. Setahun ini, Adrian benar-benar menepati janjinya. Ia memindahkan pusat operasional Dirgantara Group ke cabang Bali hanya agar Kirana bisa menjalani terapi pemulihan trauma dengan tenang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Monster bernama Rendy Baskoro telah terkubur, dan hidup mereka perlahan kembali utuh.
Namun, di dalam rumah, ponsel Adrian yang terletak di atas meja marmer ruang tengah tiba-tiba bergetar keras. Indikator lampu merah berkedip, menandakan panggilan itu berasal dari jaringan terenkripsi milik Rendra di Jakarta.
Adrian melepaskan pelukannya dengan tatapan menyesal yang samar. "Sebentar, Sayang. Aku angkat telepon dari Rendra dulu."
Kirana mengangguk sambil tersenyum tenang. "Iya, Mas. Aku siapkan makan malam dulu."
Adrian melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang kedap suara, lalu menggeser layar ponselnya. "Ya, Rendra. Ada perkembangan tentang audit tahunan?"
Di seberang telepon, suara Rendra tidak terdengar santai seperti biasanya. Ada nada kecemasan yang teramat sangat, persis seperti nada suara setahun lalu ketika Kirana diculik.
"Adrian... kita dalam masalah besar. Topeng lama keluarga Baskoro kembali," ujar Rendra, napasnya terdengar memburu. "Pagi ini, Pengadilan Niaga Jakarta menerima gugatan pembatalan akuisisi seluruh aset Baskoro Logistics oleh Dirgantara Group yang kita lakukan setahun lalu."
Adrian menyipitkan matanya, rahangnya mengeras seketika. "Bagaimana mungkin? Semua dokumen legal, tanda tangan kurator negara, dan pembekuan aset oleh PPATK sudah inkrah. Siapa yang berani menggugat keputusan negara?"
"Danuar Baskoro," desis Rendra pahit. "Kakak kandung Rendy yang selama ini menghilang di London. Dia sudah kembali ke Jakarta dua hari lalu bersama tim pengacara dari firma hukum raksasa Inggris. Dia tidak menggunakan kekerasan, Adrian. Dia menyerang kita lewat celah hukum internasional."
Adrian terdiam, ingatan masa lalunya berputar. Ia tahu tentang Danuar—pria yang jauh lebih berbahaya dari Rendy karena ia tidak digerakkan oleh kegilaan emosional, melainkan kalkulasi bisnis yang dingin.
"Bukan cuma itu, Adrian," lanjut Rendra, suaranya melemah. "Danuar membawa sebuah dokumen surat wasiat lama yang ditandatangani oleh almarhum ayahmu dan ayah Rendy lima belas tahun lalu. Surat itu menyatakan bahwa Dirgantara Group memiliki utang obligasi rahasia senilai lima ratus miliar kepada keluarga Baskoro yang sengaja dihapus dari buku laporan keuangan publik. Jika dokumen itu terbukti asli di pengadilan, kita bukan cuma harus mengembalikan seluruh aset logistik, tapi Dirgantara Group bisa dinyatakan melakukan penipuan korporasi terbesar dekade ini. Saham kita di bursa efek langsung anjlok lima persen dalam dua jam terakhir."
Darah di dalam tubuh Adrian seolah bergolak. Rendy Baskoro mungkin sudah mati, namun bayangannya kini kembali menjelma dalam sosok yang lebih mengerikan, siap mencengkeram kehidupan baru yang baru saja ia bangun bersama Kirana.
"Kunci semua informasi ini dari media di Bali, Rendra. Jangan sampai ada satu pun berita yang sampai ke telinga Kirana," perintah Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es. "Siapkan tim hukum terbaik kita. Aku akan terbang ke Jakarta besok subuh."
"Mengerti, Adrian."
Adrian mematikan ponselnya, menyandarkan kedua tangannya di atas meja kerja sambil menunduk dalam-dalam. Badai yang ia kira telah usai, ternyata hanyalah sebuah jeda dari gelombang yang jauh lebih besar.
Saat Adrian mendongak, ia tersentak kecil. Di ambang pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, Kirana berdiri mematung. Tangannya yang memegang sebuah mangkuk kecil bergetar hebat. Wajah cantiknya yang tadinya merona kini kembali memucat, matanya menatap Adrian dengan pandangan ketakutan yang sangat akrab—ketakutan yang mengisyaratkan bahwa belenggu masa lalu telah kembali mengetuk pintu rumah mereka.
"Mas..." bisik Kirana, suaranya bergetar menahan tangis. "Rendy... Rendy belum benar-benar pergi dari hidup kita, kan?"
---
Bersambung