Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
BAB 20
Setelah perut kami terisi penuh dengan daging beruang panggang pagi itu, aku menyempatkan diri memeriksa kondisi Goran. Dan sekali lagi, batas nalarku dipaksa untuk menyerah.
Luka-luka sayatan dan lubang panah yang semalam nyaris merenggut nyawanya itu, kini telah menutup. Dagingnya merajut sempurna, hanya menyisakan garis-garis bekas luka kemerahan yang terlihat seperti sudah mengering berhari-hari. Padahal, baru beberapa jam berlalu.
Aku menghela napas panjang, memutuskan untuk tidak lagi mempertanyakan anatomi absurd ayah dan anak ini. Selama ia hidup, itu sudah cukup bagiku.
Setelah itu, kami pun terlelap di sekitar kehangatan api unggun. Alhamdulillah, malam ini aku tidak memimpikan apa pun. Tidurku sangat lelap dan damai, mungkin karena alam bawah sadarku akhirnya merasa benar-benar aman saat ini.
Aku terbangun ketika hari sudah beranjak dari siang menuju sore. Tubuhku terasa sangat segar.
Sambil menguap pelan, mataku menyapu sekeliling goa, lalu aku berdiri untuk mengambil kantung air. Tepat setelah menenggak air dingin itu, aku baru menyadari sesuatu. Goran dan Mila sudah tidak ada di dalam goa.
Panik perlahan merayap naik. Aku bergegas berjalan ke arah mulut goa yang menghadap langsung ke hamparan danau.
Di tepi danau itu, kulihat punggung raksasa Goran sedang berdiri santai, bersedekap menatap ke arah tengah danau yang membeku. Pandanganku mengikuti arah tatapannya, dan seketika itu juga mataku nyaris melotot keluar.
Di atas permukaan es yang licin dan berkilauan itu, Mila sedang asyik berlarian dan berseluncur tak tentu arah!
"Astaga!" geramku panik.
Aku langsung berlari ke arah Goran, mengepalkan tangan mungilku, dan meninju betisnya sekuat tenaga.
Duk!
Bahkan meninju batang pohon pinus sepertinya akan menghasilkan suara yang lebih keras dari itu. Goran menunduk perlahan, menatapku yang sedang merengut marah. Pria itu bahkan sepertinya tak merasakan apapun dari tinjuku.
"Hei, Anak Bangsawan. Kau sudah bangun akhirnya," sapanya santai.
"Apa yang kau lakukan?! Itu bahaya!" omelku sambil menunjuk ke arah danau. "Kenapa kau biarkan Mila bermain di sana?! Bagaimana jika es di bawahnya retak lalu pecah? Dia bisa tercebur dan kena hipotermia, kau tahu?!"
Goran mengerutkan kening tebalnya. "Hipo... hipo apa?"
"Ah, sudahlah!" Aku melangkah melewati Goran ke bibir danau. "MILAAAA!"
Mendengar panggilanku yang melengking, gadis berambut emas itu menoleh. Wajahnya merah merona karena udara dingin, tapi senyumnya merekah luar biasa lebar.
"Kaaaaak! Sini main! Di sini licin banget!" teriak Mila kegirangan sambil melambaikan tangan.
"Ke sini!! Jangan main di sana, bahaya!" balasku tak kalah keras.
Goran terkekeh pelan dari belakangku. Tangan besarnya menepuk pucuk kepalaku.
"Kenapa kau ini panik sekali? Biarkan saja dia bermain di sana," ucap Goran menenangkan. "Tenang saja, Anak Bangsawan. Aku sudah memeriksanya. Esnya sangat tebal. Kalau hanya ukuran tubuh Mila dan kau, es itu tak akan retak sedikit pun. Lain ceritanya kalau aku yang ikut melompat ke sana."
Meski aku masih kesal karena ia meremehkan kekhawatiranku, mau tidak mau aku harus mengakui bahwa Goran jauh lebih berpengalaman soal alam liar musim dingin ini daripadaku. Permukaan es itu memang terlihat tebal, membeku padat hingga ke dasar air di tepiannya.
Melihat Mila tertawa lepas meluncur di atas es, rasa penasaranku perlahan mengalahkan rasa takut.
Di kehidupanku sebelumnya, melihat salju saja aku belum pernah, apalagi bermain seluncur es!
Dengan hati-hati, aku melangkah maju. Sepatu bot dari kulit beruang yang kubuat agak longgar ini mulai menyentuh permukaan es. Licin. Aku mencoba menyeimbangkan diri, menggeser kakiku pelan.
Sret...
Tubuhku meluncur dengan sendirinya. Sensasinya luar biasa menyenangkan.
Tiba-tiba, memori dari kehidupan masa laluku muncul. Meski aku belum pernah bermain ice skating, aku sering sekali menonton perlombaan figure skating di televisi. Para atlet itu bergerak dengan sangat elegan, melompat dan berputar seperti angsa di atas es.
Sambil tersenyum jahil, aku merentangkan kedua tanganku. Aku membayangkan diriku sebagai seorang atlet profesional. Dengan dorongan kecil, aku mulai meluncur menirukan gerakan mereka, mengangkat satu kaki, memutar tubuh perlahan, dan berpose anggun, meski kenyataannya aku mungkin hanya terlihat seperti anak ayam yang kehilangan keseimbangan.
"Waaah! Kakak, itu gerakan apa?!" seru Mila dengan mata berbinar-binar kagum, meluncur mendekatiku.
Aku membusungkan dada bangga, sama sekali tak memedulikan tatapan aneh Goran dari pinggir danau. "Hebat, kan?"
"Gimana tadi cara geraknya, Kak? Ajari aku!" pinta Mila antusias.
"Gampang! Kau cukup rentangkan tanganmu, jadikan satu kaki sebagai poros, lalu putar tubuhmu," jelasku sambil mempraktekkannya lagi dengan kecepatan lambat.
Mila menatapku lekat-lekat, merekam gerakanku. Awalnya, ia mencoba menirukannya. Gerakannya terlihat canggung dan kaku. Namun, anak raksasa ini memang memiliki kepekaan fisik yang menakutkan. Hanya dalam beberapa detik, ia sudah bisa menirukan putaranku dengan cukup baik.
"Begini, Kak?" Mila berputar satu kali dengan rapi.
"Iya! Bagus sekali, Mil! Sekarang coba lakukan lebih cepat!" seruku menyemangati.
Rupanya, itu adalah saran paling buruk yang pernah keluar dari mulutku hari ini.
Mendapat persetujuanku, Mila mengangguk semangat. Dengan kekuatan otot kakinya yang sama sekali tidak normal, ia menghentakkan kakinya dan memutar tubuhnya.
Wusss!
Bukan sekadar putaran atlet. Tubuh Mila seketika berputar gila-gilaan seperti gasing raksasa di atas es. Kecepatan putarannya membuat angin di sekitarnya mendesing.
"KAK! AKU TIDAK BISA BERHENTI!" jerit Mila panik dari dalam pusaran tubuhnya sendiri.
"MILAAA!"
Aku berlari menyusulnya dengan langkah tertatih-tatih di atas es, tertawa dan panik di saat yang bersamaan.
Karena kehilangan arah dan tak bisa menghentikan momentum monster kakinya, Mila meluncur tak terkendali ke arah pinggiran danau disisi lain.
BRUSSS!
Tubuh gadis malang itu menghantam tumpukan salju tebal hingga saljunya meledak beterbangan ke udara. Hening seketika. Yang terlihat dari tumpukan putih itu hanyalah dua kaki berlapis sepatu bot bulu yang menjulur kaku ke atas.
Aku terdiam di atas es.
Mila juga terdiam di dalam salju.
Sedetik kemudian, ia menarik kepalanya keluar dari gundukan salju, wajahnya cemong tertutup butiran putih, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Melihatnya baik-baik saja, tawaku pun meledak hingga perutku terasa kram.
HA HA HA!!
Setelah puas bermain hingga napas kami terengah-engah dan langit mulai berubah warna keemasan, kami kembali ke arah goa. Di pinggir danau, Goran rupanya sudah kembali lebih dulu ke dalam untuk menyiapkan perapian.
"Itu tadi namanya gerakan apa, Kak?" tanya Mila sambil membersihkan sisa salju di mantelnya saat kami berjalan masuk.
"Aku lupa nama aslinya..." jawabku asal. "Ya, sebut saja Tarian Es."
"Tarian Es, ya...? Oke!" Mila mengangguk-angguk puas.
Saat kami masuk ke dalam goa yang hangat, Goran sudah memanggang sisa daging beruang besar tadi pagi. Aroma gurih yang menguar membuat perutku kembali keroncongan. Kami bertiga pun duduk melingkar dan mulai makan malam lebih awal.
"Sepertinya setelah makan ini kita bisa istirahat saja di dalam goa untuk hari ini, lalu melanjutkan perjalanan besok pagi," usulku sambil mengunyah daging.
Goran menghentikan kunyahannya, menatapku dengan wajah serius.
"Memang belum pasti pasukan Witendz itu akan mengejar kita sampai ke sini," ucap Goran berat. "Bahkan aku ragu mereka bisa menemukan batu tempat tinggal kita. Tapi jika mereka berhasil menemukannya, mereka pasti akan menemukan jejak kita yang mengarah ke hutan ini."
"Lalu?" tanyaku menelan ludah.
"Mereka adalah pasukan elit," jelas Goran dengan logikanya yang selalu taktis. "Biasanya, pasukan seperti mereka diatur untuk beristirahat di malam hari dan memfokuskan pencarian penuh di siang harinya. Yah, semua itu hanya asumsiku dari masa lalu. Tapi, akan jauh lebih bagus dan aman jika kita bergerak di malam hari saat mereka kemungkinan besar sedang beristirahat."
Aku mematung. Bergerak menembus hutan salju di malam hari lagi?
"Jadi... aku harus merasakan dinginnya salju malam lagi sampai kita benar-benar aman, ya?" tanyaku lemas.
Goran mengangguk. "Ya, ini hanya untuk berjaga-jaga. Aku tidak mau mengambil risiko setitik pun untuk nyawa kalian berdua."
Ya Allah, kuatkanlah hambamu yang hanya pernah hidup di negara beriklim tropis dan gurun ini menghadapi musim dingin Eropa, ratapku dalam hati.
Namun aku tahu Goran benar. Keamanan adalah prioritas utama. Kami pun melanjutkan makan dalam diam. Begitu malam sepenuhnya menjemput dan suhu anjlok hingga titik beku, kami membereskan semua barang, mengenakan mantel paling tebal, dan kembali melangkah menembus lautan salju.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭