" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
EPISODE 12: PELINDUNG DI BALIK KEGELAPAN
Intan masih terduduk lemas di kursi ruang tamu. Setelah pikirannya berkecamuk hebat, akhirnya ia mencoba menerima keadaan. Dengan langkah berat, ia bangkit menuju dapur, mengambil sapu dan tong sampah, lalu mulai membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Di sudut matanya, ia melihat Jaji mondar-mandir keluar masuk kamar. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian rapi, pria itu tampak siap untuk pergi.
Intan tersenyum kecut. Ia sudah bisa menebak alur ceritanya. Persis seperti kejadian beberapa bulan lalu. Marah-marah, mencaci maki, bahkan anak kecil pun kena imbasnya, lalu setelah puas melampiaskan emosi, suaminya akan pergi dengan wajah dingin bak es.
"Aku pergi kerja. Tak betah tinggal di rumah neraka ini," ucap Jaji datar tanpa rasa, lalu melangkah keluar pintu.
"Basi... Sudah tak aneh," gumam Intan mengejek pelan, tak dihiraukan oleh suaminya.
Deru mesin motor terdengar menjauh. Jaji benar-benar pergi.
Hati Intan terasa lega, namun rasa lega itu bercampur dengan kepedihan yang mendalam.
'Kemana aku harus mengadu? Kepada siapa aku mencurahkan rasa sakit ini? Kembali ke rumah orang tua? Di sana cacian makian bahkan lebih sakit daripada di sini. Hidup ini sungguh tak adil... Ya Tuhan, jika Engkau benar menciptakanku, kenapa Kau beri kehidupan yang tak bahagia ini? Lebih baik Kau cabut nyawaku sekarang, daripada hidup hanya dijadikan tampungan amarah orang lain.'
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Pertahanan dirinya runtuh sudah.
"Sayang... aku sudah mencoba mengerti berkali-kali..." isaknya pelan.
"Tapi kenapa selalu seperti ini? Aku sudah berharap kamu bisa berubah, tapi sepertinya aku terlalu naif mempercayai janji-janjimu... Hatiku benar-benar lelah dan kecewa..."
"Aku berusaha tegar, tapi apa daya... aku hanya manusia lemah yang tercipta dari tulang rusuk."
Intan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu.
"Tapi aku tidak bisa lagi menyembunyikannya... Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, tapi setiap hari yang kulalui hanya membuatku semakin hancur... Apakah kamu benar-benar peduli dengan apa yang kurasakan?"
Tangisnya makin keras, meluapkan semua beban di dada.
"Kamu tahu nggak sih... setiap kali kamu melakukan hal itu, aku merasa seperti tidak berharga sama sekali! Aku sudah berusaha jadi istri yang baik, tapi kenapa kamu selalu menyakitiku seperti ini? Aku kecewa banget Pih... kecewa sekali!"
Dengan tekad bulat, ia bangkit mengusap air matanya kasar.
"Baiklah... Aku akan berusaha lepas darimu. Berusaha hidup tanpa nafkah darimu. Melepaskanmu mungkin jalan terbaik buatku dan anak-anakku."
Langkah kakinya beralih menuju pintu.
'Kembali ke rumah Nenek Wati... Hanya merekalah yang mengerti diriku dan kedua anakku.'
LANGIT, PENJAGA DIRI
Namun, tanpa diketahui oleh Intan maupun Jaji saat bertengkar tadi, ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi dari balik tembok dan celah pagar.
Langit... pemuda tetangganya itu diam mematung mendengar setiap rentetan kata kasar yang terlontar dari mulut Jaji. Hatinya panas membara melihat wanita yang ia hormati diperlakukan seperti sampah.
"Biadab kamu Jaji..." umpatnya dalam hati. "Kamu tidak pantas memiliki wanita sebaik dia!"
Belum lagi, ia melihat beberapa warga yang tadi berkerumun masih belum pergi, mereka masih berdiri di ujung jalan sambil berbisik-bisik dan menatap ke arah rumah Intan dengan mata penasaran.
Melihat itu, sisi dewasa dan protektif Langit muncul. Ia tidak mau Intan semakin dipermalukan. Dengan langkah tegas, Langit berjalan mendekati kerumunan warga tersebut.
"Pak, Bu... Mohon maaf sekali ya," ucap Langit dengan suara rendah namun tegas. "Sudah tidak ada apa-apa di dalam. Bapak Ibu silahkan kembali beraktivitas saja. Kasihan kalau anak-anak melihat orang banyak begini jadi takut, dan juga... hormatilah privasi orang lain ya."
Warga yang tadinya ingin menguping lebih jauh, segan melihat tatapan mata Langit yang tajam dan bicaranya yang sopan namun memaksa.
"Oh iya Ngit... iya kami cuma lihat-lihat doang kok," jawab salah satu ibu-ibu.
"Yaudah kami balik dulu ya."
Satu per satu warga pun bubar dan pergi meninggalkan halaman rumah Intan. Langit berhasil mengusir mereka tanpa membuat keributan, dan tanpa sepengetahuan Intan yang sedang sibuk menangis di dalam.
Setelah jalanan sepi, Langit kembali berdiri di depan pintu, siap menjadi sandaran bagi wanita yang sedang rapuh itu.
"Kebaikanmu adalah anugerah, Teh... bukan alasan untuk disakiti. Kamu layak dapat cinta yang menghargai dirimu seutuhnya. Ingat ya Teh, dirimu berharga lebih dari apa pun."
Suara itu mengejutkan Intan. Ia baru saja membuka pintu, dan sosok pemuda yang menjadi pemicu pertengkarannya itu kini berdiri tegap di hadapannya.
"Langit... Sejak kapan kamu di sini? Kamu dengar semua yang terjadi?" tanyanya tergagap.
Langit hanya mengangguk pelan. Matanya menatap Intan penuh perhatian dan kekuatan.
"Wanita solehah seperti Teh Intan, yang selalu menjaga hati dan menjalankan kewajiban dengan ikhlas – itu adalah berkah," ucap Langit lembut namun terdengar sangat matang. "Tapi ingat Teh, kebaikan dan kesolehanmu bukan berarti Teh harus terima perlakuan menyakitkan terus menerus. Allah SWT mencintai hamba-Nya yang baik, dan Dia menyuruh kita hidup dengan hormat. Setiap orang layak dapat kasih sayang tulus, bukan sakit hati yang berulang. Teh punya hak buat bahagia."
Kata-kata itu begitu indah dan menenangkan. Intan terbuai, terharu mendengar nasihat yang begitu bijak keluar dari mulut bocah seusianya.
'Kedewasaannya... dia berubah jadi lelaki sejati saat ini,' batin Intan terharu.
Namun sesaat kemudian, ucapan Langit kembali berubah nada.
"Teh maafkan Langit ya... Gara-gara Teh dekat sama Langit, jadi bertengkar dan Pak Jaji marah besar deh. Hihihi..."
Senyum polos dan nada bicara kekanak-kanakan kembali terlihat jelas di wajahnya.
Intan tertegun sejenak.
'Apa mungkin... bocah ini memiliki sifat ganda? Saat butuh bijak, dia sangat dewasa. Tapi saat biasa, dia kembali jadi bocah polos yang manja?'
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.