Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Framing yang Terpisah
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan bagi Arlan Rayyan, kebisingan kota ini terasa seperti noise yang gagal ia bersihkan dari sensor kameranya. Tiga bulan telah berlalu sejak ia resmi menyandang status mahasiswa jurnalistik di salah satu universitas ternama di Jakarta. Namun, alih-alih merasa bangga, Arlan justru merasa seperti kembali ke titik nol—kembali menjadi remaja pendiam yang ingin menyembunyikan wajahnya di balik tudung jaket denim pudar miliknya.
Pagi itu, Arlan berdiri di tengah peron Stasiun Sudirman yang sesak. Orang-orang berlarian, saling sikut, mengejar kereta yang datang dan pergi dengan ritme yang kejam. Arlan mengangkat kamera analog kakeknya, mencoba membidik kerumunan itu. Ia mencari sebuah momen, sebuah titik fokus yang jujur di tengah kepura-puraan orang-orang kota. Namun, setiap kali ia menempelkan matanya ke lubang intip kamera, jarinya mendadak kaku.
Ada sesuatu yang hilang dari komposisinya.
Biasanya, di sudut frame-nya, akan selalu ada sosok gadis dengan noda cat di pipi yang memberikan instruksi cerewet tentang pencahayaan. Biasanya, ada Maya yang memaksanya untuk maju lebih dekat ke subjek foto. Kini, di balik lensa 50mm-nya, hanya ada kekosongan. Maya berada 500 kilometer di timur, di Yogyakarta, sedang bergelut dengan kanvas-kanvas raksasanya. Jarak itu bukan sekadar angka di peta bagi Arlan; jarak itu adalah distorsi yang merusak fokus hidupnya.
"Arlan! Lo denger gue nggak sih?"
Suara melengking itu membuyarkan lamunan Arlan. Di sampingnya berdiri Siska, teman sekelasnya yang ambisius. Siska memegang kamera digital mutakhir yang harganya setara dengan tiga bulan biaya kos Arlan.
"Gue bilang, tugas dari Pak Hendra hari ini itu 'Wajah Urban'. Lo masih mau pake kamera antik itu? Kita cuma punya waktu dua jam sebelum kelas dimulai. Kalau lo telat ngumpulin file digitalnya ke portal kampus, lo bakal dapet nilai E," omel Siska sambil sibuk memotret dengan mode burst—menghasilkan puluhan foto dalam satu detik.
Arlan hanya mengangguk tipis, sebuah kebiasaan lama yang sulit hilang. "Gue tetep pake ini, Sis. Kamera analog nggak pernah bohong soal momen."
"Terserah lo deh. Tapi jangan nyalahin gue kalau lo ketinggalan zaman. Di jurnalistik, kecepatan itu segalanya, Lan. Nggak ada waktu buat nunggu film lo dicuci di kamar gelap," Siska berlalu, menghilang di antara kerumunan penumpang KRL.
Arlan menarik napas panjang. Ia meraba saku jaketnya, menyentuh benda melingkar yang kini ia jadikan jimat: tutup lensa berukir "A.R.". Benda itu terasa dingin, seolah-olah ikut merasakan kesepian pemiliknya. Ia merindukan gudang seni sekolah. Ia merindukan bau cat minyak Maya. Di Jakarta, semuanya berbau asap knalpot dan kopi instan.
Ia mencoba memotret lagi. Kali ini ia membidik seorang kakek penjual koran yang duduk lesu di pojok stasiun. Arlan mengatur shutter speed, menyesuaikan aperture dengan cahaya lampu stasiun yang temaram. Klik. Satu jepretan. Ia tidak tahu apakah hasilnya akan bagus atau tidak—itu adalah misteri indah dari kamera analog. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa foto itu tetap terasa "dingin".
Malam harinya, di kamar kos yang sempit di daerah pondok cina, Arlan duduk di depan laptopnya. Ia mencoba mengerjakan tugas esai fotografi, namun matanya terus melirik ke arah ponsel yang tergeletak di samping buku catatannya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah pesan WhatsApp yang baru saja masuk.
Maya: "Lan, hari ini gue pameran perdana buat mahasiswa baru di Jogja. Gue lukis langit Malioboro, tapi warnanya nggak dapet-dapet. Gue baru sadar, gue butuh foto referensi dari lo. Jogja tanpa mata lo ternyata susah banget buat dilukis."
Arlan tersenyum getir. Ia segera mengetik balasan.
Arlan: "Sama, May. Jakarta tanpa instruksi lo juga cuma jadi tumpukan beton yang nggak punya jiwa. Gue tadi dapet tugas motret wajah urban, tapi rasanya kayak motret mayat hidup. Fokus gue berantakan."
Maya tidak langsung membalas. Arlan membayangkan gadis itu sedang duduk di depan kanvasnya, rambutnya diikat asal-asalan dengan noda cat biru kobalt di lengannya. Ia merindukan cara Maya tertawa saat melihat hasil fotonya yang dianggap "terlalu melankolis".
Tak lama, ponselnya bergetar. Panggilan video masuk. Arlan segera menyambar ponselnya, namun ia ragu sejenak. Ia merapikan rambutnya dan memperbaiki letak kerah jaket denimnya yang masih ia kenakan di dalam kamar.
Wajah Maya muncul di layar. Ia tampak lelah, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, namun senyumnya masih secerah lampu sorot panggung teater mereka dulu.
"Hai, Si Jaket Denim," sapa Maya. Latar belakang tempatnya berada tampak seperti studio seni yang berantakan dengan banyak mahasiswa lain yang berlalu-lalang.
"Hai, May. Gimana pamerannya?"
"Sukses, tapi hambar. Dosen gue bilang lukisan gue terlalu banyak 'bayangan'. Dia nanya, siapa sih subjek yang gue maksud? Gue cuma diem. Gue nggak bisa bilang kalau subjeknya lagi terjebak macet di Jakarta," Maya tertawa kecil, namun ada nada sedih yang terselip. "Lo sendiri gimana? Udah dapet teman baru yang bisa lo ajak ke ruang gelap?"
Arlan menggeleng. "Nggak ada yang mau ke ruang gelap di sini, May. Semuanya main digital. Semuanya bicara soal megapiksel dan kecepatan unggah. Gue ngerasa kayak alien."
"Jangan berubah ya, Lan," kata Maya serius, wajahnya mendekat ke kamera ponsel. "Goresan di lensa lo itu identitas lo. Jangan biarkan Jakarta bikin lensa lo jadi terlalu bersih dan membosankan. Gue butuh Arlan yang berani motret luka, bukan Arlan yang motret brosur apartemen."
Percakapan mereka terhenti saat seseorang memanggil nama Maya di latar belakang. "Maya! Ayo kumpul, ada evaluasi dari kurator!"
Maya menoleh ke arah sumber suara, lalu kembali menatap Arlan. "Gue harus pergi, Lan. Nanti kita sambung lagi ya? I miss you, anyway."
Layar berubah gelap. Panggilan berakhir.
Arlan meletakkan ponselnya dengan pelan. Kata-kata terakhir Maya—I miss you—terasa seperti long exposure yang membakar hatinya. Rasa rindu itu kini menjadi distorsi yang nyata. Ia menyadari bahwa pameran bersama mereka dulu adalah puncak dari sebuah kebahagiaan yang kini dipaksa untuk diuji oleh realitas.
Ia berjalan menuju meja belajarnya, mengambil kamera analognya, dan melepaskan tutup lensa "A.R.". Ia menatap lensa yang tergores itu. Goresan yang dulu dibuat oleh sang "Pencuri Momen" untuk menghancurkannya, kini menjadi satu-satunya penghubung emosionalnya dengan masa SMA.
Arlan memutuskan untuk keluar dari kamar kosnya malam itu. Ia membawa kameranya menuju jembatan penyeberangan orang di atas jalan Margonda. Di bawah sana, lampu-lampu mobil menciptakan garis cahaya yang memanjang—teknik slow shutter yang dulu diajarkan kakeknya.
Ia membidik jalanan yang tak pernah sepi itu. Ia tidak lagi mencari wajah urban yang dingin. Ia mencari jejak cahaya yang tertinggal. Ia menyadari bahwa meskipun framing-nya dan Maya kini terpisah oleh jarak, mereka masih berada di bawah langit yang sama.
Klik.
Arlan menekan tombol rananya. Kali ini, ia tidak memikirkan nilai dari Pak Hendra. Ia memotret untuk Maya. Ia ingin menunjukkan bahwa meskipun lensanya terpisah, cahayanya akan tetap ia simpan untuk gadis itu.
Namun, di tengah kesunyian malam itu, Arlan tidak menyadari bahwa di ujung jembatan, sesosok pria dengan tudung hitam sedang memperhatikannya. Pria itu memegang sebuah kamera digital profesional, membidik ke arah Arlan, dan mengambil gambar Arlan tanpa izin.
Sebuah framing yang berbahaya baru saja dimulai. Sang Pencuri Momen tidak benar-benar pergi; dia hanya menunggu Arlan berada di tempat yang paling asing untuk memulai permainannya kembali.
Arlan meraba tutup lensanya yang kini tersimpan di saku jaket. Ia merasa merinding, sebuah insting fotografer yang memberitahunya bahwa ia baru saja menjadi subjek dalam sebuah skenario yang tidak ia inginkan.
Season 2 bukan lagi soal menemukan keberanian untuk dilihat, tapi soal bertahan hidup ketika seluruh dunia—termasuk masa lalu—mulai mengatur fokus untuk menghancurkanmu.