Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Baru
Masa liburan sekolah sudah berakhir. Hari ini cukup membuat Vanya khawatir ia takut tidak bisa satu kelas dengan teman teman nya lagi.
"Van ayo makannya yang cepet kamu kan hari ini sekolah hari pertama, masa hari pertama udah telat ga enak dong nanti di liat adik kelas kamu"
"Iya mah ini dikit lagi habis kok makanan nya"
"Kamu hari ini bareng Nana atau enggak?"
Vanya terdiam, sudah seminggu ia tidak berkabar dengan Nana maupun teman teman nya yang lain.
"Van kok bengong"
"Eh iya mah aku lupa tanya Nana, sebentar aku tanya dulu ya"
Vanya bergegas kembali ke kamar karna ia lupa membawa Handphone nya.
"Na, mau bareng ga? Gue udah rapih nih" Satu pesan masuk dari Vanya. Pesan itu masuk tepat saat Nana berada di depan rumah Vanya.
"Gue udah di depan rumah lo Van"
Vanya yang kaget dengan balasan pesan dari Nana langsung menuju balkon kamar nya dan benar saja Nana sudah berdiri di depan pagar rumah nya dengan seragam sekolah nya yang selalu rapih.
"Sebentar Na gue turun" Teriak Vanya sambil buru buru merapihkan tas nya.
Vanya berlari menuruni tangga, ia tak mau Nana menunggu lama.
"Pelan Pelan Vanya" Kali ini Raka yang berteriak, ia hampir saja bertabrakan dengan Vanya tadi.
"Iya maaf, mah pah abang aku jalan dulu ya"
"Iya hati hati sayang"
Pak Agus yang sudah standby di samping mobil langsung sigap membuka gerbang dan mengeluarkan mobil. Ia juga sudah terburu buru karna takut jalanan akan macet mengingat hari ini adalah awal semester baru yang sudah pasti seluruh sekolah se-Jakarta memulai kegiatan belajar mengajar pertama hari ini.
"Ayo neng buru takut macet nih"
"Iya pak Agus sabar aku pake sepatu dulu ya"
Pak Agus sudah lebih dulu berada di mobil bersama Nana. Tak lama kemudian Vanya masuk ke mobil dengan Nafas yang terlihat ngos-ngosan.
"Nafas dulu neng"
"Iya ini juga dari tadi nafas pak"
"Hehehe iya ya, ada yang ketinggalan ga neng? Coba di cek lagi"
"Aman pak tadi udah di cek ulang kok"
"Oke kita jalan ya"
"Iya pak" Nana dan Vanya kompak menjawab dan pak Agus hanya terkekeh mendengarnya.
"Na kita satu kelas ga ya? "
"Kalo itungan gue sih harus nya kita satu kelas di kelas A"
Vanya diam sejenak ia berdoa semoga saja yang di katakan Nana menjadi kenyataan.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan sekolah, mereka pun berpamitan dengan pak Agus dan langsung masuk ke dalam gerbang sekolah. Selama mereka berjalan di lorong sekolah beberapa kali ia berpapasan dengan teman sekelas nya di kelas 7.
"Van cek 8 A dulu ya dari pada kita bolak balik"
Kelas 8A terletak di lantai 2 sekolah nya dan berada satu lorong dengan kelas 9 rumor yang beredar kelas 8 A adalah kelas unggulan karna letak nya yang di bedakan dari kelas 8 lain nya dan memang Vanya menyadari beberapa prestasi yang di raih oleh sekolah nya biasanya di hasilkan oleh siswa siswa kelas 8 A, sedangkan kelas 8 yang lain nya berada di lantai 3 dan bersebrangan dengan lorong kelas 7.
"Iya Na dari pada kita naik turun tangga kan lumayan ya "
Sesampainya di depan kelas 8 A ternyata sudah ramai dengan murid seangkatannya yang mencoba mencari nama masing-masing yang di tempel di jendela kelas. Ada yang berteriak kegirangan ada yang diam dan berjalan masuk ke kelas dengan muka yang lesu sudah di pastikan ia pasti terpisah dari teman nya dan ada juga yang menghela nafas kasar dan langsung pergi menaiki tangga kelantai 3.
Nana berjalan mendahului Vanya, Menerobos masuk ke dalam kerumunan. Entah bagaimana caranya Nana sudah berada tepat di depan kertas nama lalu berbalik dan tersenyum kepada Vanya.
"Van itungan gue bener kan kita satu kelas di 8A" Nana yang sudah sampai di depan Vanya tersenyum dan menarik Vanya untuk masuk kedalam kelas. Vanya senyum tanpa henti, sesampai nya di dalam kelas Vanya terdiam sejenak bangku bagian depan sudah terisi penuh dan di baris kedua hanya sisa 1 di baris ketiga bangku nya pun sudah penuh. Vanya memilih bangku di belakang sedangkan Nana memiliki penglihatan yang kurang jelas jika ia berada di belakang ia pasti akan sangat kesulitan, dan akhirnya menyuruh Nana untuk tetap duduk di baris kedua dan Vanya di baris ke empat tepat satu bangku sebelum baris paling akhir, Tentu saja itu dengan perdebatan Nana tidak mau terpisah dari Vanya karna ia takut Vanya tidak nyaman dengan teman sebangku baru nya sedangkan Vanya tidak mau menyulitkan Nana.
setelah beberapa saat mereka merapihkan meja masing masing Nana menghampiri Vanya dan mengajak nya melihat lihat kelas 8 yang lain sekalian mencari keberadaan Irgi dan Farida.
Mereka akhirnya bertemu dengan Irgi, Irgi berada di kelas 8B, dan kelas itu sangat nyaman karna memiliki pencahayaan yang dan berada di pojok lorong. Mereka asik dengan obrolan nya tanpa mereka sadari Farida yang berada di depan kelas 8 C terus memperhatikan mereka dengan muka yang masam.
Triing, bel masuk pun berbunyi. Karna hari adalah hari senin semua murid bersiap menuju lapangan untuk melakukan upacara. Irgi, Nana dan Vanya berada di baris yang sama. Sesekali mereka bercanda untuk menghilangkan rasa lelah.