INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pesantren Darul Falah Sutmaja.
Pagi itu suasana Pesantren terasa tenang, di kamarnya dengan dinding berwarna coklat Ning Syifa berdiri di depan cermin besar.
Hari itu gadis muda ini mengenakan gamis warna hijau sage dengan pita di kedua lengan bajunya, juga hijab pashmina berwarna merah muda menutup jatuh anggun di bahunya.
Tas kecil di bahunya dan koper sudah siap, karena dirinya akan berangkat ke Pesantren Darul Mahendra, bukan sekedar bersilahturahmi atau kunjungan biasa.
Melainkan karena satu orang Yakni Gus Ali.
Senyumnya mengembang tanpa sadar, di benaknya terbayang wajah Gus Ali---seorang pria yang sudah mengambil hatinya tanpa sadar.
Suaranya lembut saat berdakwah, caranya penuh adab selain wajahnya yang tampan.
Ning Syifa tahu jika kabar yang beredar tentang rencana perjodohan---pembicaraan sang ayah dengan Kiyai Ridwan.
Tentang masa depan dirinya yang disusun untuk Gus Ali.
Namun ada satu hal yang membuat hatinya tak damai, berdebar rasa cemas.
Seketika senyumnya membayangkan Gus Ali menghilang begitu saja.
Jika Gus Ali menikah dalam waktu dekat, maka impian Gus Ali untuk melanjutkan kuliah di Mekkah akan batal.
Ada syarat perjanjian keluarga yang belum pernah di ungkapkan secara terang.
Tapi Ning Syifa memilih tak memikirkan itu sekarang yang dirinya tahu---harus memperjuangkan cintanya kepada Gus Ali.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja," bisiknya pelan pada bayangannya sendiri di depan cermin.
Tiba-tiba suara berat terdengar dari belakangnya.
"Kamu tampak bahagia banget, syif."
Senyum di wajah Ning Syifa perlahan memudar dan sontak langsung menoleh ke belakang.
Di ambang pintu berdiri ayahnya, Kiyai Hussen Sutmaja dengan sorot matanya yang tajam.
Wajahnya penuh Wibawa.
Kiyai Hussen mengenakan gamis warna putih dan sorban yang melingkar di kepalanya, tak lupa kacamata bening yang bertengger manis di hidungnya.
Kakinya melangkah masuk perlahan mendekati putri bungsunya.
Ning Syifa menunduk cepat, tak berani menatap wajah sang ayah.
"Abi...Syifa hanya mau bersilahturahmi ke Pesantren Darul Mahendra."
Kiyai Hussen menatap putrinya dengan tatapan tegas, lalu dirinya melihat koper disana.
Tangannya berada di belakang punggung, langkahnya tenang namun berat.
"Ke Pesantren Darul Mahendra?" tanyanya sekali lagi dengan tegas.
Ning Syifa mengangguk dan langsung terdiam sejenak.
"Iya Abi. Syifa kesana---" ucapan Syifa terputus karena ayahnya menyelaknya.
"Kamu nggak perlu nutupin semua dari abi, abi juga mau kesana. Pesantren biar di urus sama kakak kamu," ujar Kiyai Hussen.
Kiyai Hussen menghela napas pelan, menatap putrinya yang cantik.
"Kamu menguping pembicaraan Abi ama Kiyai Ridwan ya?" tanyanya dengan nada yang tegas.
Ning Syifa mengigit bibirnya karena dirinya tahu, akan di semprot oleh sang ayah.
"Jangan ulangi lagi, menguping pembicaraan orangtua nggak baik," tegur Kiyai Hussen.
Perjodohan Gus Ali dengan dirinya adalah tentang rencana masa depan besar untuk pesantren.
Namun, hatinya berbisik lain. Akan ada takdir lebih besar untuknya, rencana Allah yang tak terduga untuk setiap hambanya.
"Syifa kesana mau mengenal Gus Ali, Bi. Sebelum menikah tapi Syifa janji untuk jaga batas," jawab Ning Syifa.
"Abi juga akan kesana," sahut Kiyai Rahman.
Kiyai Hussen menatap putrinya lama, lalu menyentuh kedua bahu putrinya.
"Abi tahu kamu mencintai Gus Ali," ujarnya.
“Cinta tidak selalu berjalan searah dengan takdir yang telah disiapkan keluarga.”
"Allah mungkin punya jalan lain, Nak."
Kiyai Hussen memberikan nasihat kepada putrinya, Ning Syifa adalah gadis solehah---Pasti Allah punya cara terbaik untuk menemukan jodoh pada hambanya.
Kalimat yang di lontarkan Kiyai Hussen, membuat jantung Syifa bergetar.
Diantara Ambisi, cinta dan Masa depan Syifa tak tahu jika Gus Ali sudah memiliki pujaan hati.
Namun, Allah memiliki takdir indah untuk Syifa, tapi apa takdir untuk Ning Syifa Maulida.
"Yaudah ayo," ajak Kiyai Hussen mengajak anaknya.
Ning Syifa menarik kopernya, disana Kiyai Rahman akan berangkat ke Pesantren Darul Mahendra untuk bertemu sahabat karibnya.
Bukan hanya silahturahmi tapi untuk perjodohan anak-anak mereka.
Saat keluar kamar, Gus Farhan Hidayatullah ada di depan mereka----Kakak Maulida.
"Abi? Syifa? Kalian mau kemana?" tanya Gus Farhan.
Kiyai Hussen mendekati putranya yang sudah memiliki anak dan istri, dan memberikan amanah untuk menjaga pesantrennya.
"Insyaallah Abi, Farhan akan jaga Pesantren sesuai apa yang Abi amanah 'kan," jawab Gus Farhan.
Ning Syifa hanya menghela napas, dirinya menatap sang kakak di depannya.
Lalu sebelum berangkat kakaknya mendekati adiknya.
"Syifa hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa," ujar Gus Farhan mendekati adiknya.
"Iya Mas, Syifa akan selalu berdoa kepada Allah agar di berikan petunjuk," ujar Ning Syifa.
"Assalamualaikum," ujar Syifa sebagai salam perpisahan.
"Walaikumsalam," sahut Gus Farhan menatap adiknya.
Kiyai Hussen dan Ning Syifa pergi berlalu, Gus Farhan hanya menatap dari belakang bagaimana adiknya pergi meninggalkannya.
Tiba-tiba, hati Gus Farhan berdegup.
Seperti ada perasaan yang tidak enak, tapi apa yang membuat hatinya tak enak.
"Ya allah ada apa ini? kenapa hamba merasa jika Gus Ali Mahendra bukalah jodoh untuk adik hamba," batinnya.
Tangannya memegang dada dan entah mengapa terus berdegup dengan kencang, selayak sebuah pertanda.
"Ya allah, jika Gus Ali bukan jodoh yang baik untuk Syifa, hamba mohon tolong pertemukan adik hamba dengan pria yang baik dan bisa membimbingnya ke jalanmu."
Gus Farhan hanya menghela napas dan dirinya akan pergi ke kelas untuk mengajar matematika, dan menjelaskan konsepnya seperti Al-khawarizmi.
Dirinya berencana mengajarkan mengenai matematika, secara logika bukan menghapal rumus.
Hari ini adalah hari dimana dua insan akan di pertemukan untuk menjalani ta'aruf atau pendekatan.
Bukan pendekatan pacaran, tapi lebih mengenal satu sama lain.
Ning Syifa masuk ke dalam mobil avanza putih dengan santri kesayangannya yang menyetir, santri favorite Kiyai Hussen Sutmaja.
Hati Ning syifa menjadi tak karuan saat mobil berjalan menuju Pesantren Kiyai Ridwan, hatinya seakan mengatakan ada sesuatu nanti yang tejadi.
Tapi Syifa hanya memejamkan matanya dan berusaha menyerahkan segala urusan kepada yang di atas.
*