NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Popcorn Dan Rahasia Malam

Pukul 20.00 malam itu, apartemen pengawasan terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Lampu ruang tengah sengaja dinyalakan agak redup, sementara layar televisi besar menyala cerah menayangkan sebuah film aksi Hollywood yang dipenuhi adegan ledakan dan tembakan beruntun. Suara renyah popcorn yang digigit terdengar sesekali di antara dialog film yang riuh.

Arthur Rutherford duduk santai di sofa bagian tengah dengan kedua kakinya disilangkan di atas meja rendah. Ia mengenakan kaos hitam longgar dan celana training abu abu. Di atas pangkuannya, terdapat sebuah mangkuk besar berisi popcorn mentega yang masih terasa hangat. Di sebelah kanan Arthur, Manuel Vin duduk dengan posisi tubuh yang terlihat lebih tegang. Tangan kanan Manuel memegang erat remote televisi, sesekali ia berkomentar mengenai adegan film di depan mereka sambil mengunyah popcorn.

"Ledakannya terasa kurang realistis," gumam Manuel dengan dahi berkerut. "Di dunia nyata, seseorang tidak akan bisa berlari secepat itu setelah terkena ledakan granat."

Arthur tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar kaca. "Santai saja, Lieutenant. Ini adalah film hiburan, bukan sebuah dokumenter dari kasus kita. Nikmati saja popcorn di tanganmu itu sebelum Elena keluar dari kamar dan merebut semuanya dari kita."

Manuel menyeringai lebar. "Dia pasti saat ini sedang mandi. Wanita Rusia itu kalau sudah masuk ke dalam kamar mandi bisa memakan waktu yang lama sekali."

Mereka berdua kemudian kembali memfokuskan diri pada jalan cerita film. Ledakan besar kembali memenuhi layar televisi, diikuti oleh adegan aksi kejar kejaran mobil yang sangat seru. Arthur menyendok segenggam popcorn lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan santai.

Tiba tiba pintu kamar tidur Elena terbuka perlahan.

Elena Kuznetsova keluar melangkah ringan menuju ruang tengah. Rambut pirangnya yang masih sedikit basah tampak tergerai lembut di atas kedua bahunya. Ia mengenakan baju tidur tanpa lengan berwarna putih tipis yang berpotongan longgar. Panjang baju tidur itu hanya mencapai pertengahan paha, memperlihatkan kulit putihnya yang halus di bawah temaram lampu. Wajahnya terlihat sangat segar setelah mandi, bersih tanpa pulasan make up, namun tetap terlihat sangat cantik di bawah cahaya lampu ruangan yang temaram.

Tangan kiri Elena tampak membawa sebuah laptop berwarna silver.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Elena berjalan langsung menuju ke arah sofa. Ia mengulurkan tangan kanannya ke dalam mangkuk popcorn milik Arthur, mengambil segenggam besar camilan itu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Arthur hanya melirik gerakan Elena sekilas tanpa memprotes sama sekali. Pria itu bahkan menggeser mangkuknya sedikit ke arah Elena agar sang gadis bisa mengambilnya dengan lebih mudah.

Elena kemudian duduk di samping Arthur dengan posisi kaki yang dilipat santai di atas sofa. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Aroma sabun mandi floral yang lembut dan segar dari tubuh Elena langsung tercium oleh indra penciuman Arthur.

"Film apa yang sedang kalian tonton?" tanya Elena sambil memasukkan popcorn ke dalam mulutnya, tatapan matanya langsung tertuju ke layar kaca.

"Hanya film aksi biasa," jawab Arthur dengan nada suara pelan. "Penuh dengan adegan ledakan, kejar kejaran, dan sosok pahlawan yang tidak bisa mati meskipun sudah tertembak peluru sebanyak sepuluh kali."

Elena tersenyum kecil mendengarnya. "Itu terdengar sangat mirip dengan kalian berdua. Selalu saja bisa selamat meskipun kasus yang kita tangani gila gilaan."

Manuel melirik ke arah mereka berdua lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh arti. "Kalian berdua ini lucu sekali. Sejak pagi hari tadi sibuk bertengkar tanpa henti, tapi malam harinya sudah bisa duduk rapat seperti ini."

Elena kembali mengambil popcorn dari dalam mangkuk Arthur. Namun, kali ini Arthur tidak hanya diam memperhatikan. Ia mengambil sebutir popcorn dengan jari jarinya sendiri, lalu dengan gerakan yang sangat pelan serta penuh kelembutan, ia menyuapkannya langsung ke arah mulut Elena.

Elena sempat terkejut selama beberapa detik karena tindakan tidak terduga itu. Namun, ia kemudian membuka mulutnya dan menerima suapan popcorn tersebut dengan senang hati. Kedua pipinya tampak merona merah muda, tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan penolakan. Malahan, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman kecil yang sangat jarang ia perlihatkan.

"Apakah rasanya enak?" tanya Arthur dengan nada suara yang rendah dan hangat.

Elena mengangguk pelan sambil terus mengunyah. "Lumayan enak. Tapi jangan membiasakan hal ini, Wales."

Arthur tersenyum tipis mendengar julukan itu. Ia kembali mengambil sebutir popcorn lagi, lalu menyuapkannya sekali lagi dengan gerakan tangan yang sama lembutnya. Elena menerimanya tanpa ada protes, pandangan matanya tetap berpura pura fokus pada layar film, meskipun ada gumpalan kehangatan kecil yang terpancar dari ekspresi wajahnya.

Manuel berpura pura tidak melihat interaksi manis tersebut, namun sudut bibirnya tampak berkedut menahan senyum. Ia tahu betul ada sesuatu yang mulai berkembang di antara kedua rekannya itu, tetapi ia memilih untuk tetap diam dan menghargai momen mereka.

Setelah beberapa menit berlalu, Elena mulai membuka laptop di atas pangkuannya. Pendaran cahaya dari layar monitor langsung menerangi garis wajahnya yang cantik.

"Aku sudah mendalami seluruh latar belakang kehidupan Thabo Nkosi," kata Elena sembari jemarinya mengetik cepat di atas keyboard. "Pemuda asal Afrika Selatan ini berusia 24 tahun. Ia resmi masuk ke Amerika Serikat menggunakan visa kerja sejak dua tahun yang lalu. Saat ini ia tinggal di sebuah kawasan kumuh dekat pelabuhan, daerah yang memang dipenuhi oleh kaum tunawisma dan imigran ilegal. Rekam jejak sipilnya terlihat bersih di permukaan, namun ada satu catatan hukum kecil. Ia pernah terlibat aksi perkelahian di sebuah bar pelabuhan pada enam bulan yang lalu."

Arthur mendengarkan penjelasan Elena dengan saksama sambil sesekali menyuapi Elena popcorn lagi dengan gerakan tangan yang penuh perhatian. Elena menerima setiap suapan itu dengan senang hati, sesekali matanya melirik lembut ke arah Arthur.

"Dia bekerja di toko jagal tersebut sebagai pekerja giliran malam," lanjut Elena. "Gajinya tergolong sangat rendah, namun cukup untuk membiayai kebutuhan bertahan hidup. Aku juga sudah memeriksa riwayat rekening bank miliknya, ada sebuah aliran transfer uang masuk yang tidak biasa pada bulan lalu. Nominalnya memang kecil, tetapi dikirim dari sumber dana yang sangat sulit untuk dilacak."

Manuel mengangguk paham. "Besok pagi kita harus melakukan interogasi ulang kepadanya dengan pertanyaan yang lebih mendalam."

Arthur mengambil popcorn lagi dan kembali menyuapkannya kepada Elena. Kali ini, Elena sempat menahan pergelangan tangan Arthur sebentar dengan jari jarinya sebelum melepaskannya perlahan, sebuah gestur halus seolah mengucapkan terima kasih tanpa perlu kata kata.

"Thabo jelas memiliki motif yang potensial," kata Arthur dengan nada suara yang tenang. "Namun instingku mengatakan bahwa dia hanyalah sebuah pion di dalam permainan ini. Cara pelaku membelah dada Jennifer terasa terlalu profesional untuk ukuran dirinya. Thabo mungkin hanya bertugas untuk membantu membersihkan area lokasi kejadian atau menyembunyikan barang bukti golok tersebut."

Elena mengangguk tanda setuju. "Aku sependapat dengan analisismu. Besok aku akan mendalami lebih jauh sistem server kamera pengawas di sekitar pelabuhan."

Mereka bertiga kemudian terus melanjutkan menonton film bersama sambil sesekali menyelesaikan sisa pekerjaan berkas. Arthur terus menyuapi Elena popcorn dengan gerakan romantis yang halus dari waktu ke waktu. Elena menerimanya setiap kali dengan senyuman kecil yang tulus. Manuel sendiri berpura pura tetap fokus menyaksikan tayangan film, meskipun hatinya merasa senang melihat kedekatan mereka berdua.

Malam kini semakin larut dan durasi film sudah hampir selesai. Elena menyandarkan kepalanya sedikit ke arah bahu kokoh Arthur karena merasa lelah setelah mengetik cukup lama. Arthur tidak menggeser posisinya sama sekali, ia membiarkan momen kenyamanan itu terus terjadi di antara mereka.

Untuk sesaat, ruangan di dalam apartemen pengawasan ini terasa seperti sebuah rumah biasa yang hangat, bukan sebuah markas tim investigasi khusus yang sedang mengejar sosok pembunuh berdarah dingin.

Namun mereka semua tahu bahwa di luar sana, tepat di pinggiran pelabuhan Manhattan yang gelap, pembunuh asli dari Jennifer Cartter masih bebas berkeliaran. Dan kasus ketiga ini baru saja memasuki sebuah babak yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.

Arthur menatap lurus ke arah layar laptop Elena yang menampilkan foto wajah Thabo Nkosi. Di dalam hatinya yang terdalam, ia berjanji akan segera menemukan kebenaran dari kasus ini, tidak hanya demi memberikan keadilan bagi mendiang Jennifer, tetapi juga demi dirinya sendiri yang kini sedang berjuang keras untuk menjadi manusia biasa yang memiliki arti bagi orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!