NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

 Klothak-klothak-klothak!

Suara gemuruh derap kaki kuda dan roda besi kereta yang menghantam jalanan berbatu mendadak berubah. Bunyinya kini bergaung lebih keras, memantul di antara dinding-dinding gerbang lengkung raksasa yang terbuat dari batu granit putih.

Kereta komando militer yang membawa Maizy akhirnya memasuki kompleks Istana Besar Kekaisaran.

Begitu tirai jendela kereta sedikit tersingkap oleh embusan angin, pemandangan di luar langsung membuat Maizy terbelalak lebar di balik lensa kacamatanya. Paviliun kaca museum Berlin atau koridor Winterhall benar-benar terasa seperti butiran debu jika dibandingkan dengan kemegahan tempat ini. Di hadapannya, menjulang sebuah istana bergaya Barok-Victoria akhir abad ke-19 yang luar biasa megah, dengan menara-menara tinggi yang puncaknya dilapisi emas murni, berkilau megah di bawah siraman matahari siang.

Namun, yang paling membuat jantung Maizy berdesir aneh adalah pemandangan di sepanjang jalan protokoler istana.

"Nona Muda telah kembali!"

"Gott segne die Nona Muda! Dia selamat!"

Lautan manusia—ribuan masyarakat kota yang mengenakan pakaian khas abad pertengahan akhir, mulai dari gaun linen sederhana para pelayan hingga setelan jas kaku kaum borjuis—memadati barisan kiri dan kanan jalan. Mereka berdiri berdesakan di balik barikade prajurit zirah perak, bersorak-sorai dengan gemuruh yang memekakkan telinga.

Beberapa dari mereka melemparkan kelopak bunga mawar merah ke arah kereta, sementara yang lain melambaikan saputangan putih dengan air mata haru yang berlinang di pipi. Sorot mata ribuan orang itu memancarkan satu emosi yang sama: rasa lega, pemujaan, dan cinta yang teramat mendalam untuk sosok "Maizy" yang selama ini mereka kira hilang atau celaka di hutan terlarang.

Sebagai seorang yang sangat sensitif terhadap energi kelompok dan emosi orang di sekitarnya, Maizy bisa merasakan getaran ketulusan dari masyarakat tersebut. Dadanya mendadak terasa hangat sekaligus sesak. Siapa sebenarnya dirinya di dunia ini? Kenapa kepulangannya disambut layaknya pahlawan besar atau simbol kedamaian bagi seluruh kerajaan?

Kereta perlahan melambat dan berhenti tepat di ujung tangga marmer utama istana yang dilapisi karpet merah beludru mewah.

Pintu kereta diketuk dari luar, lalu terbuka lebar. Cade Reinart berdiri di sana, rambut hitam pendeknya tampak rapi tanpa cela, dan mata cokelat kemerahannya menatap Maizy dengan kedisplinan kaku yang biasa. Namun, dia tidak lagi menyeret atau menggendong Maizy secara kasar di depan publik. Status dan tatapan ribuan rakyat di luar memaksanya untuk menjaga protokol.

Cade mengulurkan tangan kanannya yang dibalut sarung tangan kulit hitam, membungkuk sedikit dengan gestur formal yang dingin namun mutlak wajib dilakukan. "Silakan turun, Nona Muda. Rakyat Anda sudah menunggu," ucapnya datar, tetap tanpa kelembutan namun nadanya tidak lagi seberangasan di hutan tadi.

Sebelum Maizy menyambut uluran tangan kaku Cade, sebuah bayangan tegap lain muncul di sisi kiri pintu kereta.

Frederick Aldrich sudah turun dari kuda hitamnya. Jubah beludru hitamnya berkibar agung, dan poni wolfcut-nya bergerak ditiup angin istana. Pria dengan tan skin itu langsung menggeser posisi Cade dengan tegas, menempatkan dirinya tepat di hadapan Maizy.

Frederick perlahan berlutut dengan satu kaki di atas karpet merah, menundukkan kepalanya yang kokoh sebelum mendongak menatap Maizy dengan manik mata abu-abu yang berkilat penuh kehangatan, kelembutan, dan proteksi mutlak yang sanggup mencairkan rasa takut Maizy dalam sekejap.

"Jangan takut," bisik Frederick sangat lembut, mengabaikan gemuruh sorak-sorai ribuan rakyat di sekeliling mereka. Dia mengulurkan telapak tangannya yang besar dengan posisi terbuka ke atas—menunggu dengan sabar agar Maizy meletakkan jemarinya di sana secara sukarela. "Aku sudah berjanji akan membawamu pulang dengan selamat, Maizy. Dan sekarang, aku akan mendampingimu melangkah di antara mereka."

Melihat ketulusan yang membual dari ribuan pasang mata rakyat di luar, serta tatapan lembut Frederick yang seolah menjadi satu-satunya jangkar warasnya saat ini, Maizy menarik napas dalam-dalam. pikiranya berbisik bahwa dia tidak boleh mempermalukan dirinya—atau siapa pun sosok "Maizy" di dunia ini—di hadapan lautan manusia yang sedang menaruh harapan besar padanya.

Maizy mengabaikan tangan kaku Cade dan memilih meletakkan jemarinya yang gemetar di atas telapak tangan Frederick.

 Set.

Sentuhan kulit mereka yang hangat seketika memicu getaran aneh yang familier di dada Maizy, persis seperti sengatan listrik statis di museum tadi, namun kali ini terasa lebih menenangkan. Frederick tersenyum tipis—sebuah senyuman sangat langka dan begitu tulus yang hanya ditujukan khusus untuk Maizy—lalu menuntunnya turun dari kereta dengan gerakan super hati-hati.

Begitu sepatu beludru Maizy menginjak karpet merah, gemuruh sorak-sorai rakyat langsung meledak dua kali lebih keras. Terompet-terompet perak ditiup dari atas menara, dan kelopak bunga mawar menghujani gaun sutra biru dongkernya yang megah.

Maizy melangkah menaiki tangga marmer istana yang menjulang tinggi, diapit oleh dua komandan tertinggi kekaisaran. Di sisi kanannya, Frederick berjalan dengan tegap, tangan kirinya selalu siaga di dekat pinggang Maizy untuk menjaganya agar tidak tersandung rok besarnya sendiri, sementara matanya yang abu-abu sesekali melirik protektif. Di sisi kirinya, Cade berjalan dengan dagu terangkat angkuh, kaku, dan tatapan cokelat kemerahannya lurus ke depan, memastikan tidak ada satu pun pengawal atau rakyat yang berani mendekat terlalu dekat.

Mereka menembus pintu gerbang emas ganda istana yang terbuka lebar, meninggalkan keriuhan rakyat di luar dan disambut oleh keheningan koridor interior istana yang dilapisi pilar-pilar kristal dan lukisan dinding abad ke-19 yang luar biasa artistik.

Setelah pintu gerbang ditutup rapat oleh para penjaga, langkah mereka bergema kaku di atas lantai granit yang mengkilap layaknya cermin.

Cade langsung menghentikan langkahnya, berbalik dengan sentakan zirah peraknya yang berdenting nyaring. Sifat semaunya dan egonya yang sempat tertahan di depan publik kini kembali mengudara.

"Tugas pengawalan selesai," ucap Cade dingin, menatap Maizy dengan pandangan jengah seolah-olah mengurusi gadis itu adalah hal paling melelahkan sedunia. "Aku akan segera menghadap Yang Mulia Kaisar untuk melaporkan kepulanganmu, Nona Menjengkelkan. Dan kuharap, ingatanmu yang 'hilang' itu segera kembali sebelum malam perjamuan, karena aku tidak sudi berdansa dengan gadis linglung."

Tanpa menunggu jawaban atau salam perpisahan, Cade berbalik kaku dan melangkah pergi dengan langkah lebar yang angkuh, meninggalkan gema bot bajunya yang keras di koridor sepi.

Kini, hanya tersisa Maizy dan Frederick di koridor luas tersebut.

Frederick tidak langsung pergi. Dia membalikkan tubuh tegapnya menghadap Maizy, jarak di antara mereka mengikis hingga Maizy harus sedikit mendongak demi menatap wajah tampan dengan tan skin dan rambut wolfcut tersebut. Kelembutan yang tadinya sempat tertutup kedisplinan militer kini kembali seutuhnya memenuhi manik mata abu-abunya.

"Kau pasti sangat lelah, dan... tempat ini pasti terasa sangat asing bagimu sekarang," ucap Frederick dengan suara baritonnya yang rendah dan teramat lembut, seolah dia bisa membaca kebingungan yang berkecamuk di balik kacamata cadangan Maizy.

Dia perlahan meraih tangan kanan Maizy, membungkuk sedikit, dan mengecup punggung tangan gadis itu dengan khidmat namun penuh perasaan mendalam. "Aku tidak akan memaksamu untuk mengingatku sekarang, Maizy. Luka di hatiku tidak penting, yang utama adalah keselamatanmu. Aku sudah meminta kepala pelayan untuk menyiapkan kamarmu di paviliun barat. Istirahatlah. Aku akan berjaga di depan pintumu sepanjang malam, memastikan tidak ada satu pun hal buruk—termasuk Cade—yang bisa mengusikmu lagi."

Pintu ganda berlapis emas murni setinggi lima meter itu didorong terbuka oleh dua prajurit penjaga, menyingkap Ruang Persidangan Agung yang luar biasa megah. Cahaya matahari siang menerobos masuk melalui jendela-jendela kaca patri besar, menciptakan pendar warna-warni di atas lantai marmer hitam yang mengkilap.

Di ujung ruangan, di atas takhta batu giok yang tinggi, duduklah sang penguasa tertinggi kekaisaran Kaisar Harleyton Ritteher Falkenhayn.

Begitu mendengar nama belakang pria paruh baya yang bermahkota perak itu, jantung Maizy serasa berhenti berdetak. Falkenhayn? Nama itu persis sama dengan nama belakangnya, lumapie maizy Falkenhayn. Pria di atas takhta itu memiliki rahang yang tegas dan tatapan mata hitam yang lelah namun mematikan, persis seperti garis wajah pamannya di dunia modern. Di sekeliling takhta, berdiri beberapa petinggi kerajaan dan menteri bertoga kaku yang menatap kepulangan Maizy dengan raut wajah tegang sekaligus lega.

Frederick dan Cade melangkah maju di kiri dan kanan Maizy, lalu berlutut dengan satu kaki dengan khidmat, memberikan hormat militer tertinggi.

"Yang Mulia," suara Frederick bergema rendah dan berwibawa di dalam aula yang sunyi. "Kami telah membawa kembali Nona Muda Maizy dengan selamat dari wilayah hutan terlarang."

Kaisar Harleyton mengembuskan napas panjang, bersandar pada takhtanya yang kaku, sementara manik mata hitamnya menatap Maizy lekat-lekat. "Kerja bagus, Aldrich, Reinart. Maizy... kau tidak tahu seberapa besar kekacauan yang kau buat di ibu kota hanya karena pelarianmu itu."

Maizy yang sudah menahan semua kegilaan ini sejak bangun di hutan tadi akhirnya mencapai batasnya. Mendengar aura otoritas yang mengintimidasi dari sang Kaisar, ditambah kesalahpahaman yang semakin melebar di antara para petinggi kerajaan, Maizy mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas kain gaun sutra birunya. Dia tidak bisa terus diam dan berpura-pura menjadi boneka di dunia kuno ini.

Maizy mengambil satu langkah maju, memisahkan diri dari barisan Frederick dan Cade. Dia mendongak berani, menatap lurus ke arah Kaisar Harleyton dan para menteri di sekelilingnya.

"Maaf, Yang Mulia Kaisar, dan para petinggi sekalian," suara Maizy terdengar lantang, meskipun ada getaran emosi yang menahan sesak di dadanya. "Saya harus mengatakan ini sekarang juga. Kalian semua... kalian semua sudah salah orang!"

Bisik... Bisik...

Keheningan ruang persidangan seketika pecah oleh bisik-bisik tegang dari para menteri dan bangsawan yang berdiri di koridor samping takhta. Mereka saling pandang dengan raut wajah tidak percaya, menganggap ucapan Maizy sebagai kegilaan baru.

Cade Reinart yang masih berlutut langsung mendongak, mata cokelat kemerahannya berkilat tajam penuh kilatan sinis. Dia mendengus miring. "Sudah kubilang, Yang Mulia. Gadis ini sengaja menggunakan trik hilang ingatan untuk membangkang," desis Cade ketus.

Sementara Frederick, yang mendengar ucapan Maizy, langsung berdiri dengan terburu-buru. Wajah tampan ber- tan skin -nya memucat, dan mata abu-abunya menatap Maizy dengan pandangan yang sarat akan rasa sakit hati yang kembali menganga, berbaur dengan kepanikan luar biasa karena takut sang Kaisar akan menjatuhkan hukuman pada gadis yang dicintainya itu.

"Maizy, jaga bicaramu di depan Yang Mulia..." bisik Frederick teramat lembut namun penuh penekanan yang cemas, mencoba meraih lengan Maizy untuk menariknya mundur demi melindunginya dari murka takhta.

"Tidak, Frederick! Aku serius!" Maizy menepis pelan tangan Frederick, lalu kembali menatap Kaisar Harleyton. "Nama saya memang Maizy. Tapi saya bukan Nona Muda kalian, saya bukan bagian dari bangsawan abad ke-19 ini! Saya berasal dari tahun 2026! Saya murid sekolah Winterhall di Berlin modern! Paman saya adalah seorang masinis kereta cepat, bukan kaisar atau perwira kuno! Kalian benar-benar menangkap orang yang salah!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!