NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Melihat kondisi Darren yang sudah seperti mayat hidup di bawah guyuran hujan badai, Deacon mengambil keputusan tegas. Ia merangkul pundak sahabatnya dengan paksa.

"Darren, kita tidak bisa terus berdiri di tepi tebing ini. Hujan semakin berbahaya. Kita pulang ke rumah lama Jihan dulu untuk membersihkan diri dan menyusun rencana pencarian besok pagi," ucap Deacon dengan nada baritonnya yang tak menerima bantahan.

Darren tidak menjawab. Pria paruh baya yang biasanya berdiri tegap dan berkuasa itu kini melangkah dengan sangat gulai, diseret oleh Deacon menuju mobil.

Andre dan Riko mengikuti dari belakang, diam-diam saling menyenggol lengan dengan penuh kemenangan.

Namun, baru saja kaki Darren melangkah mendekati pintu mobil Deacon, tubuh kekarnya tiba-tiba limbung.

Pandangan matanya menggelap total, dan dalam satu sentakan, Darren yang drop langsung jatuh pingsan di atas tanah berlumpur.

Beban mental, rasa bersalah, dan hantaman cemburu buta telah membuat fisiknya tumbang seketika.

"Darren!" teriak Deacon panik.

Ia dibantu beberapa warga langsung membopong tubuh Darren ke dalam mobil dan melesat kembali ke rumah perkampungan.

Sesampainya di rumah lama Jihan, Deacon segera memanggil dokter setempat untuk memeriksa kondisi Darren yang mendadak demam tinggi dalam pingsannya.

Dokter memasang cairan infus seadanya di kamar utama.

Di ruang tengah, Andre dan Riko berpura-pura cemas di depan Deacon, meski di dalam kamar mereka sendiri, mereka sudah mulai merayakan kebebasan mereka.

Malam semakin larut, berganti menjadi tengah malam yang sunyi dan mencekam.

Deacon duduk sendirian di kursi teras, menatap rintik hujan yang mulai mereda dengan hati yang dipenuhi kecemasan akan keselamatan Jihan.

Bzzz... Bzzz...

Tepat pukul dua malam, ponsel di saku celana Deacon berdering bertubi-tubi.

Nomor yang tertera di layar tidak dikenal, hanya berupa deretan angka acak yang tidak stabil.

Jantung Deacon berdegup kencang. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo?"

"D-Deacon... tolong aku..." Sebuah suara wanita terdengar sangat lirih, bergetar hebat menahan rasa sakit di antara deru angin malam yang statis.

Deacon menelan salivanya dengan kasar saat mendengar suara yang sangat familiar itu.

Matanya membelalak sempurna, jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Jihan?! Ini kamu?!" bisiknya dengan suara tertahan, melirik ke arah kamar Andre dan Riko agar tidak terdengar.

"Iya, ini aku, Deacon..." suara Jihan kembali terdengar, diselingi ringisan menahan perih.

"Tolong aku. Tapi, aku mohon, rahasiakan ini dari Mas Darren dan anak-anak. Jangan beri tahu siapa pun kalau aku masih hidup..."

Jihan mengaktifkan fitur panggilan video dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Melalui layar ponsel Deacon yang berkedip-kedip, Jihan menunjukkan dirinya yang ternyata masih berada di bawah jurang.

Tubuhnya tersangkut di sekat akar pohon besar yang rimbun di dinding tebing, membuatnya terhindar dari dasar batu yang mematikan.

Wajah cantiknya penuh luka goresan, kemejanya robek, dan kakinya tampak terluka parah.

Dengan sinyal seadanya yang naik turun di area terpencil itu, Jihan memegang ponsel lamanya yang kini layarnya sudah retak seribu dan bergoyang-goyang rusak.

Ponsel itu adalah satu-satunya alat penyambung nyawanya sebelum baterainya benar-benar mati.

"Jihan, bertahanlah! Aku akan—"

Pip.

Sambungan video dan telepon terputus total. Layar ponsel Deacon kembali gelap karena kehilangan sinyal dari bawah tebing.

Deacon berdiri mematung di teras rumah dengan napas memburu.

Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Jihan tidak ingin Darren dan anak-anaknya tahu ia masih hidup. Itu artinya, Jihan tahu ada seseorang di dalam rumah ini yang sengaja menginginkan kematiannya.

Deacon melangkah masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang dikondisikan setenang mungkin, meredam debaran jantungnya yang berpacu liar.

Di ruang tengah, ia melihat Andre dan Riko yang masih terjaga, berpura-pura cemas sambil memainkan ponsel mereka.

Deacon meraih kunci mobilnya di atas meja kayu. "Aku mau keluar sebentar pakai mobil. Aku lapar sekali dan mau mencari makan atau kedai yang buka dua puluh empat jam di depan jalan raya," ucap Deacon beralasan dengan nada santai.

Andre dan Riko mendongak, lalu menganggukkan kepala mereka tanpa curiga sedikit pun.

"Oh, iya, Deacon. Hati-hati di jalan. Toko kelontong di depan dekat gapura biasanya ada yang buka," sahut Riko, merasa senang karena pengawas mereka pergi sejenak.

Begitu keluar dari halaman rumah, Deacon langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.

Alih-alih pergi ke jalan raya untuk mencari makanan, ia memutar kemudi menuju jalur perbatasan tebing, membelah sisa-sisa kabut malam dengan kecepatan penuh.

Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menyelamatkan Jihan sebelum terlambat.

Hanya butuh waktu singkat bagi Deacon untuk mencapai lokasi kecelakaan tadi sore.

Suasana di tepi tebing kini sudah sepi karena Tim SAR baru akan melanjutkan pencarian esok pagi.

Deacon menghentikan mobilnya dengan posisi tersembunyi di balik semak-semak lebat agar tidak menarik perhatian warga jika ada yang melintas.

Dengan cekatan, ia membuka bagasi mobilnya, mengambil gulungan tali tambang nilon berukuran besar yang memang selalu tersedia untuk keadaan darurat, serta sebuah senter taktis berdaya tinggi.

Ia berlari ke tepi tebing, mengikatkan ujung tali tambang pada batang pohon beringin yang kokoh di dekat pembatas jalan, lalu menyentakkan tali itu berkali-kali untuk memastikan kekuatannya.

"Jihan, bertahanlah. Aku datang," bisik Deacon pada kegelapan malam.

Sambil menggigit senter kecil di mulutnya agar kedua tangannya bebas bergerak, Deacon mulai melangkah mundur, menuruni dinding jurang yang curam dan licin secara perlahan menggunakan tali tersebut.

Setiap pijakan batunya terasa sangat berbahaya akibat sisa air hujan, namun Deacon mengabaikan rasa takutnya demi menyelamatkan istri dari sahabat karibnya yang kini terancam bahaya tersembunyi.

Dengan sisa tenaga yang ada, Deacon terus merayap turun membelah pekatnya malam.

Sorot senter taktis di genggamannya bergetar, menyisir dinding tebing yang curam dan licin.

Hingga akhirnya, cahaya senter itu menangkap siluet tubuh subur Jihan yang tersangkut di atas jalinan akar pohon besar yang menonjol keluar dari dinding jurang.

Deacon berhasil menjangkau posisi Jihan. Kondisi wanita berhati malaikat itu sangat memprihatinkan; wajahnya pucat pasi, tubuhnya menggigil kembung karena kedinginan, dan pakaiannya robek di beberapa bagian.

"Jihan! Bertahanlah, aku sudah di sini!" seru Deacon dengan napas memburu, menstabilkan posisinya di atas dahan pohon yang kokoh.

"Aku akan menarikmu dari sini, oke? Kita akan naik ke atas bersama-sama."

Jihan membuka matanya yang sayu dengan sangat lambat.

Kesadarannya sudah berada di ambang batas. Ia menatap Deacon dengan pandangan pasrah, lalu menggelengkan kepalanya dengan lemah.

Air mata menetes dari sudut matanya, bercampur dengan embun malam yang dingin.

"Deacon, aku tidak bisa bertahan lagi... tubuhku sudah mati rasa," bisik Jihan, suaranya terputus-putus menahan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.

"Aku mohon, jika aku tidak selamat, jaga Mas Darren. Tolong luruskan kesalahpahaman ini padanya... tapi jangan sekarang... aku takut anak-anak akan mencelakainya juga..."

"Tidak, Jihan! Jangan bicara seperti itu!" Deacon menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak mentah-mentah ucapan keputusasaan Jihan.

"Kamu harus hidup! Darren membutuhkanmu!"

Deacon tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi karena posisi akar pohon itu mulai berderit akibat beban mereka.

Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian, Deacon melepaskan ikatan tali tambang nilon dari pinggangnya, lalu melilitkan dan mengikat tali itu ke tubuh Jihan dengan sangat kuat dan aman.

"Pegang tali ini erat-erat, Jihan. Percayalah padaku," perintah Deacon tegas.

Setelah memastikan ikatan di tubuh Jihan sempurna, Deacon mulai memanjat kembali ke atas tebing batu yang curam itu menggunakan otot lengan dan kakinya.

Tanpa bantuan siapapun, dengan bertumpu pada kekuatan fisiknya yang terlatih sebagai mantan anggota kepolisian.

Deacon merayap naik selangkah demi selangkah sembari perlahan-lahan mengerek dan menarik tali yang mengikat tubuh Jihan dari atas.

Setiap sentakan tali membuat lengannya terasa mau copot, namun Deacon terus menggeram, mengerahkan seluruh sisa energinya demi menyelamatkan nyawa istri sahabatnya dari dasar jurang maut tersebut.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!