Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Langkah kaki Kinara terdengar mantap saat ia melewati pintu ganda megah kediaman utama keluarga Adijaya. Ini adalah kali pertama dalam kehidupan keduanya ia menginjakkan kaki di rumah bak istana ini, sekaligus momen pertama ia kembali bertatap muka dengan keluarga kandungnya. Di kehidupan lalu, ia selalu mengemis kasih sayang dari mereka setelah bertahun-tahun menderita di bawah asuhan orang tua angkat yang kejam, sebelum akhirnya melarikan diri ke panti asuhan dan bertahan hidup di kosan sederhana demi kuliah. Namun sekarang, mentalnya sudah jauh berbeda.
Tanpa menunggu dipersilakan, Kinara berjalan santai menuju ruang tamu utama. Ia langsung mendudukkan dirinya di atas sofa beludru mewah, menyandarkan punggungnya, lalu melipat kaki kanannya di atas kaki kiri dengan gestur yang teramat elegan dan tenang.
Di hadapannya, telah duduk dua orang paruh baya dengan pakaian glamor. Mereka adalah sang ayah, Surya Adijaya, dan sang ibu, mika Adijaya.
"Nara... akhirnya kamu pulang juga, Nak," sapa Mika Adijaya dengan senyuman yang terkesan dipaksakan di wajahnya yang penuh riasan tebal.
Namun, belum sempat Kinara membalas, seorang gadis muda dengan gaun pastel yang duduk di samping Mika langsung menyela. Gadis itu adalah seila Adijaya, adik kandung Kinara yang selama ini menggantikan posisinya dan menjadi anak emas di rumah tersebut.
"Kak Nara kok langsung duduk begitu, sih?" ucap seila dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan, seolah-olah ia adalah anak yang paling polos dan perhatian, padahal matanya memancarkan kilat sinis. "Maaf ya Kak, tapi menurut seila, Kakak agak kurang sopan santun. Kakak kan sudah bertahun-tahun hilang, tinggal di tempat orang tua angkat yang nggak bener, lalu terlantar di panti asuhan... Harusnya begitu sampai rumah, Kakak langsung peluk Ayah dan Ibu untuk melepas rindu, bukan malah bersikap acuh begini seolah kami ini orang asing."
Mendengar provokasi halus dari seila, raut wajah Surya Adijaya seketika berubah mengeras. Sorot matanya yang tajam dan sarat akan arogansi langsung mengunci Kinara dengan penuh intimidasi. "Adikmu benar, Kinara. Ke mana perginya tata krama yang diajarkan di panti asuhanmu? Begini caramu menyapa orang tua kandungmu setelah kembali?" tegas Surya dengan suara baritonnya yang menuntut kepatuhan.
Kinara tidak gentar sedikit pun. Ia justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tenang, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Surya dan Mika bergantian.
"Sopan santun?" tanya Kinara dengan nada santai, namun terdengar sangat dingin memotong keheningan ruangan. "Untuk ukuran sepasang orang tua yang mengklaim telah kehilangan anak kandungnya selama belasan tahun... guratan wajah lega atau rindu sedikit pun tidak ada di wajah kalian berdua saat melihatku duduk di sini."
Kalimat blak-blakan Kinara yang langsung menusuk ke inti kebenaran itu seketika membuat Surya dan Mika tertegun membeku. Wajah mereka menegang kaku.
Kinara memajukan tubuhnya sedikit, menopang dagunya dengan tangan kanan yang bebas dari balutan kasa, menatap mereka dengan tatapan telak. "Kalian mengutus asisten Bram untuk menjemputku bukan karena rindu atau peduli bagaimana aku bertahan hidup setelah lolos dari siksaan orang tua angkat dan panti asuhan, kan? Jadi, mari kita buang basa-basi konyol ini, Tuan Surya Adijaya. Katakan saja kesepakatan bisnis apa yang sedang gagal di perusahaan kalian, sampai-sampai kalian mendadak butuh nama anak kandung yang selama ini kalian telantarkan ini?"
Suasana di dalam ruang tamu mewah itu seketika berubah mencekam. Seila terperangah tak percaya melihat keberanian Kinara, sementara rahang Surya Adijaya mengatup rapat menahan malu dan amarah karena motif busuk mereka langsung dikuliti habis oleh anak yang mereka anggap lemah itu.
"Bukan begitu, Kinara," potong Mika Adijaya, buru-buru mengambil alih pembicaraan demi meredakan ketegangan yang mendadak mencekam di ruang tamu tersebut. Wanita itu memajukan tubuhnya, mencoba mengubah ekspresi wajahnya yang sempat menegang kaku menjadi tampak sedih dan terluka akibat ucapan menukik dari putri kandungnya.
Mika menghela napas panjang, meremas selembar tisu di tangannya seolah-olah ia sedang menahan emosi yang mendalam. "Kamu salah paham, Nak. Tolong jangan berpikiran seburuk itu pada orang tua sendiri. Sikap kami yang kamu lihat agak kaku ini... itu murni karena kita sudah terlalu lama tidak bertemu. Belasan tahun kamu terpisah dari kami, hidup di lingkungan yang tidak kami ketahui. Kami hanya... bingung dan merasa canggung bagaimana harus memulai kedekatan ini lagi denganmu. Kami tidak tahu apa yang kamu sukai atau bagaimana caramu berkomunikasi sekarang. Jadi tolong, jangan menganggap kami tidak menyayangi atau tidak merindukanmu."
Surya Adijaya ikut menyandarkan punggungnya kembali ke sofa, mengontrol sorot mata tajamnya yang tadi sempat tersulut emosi. "Ibumu benar, Kinara. Keadaan kita memang kaku karena faktor waktu. Tapi itu bukan alasan bagi kamu untuk langsung menuduh orang tuamu memiliki niat bisnis tersembunyi," tambah Surya, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai kepala keluarga Adijaya.
Kinara yang mendengar rentetan alasan klise dan penuh kepalsuan itu hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan cibiran di dalam hatinya. Ia tahu betul, di kehidupan lalunya, wajah-wajah tegang dan kaku inilah yang selalu ia dapati, yang kemudian berubah menjadi tuntutan agar ia mengorbankan diri demi menyelamatkan nama baik dan bisnis keluarga. Namun, alih-alih meledak marah atau langsung pergi, Kinara memilih untuk meladeni permainan kata-kata mereka dengan santai.
"Oh, jadi karena canggung?" sahut Kinara dengan nada bicara yang sengaja dibuat terdengar maklum, namun matanya tetap menatap dingin tanpa riak hangat sedikit pun. "Baiklah. Kalau memang alasannya karena canggung dan belum terbiasa, aku bisa memaklumi alasan luar biasa kalian itu."
Kinara bersandar santai pada sofa beludru mewah tersebut, melipat tangannya di dada sambil terus mengamati perubahan raut wajah ketiga anggota keluarga kandungnya itu.
"Kalau begitu, mari kita mulai membiasakan diri dari sekarang," lanjut Kinara, nadanya terdengar seperti seorang negosiator yang sedang meladeni klien kelas kakap. "Kalian bisa mulai menceritakan apa yang sebenarnya ingin kalian sampaikan sampai harus menyuruh asisten pribadi menjemputku ke kampus. Anggap saja ini cara untuk mencairkan kekakuan di antara kita, bukan begitu, Ibu? Ayah?"
Ujung bibir Kinara terangkat sedikit, menantikan sejauh mana topeng kepedulian yang sedang mereka kenakan ini sanggup bertahan sebelum akhirnya mereka mengeluarkan maksud busuk yang sesungguhnya.
kayanya Haura ada main di belakangnya, dengan Arsen pula!
ada pengkhianatan sebenarnya...
Namun sesudahnya sebenarnya terkuak hubungan rahasia Haura dan Arsen....
dan itu belum di ketahui oleh Ze 👍
dan...bisa jadi di takdir kedua ini, sebenarnya menghubungkan antara 2 tokoh utamanya 👍😁
besok² crazy up dong kk thor💪