THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PENYUSUP DI KEPALA KAI
Dunia nyata terasa retak.
Bagi Raka, Elara, dan Bimo yang berdiri di Ruang Kontrol Pusat, situasi berubah dari kacau menjadi mimpi buruk dalam hitungan detik. Setelah Kai mengucapkan kata-kata "Kami... menunggu..." dengan suara yang bukan miliknya, tubuh kecil itu mendadak melenting ke atas, seolah ditarik oleh tali tak kasat mata.
"Kai!" teriak Raka, mencoba menahan bahu temannya.
Tapi kekuatan yang mendorong Kai bukan berasal dari otot manusia. Itu adalah kejang saraf total. Kai menjerit—suara jeritan yang tinggi, menyakitkan, dan penuh teror murni—sebelum tubuhnya jatuh lemas kembali ke kursi, napasnya tersengal-sengal seperti ikan yang kekurangan oksigen.
"Sistem vitalnya drop!" teriak Elara, matanya cepat memindai monitor kesehatan Kai yang terhubung langsung ke konsol medis darurat. "Detak jantung 180! Suhu tubuh naik drastis! Otaknya mengalami overheat neural!"
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Bimo panik, tangannya gemetar di udara, ingin membantu tapi tidak tahu cara menyentuh masalah yang tidak bisa dipukul atau dimasak.
Raka tidak menjawab. Dia menatap Kai. Mata anak jenius itu terbuka lebar, tetapi pupilnya berputar-putar aneh, menampilkan refleksi kode-kode biner hijau yang bergulir cepat. Kai tidak melihat mereka. Dia melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang hanya ada di dalam kepalanya.
Tiba-tiba, Kai tertawa. Tawa itu dingin, hampa, dan mengerikan.
"Mereka datang," bisik Kai, suaranya datar. "Para Penjaga. Mereka marah karena aku kabur."
Sebelum siapa pun bisa bereaksi, Kai melompat dari kursinya. Gerakannya kaku, patah-patah, seperti boneka marionet yang dikendalikan oleh dalang yang kasar. Dia mundur hingga punggungnya menabrak dinding server, lalu tangannya bergerak cepat ke sarung pistol di pinggangnya—senjata standar yang dia bawa meski jarang digunakan.
KLIK.
Suara kokangan pistol terdengar jelas di ruangan yang hening mencekam. Ujung laras pistol itu mengarah lurus ke dada Bimo.
"Bimo, mundur!" teriak Raka, segera menempatkan dirinya di antara Kai dan raksasa baik hati itu.
Tapi Kai tidak mendengarkan. Matanya menatap Bimo dengan kebencian yang membeku.
"Penjaga Sektor 4," desis Kai, suaranya berubah lagi, lebih berat, lebih tua. "Kamu akan menghapus Subjek 7 lagi? Tidak kali ini. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh kabelku."
Bimo membeku, wajahnya pucat pasi, tangan terangkat pasrah. "Kai... ini aku. Bimo. Temanmu. Ingat? Aku yang masakin mie buat kamu kemarin..."
"Bohong!" bentak Kai, jarinya menekan pelatuk. "Semua bohong! Ini simulasi! Kalian semua hanya avatar penjaga penjara!"
"TIDAK!"
Raka menerjang ke samping, menabrak lengan Kai tepat saat pistol itu meletus.
DOR!
Peluru laser menyalip telinga Bimo, menghantam panel server di belakangnya. Percikan api dan asap hitam menyembur keluar. Alarm kebakaran berbunyi nyaring, menyiramkan busa pemadam api dari langit-langit, membuat lantai licin dan pandangan kabur.
"Kai, berhenti! Ini nyata!" teriak Raka, bergulat dengan tubuh kecil sahabatnya itu. Kai surprisingly kuat, didorong oleh adrenalin histeris dan kepanikan mortal. Dia mencakar wajah Raka, menendang perutnya, berusaha melepaskan diri untuk menembak lagi.
"Aku harus menghancurkan server utama!" teriak Kai, matanya liar. "Aku harus mematikan mereka semua! Baru aku bebas!"
Elara, yang selama beberapa detik terpaku karena syok melihat Kai mengarahkan senjata pada teman sendiri, kini bergerak sigap. Dia tidak menyerang Kai. Sebaliknya, dia merogoh tas medisnya dan mengambil sebuah neural stabilizer—alat suntik berisi obat penenang saraf dosis tinggi.
"Bimo, tahan dia! Jangan biarkan dia menembak siapa pun!" perintah Elara tegas.
Bimo, meski masih syok dan takut, segera memahami situasinya. Dengan hati-hati namun kuat, dia menerjang dari samping, memeluk Kai erat-erat dari belakang, mengunci kedua lengan anak itu agar tidak bisa menarik pelatuk lagi.
"Maafkan aku, Kai!" seru Bimo, air matanya bercampur dengan busa pemadam api di wajahnya. "Aku nggak mau nyakitin kamu!"
Kai menjerit-jerit, tubuhnya menggeliat liar dalam pelukan besi Bimo. "Lepaskan! Lepaskan aku! Mereka akan menyiksaku lagi! Jangan biarkan mereka memasukkanku ke dalam kotak hitam!"
Raka, yang wajahnya berdarah akibat cakaran Kai, segera memegang kepala sahabatnya, memaksa Kai menatap matanya. "Kai! Lihat aku! Tidak ada kotak hitam! Tidak ada penjaga! Hanya kami! Aurora! Keluarga kamu!"
Tapi Kai tidak mendengar. Di matanya, wajah Raka berubah menjadi wajah teknisi Aether Corp yang dingin. Pelukan Bimo berubah menjadi belenggu logam. Ruangan server yang penuh asap berubah menjadi lab putih steril yang menyilaukan.
"Aku sendirian..." isak Kai, tenaganya mulai habis, tubuhnya lunglai dalam pelukan Bimo. "Kenapa kalian meninggalkan aku sendirian di gelap? Kenapa...?"
Elara segera menusikkan neural stabilizer ke leher Kai. Cairan biru masuk ke aliran darah. Dalam hitungan detik, kejang-kejang Kai berhenti. Napasnya melambat, menjadi berat dan teratur. Matanya yang liar perlahan menutup, dan dia jatuh pingsan total dalam pelukan Bimo.
Hening.
Hanya terdengar suara sirine alarm kebakaran yang masih meraung dan suara tetesan busa pemadam api yang jatuh ke lantai logam. Tetes. Tetes. Tetes.
Bimo masih memeluk tubuh tak sadarkan diri Kai, menangis tersedu-sedu. "Dia... dia pikir aku musuh, Rak. Dia pikir aku mau menyakitinya."
Raka duduk di lantai yang basah, napasnya berat. Dia mengusap darah di pipinya, tatapannya kosong menatap tubuh kecil Kai yang terlihat begitu rapuh dan hancur. Rasa sakit fisik di wajahnya tidak apa-apa dibandingkan rasa sakit di hatinya melihat sahabatnya terjebak dalam trauma masa lalu yang begitu parah hingga dia kehilangan kontak dengan realitas.
"Dia tidak melihat kita, Bim," kata Raka pelan, suaranya serak. "Dia melihat hantu-hantunya. Dan hantu-hantu itu semakin kuat."
Elara mendekati mereka, memeriksa nadi Kai. "Obat ini hanya akan menstabilkan detak jantungnya selama satu jam. Tapi virus memorinya masih aktif di otaknya. Jika dia bangun tanpa kita membersihkan sumber infeksinya, dia akan kambuh lagi. Dan next time, mungkin dia tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita terluka parah... atau worse."
Raka menelan ludah, tenggorokannya kering. "Apa artinya 'membersihkan sumber infeksi'? Apakah kita harus menghapus memori Kai?"
"Tidak," jawab Elara geleng-geleng kepala, wajahnya serius. "Kita harus masuk ke dalam. Ada satu cara. Neural Link dua arah. Seseorang harus terhubung ke pikiran Kai, masuk ke dalam simulasi traumanya, dan secara manual 'mencabut' virus memori itu dari akar kesadarannya. Seperti operasi bedah, tapi di dunia digital."
Bimo menoleh, matanya merah. "Masuk ke kepalanya? Itu berbahaya banget kan? Kalau otak Kai menolak, orang yang masuk bisa kena feedback neural. Bisa koma permanen. Atau gila."
Raka berdiri perlahan. Kakinya gemetar, tapi tekad di matanya sudah bulat. Dia menatap Kai yang tertidur pulas, wajah kecil itu masih menyisakan ekspresi ketakutan bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Aku yang akan masuk," kata Raka tegas.
"Raka, jangan!" protes Elara. "Itu bunuh diri! Kita tidak tahu kondisi mental Kai sekarang. Itu labirin trauma. Kamu bisa tersesat di sana selamanya."
"Tidak ada pilihan lain," potong Raka. Dia menatap Elara dan Bimo bergantian. "Kai sendirian di sana. Dia pikir dia ditinggalkan. Dia pikir dia harus melawan sendirian. Aku tidak bisa membiarkannya merasa seperti itu lagi. Aku janji padanya di Bab 13, ingat? Tidak ada anggota Aurora yang tertinggal."
Raka berjalan menuju lemari peralatan medis darurat di sudut ruangan, mengambil sebuah helm neural portabel berwarna hitam dengan kabel tebal. Helm itu biasanya digunakan untuk interogasi tahanan atau terapi PTSD tingkat lanjut, tapi belum pernah digunakan untuk侵入 (menyusup) ke dalam pikiran orang lain yang sedang aktif diserang virus eksternal.
"Aku akan menjemputnya pulang," kata Raka, sambil memasang helm itu di kepalanya. Kabel-kabelnya dia colokkan ke port di belakang lehernya, lalu ujung lainnya dia sambungkan ke port neural di kursi tempat Kai terbaring.
"Siapkan tubuh kami," perintah Raka pada Elara. "Jaga detak jantung kami tetap stabil. Jika salah satu dari kami mengalami kejang di dunia nyata, cabut koneksinya segera. Tapi beri aku waktu. Aku butuh waktu untuk menemukannya."
Bimo mendekati Raka, menggenggam tangannya erat-erat. "Hati-hati, Rak. Bawa dia kembali. Kita tunggu kalian di sini. Di dunia nyata. Di mana makanan masih hangat dan teman-teman masih sayang sama kalian."
Raka tersenyum tipis, senyum yang lelah namun penuh cinta. "Janji."
Dia menutup matanya. Jari telunjuknya menekan tombol ACTIVATE di sisi helm.
Dunia gelap sejenak. Lalu, sensasi jatuh yang familiar menyerangnya. Kali ini, Raka tidak jatuh sendirian. Dia jatuh mengikuti jejak kesadaran Kai, menuju kedalaman lautan data yang gelap, dingin, dan penuh dengan hantu-hantu masa lalu.
Di ambang kesadaran, Raka berbisik terakhir kalinya sebelum tenggelam sepenuhnya:
Tunggu aku, Kai. Aku datang.
Dan kemudian, semuanya menjadi putih.
Bersambung...