Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: TEMBOK EMAS DAN JENDERAL PENYIKSA
Naga Tulang Hitam membelah ombak putih yang tenang dengan sisa-sisa keberanian para krunya. Di depan mereka, Tembok Emas Benua Pusat berdiri seperti tebing yang tidak bisa ditembus. Tembok itu bukan terbuat dari batu biasa, melainkan susunan blok energi padat yang memancarkan aura penindasan yang konstan. Di puncaknya, menara-menara pengawas setinggi awan dilengkapi dengan mata-mata sihir yang mampu mendeteksi satu tetes Qi asing dalam radius sepuluh mil.
"Kita tidak bisa mendekat lebih jauh, Tuan Muda," bisik Kapten Hook-Bone, suaranya gemetar. "Meriam Penghancur Sukma di atas sana akan melenyapkan kapal ini sebelum kita bisa mengucapkan doa."
Han Jian berdiri di haluan kapal, matanya yang keemasan menatap lurus ke arah gerbang air yang dijaga ketat. Di sana, sebuah kapal patroli kekaisaran yang megah, berlapis emas dan perak, sedang memeriksa setiap kapal yang masuk.
"Ayah, kau punya rencana?" tanya Han Jian tanpa menoleh.
Han Shuo mendekat, jubah peraknya berkibar ditiup angin laut yang asin. "Ada sebuah celah di bawah gerbang air. Saluran pembuangan energi yang hanya dibuka saat Festival Bulan Darah. Jika kita bisa menyelinap ke sana, kita akan muncul di distrik kumuh ibukota. Tapi masalahnya adalah penjaganya."
Han Shuo menunjuk ke arah sosok yang berdiri di atas kapal patroli tersebut. Pria itu mengenakan zirah emas yang sangat mengkilap dengan jubah merah yang panjangnya menyeret lantai. Di tangannya, ia memegang sebuah pecut hitam yang terus mengeluarkan percikan petir ungu.
"Jenderal Raiden, salah satu dari Dua Belas Jenderal Surgawi," desis Han Shuo. "Dia dikenal sebagai 'Sang Penyiksa'. Hobinya adalah membedah tulang para pendaki dari dunia bawah untuk dijadikan koleksi di istananya."
"Dia punya sesuatu yang kuinginkan," ucap Han Jian tiba-tiba.
"Apa?"
"Informasi. Dan zirah emasnya terlihat cukup bagus untuk dihancurkan."
Sebelum Han Shuo bisa mencegahnya, Han Jian sudah melesat. Ia tidak terbang dengan Qi, melainkan menggunakan kekuatan otot kakinya untuk melakukan lompatan raksasa dari geladak kapal. Tubuhnya membelah kabut laut seperti peluru emas.
BOOM!
Han Jian mendarat di tengah-tengah kapal patroli kekaisaran, menciptakan kawah besar di dek yang berlapis emas tersebut. Para prajurit kekaisaran segera mengepungnya, namun Han Jian bahkan tidak melirik mereka. Matanya terkunci pada Jenderal Raiden.
"Pendaki tanpa wadah?" Raiden memutar pecut hitamnya, seringai kejam muncul di wajahnya yang pucat. "Aku sudah mendengar laporan dari wilayah utara tentang tikus kecil yang menghancurkan Sekte Tulang Langit. Aku tidak menyangka kau akan menyerahkan dirimu begitu cepat."
"Aku tidak menyerahkan diri," jawab Han Jian, menarik Tombak Pemutus Takdir dari punggungnya. "Aku datang untuk menagih jalan masuk."
"Jalan masukmu adalah liang lahat!"
Raiden mengayunkan pecutnya. Petir ungu meledak, menciptakan jaring listrik yang memenuhi seluruh area kapal. Setiap cambukan pecut itu tidak hanya menyerang fisik, tapi juga mengirimkan gelombang getaran yang dirancang untuk meretakkan struktur tulang lawan.
Han Jian menangkis dengan gagang tombaknya.
CRAAAKKK!
Listrik ungu merambat ke tubuh Han Jian, namun bukannya lumpuh, pendar emas di kulit Han Jian justru semakin terang. Tulang Emas Abadi miliknya bertindak sebagai penangkal petir alami, menyerap energi listrik tersebut dan mengubahnya menjadi panas yang memperkuat sumsum tulangnya.
"Hanya segini?" Han Jian mengejek.
Ia melesat maju, menggunakan Langkah Bayangan Tulang. Raiden terkejut melihat kecepatannya. Ia mencoba menarik pecutnya kembali, namun Han Jian sudah berada di dalam jangkauan jarak dekatnya. Han Jian melayangkan pukulan lurus ke arah dada Raiden.
Raiden menggunakan lengan zirahnya untuk menangkis.
KLANG!
Zirah emas yang konon tak tertembus itu penyok seketika. Jenderal Surgawi itu terdorong mundur hingga menabrak tiang kapal. Wajahnya yang sombong kini digantikan oleh rasa sakit dan keheranan.
"Zirahmu terbuat dari emas fana," ucap Han Jian sambil berjalan mendekat. "Sedangkan tulangku ditempa oleh esensi bumi yang asli. Kau tidak punya peluang."
"Berhenti sombong, ampas!" Raiden berteriak murka. Ia menusukkan pecutnya ke jantungnya sendiri, sebuah teknik terlarang untuk memicu ledakan energi dari dantian-nya. "Seni Rahasia Kekaisaran: Dewa Petir Mengamuk!"
Tubuh Raiden diselimuti oleh aura petir yang begitu besar hingga kapal patroli itu mulai terbakar. Ia bergerak secepat kilat, menghujani Han Jian dengan ribuan pukulan pecut dalam satu detik.
Han Jian meringis saat beberapa cambukan mulai merobek kulitnya. Namun, ia tidak mundur. Ia memejamkan mata, memfokuskan seluruh frekuensi energinya pada sumsum tulang belakangnya.
"Seni Tulang: Resonansi Pemutus Langit!"
Han Jian melepaskan gelombang kejut dari pusat tubuhnya. Gelombang ini bukan berupa ledakan cahaya, melainkan getaran frekuensi rendah yang sangat padat. Saat petir Raiden bersentuhan dengan gelombang ini, petir itu hancur berantakan.
Getaran itu merambat masuk ke dalam zirah emas Raiden, mencari celah di antara persendian logam.
KRAK! KRAK! KRAK!
Satu per satu, kepingan zirah emas sang Jenderal hancur dan terlepas. Raiden berdiri dengan tubuh yang hanya tertutup pakaian dalam yang koyak, tangannya gemetar.
Han Jian mencengkeram leher Raiden dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Di mana mereka menyembunyikan 'Peta Makam Kaisar Pertama'?"
Raiden terbatuk darah, namun ia tetap tertawa sinis. "Kau pikir... kau bisa mengalahkan kekaisaran ini sendirian? Peta itu ada di tangan Pangeran Ketujuh... di Istana Dalam. Tapi kau... kau tidak akan pernah melewati gerbang ini."
"Aku sudah melewati gerbang ini sejak aku memutuskan untuk tidak memiliki Dantian," jawab Han Jian dingin.
Han Jian menghantamkan Raiden ke lantai kapal hingga pingsan, lalu mengambil lencana jenderal emas miliknya. Lencana ini adalah kunci akses untuk melewati sensor keamanan gerbang air.
Ia memberikan isyarat kepada Naga Tulang Hitam untuk mendekat. Han Shuo melompat ke kapal patroli, menatap putranya dengan bangga sekaligus khawatir.
"Kau baru saja mengalahkan seorang Jenderal Surgawi, Jian-er. Seluruh kekaisaran akan siaga penuh sekarang."
"Bagus," jawab Han Jian sambil menatap Tembok Emas yang kini terlihat mulai membuka gerbang airnya karena mendeteksi lencana Raiden. "Biarkan mereka melihat bagaimana 'sampah' yang mereka remehkan akan meruntuhkan tembok kesombongan mereka."
Kapal Naga Tulang Hitam perlahan memasuki terowongan air bawah tanah Benua Pusat. Cahaya dari obor-obor sihir di dalam terowongan menyinari wajah Han Jian, memperlihatkan tatapan mata yang kini siap untuk membakar seluruh kekaisaran.
Dunia di balik tembok bukan lagi sekadar tempat tinggal. Itu adalah labirin konspirasi, dan Han Jian baru saja menjadi pusat dari semua badai yang akan terjadi.