NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Setelah sesi emosional di lorong backstage, Elvano akhirnya diperbolehkan beristirahat sejenak di ruang tunggu eksklusif untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis. Aroma sisa parfum panggung dan keringat perlahan tergantikan oleh aroma lavender yang menenangkan di dalam ruangan itu. Selena dengan setia berada di sampingnya, memberikan air mineral dan memastikan detak jantung sang superstar kembali normal.

Beberapa menit kemudian, Darian masuk dengan wajah yang lebih tenang. “Area jalur keluar sudah steril, El. Para VALS sudah diarahkan ke gerbang utama, dan tim keamanan sudah menutup akses ke basement khusus. Kita bisa berangkat sekarang,” lapor Darian dengan suara rendah.

Elvano mengangguk pelan. Ia bangkit dari sofa, mengenakan hoodie hitam oversize untuk menutupi kostum panggungnya yang masih melekat. Dengan pengawalan ketat dari beberapa bodyguard bertubuh tegap, Elvano dan Selena berjalan beriringan menuju lift khusus. Selena kembali mengenakan maskernya, berjalan sedikit merapat pada Elvano yang secara insting merangkul bahunya pelan, melindunginya dari hawa dingin lorong bawah tanah.

Sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus. Elvano membukakan pintu untuk Selena, membiarkan wanita itu masuk terlebih dahulu sebelum ia menyusul duduk di sampingnya di kursi penumpang bagian belakang. Darian, seperti biasa, mengambil posisi di kursi depan, di samping sang sopir.

Begitu mobil melaju keluar dari area stadion menuju jalanan Singapura yang masih gemerlap, suasana di dalam kabin mobil terasa sangat hangat dan privat. Elvano menyandarkan punggungnya, lalu menoleh ke arah Selena dengan tatapan yang masih menyimpan rasa penasaran yang besar.

“Jadi, katakan padaku yang sejujurnya. Kapan sebenarnya kamu sampai di sini?” tanya Elvano dengan suara baritonnya yang lembut.

Selena melepaskan maskernya, menampakkan senyum kecil yang manis. “Tadi sore, El. Begitu mendarat, aku langsung dijemput oleh Darian di bandara,” jawab Selena jujur.

Elvano memicingkan matanya, lalu melirik ke arah spion tengah di mana mata Darian tampak sedang mengawasi mereka sambil menahan tawa.

“Jadi, semua makanan berat dan kue kering di ruang tunggu itu... kamu sendiri yang membawanya dari Jakarta? Bukan pakai jasa ekspedisi medis seperti yang dikatakan Darian tadi?” tanya Elvano lagi untuk memastikan.

Selena menggelengkan kepalanya pelan, tawa kecil lolos dari bibirnya. “Tidak, El. Aku sendiri yang membawanya di dalam koper. Aku ingin memastikan semuanya sampai dalam keadaan segar dan tidak hancur,” sahut Selena.

Elvano terdiam sejenak, membayangkan Selena yang bertubuh mungil harus menyeret koper berisi tumpukan makanan demi dirinya.

“Pasti berat sekali ya harus membawa barang sebanyak itu sendirian?” tanya Elvano dengan nada bicara yang terdengar sangat khawatir sekaligus tersentuh.

“Sama sekali tidak berat, El. Justru aku sangat senang saat menyiapkannya karena aku tahu itu untukmu. Melihatmu makan dengan lahap tadi sudah menghilangkan semua rasa lelahku,” balas Selena dengan tulus, matanya beradu pandang dengan Elvano.

Tanpa memedulikan keberadaan Darian dan sopir di depan, Elvano meraih tangan kanan Selena. Ia menggenggam jemari wanita itu dengan erat, lalu mengelusnya perlahan dengan ibu jarinya.

“Terima kasih, Selena. Ini benar-benar kejutan yang luar biasa. Kamu tidak tahu seberapa besar artinya kehadirannmu di sini bagiku,” bisik Elvano dalam.

Selena merasakan pipinya memanas. “Iya, sama-sama. Tapi tolong, jangan berterima kasih terus-menerus. Aku melakukan ini karena aku ingin, bukan karena ingin dipuji,” sahut Selena malu-malu.

Darian yang sejak tadi menyimak pembicaraan itu akhirnya tidak tahan untuk tidak menyahut. “Maklumi saja, Selena. Itu adalah ungkapan rasa bahagia Elvano yang sudah di luar batas. Kau tahu kan, dia ini tipe orang yang sulit mengekspresikan perasaan, jadi kalau dia sudah bicara begitu, artinya dia benar-benar sangat bahagia,” celetuk Darian dari kursi depan.

Selena tersenyum tipis mendengar penjelasan Darian. Ia menatap wajah Elvano yang tampak sangat pucat di bawah temaram lampu jalanan yang masuk melalui celah kaca mobil. Garis-garis kelelahan terlihat jelas di sekitar matanya.

“Darian benar, aku memang sangat bahagia sampai tidak tahu harus bicara apa lagi,” aku Elvano dengan jujur.

Selena menganggukkan kepalanya, mengerti betapa berat beban yang baru saja dilepaskan pria itu di atas panggung.

“Aku mengerti, El. Sekarang, lebih baik kamu istirahat saja dulu selama perjalanan. Perjalanan ke apartemen masih butuh waktu sekitar dua puluh menit lagi,” saran Selena dengan nada bicara khas seorang dokter yang sedang memberi instruksi pada pasiennya.

Elvano mengiyakan saran itu. Namun, bukannya bersandar pada jok mobil, ia justru sedikit menggeser duduknya dan dengan manja menyandarkan kepalanya di pundak Selena. Ia memejamkan matanya, menghirup aroma jeruk segar dan vanila yang selalu menguar dari tubuh Selena—aroma yang selalu berhasil membuatnya merasa tenang dalam sekejap.

Selena sempat terkejut dengan tindakan manja Elvano, namun ia hanya tersenyum maklum. Ia mengangkat tangan kirinya, lalu mengusap rambut Elvano yang masih sedikit kaku karena sisa hairspray panggung dengan gerakan yang sangat lembut dan telaten.

“Tidurlah sebentar, akan aku bangunkan kalau sudah sampai,” bisik Selena lirih.

Suasana di dalam mobil menjadi sangat hening, hanya terdengar suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal. Elvano mulai terlelap dalam posisi nyamannya, sementara Selena menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Singapura yang berlarian melewatinya.

**

Suara klik kunci pintu apartemen yang menutup rapat seolah menjadi tanda berakhirnya ketegangan hari itu. Begitu masuk ke dalam ruangan yang didominasi aroma diffuser sandalwood yang menenangkan, Elvano dan Darian langsung melangkah gontai menuju ruang santai. Tanpa memedulikan citra mereka sebagai petinggi agensi hiburan ternama, keduanya membanting tubuh di atas sofa kulit berukuran besar.

“Akhirnya, beres juga konser gila ini. Rasanya tulang-tulangku mau lepas semua,” ujar Darian sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bantalan sofa yang empuk.

Selena yang berjalan di belakang mereka hanya bisa tersenyum simpul. Ia melihat pemandangan langka di depannya; dua pria yang biasanya tampil sangat tangguh di depan publik kini tampak begitu rapuh karena kelelahan. Selena melangkah menuju lemari pendingin, mengambil dua botol air mineral dingin, lalu membawanya ke ruang tengah.

“Ini, minum dulu supaya kalian tidak dehidrasi,” kata Selena lembut sambil menyerahkan botol-botol itu.

“Terima kasih banyak, Selena. Kau benar-benar malaikat penolong di saat tenggorokanku rasanya seperti padang pasir,” sahut Darian dengan nada lega sambil segera menenggak airnya.

Elvano yang baru saja membuka tutup botolnya langsung melirik Darian dengan tatapan tajam dan mencibir pelan.

“Seharusnya Darian tidak usah kamu ambilkan, Selena. Dia kan punya tangan dan kaki sendiri yang masih berfungsi, jadi bisa ambil sendiri di dapur,” ketus Elvano dengan nada bicara yang terdengar cemburu namun tetap tenang.

Darian yang sedang minum hampir saja tersedak. Ia menoleh ke arah bosnya itu dengan tatapan tidak percaya.

“Astaga, El! Kau benar-benar jahat ya. Padahal aku yang sudah jungkir balik mengurus izin istrimu ini supaya bisa masuk ke backstage tanpa skandal, dan sekarang kau bahkan pelit soal air putih?” balas Darian dengan nada yang tidak kalah sengit.

Selena hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua pria dewasa di hadapannya yang mendadak seperti anak kecil jika sudah berada di area privat.

“Sudah, sudah. Jangan bertengkar terus. Sebaiknya kalian berdua segera mandi dulu supaya tubuh kalian segar dan sisa-sisa spray rambut itu hilang,” lerai Selena dengan suara yang menenangkan.

Darian baru saja hendak berdiri, namun Elvano tiba-tiba menahan lengan Selena yang berada di dekatnya. Wajah Elvano yang letih menengadah, menatap Selena dengan tatapan yang sulit ditebak—campuran antara kelelahan ekstrim dan keinginan untuk bermanja.

“Selena, bantu aku sebentar. Bersihkan sisa makeup di mukaku, tanganku benar-benar lemas sekali sampai rasanya sulit untuk sekadar memegang kapas,” pinta Elvano dengan suara bariton yang rendah, terdengar seperti sebuah permohonan tulus daripada sebuah perintah CEO.

Darian yang melihat pemandangan itu langsung mencibir keras sambil berjalan menuju kamarnya. “Halah! Itu hanya alasan klasiknya saja supaya bisa bermanja-manja denganmu, Selena. Jangan percaya, tadi di panggung dia masih kuat memegang mikrofon selama dua jam!” ejek Darian sambil tertawa mengejek.

Elvano tidak melepaskan tangan Selena, ia justru semakin menariknya mendekat. “Apa masalahmu, Darian? Selena kan calon istriku, wajar saja kalau aku manja. Kalau kau cemburu, bilang saja, jangan menyindir terus,” jawab Elvano telak, membuat Darian hanya bisa berdecak jengkel dan segera menutup pintu kamarnya dengan bantingan pelan.

Setelah Darian menghilang dari pandangan, Selena mendesah pelan namun tetap mengambil perlengkapan pembersih wajah dari tasnya. Ia duduk di pinggiran sofa, tepat di samping Elvano. Dengan gerakan yang sangat telaten, Selena mulai mengusap wajah Elvano menggunakan kapas yang sudah diberi cairan pembersih.

Elvano memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan lembut Selena yang terasa begitu dingin di kulit wajahnya yang panas.

Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara napas teratur dari keduanya. Selena memperhatikan setiap inci wajah Elvano—rahang tegasnya, hidung mancungnya, dan garis-garis halus di sekitar matanya yang menunjukkan betapa keras pria ini bekerja.

“Nah, sudah selesai. Sekarang mandilah dengan air hangat supaya ototmu rileks, setelah itu langsung tidur ya?” pinta Selena setelah membuang kapas terakhir.

Elvano membuka matanya perlahan, menatap Selena dengan binar yang lebih lembut dari biasanya. “Iya, Dokter Sunshine. Kamu juga harus mandi dan segera tidur. Ingat, besok pagi-pagi sekali kita sudah harus berangkat ke bandara untuk pulang ke Jakarta,” sahut Elvano sambil mengusap kepala Selena sebentar.

Selena mengiyakan ucapan itu dengan anggukan mantap. “Aku mengerti. Selamat istirahat, El.”

Mereka pun beranjak masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

***

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!