Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 PGS
Malam pun tiba....
Tama dengar kejadian tadi sore mengenai perseteruan Wita dan Ibu-ibu. Seperti biasa, malam itu Tama menyuruh ajudannya untuk ke rumah Wita memberikan sayuran dan buah-buahan karena dia tahu jika Wita belum sempat belanja tadi sore. Yosep dan dua orang lainnya segera meluncur ke rumah Wita.
Tok...tok...tok...
"Sudah, biar Daddy yang buka," seru Daddy Tri.
Tri pun membuka pintu. "Kamu Yosep 'kan? ajudannya Juragan Tama?" tanya Daddy Tri.
"Ada apa ya, malam-malam datang ke rumah saya?" tanya Daddy Tri kembali.
"Ini Pak Tri, Juragan meminta kami untuk mengantarkan sayur dan buah-buahan ini untuk Pak Tri dan keluarga," sahut Yosep.
"Dalam rangka apa Juragan memberikan semua ini?" Tri merasa bingung dengan semua itu.
"Tidak apa-apa, Juragan hanya ingin memberikan ini semua untuk kalian. Katanya, Juragan takut kalian tidak punya sayuran untuk dimasak," sahut Yosep.
"Ah, terima kasih. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya kepada Juragan," ucap Daddy Tri.
"Baiklah."
Tri pun membawa sayur dan buah-buahan itu masuk ke dalam. "Dari siapa itu Dad?" tanya Sherina.
"Dari Juragan Tama, katanya dia takut kita tidak makan," sahut Daddy Tri.
"Dad, lebih baik sayur itu kasih kepada tetangga saja Mommy tidak mau menerimanya," sahut Mommy Wita.
"Kenapa Mom? 'kan lumayan," seru Daddy Tri.
"Gak mau, pokoknya Mommy gak mau menerimanya," sahut Mommy Wita dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Baiklah, Daddy bagikan semua ini kepada tetangga," sahut Daddy Tri.
Sementara itu diluar, Ida tersenyum sinis. "Tuh 'kan Juragan Tama mengirim sayuran dan buah-buahan lagi untuk pendatang baru itu," gumam Ibu Ida dengan sinisnya.
***
Keesokan harinya....
Sherina kembali mengajar ke sekolah. Seperti biasa, Sherina berjalan kaki bersama Nining. Hingga tidak lama kemudian keduanya sampai di sekolah.
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Sherina dengan ceria.
"Ibu Sherina, apa benar dengan desas-desus yang saat ini sedang hangat diperbincangkan?" tanya Bu Herlin.
"Desas-desus apa, Bu?" tanya Sherina bingung.
"Katanya Juragan Tama suka kepada Mama Bu Sherina dan ingin menjadikan Mama Bu Sherina menjadi istri kedua?" seru Bu Herlin.
"Astaghfirullah, Ibu dapat gosip murahan itu dari siapa?" tanya Sherina kesal.
"Tadi pas saya berangkat ke sekolah, saya bareng sama Ibu-ibu yang mau berangkat ke kebun dan mereka ngomongin itu," sahut Bu Herlin.
"Jangan dipercaya Bu, itu bohong. Lagi pula Mommy aku gak mungkin suka kepada Juragan Tama, memangnya Daddy aku mau dikemanain?" seru Sherina.
"Ya, kali aja Mama kamu juga mau sama Juragan Tama, beliau 'kan orang terkaya di kampung ini. Saya juga mau kalau dijadikan istri kedua, yang penting hidup saya terjamin," sahut Bu Herlin.
"Itu 'kan Ibu bukan Mommy saya. Kalau Mommy saya tidak akan pernah mau dinikahi tua bangka itu, Daddy saya saja lebih tampan dibandingkan si tua bangka gak tahu diri itu," ucap Sherina dengan kesalnya.
Semuanya terdiam, bahkan mereka tampak menunduk karena ternyata dari tadi ada Ariel yang berdiri di depan pintu. "Maksud kamu siapa tua bangka?" seru Ariel dengan wajah dinginnya.
Sherina kaget dan membalikan tubuhnya. Terlihat wajah Ariel sudah sangat merah padan mendengar Papanya disebut tua bangka. "Memangnya kamu pikir, kamu siapa? berani sekali kamu menghina Papa aku seperti itu?" geram Ariel.
Lonceng sudah berbunyi, para guru segera berhamburan pergi dan memilih segera mengajar. Mereka tidak mau ikut campur urusan Ariel dan juga Sherina. Begitu juga dengan Nining yang ada jadwal pelajaran di jam pertama.
"Kasih tahu kepada Papa kamu, jangan kirim sayur dan buah-buahan lagi ke rumah aku dan stop deketin Mama aku," ucap Sherina.
"Apa! jangan ngarang cerita kamu, tidak mungkin Papa aku menyukai Mama kamu dari dulu sampai sekarang Papa aku itu sangat dingin dan hanya mencintai Mamaku jadi kamu jangan mengarang cerita murahan seperti ini," kesal Ariel.
"Tapi buktinya Papa kamu selalu datang ke rumah pada saat semua orang sedang berada di kebun," sahut Sherina.
Ariel langsung mencengkram tangan Sherina membuat Sherina meringis. "Lepaskan!"
"Kamu mau menyebarkan fitnah kalau Papa aku menyukai Mama kamu? aku yakin, Mama kamu sudah menggoda Papa aku makanya Papa aku seperti itu," geram Ariel.
Sherina emosi, dia menghentakkan tangannya dan mendorong tubuh Ariel. "Jangan sembarangan kalau ngomong, buat apa Mommy aku menggoda Papamu toh Papa aku jauh lebih tampan dan gagah dibandingkan Papa kamu!" bentak Sherina.
"Buat apa tampan dan gagah kalau gak punya uang? zaman sekarang jangankan Mama kamu, banyak kok wanita muda yang rela menikah dengan pria tua kaya asalkan kehidupan dia ke depannya terjamin," ucap Ariel.
Mata Sherina sudah mulai panas dan berkaca-kaca, hingga akhirnya Sherina menampar Ariel dengan sangat kencang. "Jangan lancang kamu, Ariel! kamu itu terlalu sombong karena orang tua kamu adalah orang terkaya di kampung ini, tapi asalkan kamu tahu jika kamu pergi ke kota maka harta kedua orang tua kamu itu tidak ada apa-apanya. Mama aku masih punya harga diri, meskipun hidup kita sederhana, kita tidak akan pernah mengusik kehidupan orang lain. Dan ingat, suatu saat nanti kamu akan menyesal!" bentak Sherina.
Sherina pun berlari keluar, dia langsung pulang dan tidak jadi mengajar. Sementara itu, Ariel memegang pipinya dan menatap kepergian Sherina. Dia sedikit merasa kaget dengan reaksi Sherina, dia tidak menyangka jika Sherina akan berani menamparnya.
"Lah, Sherina kenapa?" gumam Nining.
Sherina berlari sembari menangis, perkataan Ariel sungguh sangat menyakitkan. "Ternyata menjalani hidup menjadi orang miskin itu sangat menyakitkan. Selain tidak dihargai, orang-orang miskin itu sering sekali dijadikan korban fitnahan," ucap Sherina.
Pada saat Sherina sedang berjalan sendirian, sebuah mobil melintas melewati Sherina dan Sherina tidak tahu siapa itu. Sherina tidak banyak pikiran, dia pun memutuskan untuk diam sejenak duduk di bawah pohon karena kalau dia pulang cepat, sudah pasti Mommynya akan bertanya dan Sherina malas menjelaskan. Mobil itu berhenti di sebuah rumah yang berada tepat di depan rumah Sherina.
Rumah itu memang sudah lama kosong, dan orang itu mungkin yang sudah membeli rumah itu. Seorang wanita keluar dari dalam mobil dengan raut wajah yang bahagia. "Ah, akhirnya aku kembali lagi ke kampung kelahiran aku," gumam wanita yang bernama Fuja itu.
"Suasana kampung ini sudah banyak berubah ya," seru Bunda Nia.
"Iya, Bunda. Rumah itu juga kayanya rumah baru, soalnya masih terlihat bagus," tunjuk Fuja ke rumah Sherina.
"Sudah, yuk kita masuk!" ajak Bunda Nia.
Ternyata orang yang pakai mobil itu adalah Fuja, teman masa kecil Ariel sekaligus wanita yang sangat dicintai oleh Ariel.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek