Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 19
"Kamu jadi berangkat lagi?" Mata Altheza terus memperhatikan penampilan sang anak yang terlihat sedikit murung.
"Iya,yah."
"Apa kamu tidak akan menemui istri mu dulu?"
"Mungkin nanti aku akan mampir sebentar,kemarin aku baru memberinya uang sedikit karena uang dari client belum masuk."
Altheza menghela nafasnya sejenak."Kenapa kamu gak kamu kasih aja kartu mu satu.Ayah tau kartu mu banyak."
"Memang banyak,tapi bukan hasil keringatku sendiri..." Ia menatap wajah sang Ayah "Aku hanya ingin memberikan nafkah untuk istriku hasil keringat ku sendiri."
Altheza tertegun,namun tak lama senyumnya terbit."Bagus...ayah setuju,tapi diantara beberapa kartu yang kamu miliki.Ada kartu yang memang hasil dari kerja mu.Apa kamu tidak ingat kamu punya saham di Maheswari group dan Akhtar company? " Tanya Altheza
"Itu semua memang hasil kerja mu,bukan hanya sekedar pemberian dari kami."
Fara tersenyum,ia meletak kan piring di depan sang anak."Bunda tidak ingin kamu memberikan nafkah seadanya untuk Alya,Alya lahir dari keluarga yang kamu sendiri tau seberapa besar dan berpengaruhnya mereka di negara kita.Semua kebutuhnya selalu tercukupi,semua keinginannya selalu di penuhi.Apalagi Alya anak dan cucu perempuan yang paling di sayangi.Bunda takut kita mengecewakan keluarganya."
Arka terdiam,ia baru terpikir.Benar juga apa yang di katakan sang bunda.
"Atau jangan-jangan kamu tidak ingin memberikan salah satu kartu mu karena sudah kamu berikan pada wanita itu." Mata Altheza memicin, menatap sang anak.
"Ya gak lah, gak mungkin aku kasih kartu sama Ervina.Kalau uang ya memang aku suka ngasih."
Altheza menghembuskan nafas kasar sedangkan Fara hanya bisa beristighfar.
"Jangan pernah kamu ulangi lagi, sekarang hanya istrimu lah yang berhak kamu kasih nafkah." Nadanya begitu tegas seolah tak ingin ada bantahan.
"Iya yah."
.
.
Tiga jam kemudian Arka tiba di pondok, tempat sang istri tinggal.Berbeda dengan sebelumnya.Kedatangannya kali ini begitu di sambut ramah satpam, penjaga serta beberapa santri.
Bahkan tanpa di duga beberapa santri berburu mencium tangannya, membuat Arka sedikit risih.
"Assalamu'alaikum Ba." Salamnya pada Abi Ilham saat bertemu.
"Wa'alaikumsalam." Gus Ilham tersenyum kecil "Apa kabar?"
"Alhamdulillah Ba baik, Baba sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulilah Baba baik juga, sudah selesai proyek yang kamu tangani itu? "
"Belum Ba, tinggal finishing aja.Mudah-mudah satu minggu lagi selesai."
"Alhamdulillah, semoga semuanya lancar sampai selesai."
"Aamiin..."
"Mau menemui istrimu?"
Arka mengangguk,memang sudah pasti tujuan dirinya datang untuk menemui sang istri.
"Istri mu sedang di asrama, kamu tunggu saja di rumah biar Baba minta tolong sama santriwati untuk memanggil istri mu."
"Baik Ba, kalau begitu Arka pamit dulu."
Arka berjalan menuju rumah besar milik keluarga istrinya,fokusnya kini tertuju pada rumah yang begitu besar di antara yang lainnya.Hampir sama dengan rumah orang tuanya.
Namun tanpa ia sadari,dirinya sedang menjadi pusat perhatian para santri dan Ustadzah yang kebetulan sedang berada di luar ruangan.
"Itu bukannya suaminya Ning Alya?"
"Eh iya benar, MasyaAllah ganteng banget.Kaya orang Arab ya.."
"Iya benar, yang aku dengan memang katanya beliau itu keturunan Arab."
"Ya Allah, pantas saja badannya tinggi, ganteng terus hidungnya mancung juga."
"Iya, cocok banget sama Ning Alya.Ning Alya kan cantik banget, gak kebayang kalau punya anak pasti bakal lebih ganteng dan cantik lagi."
"Yang satu kaya raja Arab terus yang satu nya kaya Artis Korea."
"Ning Alya kalau gak pake kerudung pasti pada nyangka Artis Korea benaran"
"Hush... sudah, tidak baik membicarakan orang."
Seorang Ustadzah muda nampak mencuri-curi pandang pada Arka.Sayangnya Arka sama sekali tidak melihatnya.
"Assalamu'alaikum Umi."
"Wa'alaikumsalam Nak Arka, masuk nak."
Umma Zura membuka lebar pintu rumahnya.Kemudian mempersilahkan Arka masuk.
"Alya sedang di asrama.Biar Umi panggil dulu ya Nak.Kamu langsung naik saja. "
Umma Zura bersiap keluar rumah namun tiba-tina langkahnya berhenti."Sudah makan siang Nak?"
"Belum Umi"
"Ya sudah, nanti biar Alya siapkan ya.Kebetulan Umi mau ke cafe dulu."
"Baik Umi."
Sebenarnya Arka merasa sungkan, namun melihat berapa baiknya Umma Zura dan Abi Ilham membuat Arka merasa nyaman.
Arka membuka pelan pintu kamar sang istri, semerbak parfum sang istri langsung menguar dan menelusup ke dalam hidungnya.
Arka menyimpan tasnya kemudian duduk di sofa.Matanya beredar, menelisik setiap sudut kamar seolah sedang merekam.
"Kenapa rasanya nyaman banget ya, adem banget rasanya ni hati."
Arka menghembuskan nafas panjang seakan melepaskan beban yang selama ini menjeratnya.
Arka merebahkan tubuhnya di sofa, badanya sedikit lelah setelah perjalanan yang cukup lama.
Rasa nyaman membuat matanya terasa berat.Namun belum sempat matanya tertutup, pintu terbuka dan terdengar suara seseorang mengucap salam.
Sosok gadis yang sejak kemarin memenuhi pikirannya, kini sedang berjalan pelan sambil menunduk.
Tanpa sadar Arka tersenyum lebar melihatnya.
Alyana mencium telapak dan punggung tangannya Arka dengan takzim membuat Arka tertegun, rasanya seperti ada sengatan listrik pada tubuhnya yang membuat dadanya berdesir.
"Kaka sudah lama datang? "
Suaranya tak selembut sebelumnya, yang bisa membuat Arka terbuai dibuatnya dan membuat dadanya semakin berdebar.Namun kali ini terdengar sedikit hambar.
"Belum terlalu lama."
"Kata Umi, kaka belum makan?" Alyana memberanikan diri menatap sang suami."Biar Alya siapkan dulu."
Arka membalas tatapan sang istri, namun kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan sang istri.Seolah terasa jika Alya mencoba menghindarinya.
Apa Alyana sudah tau tentang masalah gue?
"Alya mau ke bawah dulu" Ia memutus tatapan matanya duluan.Badanya berbalik namun belum sempat Alya melangkah Arka menahan nya terlebih dahulu.
"Duduk dulu, ada yang mau gue obrolin."
Alyana yang mendengar itu, Tiba-tiba hatinya merasa resah.Apa yang mau di bicarakan? Apakah tentang foto itu?
Apa mungkin foto itu Ka Arka dan kekasihnya? Apa Ka Arka akan jujur dan memutuskan untuk berpisah dengan ku?Kalau benar, aku bagaimana? Apa aku harus mendapatkan status seorang janda di umurku yang baru tujuh belas tahun?Astaghfirullah..Maafkan hamba Ya Allah karena sudah bersikap su'uzan.
Alya masih terdiam,rasanya begitu takut.
Namun dengan pelan Arka menariknya agar duduk di sisinya.
"Duduk.Gue mau ngomong sama lo."
"Apa lebih baik Kaka makan dulu?"
Alya mencoba mengundur waktu, rasanya dirinya belum siap mendengar hal apapun yang bisa membuat hatinya merasakan sakit.
"Gak, gue mau ngomong dulu biar lebih tenang pas nanti makan"
Alya akhirnya mengalah, ia duduk dengan pelan di samping Arka.Kini dirinya hanya bisa pasrah dengan apapun yang Arka ucapkan nanti.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.