Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Insting Pelindung
"Jangan menatap ke arah tasmu, Cala. Tetap fokus menatap wajahku," bisik Ronan pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh alunan musik jazz di dalam restoran mewah itu. Tangan pria itu masih menggenggam jemari Cala dengan erat, menyalurkan ketenangan di tengah situasi yang mendadak menegang.
Cala memaksa bibirnya melengkung membentuk senyum manis. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Ronan. Jantungnya berpacu secepat kilat. Insting perencana pernikahannya menjerit keras melihat bahasa tubuh pelayan yang makin mendekat ke meja mereka.
"Postur tubuhnya salah total, Dokter," balas Cala berbisik di sela senyum palsunya. "Pelayan restoran bintang lima selalu dilatih berjalan dengan punggung tegak dan pandangan lurus ke depan. Pria ini menunduk, bahunya kaku, dan langkah kakinya diseret. Dia bukan pelayan restoran asli."
"Pengamatan visual yang akurat," puji Ronan tanpa mengubah raut wajahnya yang terlihat santai. "Otot lengannya terlalu tegang untuk sekadar membawa nampan berisi dua gelas minuman. Dia sedang bersiap melakukan manuver fisik dadakan."
"Bagaimana kalau dia membawa senjata api tersembunyi?" tanya Cala cemas. "Atau pisau mematikan seperti pelaku di lorong hotel waktu itu?"
"Senjata api pasti memicu detektor logam di pintu masuk utama restoran ini. Pisau butuh jarak serang fisik yang sangat dekat. Dia membawa cairan. Itu adalah jenis senjata mematikan yang bisa dilempar dari jarak satu meter tanpa memicu peringatan sistem keamanan," urai Ronan rasional. Mata pria itu tidak berkedip menatap Cala, tapi fokus periferalnya mengunci setiap milimeter pergerakan sang pelayan palsu. "Bersiaplah. Tarik napas panjang."
Pelayan berseragam rompi hitam itu akhirnya tiba di samping meja mereka. Bau keringat asam bercampur aroma logam samar-samar tercium dari tubuh pria itu, sangat kontras dengan aroma sedap daging panggang di udara ruangan.
"Permisi, Bapak dan Ibu. Ini minuman pembuka khusus dari koki kepala kami," ucap pelayan itu. Suaranya serak dan terdengar sedikit bergetar. Tangannya yang memegang nampan logam perlahan turun, mendekati area meja tepat di sebelah kiri Cala.
Matanya sama sekali tidak menatap wajah Ronan maupun Cala. Tatapan pria itu terkunci mati pada tas selempang Cala yang tergeletak manis di atas kursi kosong.
Cala menahan napas. Ia bersiap menggeser tubuhnya menjauh dari jangkauan pria tersebut.
Tiba-tiba, ujung sepatu pelayan itu sengaja ditabrakkan keras ke kaki meja kayu. Pria itu memiringkan tubuhnya ke depan, berpura-pura kehilangan keseimbangan secara dramatis.
"Ah, maaf!" teriak pelayan itu palsu.
Nampan logam di tangannya miring tajam. Dua gelas kristal berisi cairan merah pekat itu meluncur bebas dari atas nampan. Isinya tumpah seketika, menyembur deras tepat ke arah wajah dan dada Cala.
Waktu seolah melambat di mata Cala. Ia melihat cairan kental itu melayang di udara, siap membakar kulitnya. Otaknya menyuruh tubuhnya menghindar, tapi gerakan refleksnya kalah cepat dari laju gravitasi benda tersebut.
Namun, sebelum setetes pun cairan mencurigakan itu menyentuh gaun sutra Cala, sebuah lengan kokoh berbalut jas biru gelap melesat memotong udara secepat kilat.
Gerakan Ronan sama sekali tidak terprediksi. Tidak ada kepanikan, hanya insting pelindung murni yang bekerja melampaui seluruh logika sains yang sering ia banggakan. Pria tinggi besar itu menendang kursinya sendiri ke belakang, bangkit berdiri tegak dalam hitungan sepersekian detik.
Tangan kiri Ronan menepis nampan logam dan dua gelas kristal itu dengan punggung tangannya sekuat tenaga. Gelas itu terpental jauh ke udara, menghantam pilar marmer besar, dan pecah berkeping-keping dengan suara memekakkan telinga.
Cairan merah pekat di dalamnya menyiprat ke dinding dan lantai marmer. Cairan itu langsung mengeluarkan suara mendesis pelan dan asap putih tipis yang mengerikan. Bau bahan kimia tajam seketika menyengat hidung semua orang. Asam pekat.
Di detik yang sama, tangan kanan Ronan mencengkeram pinggang Cala dengan tenaga penuh. Pria itu menarik tubuh Cala berdiri secara paksa dan membanting tubuh wanita itu masuk ke pelukan dadanya yang bidang.
Ronan memutar posisi mereka seratus delapan puluh derajat, menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng pelindung bagi Cala dari sisa cipratan cairan mematikan tersebut.
berasa nonton adegan action