"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18. jejak masa lalu dan jalan ke depan
Enam bulan telah berlalu sejak perjalanan terakhir kami ke Ruang Antara. Kehidupan di Kerajaan Cahaya kini berjalan dengan ritme yang tenang namun penuh semangat. Tidak ada lagi kekacauan, tidak ada lagi tempat yang terabaikan, dan tidak ada lagi makhluk yang merasa kehilangan jati diri. Semua berjalan seimbang, seolah dunia ini telah menemukan irama terbaiknya.
Namun kedamaian itu memunculkan hal baru dalam diri Leon: rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh. Ia sering duduk berjam-jam menatap halaman-halaman kosong di buku catatannya, bukan untuk menuliskan perintah atau mengatur keadaan, melainkan berusaha mengingat lebih jelas tentang asal-usulnya sendiri tentang dunia tempat ia berasal, yang kini terasa semakin jauh dan samar dalam ingatannya.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Liora menghampirinya sambil membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkannya di meja kecil di samping Leon, lalu duduk dengan tenang sambil menunggu.
“Kau sering termenung belakangan ini,” katanya lembut, memecah keheningan. “Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?”
Leon menghela napas pelan, lalu menoleh menatap wajah Liora yang bersinar lembut diterpa cahaya senja.
“Aku hanya sedang berpikir,” jawabnya perlahan. “Dulu aku datang ke sini dengan tujuan yang jelas memperbaiki kesalahanku, mengisi kekosongan, dan memastikan dunia ini dapat berdiri tegak. Sekarang semuanya sudah tercapai, tapi kadang aku bertanya-tanya… siapa sebenarnya diriku di luar cerita ini? Apakah ingatanku tentang dunia asal masih ada, atau perlahan akan hilang seiring aku semakin menjadi bagian dari tempat ini?”
Belum sempat Liora menjawab, terdengar suara langkah kaki yang cepat mendekat. Zarek datang dengan wajah bersemangat, diikuti oleh Valgus yang membawa selembar kertas kulit tua yang terlihat sangat rapuh.
“Kami baru saja menerima kabar menarik dari para Siluet di Hutan Kenangan!” seru Zarek sambil tersenyum lebar. “Mereka menemukan sesuatu yang tersimpan di bagian paling dalam tempat penyimpanan ingatan mereka sesuatu yang tidak tercatat dalam cerita apa pun, bahkan tidak pernah kau tulis sekalipun.”
Valgus meletakkan kertas kulit itu di atas meja. Tulisan di atasnya terlihat asing, tidak menggunakan huruf yang biasa dipakai di dunia ini, namun saat Leon melihatnya, matanya terbelalak kaget. Huruf-huruf itu sama persis dengan tulisan yang biasa ia gunakan di dunia asalnya.
“Ini… tulisanku,” gumamnya dengan suara bergetar. “Tapi kapan aku menulisnya? Aku tidak ingat pernah melakukannya.”
“Menurut penjelasan para Siluet,” kata Valgus perlahan, “ini bukan tulisan yang kau buat dengan sengaja. Ini adalah jejak yang terbentuk secara alami dari sisa ingatan dan keinginanmu saat pertama kali menciptakan dunia ini. Sesuatu yang tersembunyi di balik pikiranmu sendiri, yang bahkan tidak kau sadari keberadaannya.”
Leon mulai membaca tulisan itu dengan hati-hati. Isinya bukanlah aturan atau deskripsi tempat, melainkan catatan pribadi yang ditulis seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri:
“Aku menciptakan dunia ini karena aku ingin melihat tempat di mana segala hal dapat tumbuh dengan bebas. Tempat di mana kesalahan bukanlah akhir, melainkan awal untuk memahami sesuatu yang lebih baik. Jika suatu hari nanti aku terjebak di antara dua dunia, ingatlah tempat yang membuatmu merasa hidup dan berarti tidak ditentukan oleh tempat kelahiranmu, melainkan oleh hati yang memilih untuk tinggal di sana.”
Saat membaca kalimat terakhir itu, seolah ada sesuatu yang terlepas dari benak Leon. Ia teringat rasa kesepian yang sering dirasakannya di dunianya sendiri perasaan bahwa ia hanyalah pengamat yang tidak memiliki peran nyata, tidak memiliki tempat yang benar-benar membutuhkan kehadirannya. Di sana ia hanya menulis cerita, namun di dunia ini, ia justru menjadi bagian dari cerita itu sendiri.
“Jadi selama ini, jawabannya sudah ada sejak awal,” bisik Leon, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak perlu memilih antara satu dunia atau dunia lain. Karena tempat yang membuatku merasa utuh sudah ada di sini, bersama kalian.”
Liora tersenyum haru, lalu memegang tangan Leon dengan lembut. “Ingat kata-kata yang pernah kau ucapkan kepada kekosongan itu? Bahwa makna tidak harus selalu terlihat atau ditentukan sejak awal. Begitu pula dengan jati dirimu. Kau adalah penulis, kau adalah pendatang, dan kau juga adalah bagian dari dunia ini semuanya sekaligus, tanpa harus memilih salah satu.”
Zarek menepuk pundak Leon dengan keras namun penuh kehangatan. “Tepat sekali! Jika kau merasa bingung, lihatlah kami. Kami semua sudah menganggapmu sebagai saudara, pemimpin, dan bagian dari keluarga ini. Bukankah itu bukti bahwa kau sudah memiliki tempat yang lebih nyata daripada sekadar ingatan masa lalu?”
Valgus mengangguk setuju, matanya menatap jauh ke arah cakrawala yang mulai gelap. “Setiap orang memiliki dua masa lalu. satu yang mereka bawa dari tempat asal, dan satu lagi yang mereka bangun bersama orang-orang yang mereka sayangi. Masa depanmu tidak ditentukan oleh apa yang telah berlalu, melainkan oleh apa yang kau pilih untuk jalani mulai sekarang.”
Malam itu, kami berkumpul di halaman belakang istana, duduk melingkar di bawah pohon perak yang daunnya berkilau lembut diterpa cahaya bulan. Leon membuka buku catatannya, namun kali ini ia tidak menulis dengan tujuan mengatur atau memperbaiki. Ia hanya menuliskan satu kalimat sederhana, namun penuh makna:
“Cerita tidak hanya ditulis dengan kata-kata, tetapi juga dengan langkah yang diambil, kebaikan yang diberikan, dan kebersamaan yang terjalin.”
Saat ia menuliskannya, halaman-halaman lain di buku itu mulai memancarkan cahaya lembut, menampakkan jejak-jejak perjalanan kami gambaran gerbang istana, hutan yang tumbuh subur, pegunungan yang penuh lagu, kota yang hidup kembali, dan puncak gunung es yang megah. Semua tergambar jelas, bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas, melainkan sebagai kenangan yang hidup dan nyata.
“Besok kita akan melakukan perjalanan lagi,” kata Leon tiba-tiba, menoleh ke arah kami dengan senyum penuh semangat. “Bukan untuk memperbaiki yang rusak, bukan untuk mengisi yang kosong. melainkan hanya untuk melihat, mendengar, dan menikmati segala hal yang telah tumbuh dengan sendirinya. Kita akan mengunjungi setiap tempat lagi, mendengarkan cerita-cerita baru yang diciptakan oleh penduduknya sendiri.”
“Asyik!” seru Zarek dengan gembira. “Aku sudah tidak sabar ingin mendengar lagu baru dari para Penyanyi Batu dan mencoba makanan lezat dari Kota Permata!”
Liora tersenyum dan bersandar di bahu Leon. “Aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Selama kita berjalan bersama, setiap jalan akan terasa indah.”
Valgus hanya mengangguk, namun sorot matanya terlihat lebih tenang dan damai dari sebelumnya.
Angin malam berhembus lembut, membawa suara-suara kehidupan dari seluruh penjuru negeri. Dunia ini telah lengkap, seimbang, dan bebas. Dan di tengahnya, kami berdiri bersama tidak lagi sebagai penulis dan karakternya, tidak lagi sebagai pendatang dan penghuni asli, melainkan sebagai satu keluarga yang menulis kisah hidup mereka sendiri, selamanya.
Cerita ini tidak berakhir, karena setiap hari yang baru adalah lembaran baru yang siap diisi dengan kebahagiaan, persahabatan, dan makna yang tak akan pernah habis.
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁