Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Honey, Vanilla and Cherry
Aroma mentega hangat dan honey-vanila memenuhi dapur besar mansion.
Akhirnya setelah berhari-hari menghadapi tatapan para bangsawan, Lilly bisa bernapas sedikit lebih lega.
Beberapa koki sibuk menata loyang di meja panjang.
Pelayan hilir mudik membawa bahan-bahan.
Suara dentingan peralatan dapur bercampur dengan aroma roti yang baru matang memenuhi udara.
Dan di tengah semua kesibukan itu—
Lilly berdiri di depan meja kayu besar dengan apron putih sederhana melapisi gaun rumahnya. Sedikit tepung menempel di ujung lengan bajunya. Bahkan ada bekas kecil krim di pipinya yang tidak ia sadari.
Puluhan tart tertata rapi.
Krim vanila lembut.
Dan manisan cherry dalam satu baskom kaca terendam penuh cairan gula.
Lapisan glaze tipis yang memantulkan cahaya hangat dapur.
“Lady Lillyane.”
Suara Madam Elish terdengar dari belakangnya setelah melihat bagaimana Lilly menuang krim.
“Tolong hati-hati.”
Lilly yang sedang sibuk menghias salah satu tart langsung menoleh.
“Saya hanya menambahkan sedikit.”
“Yang barusan adalah ‘sedikit’ versi Anda.”
Lilly menahan tawanya kecil.
Sementara beberapa pelayan dapur buru-buru menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum mereka.
Madam Elish berdiri tidak jauh dari meja utama dengan ekspresi tenang seperti biasa.
Namun wanita itu benar-benar mengawasi seluruh dapur sejak beberapa jam lalu.
Setelah Lilly memberi ide dan langsung mengeksekusinya.
Mulai dari ukuran potongan buah.
Ketebalan krim.
Hingga jumlah tart yang telah selesai dihias.
“Besok bukan jamuan pribadi.”
Madam Elish melanjutkan sambil memperhatikan salah satu nampan.
“Semua makanan akan dibagikan dalam jumlah besar.”
“Saya tahu.”
Lilly tersenyum kecil sambil kembali fokus menghias.
“Karena itu saya membuat ukurannya lebih kecil.”
Tangannya bergerak pelan menata cherry di atas lapisan krim putih.
Tidak sempurna.
Tapi tetap cantik.
Madam Elish terdiam beberapa saat melihatnya.
Tatapannya turun pada meja yang dipenuhi puluhan tart kecil buatan Lilly.
Lalu pada para pelayan yang diam-diam mulai terlihat lebih santai di sekitar calon Putri Mahkota itu.
Dan anehnya—
suasana dapur yang biasanya begitu formal kini terasa jauh lebih hangat.
Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat dari arah pintu belakang dapur.
Hampir semua orang langsung menyadarinya.
Karena seketika itu suasana dapur mendadak berubah tegang.
Para pelayan buru-buru menundukkan kepala.
Beberapa koki bahkan hampir menjatuhkan peralatan mereka sendiri.
Noah berdiri di ambang pintu.
Mantel hitamnya masih dikenakan rapi, pria itu baru saja selesai menghadiri pertemuan resmi.
Mata gelapnya langsung jatuh pada Lilly.
Ia sedikit terdiam.
Mungkin karena ini pertama kalinya Noah melihat Lilly di tempat seperti ini.
Berdiri di dapur hangat dengan tepung di tangannya dan pita apron sedikit longgar di pinggangnya.
Lilly yang baru menyadari keberadaan Noah langsung berkedip pelan.
“Yang Mulia?”
Tatapan Noah turun sekilas pada noda krim kecil di pipi Lilly.
Lalu samar—
sudut bibir pria itu bergerak tipis.
Samar.
Dan itu cukup membuat beberapa pelayan saling tatap sesaat.
“Aku dengar kau mengambil alih dapur.”
Nada suaranya rendah seperti biasa—terdengar jauh lebih ringan.
Lilly langsung menggeleng cepat.
“Saya hanya membantu.”
Madam Elish menyela tanpa ragu.
“Lady Lillyane telah berada di sini sejak pagi.”
Pandangan Noah kembali jatuh pada meja panjang yang dipenuhi tart kecil.
“Untuk gala amal besok?”
Lilly mengangguk kecil.
“Semuanya akan dibagikan pada mereka.”
Noah berjalan mendekat perlahan hingga akhirnya berhenti tepat di sisi meja tempat Lilly berdiri.
Ia memperhatikan salah satu tart yang baru saja selesai dihias Lilly.
Tanpa banyak bicara, pria itu mengulurkan tangannya.
Mengambil sepotong tart.
Beberapa pelayan langsung tampak panik.
“Yang Mulia—”
Sayangnya, Noah sudah lebih dulu mencicipinya.
Lilly langsung menatapnya penuh harap.
“Bagaimana?”
Noah terdiam beberapa detik sambil menelan pelan.
“…Terlalu manis.”
Lilly langsung membuka mulut tidak percaya.
“Itu resep normal.”
“Kurasa koki kerajaan tidak akan setuju.”
“Itu karena bukan resepku.”
Beberapa pelayan langsung menunduk lebih dalam, berusaha keras menyembunyikan ekspresi panik mereka.
Madam Elish memejamkan mata sesaat seperti sedang menahan sesuatu.
Sementara Noah—
benar-benar tertawa kecil.
Pelan.
Lilly terdiam sesaat melihatnya.
Baru kali ini Lilly menyadari—Noah jauh lebih hangat saat berada sedekat ini.
Mata hazel Lilly perlahan turun pada deretan tart kecil di atas meja.
Krim putih.
Sebaskom manisan cherry.
Dan aroma honey-vanila hangat yang memenuhi udara dapur.
Jemarinya bergerak pelan merapikan salah satu hiasan yang sedikit miring sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Aku membuatnya sesuai resep yang ibu tinggalkan.”
Netra Noah kembali jatuh pada Lilly.
Sementara Lilly sendiri masih memperhatikan tart di hadapannya.
“Dulu,” lanjutnya pelan, “ibu sering membuat ini untuk festival desa.”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Saya membantu menghiasnya… meski hasilnya selalu berantakan.”
Nada suaranya ringan.
Noah memperhatikannya beberapa detik lebih lama.
“Resepnya masih kau simpan?”
Lilly mengangguk kecil.
“Buku resepnya sudah tua sekali.”
Ia terkekeh pelan.
“Bahkan beberapa halamannya hampir lepas.”
Noah kembali melihat tart kecil di tangannya.
Lalu tanpa banyak bicara—
ia mengambil satu gigitan lagi.
Dan kali ini, sudut bibir Lilly langsung terangkat penuh kemenangan kecil.
“Itu artinya enak.”
Noah diam sesaat.
“…Aku hanya memastikan.”
“Yang Mulia sudah memakan tiga.”
Lalu salah satu pelayan dapur buru-buru menundukkan kepala lebih dalam untuk menyembunyikan ekspresinya.
Sementara Madam Elish perlahan memalingkan wajah seolah memilih tidak ikut campur.
Noah berdiri tanpa ekspresi.
Ia baru menyadari dirinya memang sudah mengambil tart ketiga.
Tatapan Lilly langsung berubah geli.
“Bukankah tadi terlalu manis?”
Noah mengangkat sebelah alisnya.
“Kalau terlalu buruk, aku tidak akan memakannya lagi.”
“Itu bukan jawaban.”
“Tapi itu fakta.”
Lilly tertawa kecil mendengarnya.
Di tengah aroma honey-vanila hangat, suara pelayan yang sibuk, dan cahaya sore yang masuk melalui jendela dapur—
semuanya terasa begitu tenang.
Seolah dunia di luar sana benar-benar menjauh dari mereka untuk sesaat.
*****