NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Di kediaman megah milik Sulthan, suasana malam terasa begitu hening dan tenang. Berbeda dengan suasana rumah sederhana Nurlia, di sini segalanya terlihat mewah, luas, dan dingin tanpa kehadiran penghuni lain selain dirinya dan beberapa asisten rumah tangga yang sudah beristirahat.

Di lantai paling atas, tepatnya di dalam kamar tidur utama yang berukuran sangat besar, Sulthan Aditama sedang bersantai.

Kamar itu didesain dengan gaya modern minimalis, pencahayaannya diatur agak redup menciptakan suasana intim dan nyaman. Di sana, Sulthan berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota Surabaya yang gemerlap.

Yang membuat berbeda, pria berusia 30 tahun itu berdiri dengan sempurna tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Ya, dia benar-benar telanjang 100%.

Ini sudah menjadi kebiasaan yang tertanam sejak dia masih duduk di bangku SMP. Sejak kecil dia merasa bahwa pakaian adalah hal yang membatasi gerak, membuat gerah, dan tidak nyaman. Jadi setiap kali dia berada di dalam kamarnya sendiri, kunci pintu rapat-rapat, dan sendirian, dia akan melepaskan semua pakaiannya hingga bersih.

Baginya, menjadi laki-laki sejati berarti bebas dan nyaman dengan apa yang diberikan Tuhan. Kulitnya yang putih bersih, otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna karena rutin berolahraga, terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar. Postur tubuhnya yang tinggi besar dan atletis terlihat sangat maskulin dan mempesona.

Sulthan berjalan santai menuju meja nakas, mengambil ponsel cerdasnya, lalu merebahkan tubuh kekarnya itu di atas kasur king size yang empuk. Dia berbaring menyamping, satu tangannya menopang kepala, sementara tangan lainnya mulai menekan tombol panggil.

Tujuan panggilannya hanya satu, Putri, sekretarisnya. Tidak butuh waktu lama, sambungan telepon tersambung.

"Halo, selamat malam, Pak Sulthan. Ada perintah mendadak ya, Pak?" suara lembut Putri terdengar jelas dari seberang sana, terdengar sedikit mengantuk tapi tetap profesional.

Sulthan tersenyum kecil, suaranya terdengar berat dan santai.

"Iya Put, malam. Maaf ganggu istirahatmu. Cuma mau konfirmasi sebentar soal jadwal besok," jawab Sulthan santai, seolah tidak ada yang aneh sama sekali dengan kondisinya saat ini. Dia benar-benar menikmati kebebasannya.

"Iya siap Pak, silakan. Saya catat," jawab Putri sigap.

"Gini Put, soal perjalanan ke Mojokerto itu... pastikan semua dokumen penting sudah siap di dalam tas kerja ya. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Dan soal pengawalan, Juniarta sudah koordinir belum?" tanya Sulthan panjang lebar, tetap dengan nada tenang, sementara tubuhnya yang telanjang itu berguling santai di atas kasur mewahnya.

"Sudah semua Pak, tenang saja. Dokumen sudah saya rapikan di briefcase kulit warna cokelat. Untuk tim pengamanan, Mas Juniarta tadi sudah konfirmasi, semuanya stand by besok pagi," lapor Putri dengan rinci.

"Bagus. Oke kalau begitu, tidak ada lagi. Kamu lanjut istirahat saja. Jangan lupa bangun pagi," perintah Sulthan ringkas.

"Siap Pak. Terima kasih, selamat malam Pak Sulthan,"

"Ya, malam."

Tut.

Panggilan pun diakhiri.

Sulthan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu meregangkan kedua tangannya ke atas dengan puas. Rasanya sangat lega dan bebas. Tidak ada kemeja ketat, tidak ada dasi yang mencekik, dan tidak ada aturan formalitas. Di ruangan ini, dia adalah rajanya sendiri.

"Ah... baru ini namanya hidup," gumamnya, lalu mengelus-elus burungnya.

Lalu Sulthan merebahkan tubuh kekarnya lebih nyaman di atas kasur king size yang empuk. Cahaya lampu kamar yang redup menyinari kulit putih bersihnya, menonjolkan setiap garis otot dada bidang dan perut sixpack yang menggoda.

Sebagai laki-laki normal yang belum menikah dan memiliki darah muda yang panas, dia pun menyalurkan kebutuhan biologisnya sendiri. Tangan kanannya yang besar masih mengelus batang burungnya yang sudah setengah tegang. Jari-jarinya bergerak lembut dari pangkal hingga ujung, merasakan kulit halus yang mulai menghangat.

“Ahh…” desahnya tipis, suara rendah yang hampir tidak terdengar. Burungnya perlahan bereaksi, batang panjang itu mulai mengembang, urat-urat tebal muncul satu per satu sepanjang lingkar yang semakin besar. Kepala burungnya yang lebar membengkak, warnanya berubah menjadi merah muda gelap yang mengkilap.

Sulthan terus mengelus dengan gerakan lambat, ibu jarinya sesekali mengusap bagian bawah kepala burung yang paling sensitif. “Enak… pelan gini,” gumamnya sendiri. Bayangan seorang wanita muncul di pikirannya, tangan halus wanita itu yang membelai burungnya dengan penuh minat, jari-jari lentik mengelilingi batang tebalnya, meremas perlahan seolah takut merusak barang berharga.

Ia menarik napas dalam, lalu mulai mengocok pelan-pelan. Tangan kanannya naik turun dengan ritme santai, dari pangkal yang tebal hingga ujung yang sudah basah oleh cairan bening yang keluar sedikit. Setiap kali tangan mencapai ujung, ia memilin sedikit kepala burung itu, membuat denyut kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. “Uhh… ya gitu…” desahnya lagi, lebih panjang kali ini.

Gerakan tangannya tetap pelan, tapi tekanannya semakin mantap. Ia membayangkan wanita itu berlutut di hadapannya, mata sayu menatap burungnya dengan lapar, lidahnya menjulur menyentuh ujung kepala burung sebelum membuka mulut lebar-lebar. Sulthan mempercepat sedikit kocokannya, bunyi basah kecil terdengar samar karena cairan yang semakin banyak. “Uhh… kalau ada yang ngulum gini pasti langsung meledak,” erangnya, suaranya parau.

Tubuhnya bergeser sedikit, kakinya terbuka lebih lebar memberi akses penuh. Tangan kirinya turun ke bola-bolanya yang penuh dan berat, meremas sambil tangan kanan terus mengocok batang panjang itu. Ritme naik turun semakin stabil, naik hingga ujung lalu turun hingga pangkal dengan tekanan yang pas. Otot lengan Sulthan menegang, dada bidangnya naik turun mengikuti napas yang mulai berat.

“Ahh… sial… enak banget…” desahnya berulang. Ia membayangkan mulut hangat wanita itu menelan burungnya dalam-dalam, tenggorokan menyempit di sekitar kepala burung, lidah berputar di batangnya. Bayangan itu membuat kocokannya semakin cepat. Tangan kanannya sekarang bergerak dengan ritme yang lebih intens, naik turun tanpa henti, jari-jarinya sesekali memilin ujung kepala burung yang sudah sangat sensitif.

“Uhh… lebih cepat… ya… ahh!” Napasnya tersengal. Perut sixpack-nya berkontraksi kuat setiap kali tangan mencapai pangkal. Burungnya sudah benar-benar keras sekarang, batang tebal berdenyut di genggaman, urat-uratnya menonjol tajam seperti tali yang tegang.

Sulthan menutup mata, kepalanya mendongak ke belakang di bantal. Tangan kanannya bekerja tanpa ampun, kocokan panjang dan kuat yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. “Sial… mau keluar… ahh… banyak banget ini…” erangnya dengan suara rendah yang penuh nafsu.

Tubuhnya menegang hebat. Paha berotot bergetar, dada bidang mengembang. Dengan beberapa kocokan terakhir yang sangat cepat dan kuat, ia meledak.

Cairan putih kental menyembur keluar dengan deras dari ujung burungnya yang membengkak. Semburan pertama meluncur tinggi, mendarat di dada bidangnya yang keras, meninggalkan jejak panas dan lengket. Semburan kedua dan ketiga sama kuatnya, menyembur ke perut sixpack-nya, mengalir ke lekukan otot perut. Benihnya terus keluar dalam jumlah banyak, tebal dan panjang, beberapa tetes bahkan mencapai lehernya. Ia terus mengocok sambil menikmati setiap denyut, mengeluarkan sisa-sisa cairan yang masih tersisa hingga burungnya berdenyut lemah di tangan.

“Ahh… banyak sekali…” desahnya panjang, suaranya parau karena kenikmatan yang memuncak. Napasnya terengah-engah, tubuh kekarnya berkilau karena keringat tipis bercampur cairan yang menetes di kulit putihnya.

Sulthan berbaring diam sejenak, membiarkan tubuhnya rileks. Tangan kanannya masih memegang burungnya yang perlahan mengendur, meremas untuk mengeluarkan tetes terakhir. Susu putih kental yang diperas dari burungnya itu menyebar di dada dan perutnya, beberapa alirannya turun ke sisi tubuh.

Rasa tegang di tubuhnya lenyap seketika, digantikan oleh rasa lelah yang nikmat dan sangat santai. Sulthan menarik selimut tebal berwarna hitam untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang itu. Matanya terasa berat sekali.

Dalam hitungan menit, napasnya pun mulai terdengar teratur dan panjang. Dia pun terlelap, tidur dengan sangat nyenyak dan pulas, seolah semua beban pikirannya ikut hilang terbawa bersama pelepasan tadi.

Di tengah tidurnya yang lelap, alam bawah sadar Sulthan membawanya masuk ke dalam sebuah mimpi yang aneh namun indah.

Dalam mimpinya, dia sedang berada di sebuah butik pakaian yang sangat mewah dan luas. Di sana, di antara gantungan baju-baju mahal, dia melihat sosok yang sangat familiar.

Itu Nurlia.

Gadis itu tersenyum manis padanya, mengenakan gaun yang sangat cantik dan anggun, jauh berbeda dari saat dia memakai seragam pelayan restoran. Nurlia memegang sebuah setelan jas biru tua, persis seperti yang tumpah jus alpukat tadi, tapi kali ini jas itu terlihat baru, bersih, dan sangat sempurna.

"Pak Sulthan... ini seragam baru untuk Bapak," suara Nurlia terdengar lembut dan merdu di telinganya.

Sulthan ingin berbicara, ingin bertanya kenapa gadis itu ada di sana, tapi kakinya seakan terpaku. Dia hanya bisa terpana melihat kecantikan Nurlia yang bersinar begitu terang di dalam mimpinya itu. Hatinya berdebar aneh, perasaan hangat menyelimuti seluruh tubuhnya.

Senyum Nurlia begitu tulus, begitu menenangkan, membuat Sulthan tak ingin terbangun dari mimpi indah itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!