Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 十八
Pagi itu, suasana di kantor pusat Mo Group sedikit berbeda. Sang CEO Mo Yan, yang biasanya sudah duduk tegak di kursinya tepat pukul tujuh pagi, baru muncul pada pukul sembilan dengan langkah yang sedikit gontai namun wajah yang tampak jauh lebih cerah dan segar. Efek "Lobster Relaksasi" racikan Xi'er semalam benar-benar bekerja terlalu baik. Ia tidur seperti balok kayu tanpa satu kali pun terbangun karena rasa dingin di kakinya.
"Kau baru bangun, Tuan kaku?" sapa Xi'er yang sedang duduk santai di laboratoriumnya sambil asyik memutar-mutar ponselnya. "Lihatlah, wajahmu tidak lagi seperti mayat hidup. Ternyata monster laut itu memang manjur jika dicampur sedikit bumbu dariku."
Mo Yan mendengus, merapikan jasnya yang terasa sedikit lebih longgar karena hatinya sedang tenang. "Lain kali, jangan biarkan aku tidur sampai melewatkan rapat koordinasi pagi Xi'er. Zuo Fan hampir saja menelepon polisi karena mengira aku diculik di dalam kamarku sendiri."
Xi'er hanya tertawa renyah, kembali fokus pada layar ponselnya yang sedang menampilkan video orang-orang menari dengan musik yang dentumannya sangat kencang. Namun, ketenangan mereka terganggu ketika Zuo Fan masuk dengan terburu-buru.
"Tuan, ada seorang tamu yang memaksa masuk ke area ini. Dia adalah sepupu jauh Anda Tuan Bagas. Dia mengklaim memiliki urusan mendesak soal pembagian saham keluarga dan sekarang sedang mendobrak pintu akses laboratorium." lapor Zuo Fan dengan napas tersengal.
Mo Yan baru saja akan berdiri dan bertindak, namun Xi'er lebih cepat. Ia melompat dari sofanya dengan mata yang berkilat penuh semangat. "Jangan! Biarkan Tuan kaku tetap di sini. Ini adalah saat yang tepat untuk mencoba hasil risetku kemarin. Vania, siapkan 'kotak suara' besar itu!"
Bagas, seorang pria muda dengan setelan jas mahal yang tampak congkak, berhasil masuk ke area depan laboratorium. Ia mengira akan menemukan dokumen rahasia atau mungkin wanita simpanan Mo Yan yang bisa ia jadikan bahan ancaman. Namun, yang ia temukan hanyalah seorang gadis kecil berbaju putih yang menatapnya dengan senyum miring yang aneh.
"Siapa kau? Mana Mo Yan?! Berikan aku berkas riset farmasi terbaru atau aku akan menghancurkan tempat ini!" bentak Bagas dengan nada sombong.
Xi'er tidak menjawab. Ia justru meraih sebuah botol kecil dari saku bajunya yang ia beri label Bubuk Tarian Cacing Panas. Dengan gerakan yang sangat anggun seolah sedang menabur garam di atas masakan, Xi'er melemparkan serbuk berwarna ungu itu ke arah Bagas yang sedang berdiri tepat di bawah hembusan AC.
"Apa ini? Kau mencoba bermain sulap—" Kalimat Bagas terhenti.
Satu detik... dua detik... tiga detik.
Tiba-tiba, mata Bagas membelalak. Rasa gatal yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya menjalar dari leher, turun ke punggung, hingga ke sela-sela jari kakinya. Rasanya seperti ada ribuan cacing kecil yang sedang melakukan pesta dansa di bawah kulitnya dengan menggunakan bara api.
"G-gatal! Kenapa panas sekali?! Aaaargh!" Bagas mulai menggaruk bahunya dengan beringas. Ia melepas jas mahalnya, lalu mulai menggaruk punggungnya di sudut tembok.
Xi'er tersenyum puas. "Vania! Putar musiknya sekarang! Berikan dia irama untuk tariannya!"
Vania, yang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, segera menghubungkan ponsel Xi'er ke speaker besar di ruangan itu. Seketika, musik remix jedag-jedug dengan suara bas yang sangat keras berdentum memenuhi seluruh lantai eksekutif.
Dug-cek-dug-cek-asik-asik-joss!
Bagas, yang sudah tidak tahan dengan gatalnya, mulai melompat-lompat. Gerakannya yang menggaruk pantat, tangan, dan perut secara bergantian secara tidak sengaja mengikuti irama musik yang cepat. Dari kejauhan, ia tidak terlihat seperti orang kesakitan, melainkan seperti orang yang sedang kesurupan disko di siang bolong.
"Ayo lebih cepat lagi, Tuan sepupu! Goyangannya kurang bertenaga!" seru Xi'er sambil ikut bertepuk tangan mengikuti irama musik.
Mo Yan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya terpaku di ambang pintu. Ia melihat sepupunya yang biasanya sombong kini sedang berguling-guling di lantai sambil menggaruk kaki dan tangannya mengikuti musik DJ yang memekakkan telinga.
"Xi'er... apa yang kau lakukan padanya?" tanya Mo Yan dengan nada antara ngeri dan ingin tertawa.
"Dia bilang ingin berkas riset, kan? Nah, aku memberinya riset langsung tentang ketahanan saraf manusia terhadap serangan cacing gatal!" jawab Xi'er bangga. "Lihat, dia sangat menikmati musiknya Tuan kaku!"
Bagas kini sudah menangis sesenggukan sambil terus menggaruk lehernya sampai merah padam. "T-tolong... Mo Yan! Suruh gadis gila ini berhenti! Aku tidak tahan lagi! Ampuuun!"
Mo Yan menatap Bagas dingin. "Kau masuk ke sini tanpa izin dan mengancam asisten pribadiku. Sepertinya disko ini adalah hukuman yang sangat pantas untukmu." Mo Yan kemudian menoleh pada Xi'er. "Berapa lama efeknya akan hilang?"
Xi'er melihat jam di ponselnya. "Sekitar dua puluh menit lagi. Atau sampai dia pingsan karena kelelahan bergoyang. Tergantung mana yang lebih cepat."
Dua puluh menit kemudian, Bagas akhirnya jatuh terkapar di lantai dengan napas tersengal-sengal. Jasnya hancur, rambutnya berantakan, dan kulitnya penuh tanda merah bekas garukan. Musik pun akhirnya dimatikan, menyisakan kesunyian yang aneh di lantai itu.
"Zuo Fan, buang pria ini ke lobi bawah. Pastikan semua orang melihat gaya disko terbarunya." perintah Mo Yan tanpa belas kasihan sedikit pun.
Setelah Bagas diseret keluar, Xi'er menghampiri Mo Yan sambil memutar-mutar botol kosongnya. "Bagaimana? Risetku sangat berhasil, kan? Tidak perlu darah, tidak perlu pedang, cukup satu botol bubuk dan musik yang berisik, musuhmu sudah menyerah."
Mo Yan menatap Xi'er, ada rasa kagum yang diam-diam ia simpan. Gadis ini bukan hanya penyembuh, tapi juga pelindung yang sangat berbahaya dengan caranya sendiri. "Lain kali, beritahu aku jika kau ingin mengadakan pesta disko gatal. Aku akan menyiapkan penutup telinga."
Xi'er tertawa, lalu ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, Tuan kaku! Karena aku sudah menyelamatkanmu dari sepupu yang berisik itu, aku ingin hadiah lagi!"
"Apa lagi sekarang? Kepiting dari bulan?"
"Bukan!" Xi'er menunjukkan layar ponselnya. "Aku ingin benda yang disebut Power Bank ini. Kotak sihirku sering kehabisan nyawa saat aku sedang asyik belajar memasak. Vania bilang benda ini bisa memberikan nyawa tambahan!"
Mo Yan menggelengkan kepala, namun tangannya merogoh saku dan mengambil sebuah sabuk kulit kecil yang sangat elegan. "Gunakan ini untuk menyimpan botol-botol racunmu itu agar tidak hilang. Soal nyawa tambahan untuk ponselmu, Zuo Fan akan membelikanmu sepuluh buah jika kau mau."
Xi'er menerima sabuk itu dengan mata berbinar. "Wah! Ini sangat praktis! Aku bisa menyimpan Aroma Kentut Naga di sini juga!"
Mo Yan seketika membeku. "Tunggu... apa kau bilang? Kentut apa?"
"Rahasia!" Xi'er menjulurkan lidahnya dan segera berlari kembali ke laboratoriumnya, meninggalkan Mo Yan yang hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa hidupnya ke depan akan penuh dengan bau-bau aneh dan musik jedag-jedug yang tidak terduga.
Malam itu, berita tentang sepupu Mo Yan yang "gila disko" di kantor menjadi pembicaraan hangat, namun tidak ada satu pun orang yang berani menghubungkannya dengan gadis kecil misterius di lantai atas. Sang Tabib Rahasia sekali lagi berhasil menjaga dunianya dengan cara yang paling nyeleneh sejagat raya.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/