Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18.Kunci yang Hilang
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Mendengar bisikan lembut Aisyah yang penuh makna itu, Zea perlahan melepaskan pelukannya. Ia mundur selangkah, kedua tangannya kini memegang kedua bahu Aisyah dengan lembut namun erat. Matanya yang sembab menatap manik mata Aisyah dalam-dalam, seakan ingin memastikan bahwa sahabat barunya ini siap mendengar sebuah rahasia besar yang selama ini tersimpan rapi.
Dengan suara yang bergetar hebat karena menahan tangis haru, Zea mulai membuka mulutnya dan menjelaskan segalanya, satu per satu.
"Kak Aisyah... Kakak tahu nggak? Sebenarnya Mas Aqlan itu pernah mengalami kejadian berat waktu kecil dulu, Kak. Dia pernah kecelakaan atau kejadian tertentu yang bikin dia trauma parah. Efeknya... ingatan tentang masa kecilnya jadi samar banget, bahkan hampir hilang," cerita Zea pelan.
"Dia ingat suasana hati wanita, dia ingat baunya tanah, dia ingat suara adzan... tapi wajah-wajah orang-orang di sekitarnya, nama-nama temannya, dan cerita-cerita manis itu... semuanya jadi kabur dan hilang begitu saja dari ingatannya. Dia berusaha ingat, tapi rasanya seperti melihat kabut tebal yang nggak bisa ditembus," lanjut Zea menjelaskan kondisi kakaknya selama bertahun-tahun.
Aisyah mendengarkan dengan napas tertahan. Wajahnya pucat, keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Zea.
Zea menarik napas panjang sekali, mengumpulkan keberanian, lalu menatap Aisyah lekat-lekat dengan mata yang berbinar penuh cahaya.
"Tadi pas dia pingsan... Dokter bilang itu karena kunci ingatannya akhirnya ketemu. Dan tau nggak Kak... kunci yang selama ini hilang itu... kuncinya itu KAKAK SENDIRI!"
GLEK!
Aisyah menelan ludah kasar. Ia ternganga lebar, matanya membelalak tak percaya.
"Maksud Zea...?" tanyanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Jadi gini Kak," Zea mulai menjelaskan urutannya dengan antusias, "Tadi pas di taman, sebelum Mas Aqlan pingsan, Kakak bilang apa sama dia? Kakak bilang pernah bertemu, kan? Dan Kakak bilang nama dari A.i.s.,tapi aku tidak tau siapa wanita itu" tanya Zea memastikan kembali.
Aisyah mengangguk pelan dan cepat. "I-iya Ze... bener. Aisyah memang mondok di sana waktu kecil."
"Itulah dia Kak! Itulah pemicunya!" mata Zea makin berbinar terang, suaranya meninggi sedikit karena bahagia. "Mas Aqlan itu dulunya juga SAMA PERSIS! Di situ tempat pertama kali mereka bertemu dan bermain!"
"Dia... dia ingat sekarang Kak! Semuanya balik! Dia ingat kalau Kakak itu teman mainnya waktu masa dulu ! Dia ingat kalau Kakak itu sahabat sejatinya! Dan yang paling penting..."
Zea berhenti sejenak, mendekatkan wajahnya ke telinga Aisyah, lalu berbisik pelan namun sangat tegas dan penuh makna,
"...Kakak itu adalah calon pendamping hidupnya yang dulu pernah dia janjikan sama Bunda dan Kiyai sejak kecil! Janji suci yang hampir terlupakan karena amnesia!"
GEDUBAR!!!
Jantung Aisyah seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Hantaman informasi itu begitu kuat hingga membuat tubuhnya limbung, untung Zea cepat memegang lengannya.
Mata Aisyah terbelalak lebar, kaget bukan main. Tangannya refleks terangkat menutup mulutnya rapat-rapat, menahan jeritan kaget yang hampir meledak.
"Hah?! Kok... kok bisa?! Zea serius?!" Aisyah tergagap-gagap, kepalanya terasa pening campur aduk. "Aku... aku enggak ngerti Ze... Jadi kita... kita pernah ketemu beneran ya? Waktu kecil? Kita kenal dari dulu banget?"
Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali, mencoba mengorek ingatannya sendiri, mencoba menyusun potongan-potongan kenangan yang mungkin selama ini ia anggap biasa saja.
"Ya Allah... kok aku enggak sadar ya? Aku kira kita baru kenal sekarang... di sini... di kampus ini... Aku kira cuma kebetulan namanya sama, atau suasananya aja yang bikin hati jadi nyaman dan tenang," gumam Aisyah tak percaya.
Rasa kaget, bingung, takut, namun juga perasaan aneh yang sangat familiar dan de javu bercampur menjadi satu ledakan emosi yang dahsyat.
Ternyata... takdir mereka sudah ditulis jauh di Lauhul Mahfudz jauh sebelum mereka sadar. Mereka dipertemukan kembali di kampus ini, bukan karena kebetulan semata, tapi karena sebuah janji suci dan ikatan batin yang sudah terjalin sejak lama sekali di Pondok At-Taqwa. Benar-benar cinta yang terhalang waktu, namun kini kembali bersinar terang.
BERSAMBUNG...