hari itu ketika aku berjalan pandangan ku tertuju pada gadis yang merupakan pacar ku tapi dia berjalan dengan pria yang tidak ku kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hitomaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
seseorang yang aku kagumi
Pov Aidan
Pagi hari seperti biasa aku bersiap untuk berangkat sekolah, aku melihat Dahlia sedang mengunakan sepatu di depan pintu rumahnya.
aku mengambil sepeda yang ada di rumahku
" ayo bareng " aku mengajak Dahlia untuk berangkat sekolah bersama.
Dahlia kemudian menutup gerbang rumahnya, dia naik ke sepeda yang sedang aku bawa.
" udah siap "
" iya , ayo berangkat " Dahlia berteriak sambil menunjuk kearah depan
angin sepoi-sepoi terus berhembus aku terus menggoes sepeda sambil terus berbincang dengan dahlia.
" kondisi kamu sudah baikan? " aku bertanya tentang kondisi tubuhnya
" tenang saja aku sudah 100% sehat " suara terdengar ceria seperti biasa
" baguslah kalau sudah sehat tapi jangan terlalu memaksakan diri " mendengar ucapan ku entah kenapa pegagan tangannya semakin kencang.
" Emm " Dahlia hanya mengeluarkan suara pelan tanpa kata-kata.
Sesampainya kami di sekolah murid-murid lain menatap kami dengan tatapan yang tidak aku mengerti, aku berjalan di lorong dan berpapasan dengan Imel yang sedang membawa banyak sekali buku.
" sini biar aku bawa setengah " aku mengambil setengah buku yang Imel bawa
" terima kasih "
" ini semua mau di bawa ke ruang guru? " aku bertanya sambil terus berjalan
" iya, ini tugas kemarin dan cuman kamu sama Lia yang belum ngumpulin tugas "
TUGAS?! Aku sama sekali tidak ingat tentang tugas yang diberikan kemarin
" kamu gak ngerjain? " Imel bertanya
" iya, aku lupa "
" tumben banget kamu lupa soal tugas " Imel heran
" soal kemarin lagi banyak yang harus dipikirin sampai lupa soal tugas "
" apa yang lagi kamu pikirin sampe lupa soal tugas " Imel menatap wajahku menunggu jawaban yang aku berikan.
" kemarin saat aku berkunjung kerumah dahlia aku bertemu kakaknya kemudian aku bertanya tentang kondisi Dahlia "
" terus? " wajah Imel terlihat sedikit kesal entah kenapa
" dia memiliki masalah pada jantungnya "
Imel terkejut mendengar bahwa Dahlia memiliki masalah pada jantung, ekspresi cemberut Imel berubah dengan cepat wajahnya terlihat pucat.
" Lia akan baik-baik saja kan? " Imel bertanya suaranya terdengar berat
" ya "
Aku menjawab ragu-ragu dan tanganku bergerak sendiri menepuk-nepuk kepalanya.
" tenang saja, kamu gak perlu khawatir "
Aku tersadar dan menarik kembali tanganku dari atas kepalanya.
" maaf... gak sengaja " aku minta maaf tapi jawaban yang tidak terduga membuat aku bingung.
" tidak apa-apa, aku... senang kok "
Imel kemudian berjalan lebih cepat meninggalkan aku yang sama terdiam memikirkan perkataan Imel barusan.
...****************...
Mori sedang bersiap ke sekolah mengunakan seragam yang sudah lama tidak dia pakai, di meja makan mori sedang sarapan bersama kakak dan ayahnya walaupun suasana masih terasa canggung.
Mori memandang keluar jendela melihat sosok Aidan sedang berboncengan dengan perempuan.
Melihat itu hati mori terasa ada yang mengganjal tapi mengingat apa yang telah dia lakukan mori merasa pantas menerimanya.
Mori berjalan sendirian murid dari sekolahnya menatap mori dengan ekspresi jijik, mori mencoba mengabaikan tatapan yang terus tertuju padanya.
Kelas menjadi hening ketika mori masuk, teman sekelasnya menatap dan mulai menjauhi mori.
Perkataan yang mencemooh mori terus terdengar walaupun berusaha tidak peduli tapi hatinya sudah mencapai batas mori berlari meninggalkan kelas.
di toilet mori terus menahan tangisnya supaya tidak keluar, dia membasuh wajahnya dan bersikap baik-baik saja.
mori kembali ke kelas kali ini ada Inda yang sudah datang kemudian mengajak mori berbincang.
" Mori!! Kamu sudah bersekolah? Kenapa gak bilang dulu biar bisa berangkat bareng "
Mori ragu-ragu untuk menjawab perkataan Inda, mori melihat sekitar ekspresi teman-teman yang lain masih terlihat menghina.
guru akhirnya datang yang membuat tatapan yang tertuju pada mori berkurang dan mulai fokus kepada guru yang sedang mengajar.
......................
Pov aidan
Jam istirahat aku sedang berada di kantin untuk membeli makanan karena hari ini tidak membawa bekal.
Keadaan kantin sangat ramai, dari jauh aku melihat Imel sedang memesan aku kemudian menghampirinya.
" kamu beli apa " aku menepuk pundaknya
" eh....aku...beli bakso, itu pesanan ku sudah jadi aku pergi dulu " Imel terlihat menghindari tatapan mata langsung dia juga langsung pergi begitu saja.
aku memesan makanan setelah selesai aku mencari tempat duduk yang kosong.
" Aidan sini " Keiza memanggil kursi di sampingnya kosong.
Belakangan ini aku jadi jarang bergaul dengan Keiza dia terlihat sangat menikmati makanan yang sedang dia makan.
" enak? " aku mencoba basa-basi
" enak..ini menu baru kamu mau coba? "
" gak usah, aku gak terlalu suka makanan pedas " aku menolak
Kami fokus pada makanan kami masing-masing, mie yang aku makan sangat kenyal dan sangat cocok dengan kuah kaldu yang disajikan.
" oh ya Aidan... Kamu mau ikut gak besok " Keiza mengajak pergi
" kemana? " aku bertanya
" persidangan aku mau lihat si bajingan itu menerima hukuman " Keiza terlihat kesal berbicara tentang kasus kemarin.
Aku merasa tidak ada urusan untuk melihat persidangan, aku tidak ingin lagi terlibat.
" kayaknya enggak deh maaf gak bisa nemenin "
" santai aja " Aidan menjawab dengan santai
Kami lanjut menghabiskan makanan kami sampai tidak tersisa, aku bersama Keiza berjalan bersama di lorong-lorong kelas.
sekolah hari ini telah berakhir murid-murid mulai meninggalkan sekolah.
Aku berjalan sendirian hari ini, Dahlia yang beberapa hari ini selalu pulang bersama kali ini dia tidak ada karena di ajak bermain sama temannya.
Aku berkunjung ketempat kak melin berkerja, cafe terlihat sepi tanpa ada pelanggan.
" sore kak Melin " aku menyapanya ekspresi melin terlihat terkejut saat aku memanggilnya
" loh Aidan tumben banget pulang sekolah langsung kesini "
" lagi cari suasana baru aja " aku mencoba bersikap santai
" mau pesan apa? "
" seperti biasa masa kak melin lupa "
" haha tenang kakak gak lupa kok, seperti biasakan? Yaudah kamu tunggu "
Kak melin pergi aku memandangi dinding cafe yang terlihat sangat cantik dengan hiasan barang antik yang terpanjang.
Melin datang membawa minuman yang aku pesan, kak melin ikut duduk di dekat ku.
Mengunakan celemek dengan rambut di ikat kak Melin terlihat cantik.
" kak melin besok ikut melihat persidangan kasus mori " aku mencoba bertanya
" benar " kak melin terdengar enggan untuk melanjutkan obrolan soal kasus mori.
aku mencoba membahas hal lain tentang film ataupun berita yang sedang viral.
" sekolah kamu gimana? "
" masih sama seperti biasa gak ada yang terlalu spesial "
" baguslah, kamu yang serius belajarnya, semangat!"
Kak melin memberi aku semangat, aku selalu mengagumi kak melin dari dulu, dia sangat baik dan selalu peduli dengan keadaan orang disekitarnya.
Aku selalu melihat kak melin sebagai panutan aku ingin menjadi sepertinya, aku menghargai nya sebagai kakak perempuan yang bisa di andalkan.
Momen singkat di dalam cafe membuat suasana hatiku menjadi adem berharap ini akan terus terjadi di hidupku.