NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18 Bukan Manusia Sempurna

Happy reading

Mulai detik ini, Hawa memantapkan hati untuk menutup auratnya. Bukan semata karena Rama, melainkan bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. Ia ingin melangkah dengan identitas baru, sebagai wanita yang patuh pada perintah Tuhan-nya.

Setelah meninggalkan Toko Annisa, Rama membawanya menyusuri Malioboro. Mereka duduk di salah satu bangku kayu dengan jarak yang sopan. Tidak terlalu rapat, pun tak terlalu jauh; ada batas tak kasatmata yang mereka kukuhkan demi menjaga Marwah dan adab.

Siang itu, matahari tak begitu terik. Sinarnya tertahan gumpalan awan abu-abu yang menggantung rendah, memberi keteduhan bagi dua insan yang masih ingin menghabiskan waktu dengan berbincang.

Suara denting bel delman dan riuh rendah wisatawan menjadi latar belakang yang samar di telinga mereka.

"Ram, kalau boleh tahu, kenapa kamu memilihku?" Hawa membuka obrolan, memecah hening yang sempat turun sejenak. "Bukan memilih Ning Syifa, seorang gadis yang jelas-jelas terhormat dan salehah. Aku nggak sempurna, Ram. Aku punya banyak kekurangan."

Rama mengulas senyum tipis. Tatapannya lurus ke arah halte bus yang dipenuhi pelajar berseragam SMA, seolah ia sedang memutar kembali memori lama.

"Aku nggak mencari kesempurnaan, Hawa. Karena aku pun bukan manusia tanpa cela. Kita hanyalah dua orang yang sama-sama ingin berproses menjadi lebih baik," jawabnya tenang, suaranya terdengar begitu tulus.

Hawa mengernyit, menoleh sekilas pada lelaki di sampingnya. Ada tanya yang tak terucap, namun seolah terbaca oleh Rama.

"Dulu, saat masih mengenakan seragam putih abu-abu, aku dikenal sebagai siswa badung," Rama menjeda kalimatnya, tersenyum getir mengenang masa lalu. "Aku akrab dengan tawuran, rokok, bahkan pernah menyentuh alkohol. Sampai akhirnya... kecelakaan hebat membuatku koma beberapa hari. Di titik itulah aku tersadar, bahwa hidup ini singkat dan kematian bisa datang tanpa permisi."

Rama menatap Hawa dengan binar yang sulit diartikan, namun hanya sekian detik. "Sejak itu, aku bertekad pulang ke jalan Tuhan. Dan tekad itu semakin menguat setelah kita bertemu lagi, Hawa. Aku ingin memantaskan diri, bukan hanya untuk menjadi laki-laki yang baik, tapi menjadi imam yang mampu membimbingmu menuju cahaya-Nya."

Hawa bergeming. Ia tak menyangka, Rama--sosok yang dikenalnya religius, memiliki masa lalu sekelam itu. Namun, fokusnya justru terkunci pada satu kalimat 'setelah kita bertemu lagi'.

"Apa kita... pernah bertemu sebelum menjadi bagian dari Lentera Bangsa?" tanya Hawa pelan, nyaris berbisik namun menuntut jawaban pasti.

Rama menoleh sekilas, senyumnya semakin lebar saat melihat ekspresi Hawa. "Pernah," jawabnya singkat, sengaja membuat Hawa kian terlilit rasa penasaran.

"Kapan?" kejar Hawa cepat.

"Coba ingat-ingat lagi, Wa. Masa kamu lupa?"

Hawa mendengus pelan, refleks memalingkan wajah untuk menyembunyikan kekesalan bercampur dengan rasa malu. Rama benar-benar tahu cara membuat pikirannya gaduh.

"Ram, jangan main teka-teki, deh. Aku serius," gerutunya.

Rama tertawa kecil. Suaranya terdengar renyah, beradu dengan semilir angin Malioboro. Ia sengaja membiarkan Hawa terjebak dalam labirin ingatannya sendiri, memaksanya menggali kembali kepingan masa lalu yang mungkin tertimbun jauh di sana.

"Ram, please... kasih tahu aku! Kapan kita pernah bertemu dan di mana?" pinta Hawa, suaranya naik satu nada karena rasa penasaran yang memuncak.

"Di suatu tempat. Dua belas tahun yang lalu," jawab Rama. Ia memberikan petunjuk itu dengan tenang, tetap pada pendiriannya untuk tidak mengungkap jawaban utuh.

Hawa terdiam seketika. Ia mencoba menarik paksa memorinya kembali ke masa dua belas tahun silam. Sesekali ia mencuri pandang ke arah wajah Rama, mencoba mencocokkan setiap gurat di sana dengan wajah teman-teman masa kecilnya. Namun, pahatan wajah itu terasa asing, sangat berbeda dengan bayangan masa lalu yang ia punya.

Hawa mengembuskan napas panjang. Untuk saat ini, ia menyerah. "Ram, jangan membuatku nggak bisa tidur seminggu karena memikirkan ini."

Rama terkekeh geli. Andai sudah halal, ingin sekali ia mencubit pipi Hawa yang nampak menggemaskan saat sedang merajuk begitu.

"Aku sengaja nggak memberitahumu sekarang, Wa. Aku ingin kamu semakin mengerti bahwa semua ini adalah kuasa Ilahi. Dia yang memisahkan kita untuk sementara, lalu memulangkan kita pada satu titik pertemuan di saat yang paling tepat."

"Dasar pelit!" gumam Hawa sambil memanyunkan bibir. Tingkahnya itu justru membuat Rama semakin gemas dan serasa ingin segera menghalalkannya. Menghujani dengan cinta dan berusaha membuat Hawa bahagia, hingga gadis yang dicintainya itu lupa pernah terluka.

Angin berembus pelan, memainkan ujung pasmina yang kini membungkus rikma Hawa dengan anggun. Ada rasa damai yang perlahan menyelinap masuk ke rongga hati. Menenangkan, meneduhkan. Seolah alam pun merestui langkah barunya hari ini.

"Sebentar lagi Ashar. Yuk, aku antar pulang?" ajak Rama sambil melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan.

Hawa mengangguk, mengindahkan ajakan itu. Keduanya bangkit, lalu berjalan beriringan menuju area parkir untuk menjemput kendaraan masing-masing.

Hawa mengendarai Scoopy miliknya, sementara Rama menunggangi Vespa Classic kesayangannya.

Di sepanjang jalan, Rama tetap setia mengiringi dari belakang dalam jarak yang sopan. Menjaga dan melindungi tanpa harus menyentuh, namun cukup untuk memberi rasa aman yang nyata bagi Hawa.

Saat berhenti di lampu merah, tiba-tiba Hawa teringat kembali petuah sang bunda mengenai kriteria memilih pasangan: bibit, bebet, dan bobot. Tiga kata sederhana yang memiliki tuntutan berat di baliknya.

Ia ragu untuk menyampaikannya pada Rama. Ada ketakutan jika kejujurannya justru akan mematahkan keyakinan lelaki bermata teduh itu. Hawa tidak ingin menjadi penyebab redupnya binar semangat di mata Rama, namun di sisi lain... restu orang tua adalah gerbang yang harus mereka lalui.

Dalam diamnya di atas motor, benaknya melangitkan pinta pada Sang Maha Cinta. Ia memohon agar Tuhan berkenan memudahkan langkah mereka, melunakkan hati yang keras, dan menyingkirkan segala aral yang melintang jika memang mereka ditakdirkan bersama dalam rida-Nya.

Lampu berganti hijau, Hawa kembali melajukan motornya--masih diiringi Rama.

Tak sampai lima belas menit, mereka tiba di depan gerbang sebuah hunian mewah yang selama ini menjadi tempat Hawa bertumbuh. Kemegahan bangunan itu seolah menjadi tembok pemisah yang nyata antara dunianya dan dunia Rama.

Ada keinginan kuat dalam hati Hawa untuk mengajak Rama mampir, sekadar menjamu sebagai bentuk terima kasih. Namun, akal sehatnya segera menepis niat itu. Ia tahu pasti, kedatangannya bersama Rama, akan memicu murka Ayah dan Bundanya.

"Ram, makasih ya buat hari ini," ucap Hawa tulus, matanya menatap Rama dengan binar yang sulit diartikan.

"Kembali kasih, Hawa," balas Rama. Sebuah lengkungan bibir yang menenangkan terukir di wajahnya, seolah ia mengerti pergolakan batin yang sedang Hawa alami.

Seusai mengucap salam, Rama menarik tuas gas Vespa-nya, perlahan menjauh dan meninggalkan Hawa yang masih mematung di depan gerbang.

Dalam hati, Rama memahat satu janji yang kokoh. Kelak, ia akan kembali ke rumah megah itu bukan sebagai tamu biasa, melainkan laki-laki yang datang untuk menghadap orang tua Hawa--menjemput restu dan meminang belahan jiwanya di bawah rida Sang Pencipta.

🍁🍁🍁

Bersambung

Terima kasih banyak untuk readers yang masih setia mengawal kisah 'Ramadan'S Promise', terlebih untuk Kakak-Kakak yang selalu meninggalkan jejak like, memberi gift atau vote, dan mengklik 'Ingatkan update'. Hal sederhana, tapi membuat authornya serasa dinantikan up-nya dan bersemangat melanjutkan kisah ini.

Kawal Ramadan dan Hawa sampai end ya. Love sekebon ❤️

1
Ririn Rira
Akhirnya, aku terharu bagian Damar sama Rama. Ternyata aku sudah banyak ketinggalan bab 🤭
Haura Az Zahra
👍
Masha 235
anggep aj iklan nggak laku wa😄
Masha 235
tertohok nggak tuh...niat hati pengen bikin hawa down..yg ada Mlah....
Masha 235
good job hawa/Good/
Masha 235
kalimat yg sangat halus untuk pakaian kurang bahan...😄
Najwa Aini
ngakak..waktu dipanggil Jendral
Najwa Aini
Seberapa persen perubahan garis wajah Dzaki kecil ke Dzaki dewasa ya..sampai teman akrabnya sendiri gak bisa mengenali
Ayuwidia: Ibarat kata, Dzaki kecil Item manis & sedikit pendek, besarnya glowing & tinggi kaya' genter. Kek suamiku 😆
total 1 replies
Najwa Aini
Suka. Gistara menerima Rama sebelum ia tahu siapa Rama sebenarnya. Jadi menerimanya itu terkesan ikhlas, bukan karena sesuatu..👍👍
Najwa Aini
Wahh Tor..Hawa lu buat kecelakaan
Najwa Aini
kalian kok cuma senyum..aku ketawa nihh😆
Najwa Aini
yaahhh bohong dikit napa, Ram..bilang mau nemuin Hawa sekalian gitu, biar dia senang
Najwa Aini
Suka banget di part ini. Hawa menginginkan keluarganya menerima Rama. karena seorang Rama. Bukan karena dia Dzaki...
Dan penasaran banget gimana reaksi Gistara saat tahu, Rama yang ditolak karena seorang pelayan, ternyata adalah Dzaki yg memang diharapkan jadi mantu..
ahaaaa..pasti nendang banget. sayang aku bacanya gak bisa kebut²an. harus nyicil kayak lagi bayar kreditan Bank Mekar...
Najwa Aini: Wahh iyaa..terkenal itu
total 2 replies
Haura Az Zahra
ditambah komedi tambah seru ceritanya thor
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak. Biar nggak tegang Mulu 😄🙏🏻
total 1 replies
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Ayuwidia: Makasih banget, Kak 🥰
total 1 replies
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Ayuwidia: Aku juga 🥺
total 1 replies
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
Ayuwidia: tanpa izin juga sama aku, Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!