Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Udara pagi di Singapura terasa sedikit lebih lembap dibandingkan Jakarta, namun semangat yang membara di National Stadium sudah terasa hingga ke tulang. Elvano Alvendra berdiri di tengah panggung megah yang masih dipenuhi kabel dan teknisi. Mengenakan kaus hitam polos dan celana kargo, ia tampak fokus memperhatikan setiap detail tata cahaya dan kejernihan audio.
“Cek, satu... dua,” ucap Elvano ke arah mikrofon. Suara baritonnya yang hangat dan dalam bergema di seluruh stadion yang masih kosong, namun auranya sudah cukup untuk membuat kru yang bertugas merinding.
“Vokal aman, El. Kita lanjut ke latihan transisi lagu kedua ke ketiga,” ujar Darian melalui ear monitor dengan nada profesional.
Selama tiga hari ke depan, energi Elvano benar-benar akan dikuras habis. Bukan hanya konser tunggal yang tiketnya ludes dalam hitungan menit, tapi juga jadwal wawancara eksklusif dengan majalah fashion ternama serta pemotretan di beberapa titik ikonik Singapura. Ia adalah mesin yang tidak boleh berhenti, namun di sela-sela gladi resik, matanya sempat melirik ponsel yang tergeletak di meja kru, berharap ada satu pesan masuk dari Jakarta.
**
Sementara itu, ribuan kilometer dari kemegahan stadion Singapura, suasana di Rumah Sakit Pusat Jakarta terasa jauh lebih membumi. dr. Selena Nayumi, Sp.GK, melangkah dengan anggun menyusuri lorong rumah sakit menuju area dapur gizi klinis. Mengenakan jas putih dokter yang rapi, ia membawa papan klip untuk mengecek menu diet pasien siang ini.
Begitu memasuki area dapur, telinga Selena menangkap percakapan seru dari beberapa staf gizi dan pramusaji yang sedang menyiapkan nampan makanan.
“Aduh, aku benar-benar iri sama Mbak Maya. Dia sore ini terbang ke Singapura cuma buat nonton Elvano!” seru salah satu staf muda dengan wajah penuh damba.
“Jangan ditanya lagi, aku saja kalau punya uang lebih pasti sudah di sana sekarang. Bayangkan, nonton Elvano nyanyi lagu ballad-nya secara langsung di stadion besar. Pasti magis banget!” sahut pramusaji lainnya sambil menata buah potong.
Selena hanya mendengar percakapan itu sambil tersenyum tipis. Ia sibuk memeriksa catatan kalori untuk pasien diabetes di bangsal melati, mencoba tetap fokus meski nama pria yang baru saja ia antar ke bandara semalam terus disebut-sebut.
“Dokter Selena, Dokter tidak ingin melihat konser Elvano juga? Maksud saya, Dokter kan masih muda, masa tidak tertarik sama sekali?” tanya salah satu karyawan dapur bernama Lastri, yang menyadari kehadiran Selena.
Selena mendongak, matanya berbinar jenaka. “Memangnya dia sehebat itu ya, Bu Lastri?” tanya Selena balik dengan nada menggoda.
“Aduh Dokter, dia itu tampan sekali! Bukan cuma tampan, suaranya itu lho, suci banget kedengarannya. Belum lagi aktingnya di film, selalu bikin nangis bombay,” jawab Lastri dengan semangat berapi-api.
“Dokter Selena fans-nya Elvano juga bukan? Atau jangan-jangan Dokter punya lagu favoritnya?” timpal staf lain yang ikut penasaran.
Selena menggelengkan kepalanya perlahan, rambut kuncir kudanya ikut bergoyang. “Sejujurnya, saya sama sekali tidak mengikuti perkembangan karirnya. Lagu-lagunya saja saya tidak tahu satu pun,” jawab Selena jujur.
Sebelum ia benar-benar mengenal Elvano karena perjodohan ini, Selena memang buta total tentang dunia hiburan. Baginya, waktu luang lebih berharga digunakan untuk riset menu gizi atau tidur daripada mengikuti gosip selebritas.
“Ya ampun, sayang sekali Dokter Selena tidak tahu tentang Elvano! Dia itu luar biasa, kebanggaan nasional kita!” seru Lastri dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
Selena terkekeh melihat reaksi mereka. “Baiklah, baiklah. Nanti sepulang kerja, saya akan coba mencari tahu tentang Elvano di internet. Siapa tahu saya jadi fans dadakan juga,” ujar Selena dengan nada bercanda yang langsung disambut tawa oleh orang-orang di dapur.
Selena kemudian pamit untuk melanjutkan visite ke kamar pasien. Namun, begitu ia sampai di ruangannya yang sepi, ia terduduk di kursi kerja dan menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya, lalu jarinya tanpa sadar mengetik nama 'Elvano Alvendra' di mesin pencari.
Ribuan artikel, foto, dan video muncul seketika. Selena terpaku melihat sebuah video klip Elvano yang sedang bernyanyi di atas panggung dengan piano. Ekspresi pria itu terlihat begitu kesepian namun indah, sangat berbeda dengan Elvano yang sering cengengesan meminta sarapan di rumahnya.
“Jadi ini sisi yang dilihat seluruh dunia darimu, El?” gumam Selena lirih pada layar ponselnya.
Jari Selena baru saja hendak menekan tombol pengunci layar saat sebuah notifikasi muncul di bagian atas. Nama kontak 'Tuan Bintang' muncul dengan sebuah kiriman gambar. Selena segera membukanya. Itu adalah foto selfie Elvano dari atas panggung National Stadium Singapura yang megah. Pria itu tampak mengenakan kaus latihan hitam, dengan latar belakang jajaran kru yang sedang sibuk dan pencahayaan panggung yang mulai disetel.
Caption di bawah foto itu tertulis singkat namun terasa hangat: "Baru saja selesai cek sound. Stadionnya sangat besar, tapi entah kenapa terasa sepi."
Selena tidak bisa menahan lengkungan senyum di bibirnya. Ia segera mengetik balasan dengan jemari yang lincah.
“Stadionnya sepi karena belum ada penontonnya, El. Semangat ya! Ingat, jangan sampai telat makan. Aku sudah mengecek jadwalmu, kegiatannya sangat padat setelah ini,” balas Selena cepat.
Hanya butuh beberapa detik sampai tanda centang biru berubah menjadi balasan baru.
“Tenang saja, Dokter Sunshine. Aku tidak akan telat makan karena aku membawa semua bekal cemilan dan makanan darimu. Nanti tinggal minta staf menghangatkannya saja,” tulis Elvano ditambah emoji senyum tipis. “Siang ini aku ada pemotretan majalah, lalu sore ada wawancara radio, dan malamnya langsung konser utama. Doakan aku tidak pingsan di panggung.”
Selena menggelengkan kepala, benar-benar tak menyangka jika jadwal seorang superstar global bisa sepadat itu. Ia merasa sedikit bersalah karena sempat menganggap pekerjaan Elvano hanya sekadar tampil tampan di depan kamera.
“Jangan bicara sembarangan! Kamu harus kuat. Semangat untuk kegiatannya hari ini, aku harus kembali visite pasien dulu,” balas Selena mengakhiri percakapan singkat itu.
“Siap, Dokter. Semangat juga untukmu,” tutup Elvano.
Sementara itu, di backstage National Stadium Singapura, suasana sangat kontras. Para penata busana, manajer, dan bodyguard berlalu lalang dengan wajah tegang. Namun, di sudut ruangan yang agak tenang, sang bintang utama justru sedang duduk di sofa panjang sambil menatap layar ponselnya.
Elvano senyum-senyum sendiri membaca balasan terakhir dari Selena. Aura dingin dan sulit ditebak yang biasanya menyelimuti dirinya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh binar mata yang lebih hidup.
Darian, yang sejak tadi berdiri di dekat meja konsumsi sambil memegang jadwal acara, memperhatikan tingkah bosnya itu dengan dahi berkerut. Ia melangkah mendekat dengan langkah pelan, mencoba mengintip apa yang membuat pria perfeksionis itu tampak begitu bahagia.
“Wah, pemandangan langka. Apa aku sedang melihat seorang Elvano Alvendra sedang jatuh cinta? Senyumanmu itu sangat berbeda, El. Terlihat lebih... tulus?” goda Darian dengan nada suara yang sengaja dikeraskan sedikit.
Mendengar suara Darian yang tiba-tiba, senyum di wajah Elvano langsung luntur seketika. Ia dengan cepat mematikan layar ponsel dan memasang kembali wajah dingin andalannya. Ia menatap Darian dengan tatapan datar yang mengintimidasi.
“Kau terlalu banyak bicara, Darian. Bukankah kau punya tugas untuk memastikan tim pemotretan sudah siap di lokasi selanjutnya?” ujar Elvano dengan nada suara yang tenang namun menusuk.
Darian justru semakin tertawa, ia tidak merasa takut karena sudah sangat mengenal tabiat sahabatnya ini.
“Ayo mengaku saja. Sejak berangkat semalam sampai cek sound tadi, kau terus-terusan mengecek ponsel. Dokter gizi itu benar-benar hebat ya, bisa membuat singa Zenithra jadi kucing penurut begini,” goda Darian lagi sambil menyenggol bahu Elvano.
Elvano langsung melemparkan tatapan tajamnya sebagai tanda peringatan terakhir. Aura absolutnya kembali terasa, membuat suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat.
“Jangan sampai satu kalimatmu lagi membuatku memotong bonus akhir tahunmu, Darian,” ancam Elvano dingin.
Darian langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, meski wajahnya masih menunjukkan senyum cengengesan.
“Baik, baik! Ampun, Bos! Aku pergi sekarang. Tapi ingat, simpan dulu senyum jatuh cintamu itu untuk di panggung nanti, oke?”
Setelah Darian keluar dari ruangan, Elvano kembali menyandarkan kepalanya. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia tidak tahu apakah ini benar-benar jatuh cinta, yang ia tahu hanyalah keberadaan Selena membuatnya merasa tidak lagi sendirian di puncak kesuksesan yang dingin ini.
***