NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUMPAH

Sinar asupan pagi yang semula lembut kini mulai terasa sedikit menyengat, menembus celah-celah rimbunnya dedaunan pohon peneduh di taman tersebut. Pantulan cahaya keemasan itu berkilauan di atas permukaan air kolam kecil di depan mereka, menciptakan pendaran hangat yang menepis kesan suram dari kompleks pemakaman yang baru saja mereka tinggalkan. ​Meskipun hari mulai merambat siang, angin pagi yang berembus sesekali masih menyisakan kesejukan yang menenangkan.

Naya duduk di bangku kayu taman, membiarkan kehangatan jam sepuluh pagi itu menerpa wajahnya yang masih sedikit sembap. Di bawah langit pagi yang kian terang, gaun floral yang dikenakannya tampak bersinar lembut, kontras dengan suasana hatinya yang perlahan mulai menemukan titik damai setelah badai tangis yang menguras energinya tadi.

"Ayah meninggal karena sakit sejak aku duduk di bangku SMP," jelas Naya pelan, pandangannya lurus menatap langit pagi yang kian terang, sebelum beralih memperhatikan riak air kolam yang bergerak tenang.

​Kata "aku" yang semula selalu Naya bentengi dengan kata "Ibu" seakan meluncur begitu saja tanpa beban, memotong dinding formalitas antara guru dan murid yang selama ini membatasi mereka. Ia seolah melepaskan jubah kedinasannya pagi ini, menyisakan dirinya yang utuh sebagai seorang wanita biasa yang tengah berbagi luka lama.

Sementara itu, ​Zaki, yang sejak tadi duduk dengan tenang di sebelahnya sambil menatap air kolam, langsung menoleh cepat. Pemuda itu tampak tertegun, sepasang matanya membelalak kecil tak menyangka dengan ucapan yang baru saja keluar dari bibir Naya. Ada riak keterkejutan yang jelas di wajahnya, bukan hanya karena cerita masa lalu Naya, melainkan karena perubahan panggilan tersebut. Sebuah tanda bahwa wanita itu mulai menurunkan pertahanannya, seakan membiarkan ia masuk ke dalam ruang pribadinya.

​"Dan, Ibu meninggal tepat sejak kali pertama aku berprofesi sebagai seorang guru," lanjut Naya, suaranya mendadak memberat, ada getaran getir yang begitu nyata di setiap jengkal kalimatnya. "Meninggal karena serangan jantung tiba-tiba."

​Naya membenamkan bibirnya rapat-rapat, sebuah gestur pertahanan diri yang mati-matian ia lakukan untuk menahan bendungan air mata yang kembali menggenang dan siap tumpah dari pelupuk matanya.

​"Saat itu... duniaku benar-benar runtuh, Zaki," tutur Naya lirih, jemarinya meremas kain gaunnya kian erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Mantan kekasihku selingkuh terang-terangan di depan mataku. Dan bodohnya, aku tetap memilih bertahan. Aku menghibur diri sendiri dengan alasan bahwa dia hanya sedang mencari yang terbaik. Aku berusaha keras, berdarah-darah memperjuangkan hubungan itu sendirian. Tapi, dia justru dengan jujur dan tanpa belas kasihan bilang kalau dia akan menikah dengan wanita pilihannya."

​Naya menarik napas pendek yang terdengar menyakitkan. "Dan, aku tak menyangka bahwa Ibu ternyata mendengar perbincangan kami hari itu. Ibu mendengar semuanya... lalu beliau drop dan meninggal pagi itu juga. Karena aku, Zaki. Karena kebodohanku mempertahankan laki-laki yang salah."

​Zaki menelan salivanya dengan berat. Tenggorokannya mendadak terasa kering dan tercekat mendengar untaian luka yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh gurunya itu. Ia memutar sedikit posisi duduknya, mulai menatap Naya lebih dalam, lebih lekat.

​Ada rasa iba dan empati yang teramat besar terpancar jelas dari sepasang mata teduh pemuda itu saat memandangi profil wajah Naya dari samping. Wanita yang selama ini selalu terlihat tegar, tegas, dan berwibawa di depan kelas itu, kini tampak begitu rapuh, kecil, dan dipenuhi memar tak kasat mata di bawah siraman cahaya matahari pagi.

​"Aku selalu mengingat nasihat salah satu guruku dulu, kalau mencintai seseorang itu jangan pernah seratus persen. Sisakan sedikit ruang di hati untuk mempersiapkan rasa kecewa," lanjut Naya, menyunggingkan senyum getir yang tampak begitu menyedihkan.

​Naya lalu menjeda kalimatnya, membiarkan embusan angin pagi menerpa wajahnya, seolah mencoba mendinginkan luka lama yang kembali menganga. ​"Tapi saat itu ego mudaku menolak. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, kalau suatu saat aku bisa merasakan seperti apa jika rasanya aku memiliki seorang kekasih dan aku berhasil merasa dicintai olehnya, aku akan menerima semua kekurangannya. Bahkan, aku bertekad untuk memaafkan setiap kekecewaan yang ia berikan padaku. Aku berpikir itulah arti ketulusan," tuturnya, suaranya bergetar menahan perih. "Tapi ternyata, idealisme bodoh itu justru membuatku sakit dan terluka sedalam ini."

​Naya mengembuskan napas panjang, tatapannya menerawang jauh menembus riak air kolam yang tak lagi tenang. ​"Kini aku baru sadar, Zaki. Alasan mengapa dalam sebuah hubungan sepasang kekasih itu sesekali merasa marah, kesal, atau protes, itu karena titik ego itu memang harus ada. Marah itu perlu agar pasangan bisa saling mengerti batasan, saling tahu apa yang menyakitkan. Sementara aku? Aku menelan semuanya sendirian demi terlihat sebagai pasangan yang sempurna."

​Sepasang bahu Naya merosot lesu, mencerminkan keletihan jiwa yang teramat sangat. "Tapi semua itu sudah terlanjur. Dan kepergian Ibu malam itu membuatku benar-benar hancur. Saat itu... rasanya sulit sekali bagiku untuk sekadar bangkit dan bernapas normal kembali."

​Zaki yang duduk di sebelahnya tetap setia menyimak, membiarkan setiap untaian kalimat pilu itu tumpah tanpa berniat menyela. Namun, tangannya yang berada di atas lutut diam-diam mengepal erat, ikut merasakan denyut rasa sakit dari setiap kata yang mengalir dari bibir Naya.

​"Dan yang paling menyedihkan... aku gak cuma sekali ditinggal nikah, Zaki. Bodoh banget, kan?"

​Naya tiba-tiba tertawa pahit, sebuah tawa kering yang terdengar sangat memilukan di bawah langit pagi yang cerah. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini benar-benar luruh, melewati pipinya yang memerah, namun ia tidak lagi berniat menghapusnya. ​"Semalam... setelah sekian lama, kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan sosok yang paling menghancurkanku? Tuhan mempertemukanku kembali dengan Tian. Pria yang dulu begitu aku harapkan selama tiga tahun, semalam dia datang, memamerkan dalam diam kebahagiaannya, dan menegaskan kalau dia sudah hidup bahagia bersama wanita lain."

​Naya mencengkeram dadanya yang mendadak terasa dihantam godam besar. Sesak itu kembali datang, sama hebatnya dengan rasa sakit yang ia rasakan semalam di bawah langit gelap yang sunyi.

​"Kenapa takdir harus sekejam ini sama aku, Zaki?" tanya Naya lirih, suaranya parau, beralih menatap Zaki dengan sepasang mata sembap yang dipenuhi kehancuran. "Kenapa di saat aku sudah bersusah payah menata serpihan hidupku selama beberapa tahun ini, dia harus datang lagi hanya untuk membuka luka lama? Apa aku memang gak pantas untuk bahagia?"

​Zaki tak langsung menjawab. Ia menelan salivanya dengan berat, membuat jakunnya tampak bergerak naik turun di tenggorokannya yang mendadak terasa sekaku batu. Sepasang matanya masih mengunci lekat wajah Naya, merekam setiap jengkal kerapuhan yang tersaji di depannya dengan perasaan yang berkecamuk hebat, sebuah perpaduan yang pekat antara rasa iba yang mendalam dan empati yang menghunjam dada.

​Melihat bahu Naya yang berguncang hebat dan tubuhnya yang perlahan luruh kehilangan kekuatan, pertahanan Zaki pun ikut runtuh. Segala sekat formalitas, batasan usia, dan status guru dan murid di antara mereka seolah menguap begitu saja ke udara. ​

Tanpa sadar, digerakkan oleh dorongan alamiah untuk melindungi, lengan kokoh Zaki terangkat. Ia memajukan tubuhnya, lalu dengan satu gerakan lembut namun mantap, ia mendekap tubuh Naya, membawa wanita itu masuk ke dalam kehangatan pelukannya.

​Naya tersentak kecil, namun tubuhnya yang teramat lelah tidak menolak. Kepalanya bersandar pasrah di dada bidang Zaki, tepat di mana detak jantung pemuda itu berdegup konstan dan menenangkan.

Dan di saat itulah, di balik keheningan taman yang sunyi, wanita yang seharusnya Zaki hormati dan segani di sekolah, kini menangis sejadi-jadinya, menumpahkan seluruh sisa beban hidupnya di dalam dekapan erat dirinya.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!