NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Lolongan dari Balik Bunker Beton

Pendaran cahaya biru safir yang sempat membuatku terpesona beberapa menit lalu lenyap tanpa sisa. Air rawa kembali menjadi gulita, sewarna jelaga mati yang dingin. Namun, hilangnya keajaiban magis itu bukan bagian paling buruk dari perjalanan malam ini. Perlahan, labirin bakau yang rimbun mulai berganti rupa menjadi pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.

Perahu dayung kayu milik Mbah Jarot melaju pelan, menyelinap di antara rongsokan raksasa yang amblas ke dalam lumpur rawa. Di kanan dan kiri kami, belasan kontainer tua yang ringsek teronggok mengenaskan seperti bangkai raksasa yang sengaja dibuang. Tulisan logo Baron Logistics yang memudar hampir tertutup karat cokelat kemerahan terlihat samar di bawah temaram rembulan. Akar-akar bakau di area ini tidak lagi kelabu sehat, melainkan hitam legam, mati, dan mengering akibat terendam air rawa yang berminyak keunguan.

"Ugh..." Aku refleks menutup hidung dan mulut menggunakan punggung tangan kanan.

Bau belerang yang sangat pekat dan asam mendadak menyeruak bebas, menyengat rongga dadaku hingga memicu rasa mual yang hebat di pangkal tenggorokan. Ini bukan lagi bau alami hutan mati. Ini bau limbah industri, jenis zat kimia keras yang biasa digunakan untuk membersihkan lambung kapal kargo di dok pelabuhan rahasia.

Udara di sekitar kami terasa berangsur panas, pengap, dan berlendir saat menempel di kulit wajahku.

"Tahan napasmu sedikit, Lara. Kita masuk wilayah buangan Sektor Timur," bisik Mbah Jarot tanpa menoleh. Nelayan tua itu tetap fokus, mengayunkan dayung kayunya dengan gerakan sehalus mungkin agar tidak menimbulkan riak air yang kentara.

Aku menatap Kala yang duduk di depanku. Cowok berpupil vertikal itu kelihatan sangat terganggu.

Rahangnya mengencang keras, dan hidungnya kembang-kempis mencoba menyaring udara beracun yang merusak indra penciumannya yang tajam. Beberapa sisik keperakan di pelipis matanya tampak sedikit meredup, bereaksi negatif terhadap hawa asam di tempat ini.

Groarrr-aaaaauuuuunggghhh!

Sebuah suara memecah kesunyian malam dengan begitu tiba-tiba. Itu adalah suara lolongan yang sangat mengerikan, menggema dari arah gundukan bakau mati di sebelah kanan kami.

Suara itu begitu tebal, bergetar rendah hingga membuat papan lantai perahu kayu yang kududuki ikut bergetar samar. Namun, itu bukan suara harimau sumatera atau buaya muara yang sedang kelaparan. Ada nada lengkingan yang ganjil, sesuatu yang terdengar seperti jeritan putus asa yang sarat akan penderitaan lahir batin.

Klang! Kleng! Sreeettt...

Lolongan panjang itu langsung disusul oleh bunyi seretan rantai besi raksasa yang berdentang kasar, beradu dengan permukaan dinding yang masif.

Tubuhku mendadak kaku. Rasa takut primitif yang belum pernah kurasakan seumur hidup—bahkan saat diancam parang oleh preman dermaga sekalipun—kini mencengkeram tengkukku. Aku menajamkan pandangan menembus kabut tipis dan melihat sebuah struktur bangunan tersembunyi di balik jalinan akar mati. Sebuah bunker beton bawah tanah yang masif, kokoh, dan dingin, dengan pintu baja hidrolik yang tertutup rapat. Dari sanalah sumber suara mengerikan itu berasal.

"Suara... suara apa itu, Mbah?" tanyaku dengan bibir bergetar, nyaris berupa bisikan lirih karena takut mahluk di dalam sana bisa mendengar suaraku.

Mbah Jarot tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan pegangannya pada gagang dayung, wajah tuanya tampak semakin berkerut dalam di bawah kegelapan malam.

Namun, reaksi Kala jauh lebih mengejutkan.

Cowok itu mendadak setengah bangkit dari posisi duduknya. Insting liarnya tampak menegang penuh. Tangan besarnya yang kekar langsung mencengkeram erat tepi perahu kayu milik Mbah Jarot. Dia mencengkeramnya begitu kuat hingga terdengar suara krek yang tajam—kayu lapuk perahu itu retak di bawah tekanan jari-jarinya.

"Kala, tenang! Kau bisa membuat perahu ini karam!" seruku panik, buru-buru memegang lengannya yang terasa sedingin es.

Kala tidak bergeming. Sepasang mata emasnya berkilat menyala, menatap lurus ke arah dinding bunker beton dengan sorot yang dipenuhi kemarahan besar sekaligus luka lama yang mendalam. Napasnya memburu kasar, mengeluarkan uap tipis yang berbau sedingin salju di tengah udara rawa yang panas berlimbah.

"Mereka... menyiksa kaumku lagi," desis Kala dengan suara yang sangat rendah, bergetar menahan amarah yang nyaris meledak. Jemarinya semakin dalam menusuk kayu perahu yang retak.

"Kaummu? Di dalam sana?" Aku merinding mendengarnya.

Kala menoleh sedikit ke arahku, memperlihatkan gumpalan emosi yang pekat di dalam matanya.

"Itu adalah mahluk dari sisa eksperimen yang gagal, Lara. Jiwa-jiwa yang dipaksa berubah sebelum waktunya. Baron... bajingan tua itu mengurung dan menyiksa mereka di bawah tanah demi memeras darah mereka. Dia mencari ekstrak keabadian, ramuan rahasia untuk menyembuhkan tubuh ringkihnya yang hampir membusuk oleh penyakit."

Aku tertegun, separuh jiwaku menolak mempercayai kekejaman yang baru saja diucapkan Kala. Selama ini, di mata anak-anak pelabuhan dan para kurir harian seperti aku, Tuan Baron hanyalah seorang taipan logistik raksasa yang gila kerja, pemilik ribuan armada truk dan kapal yang menguasai hajat hidup ekonomi Tanjungbalai. Kami tahu dia kejam soal potongan gaji dan denda paket yang terlambat, tapi kami tidak pernah membayangkan kalau di balik kursi roda elektroniknya yang mewah, dia menyembunyikan laboratorium iblis yang merusak tatanan alam rawa ini.

Skala bahaya yang kini ada di hadapanku mendadak terasa berkali-kali lipat lebih besar. Ini bukan lagi sekadar urusan menyelamatkan paket selundupan bernilai tinggi demi membayar tunggakan uang kosan nomor empat milikku. Ini adalah lingkaran hitam yang bisa menelan nyawaku kapan saja tanpa ada yang tahu. Jika pasukan Baron berhasil menangkap kami, nasib Kala—atau bahkan nasibku sendiri karena memiliki tato aneh ini—mungkin akan berakhir tragis di dalam ruang gelap bunker beton itu, menjadi bahan uji coba yang dirantai sampai mati.

Clang!

Lolongan itu terdengar sekali lagi, kini lebih lirih, berganti menjadi rintihan lemah yang perlahan tersamarkan oleh deru mesin genset berkekuatan besar dari dalam bunker.

"Duduk, Bocah Sisik!" gertak Mbah Jarot dengan nada ketus yang tertahan, matanya melirik tajam ke arah Kala. "Kalau kau mengamuk di sini dan memancing perhatian penjaga gardu atas, pengorbananku membawa kalian lewat jalur tikus ini akan sia-sia! Pikirkan gadis kurir di sebelahmu!"

Kalimat Mbah Jarot seperti sebuah hantaman godam yang menyadarkan Kala. Cowok bermata emas itu menatapku, melihat jemariku yang bergetar saat memegang lengan jaketnya.

Perlahan, cengkeraman tangannya di tepi perahu melonggar, meninggalkan bekas retakan yang cukup dalam pada bilah kayu lapuk tersebut. Dia kembali menurunkan tubuhnya, duduk meringkuk bersandar pada dinding perahu, mencoba meredam gejolak amarah yang membakar dadanya.

Mbah Jarot segera mempercepat kayuhan dayungnya. Gerakannya kini lebih bertenaga, mendorong perahu kayu kami bergerak lebih cepat meninggalkan area pembuangan kontainer tua yang penuh bau belerang itu.

Kabut putih tebal mulai turun, perlahan menyelimuti permukaan rawa dan menyembunyikan bentuk bunker beton milik Baron dari pandangan kami. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara kecipak air yang konstan. Namun, ketenangan itu terasa palsu. Sisa suara rintihan mahluk dan dentang rantai besi di dalam bunker tadi masih terus berdenging di dalam telingaku, menciptakan firasat buruk yang teramat sangat. Di dalam kegelapan kabut yang pekat ini, aku merasa seolah-olah ada ribuan pasang mata tak terlihat yang sedang mengawasi setiap jengkal pergerakan perahu kami dari balik rimbunnya pohon nipah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!