Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tekanan dari Atas
Pagi itu langit Jakarta masih kelabu.
Ardi bangun lebih awal dari biasanya. Maya masih tidur di sampingnya, rambut berantakan di atas bantal, napas teratur. Dia menatap wajah itu sebentar—tenang, bebas kerutan, bebas rasa bersalah setidaknya untuk beberapa jam. Lalu turun, berjalan ke kamar mandi.
Air dingin membasahi wajah. Di cermin, bayangannya sendiri masih asing. Mata sembab, dagu kasar, lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan. Bekas semalam masih terasa—Sari yang mulai curiga, suaranya yang patah saat bertanya, pintu apartemen yang tertutup rapat.
Dia berpakaian rapi. Kemeja putih, dasi biru tua, jas hitam. Wajah CEO. Tapi matanya tidak bisa berbohong.
---
Di meja makan, Yuni sudah menyiapkan sarapan. Nasi, telur, sayur, kopi hitam. Ardi duduk, mengambil cangkir, menyesap. Pahit. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya.
Maya turun beberapa menit kemudian. Wajah pucat, tapi senyum sudah tersusun rapi.
“Pagi,” katanya.
“Pagi.”
Yuni meletakkan piring di depan Maya, kembali ke dapur. Tidak ada yang bicara. Suara sendok dan garpu, suara kopi dituang, suara napas yang sengaja dibuat normal.
“Kamu ke kantor?” tanya Maya.
“Iya.”
Maya mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut.
Ardi berdiri, meraih jaket. Di pintu, dia berhenti.
“Aku pulang sore.”
Maya tersenyum. “Hati-hati.”
---
Perjalanan ke kantor terasa lebih panjang dari biasanya.
Ardi menyetir pelan. Setiap lampu merah, dia menatap ponsel di dashboard. Satu pesan dari Sari semalam yang belum dibalas: Di, kamu baik-baik saja? Aku khawatir. Satu pesan dari Bram: Aku di ruang rapat.
Dia membayangkan ayahnya duduk di ujung meja panjang dengan dokumen-dokumen yang sudah disiapkan. Angka-angka yang dulu dia kuasai. Hari ini terasa asing.
Lampu hijau. Klakson dari belakang. Ardi menginjak gas.
---
Di kantor, suasana berbeda.
Resepsionis yang biasa tersenyum menunduk ketika Ardi lewat. Beberapa karyawan berbisik di lorong, berhenti saat melihatnya, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan. Di lift, seorang manajer muda berdiri di sudut, tidak berani menatap.
Lift berhenti di lantai 38. Ardi keluar, menyusuri koridor panjang menuju ruang rapat. Asisten pribadi Bram berdiri di depan pintu dengan wajah tegang.
“Pak Bram menunggu.”
Ardi mengangguk, membuka pintu.
---
Bram duduk di ujung meja panjang, sendirian. Laptop terbuka, dokumen berserakan. Dia tidak menatap Ardi ketika pintu terbuka. Matanya tertuju ke layar, jari mengetik pelan.
“Tutup pintunya.”
Ardi menutup pintu, berdiri di depan meja.
Bram mengangkat wajah. Mata tajam, tidak marah. Waspada. Seperti sedang menghitung.
“Duduk.”
Ardi duduk di seberang.
Bram mendorong beberapa lembar kertas ke hadapannya. “Laporan penjualan kuartal ini.”
Ardi membaca sekilas. Penjualan turun tujuh persen. Proyek dengan investor asing molor dua minggu. Biaya operasional membengkak.
“Aku akan perbaiki.”
“Kau bilang itu bulan lalu.” Bram mencondongkan tubuh. “Dua bulan lalu. Yang ada, kau sering absen. Pulang lebih cepat dari biasanya. Asistenmu harus berbohong tentang jadwalmu.”
Ardi mengepalkan tangan di bawah meja. Rudy. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Rudy. Dia yang membuat Rudy berbohong.
“Aku minta maaf.”
“Maaf tidak akan menaikkan penjualan.” Bram menyandarkan tubuh. “Dewan komisaris mulai bertanya, Ardi. Mereka ingin tahu kenapa performa perusahaan menurun. Aku harus memberi jawaban.”
“Aku akan fokus.”
Bram menatapnya lama. “Kau yakin?”
Ardi mengangkat wajah. “Ya.”
Bram menghela napas, berjalan ke jendela kaca, membelakangi Ardi. Di luar, langit mulai terang, tapi awan kelabu masih menggantung rendah.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini. Tapi aku tahu ada sesuatu.”
Ardi diam.
“Aku tidak akan ikut campur urusan pribadimu. Tapi kalau urusan pribadi mulai mengganggu perusahaan—itu urusanku.”
Dia berbalik, menatap Ardi. “Aku tidak akan mencopotmu. Belum. Tapi aku akan mengawasi. Setiap keputusan, setiap rapat, setiap laporan. Sampai aku yakin kau bisa fokus lagi.”
Ardi merasakan dadanya sesak. “Aku mengerti.”
“Kembali bekerja.” Bram menunjuk pintu. “Dan Ardi—apa pun masalahmu, selesaikan. Cepat.”
Ardi mengangguk, berjalan ke pintu. Di ambang, dia berhenti tanpa menoleh.
“Ayah.”
“Ya?”
“Aku akan perbaiki.”
Pintu tertutup.
---
Di koridor, Ardi berdiri sebentar, menatap pintu ruang rapat yang baru saja dia tutup. Dadanya terasa berat. Bukan karena ancaman Bram, tapi karena dia tahu ayahnya benar. Berbulan-bulan dia lebih memilih Maya daripada perusahaan. Lebih memilih bersembunyi daripada bertanggung jawab.
Dia berjalan ke ruang kerjanya, duduk, menatap tumpukan dokumen. Laporan belum ditandatangani. Proyek molor. Email dari investor menunggu jawaban.
Ponsel bergetar.
Maya: Kamu tadi buru-buru. Semua baik-baik saja?
Ardi menatap layar. Baik. Cuma kerjaan.
Maya: Aku masak makan malam. Pulang cepat.
Ardi tidak membalas. Meletakkan ponsel, mengambil dokumen pertama.
---
Jam menunjukkan pukul dua belas ketika Ardi menyadari belum makan siang.
Perut kosong, tapi tidak lapar. Mata lelah, tapi tidak bisa berhenti. Angka-angka mulai kabur, tapi dia memaksakan diri.
Ponsel bergetar. Sari.
Di, kamu belum balas pesanku semalam. Aku cuma ingin tahu kamu baik-baik saja.
Ardi membaca, lalu meletakkan ponsel. Tidak membalas.
Pesan lain masuk. Masih dari Sari.
Aku tahu kamu sibuk. Tapi jangan diem aja. Aku khawatir.
Dia menatap layar. Jari di atas kolom balasan, mengetik baik-baik saja, lalu menghapus. Mengetik maaf, lalu menghapus lagi. Tidak ada kalimat yang benar.
Dia mematikan ponsel, memasukkannya ke saku.
---
Pukul empat sore, Ardi menyelesaikan rapat dengan tim marketing.
Dia berjalan ke ruang kerjanya, melepas jas, duduk dengan tubuh berat. Dokumen yang sudah ditandatangani tersusun rapi. Tapi di kepalanya, semuanya kacau.
Bram mengawasi. Dewan komisaris bertanya. Sari masih mengirim pesan. Maya menunggu di rumah.
Yuni di rumah itu, diam-diam mengawasi.
Ponsel bergetar. Bukan Maya. Bukan Sari. Bram.
Besok rapat jam 9. Persiapan proposal investor asing. Aku mau lihat sejauh mana progresnya.
Ardi membalas: Baik.
Dia menyandarkan tubuh, menatap langit-langit. Di luar, matahari mulai tenggelam.
---
Ardi tiba pukul tujuh malam.
Lampu dapur menyala. Dia masuk lewat pintu belakang, melepas jaket, menggantungnya.
Maya sedang mengaduk sayur di panci. Wajahnya berubah saat melihat Ardi—dari konsentrasi menjadi lega.
“Kamu pulang.”
“Aku pulang.”
Maya meletakkan sendok, berjalan mendekat, menatap Ardi dari dekat. “Kamu kelihatan lelah.”
“Aku lelah.”
Maya mengangkat tangan, menyentuh kemeja Ardi di dada, merapikan kerah yang sudah rapi. “Ada apa? Bram marah?”
“Dia mengawasi. Dewan komisaris mulai bertanya.” Ardi menangkap tangannya, menggenggam pelan. “Aku harus fokus.”
Maya mengangguk, melepaskan tangan, kembali ke kompor. “Makan dulu. Nanti dingin.”
Mereka makan berdua di meja dapur. Sederhana. Tapi setelah hari yang berat, duduk di sini, makan bersama Maya, terasa seperti satu-satunya hal yang benar.
Yuni muncul dari kamar, pamit pulang. Matanya menatap mereka sekilas—bukan hormat, bukan marah. Netral.
“Selamat malam, Bu. Pak.”
“Selamat malam, Yuk,” jawab Maya.
Pintu tertutup. Rumah sunyi.
---
Setelah makan, Maya mengumpulkan piring. Ardi menatap punggungnya di depan wastafel.
“Maya.”
“Hm?”
“Aku tidak bisa terus begini.”
Maya berhenti. Perlahan menutup keran, mengeringkan tangan, berbalik. Wajah tenang—terlalu tenang. Tapi mata berbicara.
“Apa maksudmu?”
Ardi berdiri, berjalan mendekat. “Aku harus fokus pada perusahaan. Bram mulai curiga. Dewan komisaris mulai bertanya. Kalau aku terus seperti ini, aku akan kehilangan segalanya.”
Maya menunduk, jari memilin ujung rok. “Kau mau berhenti?”
Ardi meraih tangannya. “Aku tidak mau kehilangan kamu. Tapi aku juga tidak mau kehilangan perusahaan.”
Maya mengangkat wajah. Mata basah. “Kau tidak bisa punya dua-duanya, Ardi. Kau harus memilih.”
Ardi terdiam.
Maya melepaskan tangannya, mundur selangkah. “Aku sudah bilang, aku tidak akan menunggu selamanya.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga tidak bisa pergi.” Suara pelan. “Aku tidak tahu harus ke mana.”
Ardi mendekat, menarik Maya ke dalam pelukan. Tubuh dingin. Tidak gemetar, tapi juga tidak hangat.
“Kita cari jalan,” bisiknya.
“Mencari jalan?” Maya tertawa pahit. “Kita sudah mencari, Ardi. Dan kita selalu berakhir di sini.”
Ardi tidak menjawab.
“Aku takut,” bisik Maya.
“Aku juga.”
“Apa yang akan terjadi kalau suatu hari Bram tahu? Kalau semua orang tahu?”
Ardi tidak menjawab.
Maya melepaskan pelukan, menatap Ardi. “Besok, kau pergi ke kantor. Fokus pada pekerjaan. Jangan pikirkan aku.”
“Maya—”
“Aku tidak akan pergi.” Suara tegas. “Tapi aku juga tidak akan menunggu selamanya. Kau harus putuskan, Ardi. Cepat atau lambat.”
Dia berjalan ke lorong, menaiki tangga. Di anak tangga pertama, berhenti tanpa menoleh.
“Selamat malam, Ardi.”
Ardi berdiri di dapur, menatap tangga kosong, mendengar langkah kaki Maya yang perlahan menjauh.
---
Di ruang keluarga, Ardi duduk sendirian.
Ponsel bergetar. Bram: Jangan lupa rapat jam 9 besok. Aku tunggu.
Ardi membalas: Baik.
Pesan dari Sari: Di, aku tahu kamu mungkin butuh waktu. Tapi aku di sini kalau kamu butuh bicara.
Ardi menatap layar, jari di atas kolom balasan. Tidak membalas.
Pesan terakhir. Dari Maya, dikirim beberapa menit lalu.
Aku sayang kamu. Tapi aku lelah.
Ardi membaca sekali, dua kali, tiga kali. Jari gemetar.
Dia mengetik: Aku juga sayang kamu.
Lalu mengirim.
Dia meletakkan ponsel di meja kopi. Di luar, hujan mulai turun. Gerimis tipis membasahi jendela, membuat lampu kota terlihat buram.
Ardi menatap tangannya yang kosong. Untuk pertama kalinya hari ini, dia bertanya: apa yang lebih penting? Perusahaan yang dibangun ayahnya, atau Maya yang membuatnya merasa hidup?
Dia tidak tahu jawabannya.
Tapi dia tahu, besok dia harus memilih. Cepat atau lambat.