NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02

Rumah itu terlalu sunyi untuk ukurannya yang begitu megah. Kanaya berdiri ragu diambang pintu, menatap interior rumah yang lebih tepat disebut galeri seni daripada sebuah rumah.

 Langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal, dinding yang berwarna putih dan lantai marmer yang begitu mengilap hingga memantulkan bayangannya sendiri yang terasa seperti orang asing.

Langkah kakinya begitu berat ketika dia menapaki setiap ubin lantai yang seakan-akan menghakimi kehadirannya dirumah itu. Tidak, di istana itu. Seolah rumah itu ingin mengatakan bahwa kehadirannya dirumah itu sungguh tidak layak.

Kala berjalan lebih dahulu, jasnya sudah ia lepas, tangan kirinya menyelipkan ponselnya ke saku celananya, dan tanpa menoleh, ia berkata datar.

"Kamar kamu dilantai dua, sebelah kanan, mbak sri akan membantu kamu nanti"

Tidak ada "selamat datang", tidak ada senyum, hanya suara langkahnya yang menjauh menghilang dibalik lorong menuju ruang kerja.

Dunia kala, pikir kanaya dipisahkan oleh batas tak terlihat, dingin, disiplin dan tidak tersentuh.

Tak lama seorang wanita paruh baya menghampiri kanaya dengan senyum ramahnya menyapa dirinya yang masih berdiri termangu.

"Mbak kanaya, saya sri, yuk saya antar kekamar" ujarnya lembut dengan senyum yang masih terpatri diwajahnya.

Kanaya mengangguk mencoba membalas senyum ramah itu meski ia tahu senyumnya akan kelihatan sangat canggung. Perlahan melangkah kanaya mengikuti langkah susi menuju kelantai dua, kamarnya.

Malam perlahan turun, langit gelap tanpa bintang, dan rintik hujan pun mulai reda, angin sepoi-sepoi berhembus lembut dari jendela yang masih kanaya biarkan terbuka.

Dia duduk didekat jendela, memeluk bantal kecil, hanya ditemani temaram lampu dari meja samping tempat tidur.

Pintu kamarnya diketuk sekali, tidak keras, tapi cukup membuat jantung kanaya melonjak.

Kala..

Ia berdiri, ragu-ragu membuka.

Laki-laki itu berdiri disana, masih dalam pakaian kantor, dasinya sudah longgar, wajahnya letih, tapi tetap tenang.

"Aku cuma mau bilang, kalau kamu butuh sesuatu kamu langsung bilang ke mbak sri, aku jarang dirumah" ucapan itu singkat, hampir seperti catatan disebuah memo tempel kulkas.

Kanaya hanya mengangguk pelan "iya"

Kala hendak pergi tapi dia berhenti sejenak, menoleh sekilas, tanpa memutar tubuhnya.

"Terima kasih......sudah mau menjalani ini"

Sesaat kanaya terperangah, sungguh dia tidak menyangka akan mendengarkan kata-kata yang cukup manis, mengingat kepribadian kala yang begitu dingin.

Setelah kala pergi, kanaya masih berdiri mematung diambang pintu. Dalam diam, hati kanaya masih bergema kalimat tadi. Ia tahu, kala tidak mencintainya. Bahkan mungkin tidak melihatnya sebagai apapun selain bagian dari kesepakatan. Tapi dari jarak itu, dari suara dingin itu, Kanaya justru merasa ingin mengenalnya lebih jauh.

Ia menyentuh jendela yang berembun, menatap bayangannya sendiri yang tertangkap samar di kaca, kanaya menatap pantulan bayangannya sendiri dengan sendu.

"Apakah aku mampu?" Gumamnya pilu dalam keheningan malam yang semakin dingin.

Pagi datang tanpa sambutan hangat. Matahari malu-malu menyusup lewat tirai tipis, seolah tahu bahwa rumah itu belum siap menerima cahaya.

Kanaya bangun lebih awal, mungkin karena ia belum terbiasa oleh empuknya kasur itu, atau mungkin karena pikirannya masih dipenuhi oleh beribu pertanyaan, yang masih menggayuti pikirannya.

Ia berjalan perlahan keluar kamar, langkahnya ringan, hampir tanpa suara. Koridor di lantai dua, panjang dan sepi, dindingnya dihiasi lukisan abstrak yang tak ia mengerti.

Diujung lorong, sebuah pintu kamar terbuka sedikit. Tak terkunci, rasa penasaran membawa kanaya sampai ke ambang pintu, dia menjenguk ke dalam.

Ruangan itu berbeda dengan ruangan lain. Tidak rapi, tidak sama dengan ruang -ruang lain yang sangat rapi nyaris steril.  Ada tumpukan buku di meja, ada lukisan setengah jadi tergeletak di sudut ruangan, dan piano tua yang terletak ditengah ruangan. Aroma kayu dan kopi dingin memenuhi udara di ruangan tersebut.

Pelan- pelan kanaya melangkah, seakan takut langkahnya akan merusak kenangan yang ada di dalam ruangan itu.

Di meja dekat jendela, dia melihat sebuah foto dengan bingkai emas, foto seorang gadis muda menatap dengan senyum cerah dan mata berbinar, wajahnya lembut penuh kehangatan yang terasa kontras dengan segala sesuatu tentang kala.

Tangan kanaya menyentuh bingkai itu, jari-jarinya bergetar.

"Siapa dia" hatinya bertanya, tapi mulutnya tetap diam.

"Aku tidak suka jika barang pribadiku disentuh orang lain"

Suaranya datar, tapi cukup membuat kanaya tersentak dan berbalik, Kala berdiri di mulut pintu dengan pakaian kerja yang belum sepenuhnya terkancing rapi.

"Maaf..." ucap kanaya cepat, menunduk dan mengenggam jarinya erat.

Kala menatap ruangan itu sejenak, lalu masuk dan mengambil foto berbingkai emas itu dari atas meja, memandang foto itu sesaat namun cukup intens, sebelum meletakan kembali foto itu ke rak paling atas. Di luar jangkauan.

"Kalau tidak ada keperluan, jangan masuk keruangan ini lagi" ucapnya tanpa nada marah, tapi juga tanpa ruang untuk protes.

Kanaya hanya bisa mengangguk, walaupun ada tanya yang ingin sekali ia ajukan.

Kala berjalan keluar ruangan, tanpa mengajak atau memerintahkan kanaya untuk keluar dari ruangan itu, membuat kanaya jadi merasa serba salah, perlahan ia pun melangkah mengikuti kala keluar dan menarik pintu itu perlahan, menutup.

Hari itu kanaya duduk lama ditaman belakang, dia menyadari bahwa ruangan yang ia tidak boleh masuk dengan bebas itu, adalah sumber dinginnya sikap kala. Kanaya merasa kamar itu memiliki banyak cerita sedih di dalamnya.

Sore itu hujan turun lagi.

Kanaya menatap rintik-rintik hujan dari balik jendela kaca di dapur, aliran air hujan di kaca jendela meliuk-liuk diterpa angin dingin yang lumayan kencang berhembus.

Kanaya mulai memahami ritme di rumah ini, sunyi di pagi hari, sepi di siang hari dan dingin di malam hari, bahkan suara jam dinding pun terdengar terlalu keras.

Ia membantu mbak sri menyapu lantai meski sampai ditegur oleh asisten rumah yang baik hati itu.

"Ndak usah mbak kanaya, itu bukan tugas mbak, mbak kanaya itu istri mas kala."

Kanaya hanya tersenyum,

" ndak apa mbak, saya lebih nyaman begini"

Selesai membantu mbak sri di dapur, kanaya berjalan melewati ruang tengah dan melihat  pintu ruang kerja kala terbuka sedikit, cahaya dari laptop memantul ke dinding. Dalam keremangan, kanaya bisa melihat kala bersandar di kursi, satu tangannya menutupi matanya. Ia terlihat letih dan lelah

Untuk pertama kalinya kanaya melihat kala bukan sebagai pria dingin berjas mahal, tetapi sebagai manusia biasa yang mungkin terlalu sering berpura-pura kuat.

Ia hampir mengetuk pintu, sekedar bertanya kira-kira apakah kala membutuhkan sesuatu, tapi kemudian kanaya sadar dan mundur perlahan, ada bagian dari bahasa tubuh kala menunjukkan bahwa ia tidak ingin di ganggu.

Kanaya memasuki kamarnya, menutup pintu dan mematikan lampu, dan kemudian menyalakan lampu tidur yang ada di meja samping tempat tidurnya. Tapi sebelum dia menarik selimut ke seluruh tubuhnya dia melihat sebuah memo tergeletak diatas meja. Tulisannya rapi dan singkat :

      Besok malam, makan malam keluarga.

      Bersiaplah, jangan telat.

      -k-

Hatinya berdebar, ini pertama kalinya kala mengajak dia menghadiri acara yang bersifat publik.

Hati kanaya berdebar sendu, mereka tidak pernah tampil sebagai 'pasangan' , apakah ini bagian dari perjanjian kontrak yang sudah mereka sepakati, atau kala tulus mengajaknya, kanaya tahu bahwa ia tidak boleh berharap lebih, dan dia juga tahu bahwa dirinya tak boleh jatuh cinta.

Tapi tetap saja, sesuatu dalam hatinya berdebar tak keruan membuat kanaya gugup. Sambil mematut bayangannya di cermin, ia berdiri lama didepan cermin malam itu, mencoba memilih pakaian yang pantas, yang layak yang ia punya.

Matanya nanar menatap isi lemari, tak ada gaun indah di dalam lemarinya, hanya beberapa blouse sederhana dan satu baju terusan berwarna biru muda.

Saat ia mematut dirinya di depan cermin, bayangan kala melintas dalam benaknya, diam, jauh, mematung, tapi entah mengapa membuat jantungnya berdebar sendu. Ia membatin lirih

"Mungkin aku mulai menyukai dia, padahal aku tau aku tak boleh jatuh cinta padanya.....ohhh sakitnya ketika yang bisa kulakukan hanya menyukainya dalam diamku..."

Kanaya kembali keatas ranjangnya mengambil buku catatan hariannya dan mulai menulis perasaan dia hari ini.

Hari ke 4:

rumah ini terlalu besar untuk dua orang         asing yang tidak saling menyapa.Tapi ada sesuatu didalam rumah ini yang meminta aku untuk bertahan. Mungkin bukan rumahnya, tapi ada hati yang meminta pertolongan. Aku tak tahu apa aku sanggup, tapi untuk sekarang aku ingin tetap disini.

Bersambung......!

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!