Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 17
Sudah hampir tiga puluh menit Alyana terdiam, matanya menatap kosong ke arah depan.Di tangannya, hp masih ia genggam menampilkan sebuah layar yang telah berubah hitam.
Di luar kamar, seseorang terus mengetuk pintu dan sesekali memanggil nama Alyana namun sama sekali tak ada sahutan dari dalam.
Umma Zura menjadi khawatir dibuatnya, ia mencoba memutar gagang pintu dan ternyata pintu tidak terkunci.Pintu ia buka sedikit kemudian kepalanya menengok ke dalam.Alisnya mengerut saat melihat sang cucu yang nampak melamun.
"Mbak Aya." Panggilnya, namun tak ada jawaban.
"Neng,Umi boleh masuk?" Tanya nya namun masih tak ada jawaban membuat Umma Zura masuk pelan-pelan.
Ia mengusap pelan pundak sang cucu."Alyana.." Panggilnya membuat Alyana tersadar.
"Umi.." Lirihnya, tanpa sadar ia kembali melihat hp nya membuat Umma Zura ikut melihatnya.
Umma Zura melotot melihat sebuah foto yang jelas-jelas ia kenal."Apa itu foto suami kamu?"
"Alyana gak tau Umi."
Umma Zura mengerutkan kening. "Loh.Terus itu foto siapa? "
Alyana menggelengkan kepala, "Alya kurang yakin Mi. Ada nomor baru yang kirim foto ini ke Alya."
Umma Zura mengambil hp Alyana dan memeriksanya.Buru-buru Umi mencatat nomor tersebut, ia akan memberitahukan suaminya tentang ini.
"Umi.." Lirih Alyana dengan mata berkaca-kaca. "Umi apa ini editan?" Tanya nya dengan suara bergetar.
"Tenang dulu Neng, bisa jadi ini editan.Nanti biar Baba yang periksa"
Alyana mengangguk lemah.Pikirannya mendadak buntu.
"Umi..." panggilnya, "Kalau itu benar bagaimana?" Tanya nyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tenang dulu Nak, semua itu belum tentu."
"Tapi Mi, kalau benar terus Aya gimana?Kalau Ka Arka berkhianat dan lebih memilih wanita itu,Apa Ka Arka akan menceraikan Aya."
"Astaghfirullahalazim, istighfar Neng.Tidak baik membayangkan hal yang buruk.Itu sama saja kamu su'uzan." Ucap Umma Zura.
"Alyana sayang..dalam Islam,membayangkan atau berprasangka buruk tanpa dasar yang jelas atau su'uzan tidak dianjurkan karena dapat menjerumuskan pada dosa dan merusak hubungan antar sesama. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menjauhi kebanyakan prasangka,karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Rasulullah SAW juga mengingatkan agar menjauhi prasangka karena ia termasuk perkataan yang paling dusta. Oleh karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk berhusnuzan atau berprasangka baik, melakukan klarifikasi terlebih dahulu, dan menjaga hati dari pikiran negatif yang belum tentu benar."
"Wajar jika seorang istri merasa takut dan khawatir akan adanya pengkhianatan,karena itu bagian dari perasaan manusiawi. Namun rasa khawatir tersebut bukan berarti harus berubah menjadi su’uzan kepada suami tanpa bukti yang jelas. Dalam Islam, prasangka buruk tidak dianjurkan karena dapat merusak ketenangan hati dan keharmonisan rumah tangga. Sikap yang lebih baik adalah menjaga komunikasi yang terbuka, menumbuhkan kepercayaan, serta memperbanyak doa dan husnuzan agar hubungan tetap dilandasi rasa saling percaya dan ketenangan."
"Umi,Aya takut." Adunya. "Aya merasakan hal yang belum pernah Aya rasakan pada seorang laki-laki, tapi baru saja merasakan kenapa tiba-tiba harus berubah menjadi rasa sakit."
"Aya baru saja merasakan bahagia dan berdebar Mi.." Lirihnya
Umma Zura mengusap pelan kepala sang cucu. "Neng dengarkan Umi, perasaan adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dalam diri setiap hamba-Nya, baik itu rasa senang maupun sedih. Keduanya adalah tanda bahwa hati kita hidup dan mampu merasakan. Dalam Islam, perasaan bukan untuk disalahkan,tetapi untuk diarahkan dengan iman dan akhlak yang baik. Rasa senang mengajarkan kita untuk bersyukur,sedangkan rasa sedih atau khawatir mengajarkan kita untuk bersabar dan bertawakal. Yang terpenting bukan pada munculnya perasaan itu, melainkan bagaimana kita menyikapinya sesuai dengan tuntunan Allah."
"Apa salah Aya merasakan hal itu pada suami Aya sendiri? Apa salah Aya punya rasa yang lebih pada suami Aya? "
"Merasakan perasaan cinta, sayang, dan bahagia kepada suami bukanlah sesuatu yang salah,Neng.Justru itu adalah bagian dari fitrah dan anugerah dari Allah dalam kehidupan rumah tangga. Perasaan tersebut menjadi penguat hubungan,menumbuhkan kasih sayang, serta menghadirkan ketenangan dan keharmonisan. Dalam Islam, cinta antara suami dan istri adalah hal yang mulia karena dibingkai dalam ikatan yang halal dan penuh tanggung jawab. Yang terpenting adalah menjaga perasaan itu dengan niat yang baik, saling menghormati, dan menjadikannya jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah."
"Aya baru saja merasakan perasaan itu Mi, Aya sudah menerima pernikahan ini dan Aya ingin mencoba membuka hati Aya untuk Ka Arka, Mi.Tapi belum apa-apa udah kaya gini."
Umma Zura tersenyum kecil, ternyata sang cucu sudah mulai merasakan suka pada cucu menantunya.
"Tenang ya, pokoknya kamu jangan banyak pikiran.Kamu fokus saja sama ujian mu, biar ini jadi urusan Ayah dan Baba mu.Semuanya belum jelas, jadi kita tidak bisa menyimpulkan semua ini salah atau tidak."
Alyana mengangguk lemah,ia akan menurut apa yang di katakan sang Umma.Mulai sekarang dirinya hanya akan fokus pada Ujiannya saja.Biarkan saja masalah ini ia serahkan pada Allah SWT sang pemilik skenario hidupnya.
Di tempat lain, Altheza sedang menunggu kedatangan sang anak.Altheza sudah menemui Al sang besan untuk membahas masalah ini.Bersyukur Al bukan type orang yang gampang percaya dan meledak-meledak sehingga Al bisa dengan tenang menghadapi masalah yang menimpa sang anak.
Al setuju dengan rencana Altheza dan menyerahkan semuanya pada Altheza.Al masih percaya jika menantunya anak baik dan mau berubah.
Pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar dan tak lama terbuka.Arka masuk dengan wajah biasa, tidak curiga dengan apapun.
"Ayah kenapa nyuruh aku pulang?" Tanya nya setelah duduk di sofa.
Altheza menatap sang anak sebentar, kemudian mengambil macbooknya.Ia berjalan pelan menghampiri sang anak dan kemudian menyerahkan macbook tersebut.
Arka awalnya bingung namun setelah sang Ayah menyuruhnya memutar sebuh vidio akhirnya Arka faham.
Ia terkejut, matanya melotot melihat vidio dirinya bersama Ervina kemarin.
"Apa peringatan dari Ayah kurang jelas?" Tanya nya dingin.
"Tapi yah, ini kemari gak sengaja aku ketemu Ervina." Jawabnya. "Lagian memangnya kenapa sih yah, toh gak ngapapain juga.Lagian dia pacar aku yah."
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan?" Tanya nya datar.
"Kamu sudah menikah Arka."
"Nikah dadakan dan terpaksa Yah, kalau gak terpaksa juga Arka ogah.Pernikahan ini bukan mau Arka, tapi mau nya Ayah. Lagian ribet amat sih yah,Arka sama tuh anak kecil gak saling kenal jadi kalau pisah juga gak masalah."
Altheza geram mendengarnya,rasanya seperti sebuah penghinaan saat sang anak menganggap pernikahan ini tidak penting.
Satu tamparan keras Arka dapat,Arka terdiam melihat wajah sang Ayah yang terlihat marah.
"Ayah sudah bilang, ini sebuah pernikahan.Hal yang begitu sakral, bagaimanapun jalannya kamu tidak boleh menganggapnya main-main Arka."
"Tapi Arka cuma cinta sama Ervina, Arka cuma mau nikah sama Ervina.Arka cuma mau Ervina yang jadi istri Arka. Ayah jangan ikut campur,ini hidupku Yah. Aku punya pilihan,Ayah tidak berhak mengatur ku. " Ucap Arka dengan tegas.
Altheza terdiam kemudian tertawa."Ternyata aku salah mendidikmu.Aku sangka kamu cerdas tapi ternyata kamu bodoh Arka.Kamu belum tau siapa sebenarnya wanita yang kamu cintai itu, Arka.Dan dengan gampangnya kamu mau menjadikannya istri.Bodoh sekali kamu! Kamu memilih wanita ular di banding istri mu yang seperti bidadari."
Wajah Altheza berubah semakin dingin, sebisa mungkin ia menekan emosinya agar tidak semakin meledak.Altheza kemudian mengambil sesuatu dalam laci.
Tiga buah foto ia lempar ke atas meja dengan begitu keras."Wanita seperti ini yang mau kamu jadikan istri?" Bentaknya." Kalau iya, silahkan.Tapi mulai sekarang jangan pernah menganggap kami sebagai orangtua mu."
Setelah itu Altheza keluar dari ruang kerjanya dan menutup pintu dengan keras.Meninggalkan Arka yang diam mematung.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.