Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #16
"Gak mungkin kan pak Zidan gak punya uang dan mau minta uang saya?" kata Clara lagi.
"Saya hanya bertanya," jawab Zidan kembali memasang wajah datar.
"Huh, ngeselin aja terus," ucap Clara yang kemudian kembali asik memainkan ponselnya.
Satu jam pun berlalu, kini keduanya telah tiba di tempat semalam Zidan menurunkan Clara.
"Clara ponsel kamu kasih ke saya," ucap Zidan menadahkan tangan nya setelah Clara turun dari mobil.
"Lah? Gak mau," jawab Clara menyembunyikan ponsel tersebut di belakang nya.
"Cepat Clara, atau kamu mau saya bertindak kasar? Tidak ada yang boleh main hp di dalam kelas termasuk kamu, saya ini wali kelas kami sekarang jadi patuh lah, saya tau kamu tidak akan bisa belajar dengan tekun kalau masih ada ponsel di tangan kamu jadi berikan itu kepada saya," kata Zidan memaksa.
"Ngeselin banget sih! Ini di atur itu di atur, kenapa gak sekalian aja baju saya, tas saya semuanya kasih ke bapak?" kata Clara emosi.
"Belum saatnya," kata Zidan masih dengan tangan yang menadah meminta ponsel Clara.
"Arghhhhh!" kesal Clara yang kemudian meletakkan dengan kasar ponsel nya ke telapak tangan Zidan.
"Bagus, saya pergi dulu, ingat cepat masuk," kata Zidan yang kemudian melajukan mobilnya.
"Zidan sialan anal setan!" umpat Clara sambil menendang batu krikil yang ada di hadapannya.
Sementara itu Zidan melihat dari kaca mobil nya dan merasa lucu.
Selang sepuluh menit kemudian Clara pun akhirnya tiba di sekolah, wajah nya sedikit merah karena masih marah terhadap Zidan yang mengambil handphone nya.
"Clara!" pangil seseorang membuat langkah kaki Clara terhenti setelah ia masuk ke gerbang sekolah.
Seseorang menghampiri Clara sambil dan berjalan di samping nya.
Clara yang merasa tak asing dengan suara tersebut pun menoleh, ternyata itu adalah Brayen.
"Ngapain?" tanya Clara berhenti melangkah dan menatap Brayen yang berjalan di samping nya.
"Clara gue minta maaf, gue udah cek cctv dan ternyata emang Lo gak salah, gue juga udah tau apa yang sebenarnya terjadi antara Lo sama Yuna," kata Brayen menjelaskan.
"Bagus deh," jawab Clara singkat.
"Clara gue beneran minta maaf karena udah salah paham selama ini sama Lo, gue juga udah tau kalau bukan Lo yang ngedorong Yuna," ucap Brayen memegangi kedua pundak Clara dan menatap wajah cantik itu.
"Gue udah maafin Lo kok, dan gue gak mau lagi ada urusan sama kalian semua, baik Lo atau sepupu Lo, jadi tolong jangan ganggu gue lagi," kata Clara sambil tersenyum tipis dan menyingkirkan kedua tangan Brayen dari pundak nya.
Brayen teridam tak percaya kalau sekarang sikap Clara sedingin ini dengan nya, Clara yang biasa nya selalu tersenyum cantik dan juga memagil nya dengan sebutan kak Brayen kini malah jadi Lo gue.
"Gak Clara, oh ya kenapa Lo gak balas pesan gue?" tanya Brayen kebingungan karena dia mengirim banyak pesan ke ponsel Clara namun tak ada satu pun yang di balas.
Namun Zidan yang sedari tadi mengawasi mereka dari tempat parkiran mobil segera menghampiri Clara."Clara! Ikut ke ruangan saya sebentar," kata nya yang kemudian menatap Brayen dengan tatapan tajam.
Tampa basa-basi, Clara pun mengikuti Zidan dari belakang untuk menghindari Brayen karena emang dirinya sudah terlalu sakit hati dan tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Brayen.
Brayen menatap punggung Clara yang kain menjauh mengikuti Zidan masuk ke dalam ruangan sang guru.
"Gue gak boleh biarin Clara menjauh dari gue, gue harus dapetin maaf dari dia," batin Brayen.
Sepertinya kini Brayen lah yang akan berusaha mengejar Clara, ia akan termakan oleh omongan nya sendiri.
Sementara itu di ruangan Zidan.
"Ada apa bapak mangil saya?" tanya Clara berdiri di depan menja kerja Zidan.
"Saya peringatkan kepada kamu, kamu tidak boleh berpacaran saat masih sekolah, ini akan menggangu pelajaran kamu, apa kamu mengerti?" tanya Zidan dengan tatapan tajam nya.
"Hah? Pacaran? Saya gak pacaran pak, siapa bilang saya pacaran?" kata Clara kaget.
"Saya tidak peduli, intinya kamu tidak boleh pacaran, sekarang keluar lah," kata Zidan lagi sambil mengalihkan pandangannya ke arah buku yang ada di hadapannya.
Clara mengerut keningnya, ia sempat berfikir kalau Zidan memagil nya mungkin ingin menyerahkan ponsel itu kembali, namun malah hanya mengingatkan kepada Clara kalau dirinya tidak boleh pacaran.
"Menyebalkan," kata Clara yang kemudian menghentakkan kakinya kesal lalu berlari kecil keluar dari ruangan tersebut.
Sementara Zidan hanya melirik nya sekilas dan kemudian mengelus dada. Entah kenapa tiba-tiba dia mengatakan hal tersebut kepada Clara, namun dirinya juga tidak mengerti.
Clara menyusuri koridor sekolah sambil ngedumel sendiri, bell segera berbunyi rasanya dia sama sekali tidak ingin masuk ke kelas. Namun sekarang wali kelas adalah Zidan tidak masuk kelas sama saja dengan mencari masalah.
Tak terasa pelajaran pertama pun berakhir, hari ini Nola tidak masuk sekolah karena sedang sakit jadi Clara hanya bisa duduk diam di dalam kelas tidak punya teman untuk pergi ke kantin, lagipula ponsel nya di ambil Zidan dia tidak punya uang untuk belanja makanan di kantin.
Karena seorang Clara tidak mengunakan uang cash melainkan dengan ponsel nya, ia hanya mengunakan uang cash jika memang sedang tidak malas pergi ke bank.
"Gak jajan deh, mana gak sarapan, laper banget," batin Clara.
Saat ini Clara tingal sendiri di dalam kelas nya, dia tidak keluar karena tidak bersemangat.
"Clara," pangil seseorang sambil berjalan menuju tempat duduk Clara.
"Ngapain lagi Lo ke sini?" tanya Clara saat melihat orang itu adalah Brayen.
"Mau ke kantin bareng gue gak?" tawar Brayen.
"Ngak, gue lagi gak mood," kata Clara mengalihkan pandangannya.
"Clara plis, gue minta maaf, gue tau Lo gak bakal secepat itu maafin gue tapi gue gak bisa hidup karena kesalahan yang udah gue buat," ucap Brayen dengan wajah sedih nya.
"Gue kan udah bilang, gue udah maafin Lo, tapi gue gak mau ada hubungan apa-apa lagi sama Lo atau sama sepupu Lo," ujar Clara berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan keluar meningalkan Brayen di dalam kelas.
Lagi-lagi hal ini membuat Brayen menyesal, dia tidak bisa terus menyalahkan Yuna yang sudah membuat nya kehilangan sosok Clara yang dulu sangat baik dengan nya.
"Gue harus cari Yuna, dia harus bantuin gue buat minta maaf sama Clara," ujar Brayen yang kemudian pergi ke kantin untuk melihat sepupunya.
Benar saja, di sana Yuna tengah duduk sambil menikmati semangkuk mie dengan teman-teman nya.
Bersambung ....