NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Awal Baru di Glory School

Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan di rumah keluarga Wijaya. Ibu Ratna dan Jhonatan telah menyelesaikan semua urusan administrasi yang diperlukan. Theo, dengan antusiasme yang membuncah, kini resmi terdaftar sebagai siswa di Sekolah Kehormatan Glory.

Hari pertama Theo di Glory School terasa seperti mimpi. Bangunan megah dengan arsitektur modern menjulang anggun, dikelilingi taman yang asri dan fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari laboratorium sains yang canggih, perpustakaan dengan koleksi buku yang tak terhingga, hingga lapangan olahraga berstandar internasional. Theo merasa seperti memasuki dunia baru yang penuh dengan kemungkinan.

Ia disambut oleh para guru yang ramah dan berdedikasi, serta teman-teman baru dari berbagai latar belakang keluarga terpandang. Awalnya, Theo sedikit canggung. Ia terbiasa dengan lingkungan sekolah yang lebih sederhana, dan kini ia berada di tengah-tengah kemewahan dan eksklusivitas. Namun, kecerdasan dan rasa ingin tahunya yang besar dengan cepat membantunya beradaptasi.

Di kelas, Theo menunjukkan kemampuan akademisnya yang luar biasa. Ia mudah memahami materi pelajaran yang diajarkan, bahkan seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang membuat para guru terkesan. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang ditawarkan, mencoba berbagai bidang baru yang belum pernah ia eksplorasi sebelumnya.

Sementara itu, di luar sekolah, Theo tetap menjalankan perannya sebagai konsultan pemasaran pribadi Jhonatan. Setiap akhir pekan, ia akan mengunjungi kantor Jhonatan atau bertemu langsung untuk mendiskusikan strategi pemasaran terbaru untuk produk kursi kayu dan proyek-proyek properti keluarga Wijaya. Jhonatan semakin terkesan dengan kemampuan Theo. Ide-ide Theo tidak hanya brilian, tetapi juga selalu relevan dan memberikan dampak positif yang nyata bagi perkembangan bisnis mereka.

Hubungan antara Theo dan keluarga Wijaya semakin erat. Pak Wijaya dan Nyonya Wijaya seringkali mengundang Theo dan Ibu Ratna untuk makan malam atau sekadar berkunjung. Mereka benar-benar menganggap Theo sebagai bagian dari keluarga.

...****************...

Meskipun baru berusia 12 tahun, Theo kini resmi duduk di bangku SMP di Sekolah Kehormatan Glory. Hal ini tentu saja menjadi sorotan, mengingat usianya yang masih sangat muda untuk ukuran siswa SMP di sekolah bergengsi tersebut. Namun, Glory School memang terkenal dengan sistem penerimaan siswanya yang sangat ketat, hanya menerima murid-murid yang benar-benar jenius dan memiliki potensi luar biasa.

Peraturan di Glory School sangatlah disiplin. Akademisnya menuntut standar yang sangat tinggi, dengan kurikulum yang dirancang untuk menantang batas kemampuan para siswanya. Setiap hari dipenuhi dengan pelajaran yang intensif, tugas-tugas yang menantang, dan ujian yang ketat. Namun, justru di lingkungan inilah Theo merasa menemukan tempatnya.

Kecerdasannya yang luar biasa, yang telah terbukti saat ia membantu Jhonatan dengan strategi pemasaran, kini semakin terasah di Glory School. Ia mampu menyerap materi pelajaran dengan cepat, bahkan seringkali melampaui ekspektasi para guru. Theo tidak hanya unggul dalam pelajaran umum, tetapi juga menunjukkan minat yang besar pada mata pelajaran yang berkaitan dengan logika, matematika, dan bahkan seni.

Para guru di Glory School seringkali terheran-heran dengan kemampuan Theo. Di tengah-tengah siswa-siswa jenius lainnya yang rata-rata berusia lebih tua darinya, Theo mampu bersaing dan bahkan seringkali menjadi yang terdepan. Ia tidak pernah ragu untuk bertanya, menggali lebih dalam, dan mencari pemahaman yang komprehensif atas setiap materi yang diajarkan.

Di luar jam pelajaran, Theo tetap menjaga komitmennya sebagai konsultan pemasaran pribadi Jhonatan. Setiap akhir pekan, ia akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan Jhonatan, mendiskusikan perkembangan bisnis, menganalisis data penjualan, dan merumuskan strategi-strategi baru. Jhonatan semakin terkesan dengan dedikasi dan kemampuan Theo. Ide-ide Theo tidak pernah berhenti mengalir, dan setiap saran yang diberikannya selalu memberikan dampak positif yang signifikan bagi perusahaan.

Hubungan Theo dengan keluarga Wijaya pun semakin akrab.

...****************...

Suatu sore yang tenang di perpustakaan Glory School. Theo, seperti biasa, tenggelam dalam dunianya sendiri, asyik membaca sebuah buku tebal tentang strategi bisnis internasional. Suasana perpustakaan yang hening hanya dipecah oleh gemerisik halaman buku yang dibalik.

Tiba-tiba, dari lorong rak buku yang berdekatan, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Seorang anak perempuan, yang tampak sama tenggelam dalam pikirannya, tidak menyadari keberadaan Theo di dekatnya. Dalam sepersekian detik, ia tersenggol oleh sesuatu, kehilangan keseimbangan, dan buku-buku yang dibawanya berhamburan ke lantai. Ia sendiri pun terjatuh dengan sedikit hentakan.

"Aduh!" pekiknya pelan, matanya terpejam sesaat karena kaget.

Theo segera menutup bukunya, refleks bangkit dari kursinya. Tanpa berpikir panjang, ia berlutut di samping gadis itu. "Hei, kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir, matanya menatap gadis itu dengan tatapan tulus.

Gadis itu membuka matanya perlahan. Seketika, wajahnya yang tadinya pucat karena kaget, berubah menjadi rona merah yang jelas. Ia mendongak, menatap Theo yang kini berada begitu dekat dengannya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Theo, dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena fokus membaca tadi, dan matanya yang begitu teduh, terlihat sangat tampan dari dekat.

"Aku... aku baik-baik saja," jawabnya terbata-bata, suaranya sedikit tercekat. Ia merasa malu sekaligus tersipu melihat perhatian yang diberikan Theo.

Theo tersenyum lembut, senyum yang selalu berhasil membuat orang merasa nyaman. "Syukurlah. Mari kubantu membereskan buku-bukumu."

Ia mulai memunguti buku-buku yang berserakan, sementara gadis itu masih terpaku sejenak, terpesona oleh kebaikan dan ketampanan Theo. Di Glory School, perhatian seperti ini jarang sekali..

...****************...

Theo tersenyum lembut, senyum yang selalu berhasil membuat orang merasa nyaman. "Mari kubantu membereskan buku-bukumu." Ia mulai memunguti buku-buku yang berserakan, sementara gadis itu masih terpaku sejenak, terpesona oleh kebaikan dan ketampanan Theo. Di Glory School, perhatian seperti ini jarang sekali didapatkan. Para siswa di sini, meskipun jenius, cenderung fokus pada diri sendiri dan pencapaian akademis mereka. Sikap perhatian dan kepedulian Theo menjadi pembeda yang mencolok.

Setelah buku-buku itu terkumpul, gadis itu akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia merasa sangat malu karena telah merepotkan Theo. "Maafkan aku," ucapnya lagi, suaranya kini lebih mantap, namun rona merah di pipinya masih belum hilang. "Aku benar-benar minta maaf karena menyenggolmu dan membuatmu terjatuh."

Theo hanya tersenyum. "Tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja."

Namun, sebelum Theo sempat mengatakan hal lain, atau sebelum gadis itu sempat memperkenalkan diri, ia tiba-tiba menarik napas pendek. Matanya melirik jam dinding di sudut perpustakaan, lalu kembali menatap Theo dengan ekspresi sedikit panik.

"Aku harus pergi sekarang," katanya cepat, lalu tanpa menunggu jawaban Theo, ia segera memeluk buku-buku yang sudah Theo kumpulkan di tangannya, berbalik, dan berjalan cepat menyusuri lorong rak buku, menghilang di balik tikungan.

Theo hanya bisa memandang kepergian gadis itu dengan sedikit heran. Ia belum sempat menanyakan namanya, atau bahkan membalas sapaannya dengan perkenalan. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Baginya, yang terpenting adalah gadis itu tidak terluka. Ia kembali ke mejanya, mengambil bukunya lagi, dan melanjutkan membaca, meskipun sedikit terganggu oleh kejadian barusan. Siapa gadis itu? Dan mengapa ia begitu terburu-buru? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat sesaat di benaknya sebelum akhirnya ia kembali fokus pada dunia strategi bisnis

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: aman, author akan membuat cerita semenarik mungkin🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!