NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 Genggaman Kecil Sae

Tubuh kecil Bella didorong hingga kehilangan keseimbangan, lalu terduduk di lantai mengilap mall. Semua kepala menoleh terkejut. Dan di sanalah pelakunya berdiri.

Sae.

Dengan ekspresi datarnya yang bahkan tidak berubah satu milimeter. Kalau manusia normal setelah melakukan sesuatu biasanya terlihat bersalah. Sae justru terlihat seperti pegawai perpustakaan yang bosan karena sedang menunggu jam pulang kerja. ia terlihat tenang dan tidak merasa perlu menjelaskan apa pun.

Satriya langsung maju dengan wajah berubah keras. "Heh! Kamu ngapain dorong anak saya?!" Jari telunjuknya langsung menunjuk ke arah Sae.

Namun anak itu tidak berkedip, seolah kemarahan Satriya hanya suara iklan yang kebetulan lewat.

Bella lantas berdiri dengan mata merah karena kesal. Sementara Sae berdiri beberapa langkah di depan Anjani seperti pagar kecil yang entah sejak kapan memutuskan dirinya bertugas menjaga perempuan itu. Padahal tinggi badannya bahkan belum mencapai bahu orang dewasa.

"Kamu kenapa dorong aku?!" Suara Bella terdengar nyaring.

Sae menatapnya dan malah bertanya balik. "Kenapa kamu mukul Tante Anjani?"

Bella langsung terdiam, diikuti mata mengerjap. Dia seakan baru menyadari kalau perbuatannya tadi ternyata dilihat orang lain.

"Aku..." Bella menggigit bibir. "Karena Mama nyakitin Mama Cintya!"

Sunyi. Anjani yang berdiri di belakang Sae hanya menunduk pelan tidak mengatakan apa-apa. Mulutnya tidak membela ataupun menjelaskan. Ia sudah terlalu lelah untuk mengulang hal yang sama.

Sementara Sae tetap memandang Bella tanpa ekspresi. "Kalau begitu aku juga."

Bella mengernyit. "Hah?"

"Aku dorong kamu karena kamu menyakiti Tante Anjani."

Kalimat yang tentu tidak bisa dipatahkan. Bella membela orang yang menurutnya disakiti. Sae melakukan hal yang sama. Logika anak-anak memang sering sesederhana itu. Dan justru karena kesederhanaannya, terkadang lebih jujur daripada logika orang dewasa.

Wajah Bella kian masam. "Kamu jahat!"

"Kamu juga."

"Kamu sombong!"

"Aku tahu."

"Kamu nggak punya teman!"

Sae berpikir sebentar. "Itu masalah buat kamu?"

Bella langsung kehilangan amunisi. Bahkan beberapa pengunjung yang memperhatikan dari jauh sampai menahan tawa. Sae menjawab semua serangan seperti batu bata menjawab hujan. Ia terkesan tidak peduli, yang membuat kesal lawannya.

Sementara di samping Bella, Cintya buru-buru mendekat. "Hei, Sae." Suaranya tetap lembut penuh kelembutan yang selama ini membuat banyak orang menganggapnya sempurna. "Itu nggak sopan, Nak."

Sae menoleh, menatap Cintya datar. "Saya tahu."

Senyum Cintya langsung membeku. Jelas itu bukan jawaban anak yang merasa bersalah, tapi jawaban dari seseorang yang sadar betul apa yang dia lakukan dan tetap memilih melakukannya.

"Aku nggak tahu masalahnya apa, tapi aku tahu Tante sedih dan aku nggak suka itu."

Satriya yang sudah emosi menatapan Sae tajam. "Kurang ajar! Kamu diajarin apa sama orang tua kamu?!" Suaranya menggema cukup keras.

Beberapa kepala langsung menoleh. Bella terdiam, begitu juga dengan Cintya. Anjani menegang. Sae hampir menjawab tapi tiba-tiba suara rendah muncul dari belakang.

"Pertanyaan itu seharusnya saya yang ajukan."

Terdengar tenang, namun langsung membungkam seluruh suasana. Langkah kaki semakin mendekat tanpa tergesa-gesa, tapi entah kenapa setiap langkahnya terasa seperti mengetuk saraf orang-orang yang mendengarnya. Dan ketika sosok itu muncul, beberapa orang langsung mengenalinya.

Ren Aksara.

Masih dengan wajah masam yang seolah lahir tanpa fitur senyum. Pria itu berhenti tepat di belakang Sae. Tatapan tidak ramahnya lurus pada Satriya, kemudian tangan besarnya terangkat dan mendarat santai di atas kepala Sae. Gestur sederhana, tapi terkesan seperti sebuah deklarasi kepemilikan. Seolah tanpa mengucapkan apa pun, Ren sedang berkata 'Itu anak saya. Dan tidak ada yang berhak menghakiminya sembarangan.'

Sae bahkan tidak menoleh kaget karena sudah tahu siapa yang datang. Anjani memandang keduanya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain Ren Aksara.

Selama ini pria itu memang menyebalkan, mulutnya tajam, ekspresinya dingin, kesabarannya setipis kertas nota. Hubungannya dengan Sae lebih sering terlihat seperti dua pengacara yang sedang memperdebatkan hak pewaris kerajaan.

Namun saat orang lain mulai menyerang anaknya, Ren berdiri di sana tanpa ragu, tidak membiarkan Sae menghadapi semuanya sendirian.

Naluri seorang ayah yang tidak bisa disembunyikan bahkan oleh pria sedingin Ren.

"Anda tadi bertanya dia diajari apa oleh orang tuanya." Suara Ren datar. Tatapannya tidak bergeser dari Satriya. "Saya ajari dia untuk membela orang yang diperlakukan tidak adil."

Mall yang luas itu mendadak terasa sempit karena tidak ada satu orang pun yang menyangka Ren akan berkata sejauh itu. Bahkan Sae sendiri sedikit mengangkat wajah, meskipun hanya sedikit.

"Dan sampai saat ini, saya belum meras itu kesalahan," lanjut Ren tenang.

Rahang Satriya langsung mengeras. "Tapi Pak Ren, anak anda sudah kasar ke anak saya." Ia menunjuk geram ke muka Sae.

Pandangan Ren turun sebentar ke jari telunjuk Satriya yang masih menunjuk Sae dengan lancang itu. "Turunkan jarimu," ucapnya datar nyaris seperti titah dari bos besar.

Cintya yang menyadari arah situasi mulai tidak menguntungkan langsung maju selangkah. "Pak Ren, mungkin ini cuma salah paham..."

Perhatian Ren jatuh pada perempuan itu. Dan entah kenapa Cintya langsung kehilangan sisa kalimatnya karena tatapan itu tidak seperti orang marah, tapi tatapan seseorang yang sama sekali tidak tertarik berbicara dengan orang tidak penting.

Ren kembali memandang Satriya. "Anak-anak biasanya meniru orang dewasa. Saya lebih khawatir kalau dia belajar diam saat melihat seseorang diperlakukan buruk."

Kalimat menampar Ren sukses membuat hening jatuh. Bella mulai kebingungan. Matanya berpindah dari Satriya ke Ren, lalu ke Sae, kemudian ke Anjani.

Sementara Sae, tetap berdiri di tempatnya. Tangan masuk saku, lalu dengan santainya ia menarik ujung lengan baju Anjani.

Anjani menoleh. "Ada apa?"

Sae mengangkat wajah. "Tante lapar?"

Semua orang terdiam, karena setelah perang dingin, ketegangan, dan adu tatap yang nyaris membekukan mall, pertanyaan yang keluar dari mulut anak itu justru 'Tante lapar?'. Benar-benar anak aneh.

Anjani menatap anak itu beberapa detik, lalu mengangguk kecil. Dan Sae langsung memahaminya.

"Kalau begitu kita pergi." Kalimatnya terdengar seperti keputusan rapat direksi.

"Memangnya kamu yang menentukan?" tanya Anjani. Mata nanarnya mulai menghangat.

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena Tante terlihat tidak pandai mengurus diri sendiri hari ini."

Ren memejamkan mata sesaat. Mungkin sedang menghitung sampai sepuluh agar tidak menjewer anaknya di tempat umum. Sementara Sae sudah lebih dulu menarik tangan Anjani, mengajak pergi dari sana.

Anjani akhirnya ikut melangkah. Namun--

"Mama!"

Tubuh Anjani langsung membeku. Suara yang selama enam tahun terakhir selalu menjadi alasan ia bangun setiap pagi. Suara yang masih bisa membuat jantungnya berdebar hanya dalam satu detik.

Anjani menoleh cepat. Bella berdiri beberapa meter di belakang. Mata anak itu merah. Pipinya basah oleh air mata. Dan untuk sesaat, harapan bodoh itu kembali muncul. Harapan yang seharusnya sudah mati. Namun sebelum Anjani sempat mengatakan apa pun, Bella menunjuk ke arah Sae.

"Mamaku mau dibawa ke mana?!"

Sae menoleh. Pandangannya mengikuti arah telunjuk Bella yang mendarat ke Anjani, kemudian pindah ke Cintya, lalu kembali ke Bella. Anak itu terlihat berpikir.

Beberapa detik kemudian ia mengangkat dagunya sedikit ke arah Cintya. "Bukannya mamamu dia?"

Bella membelalak. Cintya membeku. Satriya mengepal tangan.

"Soalnya dari tadi manggilnya Mama terus," imbuh Sae sebelum akhirnya kembali memalingkan wajah.

Selesai. Baginya itu hanya pertanyaan logis, karena sejak tadi yang ia dengar adalah Mama Cintya. Mama Cintya. Mama Cintya. Jadi kesimpulannya sederhana. Ya itu mamanya.

Anak kecil sering kali kejam tanpa sengaja karena mereka belum belajar membungkus kejujuran. Dan Sae adalah tipe anak yang bahkan tidak tertarik membungkus apa pun.

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia kembali menarik tangan Anjani.

"Ayo."

Mereka berjalan pergi begitu saja. Ren mengikuti dengan langkah tenang. Namun, di belakang mereka Bella langsung meledak.

"Aku benci Sae! Aku benci dia!" Tangisnya pecah.

Cintya buru-buru memeluk anak itu. "Sayang..."

Namun Bella terus menangis dengan perasaan marah, kesal, dan terluka. Perasaan yang terlalu besar untuk anak seusianya.

Dan ketika Anjani, Ren, serta Sae semakin menjauh, teriakan itu kembali terdengar lebih keras dan lebih menusuk.

"Mama jahat!"

Langkah Anjani goyah sesaat, tapi ia tidak berhenti. Jelas ia tidak berani, karena tahu kalau menoleh sekarang, ia mungkin tidak akan mampu melangkah lagi.

"Mama kenapa malah pilih Sae?!

Deg. Jantungnya seperti diremas.

"Mama memang udah nggak sayang Bella!"

Anjani menundukkan kepala. Sementara di belakang sana Bella masih menangis sembari memanggilnya dan terus menyalahkannya. Bagi seorang anak enam tahun, dunia belum cukup besar untuk memahami luka orang dewasa.

Bella tidak tahu bahwa ibunya tidak memilih Sae. Bella tidak tahu bahwa ibunya sudah berulang kali berusaha memilihnya. Bella juga tidak tahu bahwa setiap langkah yang sekarang diambil Anjani terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Yang Bella tahu hanya satu. Ibunya pergi. Dan sekarang ibunya berjalan bersama anak lain.

Itu saja. Dan bagi hati kecilnya, itu sudah cukup untuk terasa menyakitkan.

Air mata Anjani yang sejak tadi ditahan mulai menggenang lagi. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan sesuatu yang naik ke tenggorokan di atas langkah yang tetap berjalan tegak. Namun jemarinya mulai bergetar. Dan tanpa diduga, sebuah tangan kecil menyelip ke jemarinya.

Anjani menoleh. Sae tidak mengatakan apa-apa sebagai penghibur. Ia hanya menggenggam tangannya, lalu berkata datar.

"Tante jangan dengarkan."

"Hm?"

"Aku juga sering bilang Papa jahat."

Langkah Ren langsung melambat. Ia menoleh perlahan, menatap Sae tajam. Sementara Sae melanjutkan dengan tenang.

"Padahal sebenarnya nggak terlalu."

Ren diam.

"Kadang," lanjut Sae. "Mungkin."

Air mata Anjani akhirnya dibiarkan jatuh tanpa ditahan lagi. Karena entah kenapa, genggaman tangan kecil Sae terasa cukup kuat untuk membuat langkahnya kembali bergerak maju.

Bersambung~~

1
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!