NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Cemburu yang Terlihat

Arkana masih berada sangat dekat dengan Kemuning di tengah ballroom setelah bisikan rendah itu jatuh tepat di telinganya. “Aku bisa lupa kita sedang di tempat umum.” Napas hangat pria itu menyapu kulit Kemuning perlahan dan membuat seluruh tubuhnya langsung menegang. Jantungnya berdetak kacau luar biasa.

Tubuh mereka nyaris tanpa jarak sekarang. Tangan Arkana masih mengerat di pinggang Kemuning seolah tidak ingin membiarkan gadis itu menjauh. Sedangkan Kemuning benar-benar kehilangan kemampuan berpikir beberapa detik. Kepalanya terasa kosong karena terlalu gugup.

Kemuning langsung menunduk malu sambil menghindari tatapan Arkana. Namun karena terlalu panik, langkahnya justru salah kecil di atas heels tinggi yang dipakainya. Tubuhnya kembali sedikit goyah ke depan. Dan Arkana refleks menahannya lebih erat.

Tangan besar pria itu menekan pinggang Kemuning perlahan agar gadis itu tetap seimbang. Gerakan sederhana itu justru terasa semakin intim di tengah ballroom penuh orang. Kemuning sampai menahan napas saat dadanya kembali menyentuh dada bidang Arkana. Sedangkan pria itu terlihat terlalu tenang untuk ukuran jarak sedekat ini.

Padahal di dalam dirinya, Arkana mulai kehilangan kendali perlahan. Ia terlalu menikmati reaksi malu Kemuning. Pipi gadis itu yang memerah, cara Kemuning menghindari tatapannya, dan tubuh kecil itu di pelukannya terasa terlalu mengganggu pikiran Arkana. Semakin lama, semakin sulit dirinya menjaga jarak.

Musik dansa akhirnya berhenti perlahan. Namun Arkana tidak langsung melepaskan Kemuning seperti pasangan lain di ballroom. Tatapan beberapa tamu mulai berubah penasaran dan penuh bisikan kecil. Suasana mendadak terasa canggung.

Beberapa sosialita mulai saling berbisik sambil melirik mereka diam-diam. Ratih Maharani yang berdiri tidak jauh dari lantai dansa mulai mengerutkan dahi serius. Sedangkan Selvina Adriani terlihat menahan ekspresi terluka di balik senyum tipisnya. Karena semua orang bisa melihat sesuatu yang berubah pada Arkana malam ini.

Kemuning mulai sadar kedekatannya dengan Arkana sudah terlalu terlihat di depan publik. Dan kesadaran itu membuatnya makin gugup. Ia takut menjadi bahan pembicaraan semua orang di ballroom ini. Terutama karena dirinya merasa tidak pantas berada di sisi Arkana.

Saat mereka kembali ke area meja tamu, Reynard Wijaya kembali muncul dengan langkah santai. Pria itu membawa dua gelas minuman dingin sambil tersenyum penuh permainan. Tatapannya langsung berhenti pada Kemuning yang masih terlihat malu setelah berdansa tadi. Dan itu membuat Arkana langsung memasang wajah dingin lagi.

“Setelah berdansa seheboh itu...” Reynard mengulurkan satu gelas ke arah Kemuning sambil tersenyum ringan. “Kamu pasti haus.” Nada suaranya santai tetapi sengaja memancing.

Kemuning langsung salah tingkah menerima perhatian tersebut. Tangannya baru sedikit bergerak hendak mengambil gelas itu. Namun Arkana lebih dulu mengambil minuman dari tangan Reynard tanpa ekspresi. Lalu memberikannya sendiri pada Kemuning.

“Aku bisa melayaninya sendiri.” Nada suara Arkana terdengar datar tetapi penuh tekanan. Reynard langsung mengangkat alis tipis sambil menahan senyum tertarik. Sedangkan Kemuning langsung menunduk gugup lagi.

Semakin lama, Reynard semakin yakin pada satu hal. Arkana Mahendra benar-benar jatuh pada gadis itu. Dan pemandangan tersebut terasa sangat menarik baginya. Karena selama ini Arkana terkenal dingin dan tidak tersentuh siapa pun.

Reynard belum pernah melihat Arkana kehilangan kontrol emosinya seperti malam ini. Tatapan possessive itu terlalu jelas untuk disembunyikan. Bahkan cara Arkana berdiri sedikit di depan Kemuning terasa seperti bentuk perlindungan naluriah. Dan Reynard menikmati memancing reaksi tersebut.

“Tenang saja, Arkana.” Reynard tertawa kecil sambil menyesap minumannya santai. “Aku tidak akan mencuri dia malam ini.” Kalimat itu langsung membuat rahang Arkana mengeras samar.

Kemuning sendiri mulai merasa makin tidak nyaman dengan perhatian banyak orang. Beberapa wanita sosialita kini memandangnya terang-terangan tidak suka. Bisikan kecil mulai terdengar di berbagai sudut meja ballroom. Dan semuanya terasa menusuk di telinganya.

“Siapa sebenarnya gadis itu?”

“Arkana bahkan tidak pernah berdansa dengan Selvina.”

“Dia terlalu biasa untuk berada di sini.”

Ucapan-ucapan itu langsung membuat dada Kemuning terasa sesak lagi.

Perasaan rendah diri yang selama ini berusaha ia tekan kembali muncul perlahan. Kemuning langsung menunduk sambil meremas ujung gaunnya sendiri. Ia tahu perempuan-perempuan itu tidak salah. Dirinya memang terlihat sangat berbeda di tempat seperti ini.

Namun sebelum pikirannya semakin buruk, Arkana refleks menarik kursi di sampingnya untuk Kemuning. Gerakan kecil itu dilakukan begitu natural di depan semua orang. “Duduk.” Nada suaranya rendah tetapi lembut tersembunyi.

Kemuning langsung membeku kecil. Hal sederhana seperti itu justru terasa jauh lebih intim di tengah publik ballroom. Apalagi Arkana melakukannya tanpa peduli siapa yang sedang melihat mereka. Dan jantung Kemuning kembali kacau.

Sepanjang acara makan malam berlangsung, Arkana terus memperhatikan Kemuning diam-diam. Pria itu beberapa kali mencondongkan tubuh dekat gadis tersebut saat bicara. Sesekali Arkana memperhatikan apakah Kemuning benar-benar makan atau hanya diam saja. Dan semuanya dilakukan tanpa sadar.

Kemuning mulai menyadari satu hal yang semakin berbahaya. Arkana benar-benar selalu memperhatikannya. Tatapan pria itu selalu kembali padanya di tengah keramaian ballroom ini. Dan perhatian itu perlahan membuat pertahanannya runtuh total.

Tidak lama kemudian, MC kembali naik ke atas panggung acara. “Kita akan memasuki sesi foto media bersama keluarga besar partner bisnis malam ini.” Lampu kamera mulai bersiap di depan backdrop utama ballroom. Dan suasana kembali ramai.

Ratih segera berdiri sambil merapikan dress elegannya. Ia menoleh ke arah Arkana dengan senyum formal khas kalangan elite. “Arkana, ikut.” Lalu matanya melirik Selvina yang berdiri tidak jauh dari sana.

“Selvina juga ikut saja. Media sudah terbiasa melihat kalian bersama.” Kalimat Ratih terdengar ringan tetapi membuat dada Kemuning langsung terasa sesak. Tangannya perlahan mengepal kecil di bawah meja.

Kemuning hanya bisa diam melihat semuanya. Selvina berjalan mendekat dengan anggun dan berdiri di samping Arkana seolah itu posisi yang paling wajar di dunia. Kamera wartawan mulai berkedip-kedip memotret mereka. Dan semua orang tampak menganggap mereka pasangan sempurna.

Cantik.

Elegan.

Setara.

Sangat cocok berdiri di dunia Arkana Mahendra.

Untuk pertama kalinya, dada Kemuning terasa benar-benar sakit karena cemburu. Perasaan itu datang begitu kuat sampai membuat napasnya sesak. Ia tidak kuat melihat Arkana berdiri berdampingan dengan perempuan lain seperti itu. Dan kesadaran itu membuatnya takut sendiri.

Tanpa banyak bicara, Kemuning perlahan berdiri dari kursinya. Tidak ada yang terlalu memperhatikan dirinya di tengah keramaian sesi foto media. Gadis itu berjalan pelan meninggalkan ballroom menuju balkon luar hotel. Dan langkahnya terasa semakin berat.

Angin malam langsung menyambut Kemuning begitu pintu balkon terbuka. Udara dingin kota terasa menusuk lembut di kulitnya. Lampu-lampu gedung tinggi berkilau indah di bawah langit malam. Namun semuanya terasa jauh dan kosong sekarang.

Kemuning berdiri sendiri sambil memeluk tubuhnya perlahan. Matanya terasa panas meski ia berusaha menahannya kuat-kuat. Ia mulai sadar dirinya sudah menyukai Arkana terlalu dalam. Dan itu sangat berbahaya.

Karena cepat atau lambat, Arkana pasti akan kembali ke dunianya sendiri. Dunia tempat perempuan seperti Selvina jauh lebih pantas berada di sisinya. Sedangkan dirinya hanyalah gadis desa yang kebetulan tersesat terlalu jauh. Dan memikirkan itu saja sudah cukup menyakitkan.

Namun tanpa Kemuning sadari, Arkana ternyata memperhatikan dirinya pergi sejak tadi. Pria itu bahkan tidak lagi fokus pada sesi foto media setelah melihat Kemuning meninggalkan ballroom sendirian. Dan perasaan tidak tenang langsung muncul dalam dirinya. Sampai akhirnya Arkana memilih menyusul.

Kemuning masih berdiri di balkon sambil menatap lampu kota saat suara langkah kaki terdengar mendekat dari belakang. Ia belum sempat menoleh ketika sebuah jas hangat tiba-tiba disampirkan ke pundaknya perlahan. Aroma parfum maskulin yang sangat familiar langsung memenuhi inderanya. Dan jantung Kemuning langsung berdebar lagi.

Arkana berdiri tepat di belakangnya dalam jarak yang terlalu dekat. Suara rendah pria itu terdengar pelan di tengah angin malam. “Kenapa pergi tanpa bilang padaku?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!