NovelToon NovelToon
UNLOVED: Ariel & [Y/N]

UNLOVED: Ariel & [Y/N]

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:924
Nilai: 5
Nama Author: mondᓀ‸ᓂ

​[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.

​Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.

​Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

galak tapi baik

​[y/n] menyesap cokelat panasnya pelan, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dadanya. Melihat wajah Ariel yang begitu serius dan penuh kekhawatiran, sisi jahil [y/n] tiba-tiba muncul. Dia ingin mencairkan suasana beku yang sejak tadi menyelimuti mereka.

​[y/n] kemudian menatap Ariel dengan senyum jahil yang tertahan di sudut bibirnya.

​"Emang kenapa? Lu mau nemenin gua tidur bareng di rumah?" tanya [y/n] dengan nada menggoda yang sengaja dibuat-buat.

​Seketika, gerakan tangan Ariel yang sedang memegang kain lap terhenti. Matanya membelalak, dan dalam hitungan detik, warna merah padam merayap dari leher hingga ke ujung telinganya.

​PLAK!

​Ariel langsung melemparkan kain lap bersih ke wajah [y/n] dengan refleks yang luar biasa cepat. "Enggak gitu, bego!" semprot Ariel dengan suara yang pecah antara kesal dan malu luar biasa.

​[y/n] tertawa renyah di balik kain lap itu, tawa tulus pertamanya sejak melihat mobil polisi tadi sore. Dia menarik kain itu dari wajahnya, menatap Ariel yang sekarang membuang muka jauh-jauh, pura-pura sangat tertarik menatap mesin kopi di pojokan.

​"Aduh, galak banget sih, Riel. Kan gua cuma nanya," ucap [y/n] sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan kena lemparan tadi.

​"Nanya lu nggak pakai otak," gerutu Ariel rendah. Dia berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai berandalan sekolah yang disegani. "Maksud gue... kalau lu takut balik ke sana, lantai atas kafe ini ada kamar kosong. Bekas gudang, tapi udah dibersihin Om Indra buat tamu. Lu bisa tidur di sana daripada lu pingsan ketakutan denger suara tikus di rumah lu yang kayak gudang hantu itu."

​[y/n] terdiam.

Senyum jahilnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa haru yang menusuk. Ariel tidak hanya mencarikannya pekerjaan, tapi dia juga memikirkan tempat aman untuknya tidur.

​"Riel... makasih ya," bisik [y/n]. "Tapi gua harus balik. Ada beberapa barang yang harus gua amanin di rumah sebelum garis polisinya dilepas total."

​Ariel akhirnya berbalik, menatap [y/n] dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia mengembuskan napas panjang melalui hidung, lalu berdiri dari kursinya.

​"Ya udah. Habisin cokelat lu," ucap Ariel. "Nanti jam sembilan pas kafe tutup, gue anter lu balik. Nggak ada penolakan. Gue nggak mau besok pagi dapet berita ada mayat anak baru ditemukan kaku karena kelaperan di rumah kosong."

​"Iya, iya, ," sahut [y/n] sambil kembali menyesap cokelatnya.

​Tanpa mereka sadari, Paman Indra mengintip dari balik celah pintu dapur sambil geleng-geleng kepala. "Dasar anak muda," gumamnya pelan sambil tersenyum. "Mulutnya kayak cabe rawit, tapi hatinya kayak kapas."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kafe

​[y/n] pun mulai bekerja dan juga cukup terampil melayani pelanggan kafe. Meskipun tangannya masih dibalut plester pemberian Ariel, gerakannya sangat lincah.

Dia mencatat pesanan dengan ramah, memberikan senyum tulus yang selama ini ia sembunyikan di sekolah, dan yang paling penting: dia sangat disukai oleh para "raja" di sana.

​Kucing-kucing di Meo Kafe seolah tahu kalau [y/n] adalah orang baik. Mochi, si kucing persia putih, bahkan tidak mau beranjak dari pundak [y/n] saat gadis itu sedang mengantarkan pesanan latte ke meja pelanggan.

​"Wah, mbaknya baru ya? Kucing-kucing di sini biasanya sombong, tapi kok sama mbak nempel banget?" tanya salah satu pelanggan remaja sambil tertawa.

​[y/n] hanya membalas dengan kekehan renyah. "Mungkin karena saya bau cokelat panas, Kak."

​Di balik meja bar, Ariel memperhatikan setiap gerak-gerik [y/n].

Dia berpura-pura sibuk mencuci gelas, tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok gadis berjaket varsity yang sekarang memakai celemek kucing itu. Ada rasa lega yang aneh di dada Ariel melihat [y/n] bisa tertawa lepas seperti itu.

​"Ehem! Awas matanya copot, Riel," goda Paman Indra yang lewat sambil membawa tumpukan piring kotor.

​"Apaan sih, Om. Gue cuma mastiin dia nggak mecahin piring," bantah Ariel ketus, meski wajahnya mulai memanas lagi.

​Waktu berlalu cepat. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Paman Indra membalik papan tulisan di pintu menjadi CLOSED.

Suasana kafe yang tadinya ramai dengan suara tawa dan dengkuran kucing, kini berubah menjadi tenang dengan sisa aroma kopi yang pekat.

​[y/n] sedang mengelap meja terakhir saat Ariel menghampirinya. Cowok itu sudah melepas celemeknya, kembali ke gaya aslinya dengan kaos hitam dan jaket yang tersampir di bahu.

​"Udah, berhenti. Sisanya biar Om Indra yang beresin," ucap Ariel sambil menarik kain lap dari tangan [y/n].

​"Eh? Tapi tinggal dikit lagi, Riel," protes [y/n].

​"Nggak ada tapi-tapi. Tangan lu butuh istirahat sebelum luka kacanya infeksi," sahut Ariel tegas.

Dia memberikan kode dengan kepalanya ke arah pintu keluar. "Ayo. Gue anter balik sekarang sebelum gang rumah lu makin gelap."

​[y/n] hanya bisa mengangguk pasrah. Dia pamit pada Paman Indra yang sedang menghitung uang di kasir, lalu melangkah keluar kafe bersama Ariel.

​Udara malam Jakarta menyambut mereka. Jalanan sudah mulai sepi, hanya ada beberapa motor yang lewat sesekali. Tidak ada kecanggungan, hanya ada suara motor yang beradu dengan aspal.

​Begitu sampai di depan gang rumah [y/n], suasana mendadak berubah mencekam. Lampu jalan yang remang-remang membuat garis polisi kuning di depan rumah [y/n] terlihat seperti bekas luka yang besar.

​Ariel berhenti tepat di depan pagar. Dia menatap rumah yang gelap gulita itu, lalu beralih menatap [y/n] yang tampak mulai gemetar lagi.

​"Lu yakin mau masuk sendirian?" tanya Ariel rendah.

1
MR Rizki
Lanjut tor 😆
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: 🍀🦈🦈🤭 makasih, iya nanti gw lanjut
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
SEMANGAAAAT ATHOOOR/Determined/
Manusia Ikan 🫪: 😹baguslah
total 4 replies
Caramel23
shuri like ini kan 😍😍
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: yoi 😂😂
total 3 replies
MR Rizki
lanjut tor, semangat 💪/Smile/
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: makasih 🤭😖
total 1 replies
kertaslusuh
Meski Ariel ketus, tpi benerr
kertaslusuh
kasian y/n, keknya generasi roti ya, thorr??
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: bayangin kalau lu y/n deh , nanti bakal... ekhem.. ekhem.. sama ariel🤭
total 3 replies
kertaslusuh
wkwkkw🤣
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎
wahahahahahah tidak ada larangan nge like karya buatan sendiri 🤭🙂
MR Rizki
Ditunggu kelanjutannya tor, semangat
꯱hׁׅυꭈׁׅꪱ ☘︎: thanks yank emuachhh 😘🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!