NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

“Pagi, Ma,” sapa Tama.

“Pagi,” jawab Bu Diana singkat.

Namun nada suaranya sudah jauh lebih hangat dibanding beberapa minggu lalu.

Dita berdiri di samping alat bantu jalan. "Kita mulai dengan melatih sensor otot, ya Bu Diana."

"Iya, kamu yang paling tau, Dit."

Dita tersenyum.

"Aku deg-degan, Dit. Rasanya enggak sabar pengen bisa jalan lagi."

"Bisa, Bu. Optimis."

"Hihi, aku memang optimis, Dit. Ini semua berkat kamu." Bu Diana mengangguk. "Coba lihat Dita, aku udah bisa gerakin ujung jari kakiku."

"Itu karena usaha keras Bu Diana."

Bu Diana menatap perawatnya dengan penuh harapan dan rasa syukur. "Berkat kamu juga."

Ia berdiri perlahan.

Tangannya mencengkeram pegangan besi.

Kaki kanannya maju satu langkah.

Lalu kaki kiri.

"Ah, ternyata belum bisa..." gumamnya sedikit kecewa.

Tama berdiri tidak jauh dari sana.

Tatapannya serius.

Setiap gerakan ibunya seperti membuat dadanya ikut menegang.

“Bu Diana, jangan dipaksakan dulu,” kata Dita lembut, seraya menuntun Bu Diana agar kembali duduk di kursi rodanya.

Bu Diana menarik napas. "Ya ampun, Dit, aku udah enggak sabar pengen bisa jalan lagi."

Dita tersenyum.“Sabar, Bu. Pasti bisa jalan lagi.”

Tama akhirnya ikut tersenyum kecil.

Kemajuan kecil itu terasa seperti hadiah besar.

****

“Selamat pagi, Dokter Eros.”

Pria itu tersenyum ramah.

“Pagi, Dita. Bagaimana kondisi pasien kita?”

“Banyak perkembangan.”

“Bagus.”

Mereka masuk ke dalam rumah.

Tama yang sedang membaca berkas di ruang tamu langsung berdiri.

“Dokter Eros.”

Pria itu menyalami Tama.

“Bagaimana kabar Anda?”

“Baik.”

“Dan Bu Diana?”

“Jauh lebih baik, menurut Dita.”

Dokter Eros tertawa kecil.

“Kalau begitu saya ingin melihat langsung.”

Di ruang terapi.

Bu Diana sedang duduk di kursi.

Saat melihat dokter itu masuk, ia mengangguk.

“Dokter.”

“Selamat pagi, Bu Diana.”

Pemeriksaan dimulai.

Dokter Eros memeriksa refleks kaki.

Kekuatan otot.

Gerakan sendi.

Sementara Dita berdiri di samping mencatat beberapa hal.

Tama hanya berdiri di dekat jendela.

Memperhatikan.

Setelah beberapa menit, dokter itu tersenyum puas.

“Perkembangannya sangat baik.”

Dita terlihat lega.“Benarkah, Dok?”

“Sangat. Bahkan lebih cepat dari perkiraan saya.”

Bu Diana mengangkat alis.“Jadi saya bisa berjalan lagi?”

"Bisa Bu Diana. Optimis."

"itu yang Dita katakan sama saya, Dok." Bu Diana menoleh sekilas pada perawatnya, dengan senyum kecil.

“Kita lakukan terapi terus konsisten, kemungkinan besar dalam beberapa bulan ke depan sudah bisa berjalan.”

Tama yang mendengar itu langsung menoleh. Matanya sedikit melebar. "Dalam berapa bulan, Dok?"

Dokter Eros lalu berdiri. “Namun terapi harus ditingkatkan sedikit.”

Ia menoleh ke arah Dita.

“Dita, bisa kita diskusikan sebentar?”

“Tentu.”

Mereka keluar menuju koridor.

Di dalam ruang terapi kini hanya ada Tama dan Bu Diana.

Tama berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke koridor.

Dari sana ia bisa melihat Dita dan dokter Eros berbicara serius.

Dita mengangguk beberapa kali.

Kadang mencatat sesuatu di tablet kecilnya.

Bu Diana memperhatikan anaknya diam-diam.

Lalu tersenyum tipis.

“Kenapa kamu melotot begitu?”

Tama menoleh.

“Apa?”

“Ada apa di sana? Kenapa tidak bantu mama saja.”

"Iya, Ma. Kita ke koridor saja."

"Lah, ngapain ke koridor? Mama mau ke taman."

"Di taman panas, Ma."

Bu Diana mendengus kecil.

"Oh, ada alasan lain mau ke koridor ya? Mau nguping pembicaraan mereka?"

Tama langsung berdiri tegak.

“Apa sih Mama ini?”

"Aku juga wajib tau kalau ini tentang kesehatan Mama," kilah Tama.

"Kalau bukan?"

"Enggak penting."

Tama langsung berjalan ke arah pintu.

“Aku ambil minum dulu.”

Ia keluar sebelum ibunya sempat berkata lagi.

Begitu pintu tertutup, Bu Diana malah tertawa kecil.

****

Di koridor.

Dita dan dokter Eros masih berdiskusi.

“Terapi stimulasi otot perlu ditingkatkan,” kata dokter Eros.

“Saya juga berpikir begitu, Dok.”

“Namun jangan terlalu dipaksa. Usia pasien harus tetap diperhitungkan.”

Dita mengangguk.

“Baik.”

Tama lewat di belakang mereka menuju dapur.

Namun ia tetap bisa mendengar sedikit percakapan itu.

Beberapa menit kemudian diskusi selesai.

Dokter Eros menutup mapnya.

“Kalau begitu saya pamit.”

“Terima kasih banyak, Dok,” kata Dita.

Dita kembali masuk ke ruang terapi.

Bu Diana masih duduk di kursinya.

“Sudah selesai?”

“Sudah, Bu.”

“Apa kata dokter?”

“Kondisi Ibu sangat baik. Terapi akan sedikit ditingkatkan.”

Bu Diana terlihat puas.

Saat itu Tama kembali masuk sambil membawa segelas air.

Ia meneguknya.

Baru saja hendak duduk, Bu Diana tiba-tiba berkata santai.

“Eh Dita.”

“Iya, Bu?”

“Dokter Eros itu masih muda, ganteng dan ramah ya?”

Tama langsung berhenti minum.

"Iya, Bu. Semua nakes memang diharuskan ramah."

"Apa dia punya pacar?"

Dita terlihat bingung.

“Sepertinya… belum, Bu.”

Bu Diana mengangguk puas.

“Bagus juga.”

Tama mulai curiga.

“Bagus apanya?”

Bu Diana tersenyum lebar.

“Cocok kalau dijodohkan dengan Dita.”

“KHUK—!”

Tama tersedak air minumnya.

Batuk keras.

1
Monica Ida
👍
Nur Syamsi
Modus kali ya Tama nya
Nur Syamsi
ya begitulah Bu Diana anakmu itu cemburu...
Nur Syamsi
Bu Diana mmancing anaknya.....mungkin dia mau tau bgaimna perasaan anaknya ke Dhita
Nur Syamsi
Yg sabar Dita Bu Diana walaupun orang tegas ttp hatinya baik...
Nur Syamsi
Biar kamu TDK merawat ibunya Tama pastikan kamu disuruh tinggal Dhita KRNA Kamila ibunya Tama sembuh berkat ketulusanmu merawatnya
Nur Syamsi
Tunggu apa lagi Tama sudah dua bukti diperlihatkan Selina ttg ketidak jujurannya sama kamu, ibumu Tdk salah menilai Selina
sunaryati jarum
Nah kamu tahu siapa yang kau lawan
kymlove...
mati karena shock berlebih itu sumpahh... tidak apa2 banget kok sari!!!!! malah aku dengan senang hati do'ain biar langsung ke neraka😌😌
sunaryati jarum
Jawaban kamu itu sudah benar,dan Kamu Dita memang seharusnya punya rasa sama Nak Tama suamimu
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak..
sunaryati jarum
Nah lawan Sari dengan tegas
Cinta_manis: makasih komennya kak🥰
total 1 replies
kymlove...
begitu donk dita!!!! yang tegas!!! masakkk speck sesempurna calon suami mu di anggap saingannya sampah clap clup.... level kelasnya aja beda jauh sejauh-jauhnya😌
kymlove...: semangat thor...
total 2 replies
kymlove...
cobaan apa lagi ini?!!!
heran... kalau udah jadi pihak tertindas perasaan ada aja masalah nya... !
kymlove...: real banget tau thor🤧🤧
total 2 replies
sunaryati jarum
Wajah - wajah orang iri . Lawan jika mereka berbuat ulah ada Tama yang melindungi kamu Dita
Cinta_manis: 😅😅😅 gitu ya kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Oh Bakrie perangkap desa, menghamili orang kok tidak ditindak,di tempatku di demo warga dan diberhentikan.Karena tidak bisa jadi tauladan rakyat/. warganya.
Sri Wahyuni Abuzar
hei tuan tama ...anda tidak sedang curi² kesempatan dalam musibah kannn 🤣
sunaryati jarum
Mereka tidak mendapatkan sanksi apapun ,ya.
sunaryati jarum
Kenapa Bakrie dan Sari enjoy dan tinggal di Nenek Supinah,apa Bakrie tidak punya rumah untuk keluarga barunya.
kymlove...
lama banget thor untuk kembali up-nya 🥲
bener dita, jangan menye2.. masa sama jalang aja takut2!!!! di samping mu noh calon camer dan suami mu, pasti bakal bantuin dan lindungi kamu!! jadi jangan takut... lawan aja perempuan gk tau diri dan cowok murahan mantan km itu!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!